Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Glorium Orchid
Di dalam minivan hitam.
“Cucuku yang baik, kamu tahu nenek tinggal di mana?”
“Jenna, coba kamu panggil aku cucu sekali lagi?”
“Cucuuu! Kenapa? Nggak boleh aku panggil gitu?”
“Aku... aku bakal hajar kamu!”
“Ayo sini! aku juga lagi nunggu kamu!”
“Ah! Sialan, kamu beneran mukul aku!”
Kursi belakang berguncang penuh keributan. Fevvey yang menyetir di depan benar-benar kehabisan kata. “Justin, aku udah bilang kamu nggak bakal bisa ngalahin dia, tapi kamu nggak percaya. Sekarang puas? Besok headline berubah dari ‘Cewek seksi jemput Justin di bandara’ jadi ‘Nenek-nenek jemput Justin di bandara’...”
Justin yang sedang ditindih Jenna terlihat kesal dan frustasi. “Diam!”
Fevvey melirik lewat kaca spion, sudut mulutnya berkedut melihat pemandangan di belakang. “Jenna, bisa lebih pelan dikit nggak? aku mohon! Bulan ini dia harus syuting film, iklan, sama pemotretan majalah...”
“Iya, Veyy aku nggak bakal mukul wajahnya!”
Saat ini, Justin sudah kehilangan citra tampan dan elegannya di bandara tadi. Kedua tangannya diborgol dan ditekan ke kursi mobil. Penampilannya kacau seperti habis dihajar.
“Jenna... kamu yang maksa aku...”
Jenna masih asyik memukulinya, tapi tiba-tiba Justin mengangkat tangan yang terborgol, melingkarkannya ke belakang leher Jenna, lalu menariknya turun.
Wajah tampan itu mendadak begitu dekat. Jenna refleks mundur dan mendongak, senyum santai di wajahnya. “Kenapa? Mau pakai muka ganteng kamu karena nggak bisa ngalahin aku?”
Saat hampir mencium bibirnya, Justin tiba-tiba memalingkan wajah. “Ughh...”
“Hahahahaha!” Jenna tertawa sampai memegangi perut. “Coba lagi dong! Sini, cium aku di sini! Make up nenek hari ini cantik banget, kan?”
Melihat wajah Jenna yang keriput dan penuh noda, Justin terbaring seperti ikan mati, seolah kehilangan semangat hidup.
Setelah puas tertawa, Jenna akhirnya duduk sambil terengah. “Kenapa? Marah? Siapa suruh kamu duluan coba jebak aku! Nggak boleh aku balas?”
“Brengsek, udah lama nggak ketemu, kamu nggak bisa kangen aku dikit aja apa? Baru ketemu malah mukulin aku!” Justin menatapnya dengan marah, tapi ada sedikit keluhan di matanya.
Jenna tersenyum. “Kangen kok! Tadi di bandara aku bilang, kan? Nenek kangen kamu!”
“...” Supaya tidak mati karena emosi, Justin akhirnya menyerah bicara. Ia mengangkat tangan yang masih diborgol. “Kenapa belum kamu lepas juga? Dari mana kamu dapet borgol beginian? Ini barang ilegal kan!”
Jenna mengusap dagunya. “Yang ini? Kayaknya aku beli di toko seex toys di Lazadda deh! Lagi diskon 20%, cuma 500 ribu.”
Justin bengong. “...”
Fevvey juga. “...”
Takut mereka bakal ribut lagi, Fevvey buru-buru mengalihkan topik. “Kita udah ninggalin wartawan sama fans. Sekarang mau ke mana?”
Justin mengambil cermin kecil untuk merapikan rambutnya. Tanpa mengangkat kepala, ia berkata, “Balik ke rumah aku di pinggiran kota.”
Jenna langsung duduk tegak. “Kalau gitu turunin aku di pinggir jalan aja, aku naik taksi pulang!”
“Hah, kamu kira bisa kabur malam ini? kamu mau lari ke mana!” Justin mengunci pintu mobil dengan ekspresi dingin.
Jenna hanya bisa pasrah. Ia sudah menduga ini bakal terjadi. Di perjalanan, Jenna mulai merasa ada yang aneh. Jalan ini terasa familiar.
“Justin, kamu punya properti di Jakarta? Jangan-jangan di Glorium Orchid?” tanyanya.
Justin mendengus. “Iya, kenapa? Mau nempel sama aku sekarang? Telat! Kecuali kamu panggil aku kakek!”
Jenna sedikit murung.
Masa iya kebetulan banget Justin juga tinggal di Glorium Orchid?
Entah kenapa, alarm di kepalanya berbunyi keras, memberi firasat buruk.
Saat mobil melewati gerbang utama, Jenna bertanya santai, “Justin, kamu tinggal di nomor berapa?”
“Nomor 14.”
“...” Jenna langsung tegang. Ternyata benar nomor 14.
Glorium Orchid terbagi dalam beberapa tingkatan. Yang terbaik tentu nomor 16, tempat tinggal Marco. Di belakangnya ada danau, taman, bahkan lapangan golf pribadi. Lalu nomor 15 milik Xander, dan di tingkat yang sama ada nomor 14.
Selama ini tidak ada yang tahu siapa pemilik nomor 14. Siapa sangka ternyata Justin.
Melihat Fevvey hendak belok kanan, Jenna refleks membuka mulut. “Ah, Veeyy, jangan lewat situ, jalannya lagi ditutup...”
“Kok kamu tahu?” Justin langsung curiga.
Jantung Jenna berdegup, tapi wajahnya tetap santai. Ia memutar mata. “Nggak lihat papan peringatannya?”
Padahal jalan itu kemarin rusak karena ditabrak anak orang kaya yang mabuk. Ia sendiri yang melihatnya.
Justin melirik papan, “Jalan Sedang Diperbaiki” dan mengangguk.
Jenna diam-diam menghela napas lega. Meski ia punya alasan sah tinggal di tempat Marco, menjelaskannya akan merepotkan. Belum lagi soal menjaga citranya. Lebih baik menghindari masalah.
Saat sampai, wajah Jenna dipenuhi kepahitan. Ia ingin sekali diam-diam pulang dan memeluk Juju.
Fevvey turun dan berkata, “Tempat ini selalu dibersihkan, jadi bisa langsung ditempati. Mau tinggal di sini atau pindah ke apartemen yang disiapkan perusahaan?”
Jenna dalam hati berdoa, jangan tinggal di sini.
Bagaimana kalau mereka bertemu?
“aku pikir dulu, nanti aku kasih tahu!” Justin melambaikan tangan, jelas ingin segera menyingkirkan Fevvey.
Fevvey menghela napas, masih tampak khawatir. “Kalian jangan tidur terlalu malam. Justin, besok masih ada acara...”
“Iya, iya!” Justin mengabaikannya, lalu menarik Jenna masuk ke dalam rumah seperti bandit.
Fevvey hanya bisa pasrah.
Begitu masuk, Justin seperti bersiap perang. “Nggak usah dengerin Fevvey. Jenna, malam ini kamu harus nemenin aku 300 ronde! aku mau lihat apa aku nggak bisa ngalahin kamu hari ini!”
Jenna meliriknya dengan sinis. “Heh, sini kalau berani! Udah berapa kali kamu kalah dari aku, masih aja sombong. aku bikin kamu manggil aku nenek!”
“Mimpi! kamu yang bakal manggil aku kakek!” Justin membongkar koper besarnya. “aku bawa setup terbaru dari luar negeri. kamu untung!”
Lalu ia menatap Jenna seolah tak tahan. “Kamu, cepat bersihin itu semua! Mata aku sakit lihatnya! Mau nurunin semangat aku ya? Nggak tahu malu! aku nggak bakal kalah!”
“Nurunin apaan, aku malah nurunin skill aku sendiri. kamu kira aku senang pakai ini?” Jenna melepas wig beratnya dan membuka kancing kerahnya.
Justin menyalakan TV besar di ruang tamu dan mulai menyambungkan kabel. “Di kamar aku ada baju, cari aja yang muat! Cepat! Semangat aku udah nggak bisa ditahan!”
Jenna hanya bisa menatapnya tanpa kata.
Orang lain pulang ke negara sendiri buat cari cewek cantik. Tapi dia? Malah nyeret Jenna buat main game semalaman.
Benar-benar gila.