NovelToon NovelToon
Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Romantis / Selingkuh / Tamat
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."

Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.

Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Boleh duduk di sini lagi?"

Suara berat itu tidak asing. Aku mendongak dan menemukan Alan sudah berdiri di sana, membawa segelas es teh manis dan sebuah buku catatan kecil. Tanpa menunggu persetujuanku—persis seperti tadi pagi—dia menarik bangku kayu yang berderit di depanku.

"Gue kira lo bakal luluh pas sepupu lo manggil," ujar Alan datar, matanya melirik sekilas ke arah meja tengah di mana Kaila masih menatap kami dengan bingung. "Ternyata lo lebih keras kepala dari yang gue duga. Good point."

Aku mengunyah roti pemberian Bintang dengan pelan, berusaha mengabaikan tatapan menusuk dari meja Guntur yang jaraknya sepuluh meter dari sini. "Gue cuma nggak mau makan sambil dengerin dongeng palsu."

Alan terkekeh. Dia meletakkan buku catatannya di atas meja. "Gue suka gaya lo. Tapi ingat, nanti sore di kafe depan sekolah, gue nggak butuh Afisa yang cuma bisa diam dan menghindar. Gue butuh Afisa yang bisa menyerang balik pakai kata-kata."

Dia membuka buku catatannya, menyodorkan sebuah daftar mosi debat yang akan kami pelajari. "Gue sengaja pilih kafe, biar lo nggak ngerasa tertekan sama suasana sekolah yang... ya, lo tahu sendiri, isinya orang-orang bermuka dua."

Aku menatap daftar itu. Pandanganku beralih ke Alan. "Kenapa lo milih gue, Lan? Padahal banyak anak kelas XI yang lebih pinter ngomong."

Alan menyesap es tehnya, matanya menatapku tajam, seolah sedang membedah isi kepalaku. "Karena orang yang paling banyak disakiti biasanya punya perspektif yang paling jujur. Dan orang jujur itu lawan yang paling mematikan di panggung debat."

Tiba-tiba, suara langkah kaki cepat mendekat. Aku menoleh dan melihat Kaila berdiri di samping meja kami dengan wajah memerah, entah karena marah atau malu.

"Fis, lo kenapa sih? Dipanggil nggak nyaut, malah mojok sama Alan?" tanya Kaila dengan nada menuntut. Matanya melirik Alan dengan tidak suka. "kita nungguin lo di meja tengah. Kita mau bahas soal acara perpisahan kakak kelas nanti."

Aku tidak beranjak. Aku bahkan tidak meletakkan rotiku. "Gue ada urusan sama Alan soal tim debat. Kalian bahas aja sendiri."

"Tapi Fis—"

"Kai," potong Alan santai, namun nadanya dingin. "Afisa lagi latihan jadi 'ratu' di panggungnya sendiri. Jangan ganggu dulu kalau lo nggak mau kena semprot argumennya."

Wajah Kaila menegang. Dia menatapku seolah aku adalah orang asing. Sementara di kejauhan, aku bisa melihat Guntur berdiri dari kursinya, rahangnya mengeras, menatap tajam ke arah Alan yang tampak sangat menikmati momen ini.

Aku menarik napas panjang, lalu menatap Kaila lurus-lurus. "Bilang sama teman-teman Lo , gue nggak akan datang ke meja itu lagi. Mulai sekarang, kursi gue di sana... anggap aja udah hilang. Lagi pula sejak kapan dia banyak omong? hm? Selama ini dia dingin dan banyak diamnya kok jadi untuk apa bahas perpisahan sama adek kelas Lo kai ?"

Kaila terdiam seribu bahasa, sementara Alan menyeringai puas di depanku.

Kaila tersentak, matanya mengerjap seolah baru saja ditampar oleh kata-kataku. Kalimatku tentang Guntur yang tiba-tiba "vokal" soal acara perpisahan sepertinya tepat sasaran. Selama ini, Guntur memang tipikal cowok yang hanya menerima beres, dan semua orang tahu itu.

"Fis, lo kok jadi sinis gini sih?" suara Kaila bergetar, antara tidak percaya dan kesal. "Guntur cuma mau kita semua kumpul kayak biasa. Lo nggak perlu bawa-bawa sifat dia yang dulu."

"Justru karena gue tahu sifat dia yang dulu, gue nanya," sahutku datar, sambil meremas plastik pembungkus roti di tanganku. "Sejak kapan dia peduli sama urusan seremonial kayak gitu? Atau... itu sebenarnya mau Fita, dan Guntur cuma jadi corongnya?"

Wajah Kaila memucat. Dia melirik ke arah meja tengah, di mana Fita kini tampak tidak tenang dan terus memegangi lengan seragam Guntur. Skakmat. Tebakanku tidak meleset.

Alan di depanku berdeham pelan, suaranya terdengar sangat terhibur. "Wah, Kai, kayaknya lo salah lawan hari ini. Sepupu lo udah mulai pinter baca subtext. Mending lo balik ke sana sebelum meja itu makin panas."

Kaila menatapku tajam untuk terakhir kalinya. "Lo bener-bener berubah, Fis. Jangan nyesel kalau nanti lo ngerasa sendirian karena milih bareng cowok yang bahkan nggak peduli sama lo ini," dia menunjuk Alan dengan dagunya, lalu berbalik pergi dengan langkah menghentak.

Aku mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Bahuku yang tegang perlahan melonggar, tapi ada rasa pahit yang tertinggal di lidahku.

"Keren," puji Alan singkat. Dia menutup buku catatannya. "Tapi jangan terlalu terbawa emosi. Emosi itu bahan bakar yang bagus buat debat, tapi kalau nggak dikontrol, dia bakal ngebakar argumen lo sendiri."

"Gue nggak emosi, Lan. Gue cuma capek jadi orang bego," balasku sambil menatap es teh Alan yang mulai mencair.

"Bagus. Simpan sisa tenaganya buat nanti sore di kafe. Gue mau lihat apa lo bisa seberani ini pas kita bahas mosi yang lebih berat," Alan berdiri, merapikan kursinya tanpa menimbulkan suara berisik. "Cabut dulu. Oh, satu lagi... rotinya dimakan sampai habis. Bintang bakal sedih kalau tahu sarapan 'tulus'-nya cuma jadi pelampiasan stres lo."

Aku tertegun. "Lo tahu itu dari Bintang?"

Alan hanya mengedipkan sebelah mata sambil menyeringai, lalu berjalan pergi meninggalkan kantin dengan santai. Aku menatap punggungnya, lalu beralih ke arah meja tengah. Guntur masih berdiri di sana, matanya masih terkunci padaku, namun kali ini ada sesuatu yang lain di sorot matanya—sebuah kebingungan, atau mungkin rasa kehilangan yang baru saja menyentuhnya.

Aku sengaja meremas tiket pertandingan dari Radit di dalam saku rokku, membiarkan kertas itu bergemisik kecil. Hari ini belum berakhir, dan aku tahu, langkahku keluar dari kantin nanti akan menjadi awal dari perang yang sesungguhnya.

1
Rea
melankolis
byyyycaaaa: lanjut baca di ekuilibrium yuk kisah bintang dan afisa
total 1 replies
Shirin Al Athrus
yaahhh, pdhl gue harap mreka akhirnya balikkan. guntur dan afisa. bnyk kok perjuangan yg harus dilakukan guntur agar dia sukses dan dptkan afisa lagiii huaaa sedihh gue KLO kek gini ceritanya
byyyycaaaa: yaaa gimana sama bintang di cintai bahagianya di usahakan tiap hari di pepet 🤭 gimana nggak luluh si Afisanya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
ais kk gtu seru itu liat Afisa sukses mereka pasti nangis pojokan. atau pas bintang nikah aja sama Afisa trus D undang😂😂😂😂😂😂😂
byyyycaaaa: mampir yuk di cerita bintang dan juga afisa ekuilibrium:Antara janji dan jarak🙏
total 1 replies
byyyycaaaa
nanti ada cerita khusus untuk Bintang dan juga afisa ya kak,untuk teman-teman afisa mereka tidak ada yang menyesal ,afisa sudah lama meng cut off teman-temannya,🙏
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
coba lah bikin mereka nyesel dulu tor. mau liat Afisa nikah sama bintang
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
gk lanjut tor
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
Afisa dan bintang bahagia gk ada rintangan
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
buat teman Afisa yang dulu nyesal.
Aidil Kenzie Zie
yah balik lagi kasihan Bintang sama temen kamu Fis
byyyycaaaa
mau balikan sama bintang ,tapi takut kecintaan si Afisa 😭
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
jadian ya bintang smaa disayang jangan ada orang ketiga
Aidil Kenzie Zie
bukannya pas liburan di belakang rumah udah di hapus kik masih ada Fis
byyyycaaaa: fotonya guntur lumayan banyak di ponsel afisa 🌚
total 1 replies
byyyycaaaa
nanti ada PoV nya Guntur kak biar lebih jelas yaaaa
Aidil Kenzie Zie
emangnya nggak ada cewek lain buat pelarian harus Fita lagi.
kalau Guntur jujur sama keadaannya Afis pasti ngerti tapi dia malah jadi pecundang
Aidil Kenzie Zie
apa si Radit ya mata-mata itu
Aidil Kenzie Zie
mungkin karena belum benar benar selesai 🤔
Aidil Kenzie Zie
tor jangan bikin mutar-mutar lagi ceritanya
Aidil Kenzie Zie
mantapkan hatimu Fis
byyyycaaaa
labil banget kan...,dia semuanya di pikiran bukannya nyoba buka hati ,di deketin semua cowok dia welcome banget 😭🙏
Aidil Kenzie Zie
Afisa Afisa🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!