Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Makan Bersama
Di malam hari, sebelum pergi ke rumah Tama, Dion pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Dia melihat sang istri sedang duduk santai sambil bermain ponsel, dan membiarkan anak mereka bermain sendiri.
"Ehh kamu pulang? Kenapa tidak kasih kabar? Agar aku bisa siapkan makan malam lebih awal.!" ujar Mita dengan perasaan sedikit gelisah.
"Tidak perlu! Aku ada acara makan malam di rumah Tama!" balas Dion sambil menggendong anaknya.
"Ohh,, apa aku harus pergi juga?" tanya Mita dengan jutek. Dia paling tidak suka jika Dion terlalu sering bergaul dengan mereka.
"Tidak! Ini hanya untuk acara pria!" balas Dion dengan berdusta.
"Baiklah.. Aku menunggumu kembali!" Mita terlihat biasa saja saat Dion tidak menunjukkan sedikit perhatian.
Ngomong-ngomong, keduanya menikah bukan kerena pacaran dan saling mencintai, bukan juga dijodohkan.
Tapi Dion tidak sengaja tidur dengan Mita, dia harus bertanggung jawab, karena beberapa bulan kemudian Mita hamil. Mita adalah teman sekampus yang beda jurusan.
...----------------...
Di rumah Tama, Kara sedang sibuk memasak yang dibantu dengan koki. Karena ada banyak hidangan yang ingin dia sajikan.
Bintang yang sedang duduk di dapur menatap Kara dengan mata terbelalak, dia tak menyangka Kara benar-benar bisa memasak dengan lihai, bukan seperti pemula yang kaku menggunakan alat-alat dapur.
Bintang segera mencari Tama di ruang kerjanya, dia masih belum percaya apa yang dia lihat.
Tama sudah memberitahunya jika masakan Kara sangat enak, tapi karena merasa dirinya sudah lama mengenal Kara Bintang tidak percaya begitu saja.
"Kenapa?" Tanya Tama dengan nada mengejek.
"Sejak kapan dia bisa masak?" tanya Bintang.
Tama terdiam sejenak, dia juga tidak tahu kapan Kara ikut les memasak, "Mungkin sebelum kami nikah!"
Alis Bintang mengerut, sebelum menikah hubungan mereka dengan Kara sudah mulai renggang, Kara sudah berteman dengan Sarah dan menjauhi sahabat lamanya.
"Masa sih? Padahal Kara waktu itu sedang sibuk cari perhatian sama si lintah buaya!" Kata Bintang yang mengingat jelas kejadian di masa lalu.
Tama hanya bisa menggeleng, bahkan orang yang dia sewa untuk menjaga Kara tidak pernah melihatnya ikut Les.
Tok tok.
Ketukan pintu terdengar, Pak Rudi memberitahu mereka jika makan malam sudah siap.
Bintang segera keluar menuju dapur, daripada menebak-nebak, lebih baik dia tanyakan langsung kepada Kara.
Tapi Kara sedang naik ke kamar untuk mandi, dan kebetulan saat itu Dion datang dengan wajah yang sulit ditebak.
"Aku tidak terlambat kan? Wah kenapa ada banyak sekali makanan?" Tanya Dion setelah duduk sambil melihat meja yang penuh makanan.
"Tidak! Sisil saja belum datang!" balas Bintang.
"Telpon! Tumben dia terlambat!" pinta Dion, dia tidak makan apapun sebelum berangkat, dan sekarang dia makin kelaparan melihat banyak makanan lezat di meja.
"OK!" Bintang segera merogoh ponselnya untuk menelpon Sisil, dia juga sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan Kara.
"Tidak perlu! Aku sudah di sini!" ucap Sisil dengan tiba-tiba. "Sorii, tadi ada kerjaan di rumah! Waaaahh.. Ini pasti masakan Kara kan?" tanyanya sambil menebak.
"Kamu tau?" tanya Bintang dengan bingung.
"Haah? Masakan Kara?" Dion lebih bingung lagi. Sejak kapan seorang Kara yang tidak suka masuk dapur bisa masak?
Sisil tertawa kecil, dia duduk di samping Bintang lalu berkata. "Tau dong, aku sudah beberapa kali makan masakan Kara, rasanya ingin nambah terus!"
"Serius ini masakan Kara?" tanya Dion kepada mereka semua.
"Ya. Aku melihat Kara masak dengan mata kepalaku sendiri.!" Ujar Bintang yang juga masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tama hanya tersenyum melihat mereka bertiga, dia juga pernah berada diposisi mereka. Terkejut, bingung dan syok.
"Bahas apa? Serius sekali!" Kara yang baru masuk dapur langsung bertanya melihat wajah mereka yang seperti kebingungan.
Mereka menoleh dan menatap Kara dengan tatapan penuh tanda tanya. Ini masih Kara yang mereka kenal kan? Kok perubahannya sungguh diluar logika.
Tama beranjak, dan menarik kursi yang berada di sampingnya. "Duduk sini! Mereka hanya penasaran, sejak kapan kamu bisa masak."
Kara duduk lalu berkata. "Nanti aku jelaskan, kita makan dulu, keburu makanannya dingin." Dia juga sebenarnya bingung harus jelasin seperti apa.
Karena di kehidupan pertamanya, dia baru ikut les masak setelah Kematian Sisil. Saat itu, dia masih mengejar Arka dengan brutal, apapun yang dia lakukan untuk menarik perhatian Arka.
"Ya. Mari kita makan!" Tama juga setuju.
Yang lainnya lebih setuju lagi, mereka mencicipi semua makanan yang ada di meja. Rasanya benar-benar enak.
Sisil yang sudah pernah merasakannya juga makan dengan lahap, dia tiba-tiba ingin belajar masak juga.
Dibilang bisa masak, tentu pasti bisa. Tapi tidak seenak dan selezat masakan Kara yang sudah ikut les masak.
"Waahh enak sekali..! Kar, lima bintang buat kamu!" Kata Bintang dengan bercanda setelah makanannya habis.
"Ya. Aku setuju, benar-benar enak!" timpal Dion.
Kara hanya tertawa kecil, tapi dalam lubuk hatinya ada perasaan bangga melihat mereka makan dengan lahap.
"Terima kasih! Aku masih belajar kok!" kata Kara merendah.
Tama juga ikut bangga, siapa yang tidak suka jika punya istri yang cantik dan bisa masak? Sungguh paket lengkap.
Setelah semuanya selesai makan, mereka menuju ruang tengah untuk berbincang. Mereka semua sekali lagi mengucapkan selamat kepada Tama yang sudah bisa melihat kembali.
"Kar, cuti kerja aku belajar masak sama kamu yaa?" ucap Sisil dengan tersenyum lebar.
"Kamu yakin? Kamu kan cuman libur sehari, kalau kamu belajar masak, kamu tidak ada waktu untuk beristirahat!" kata Kara.
"Tidak! Aku tidak lelah kok, istirahat di malan hari sudah cukup!" seru Kara. Dia benar-benar serius untuk belajar masak dengan Kara.
Jika ambil les, itu butuh biaya lagi. Sedangkan belajar dengan Kara pasti gratis.
"Ngapain belajar masak? Kamu kan sudah bisa masak!" tanya Bintang.
"Ck kamu mengejekku yaa?" Tanya Sisil dengan mata melotot.
"Loh, aku kan cuman nanya?" Bintang jadi bingung dibuatnya, kenapa pikiran wanita susah ditebak?
Sisil menatap Bintang dengan kesal, memang dia tidak mengejeknya secara langsung, tapi pertanyaannya itu seperti pukulan telak untuknya.
"Bii, jawab jujur! Masakan Kara atau masakan aku yang lebih enak?" tanya Sisil.
"Kamu masih nanya? Sudah jelas masakan Kara yang lebih enak! Kamu cuman tahu masak nasi dan mie instan saja!" balasnya dengan jujur.
PUUKKK..
Sisil melempar bantal sofa ke wajah Bintang. "Itu kamu tau.. Jadi tidak ada salahnya kan aku belajar lagi?"
Bintang terdiam, dia mengangguk seolah-olah baru paham. "Heheh aku tidak mengejekmu yaa. aku cuman jujur! Ya bagus kalau mau belajar masak! Agar suamimu di masa depan betah makan di rumah!"
Yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah keduanya, mereka mengobrol dengan santai. Kara merasakan perasaan yang sulit diartikan, dia kembali mengutuk dirinya yang sangat jahat di masa lalu.
Lihat! Betapa bahagianya jika Kara tetap menjadi dirinya sendiri, mungkin saat ini orang tuanya juga masih ada disisinya.
.
.
.
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄