“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 30
Roda mobil menggilas kasar debu jalanan, mengepulkan aroma khas tanah basah dan asap sangit yang pekat. Hening mengurung, hanya helaan napas dan suara mesin yang menggerung keras menjadi irama di antara wajah yang pias.
Rizal berjalan cepat begitu mereka sampai di pelataran rumah, mengabaikan panggilan sang Ibu yang coba kembali menenangkannya. Laki-laki itu berjalan terburu, memasuki rumah—seolah di dalam sana ada yang bisa meredam amarahnya.
Di dalam rumah, Nadya baru saja selesai mengambil air wudhu, wajahnya yang sedikit lembab mengilat di bawah lampu neon yang pucat.
Alis gadis manis itu mengerut begitu melihat kehadiran Rizal, baru setengah jam yang lalu dia pergi dengan raut panik dan kembali membawa air muka masam.
“Ad—”
Greppp
Ucapan Nadya terputus oleh tubuh Rizal yang langsung memeluknya erat. Nadya mencoba menghindar, mengusir dengan dorongan kecil, namun Rizal justru semakin mengeratkan dekapannya.
“B-bang?”
“Sebentar saja, Nad.”
Nadya tak lagi menjawab, tatapannya beralih ke arah Bu Harmi yang berkedip, setengah mengangguk—seolah memberi izin mereka untuk sejenak membagi hangat.
Gerimis mulai turun perlahan bersama semilir angin lembah yang lembab. serangga hutan berderit berisik berebut tempat bersembunyi dari kejaran angin malam.
Sedikit ragu, Nadya mengangkat tangannya, menyentuh pundak lebar Rizal, kemudian mengusapnya perlahan—tenang dan penuh kelembutan. Bibir mungilnya berbisik, pelan. Hanya bertanya tanpa menuntut jawaban.
“Abang kenapa?”
Sunyi.
Nadya menghela napas pelan, tangannya masih bergerak dengan konstan, mengusap sesekali menepuk pelan.
“Udah yok, sesak pula napas saya Abang dekap begini. Kita ngobrol yang enak sambil ngopi, cuaca mendukung ini,” bisiknya tanpa paksaan.
“Sebentar lagi, Nad,” lirih Rizal.
Nadya terdiam, memberi jeda sejenak pada degup jantung Rizal yang mulai beraturan. Sudut bibirnya terangkat tipis, satu tangannya naik perlahan, menyentuh lembut tengkuk Rizal yang membungkuk di ceruk lehernya. Jari-jarinya berjalan dengan ritme terarah, menyusuri tulang leher laki-laki itu hingga ke belakang telinga, berulang.
Merasakan sentuhan lembut itu, Rizal berdesis tipis, napas hangat menyapu lembut leher jenjang Nadya yang mendongak tanpa di minta, seiring lenguhan yang nyaris seperti bisikan dari bibirnya yang merona.
Rizal meneguk ludah kasar, darahnya berdesir panas. Ia lalu menarik kepalanya sedikit, memposisikan tepat di telinga Nadya. Suaranya pelan mirip rintihan.
“Jangan menggoda Abang, Nad. Cuaca mendukung ini.”
“Abang yang jangan menggoda Nadya, dipikir nggak geli apa leher Nadya kenak hidung Abang yang kembang-kempis itu,” sahut Nadya tak kalah pelan.
Rizal tertawa kecil sambil mengurai pelukan mereka, wajahnya yang merah karena amarah berganti binar semu, malu-malu. Ia menunduk sekilas, lalu kembali mendongak—menatap lekat wajah Nadya yang masih sedikit lembab. Tangannya mencengkram lembut pundak gadis itu.
Sejenak tatapan mereka beradu, seolah berbicara tanpa perlu mengucap kata, Nadya mengerjap pelan saat Rizal semakin mendekatkan wajahnya, bibir ranum gadis itu spontan sedikit terbuka, namun gerakan lambat bak drama Korea itu harus terhenti saat suara Bu Harmi menyela dari balik pintu kamarnya.
“Awas kebablasan khilafnya, Ibu sedari tadi sudah nahan pengen ke kamar mandi, lo?”
Suasana seketika sunyi, seolah udara ikut menahan malu. Jam dinding berdetak lebih keras, tiap detiknya terdengar sengaja mengulur waktu, di plafon rumah, kipas baling berputar malas—mengejek diam-diam, memperolok dua anak manusia yang salah tingkah.
Rizal menyeringai kikuk, satu tangannya menggaruk tengkuk yang tak gatal. Di depannya, Nadya menunduk sedikit sambil tersenyum kaku sebelum berbalik dengan gerakan terburu-buru.
“Gara-gara Abang saya jadi harus ambil wudhu lagi ‘kan,” celetuknya, menutupi pipinya yang bersemu merah jambu.
Rizal mengikuti langkah Nadya, satu tangannya dengan ringan menyurai puncak kepala gadis itu. “Emang sama Alloh suruh nunggu Abang sholat isya nya, biar bisa sekalian doa taubat bareng.”
Nadya mencebik kecil, lalu sengaja menyipratkan air kran yang baru ia hidupkan ke wajah Rizal membuat laki-laki itu mendelik gemas.
“Mancing-mancing, ya?” ucapnya.
“Ibuuuuuuuuu … Bang Rizal mesum!” teriak Nadya saat Rizal sengaja maju satu langkah.
Senyum Bu Harmi merekah pelan, tatapannya tak lepas dari sang putra yang tertawa lepas—seolah amarah yang dia bawa menguar di udara. Ia kemudian menghampiri Rizal, menjitak pelan kepala duda satu anak itu seraya berujar santai.
“Cepet ambil air wudhu, sholat, biar di permudah segalanya. Ibu sudah merestui tinggal kamu rayu yang punya biar segerakan.”
Mendengar itu Nadya buru-buru pergi dari tempat wudhu, lalu sholat isya lebih dulu dengan alasan takut Adam terbangun. Sementara Rizal masih mengulum senyum sambil menatap punggung Nadya yang menghilang di balik mukena.
Matahari mulai merangkak dari balik bukit, kabut tipis bergelayut rendah di pelepah yang bergoyang pelan. Kokok ayam hutan memekik nyaring bersahutan dengan dengung mobil sayur di kejauhan.
Di teras rumah, Nadya duduk bersantai sambil memangku Adam, dari dalam rumah Rizal yang sudah berpakaian rapi berjalan sambil menenteng sepatu Safety boots bercorak cokelat tua.
“Jangan lupa ambil barang di tempat Rizka, Bang,” ucap Nadya saat melihat kehadiran Rizal.
“Tapi, Abang pulangnya agak malem, nggak apa-apa ‘kan?” tanya Rizal.
“Ya nggak apa-apa, mau nggak pulang juga terserah, nggak punya bini juga, repot amat,” seloroh Nadya.
Rizal menjitak pelan kepala Nadya, lalu beralis ke Adam yang sedang memainkan tangannya di mulut.
“Jangan pegang Adam, Abang habis pake sepatu!” Sergah Nadya saat tangan Rizal terulur—ingin membelai sang putra.
Laki-laki yang sudah berpakaian layaknya estate manager perkebunan sawit itu menggeram pelan, bibirnya mengerucut tipis—menahan protes. Ia kemudian mengibaskan tangannya pelan, satu kakinya menghentak lantai, menyamankan sepatu yang dikenakannya.
“Selain barang tempat Rizka ada yang lain nggak? Misal kamu pengen apa gitu?” tanya Rizal sambil menelisik penampilannya lewat kaca jendela.
Nadya berpikir sejenak, bibirnya bergumam, namun ucapannya tertahan dengan kehadiran Hasna di halaman rumah mereka.
“Assalamualaikum,” sapa Hasna dengan senyum hangat.
“Waalaikumsalam,” jawab Nadya dan Rizal hampir bersamaan.
“Ibu ada, Bang?” tanya Hasna.
“Lagi belanja di warungnya Yuli, ada apa?” sahut Rizal balik bertanya.
Hasna maju mendekat, menengok sekilas Adam yang bermain di pangkuan Nadya, lalu kembali menatap ke arah Rizal.
“Ini mau nganter pisang goreng, waktu itu Ibu bilang kalau saya bikin Ibu mau,” jelas Hasna, bibirnya mengulas senyum tipis seraya berbasa-basi begitu melihat penampilan Rizal. “Abang kok udah rapi, mau ke kota?”
“Iya, ada rapat di pabrik pusat,” jawab Rizal, sambil menyusun beberapa barang ke bak mobilnya.
Alis Hasna sedikit terangkat, matanya berbinar halus—seolah mendapat kesempatan, suaranya dibuat sedikit ragu.
“Ehm, boleh numpang nggak, Bang? Kebetulan aku mau ke rumah Ayuk yang ada di ujung jalan masuk desa, tapi ban motorku bocor. Dari tadi telepon minta jemput nggak ada yang angkat,” ucapnya kemudian.
Rizal menoleh cepat, bukan ke arah Hasna, tapi ke wajah Nadya yang mencebik samar. Tatapannya naik perlahan, berkedip lambat—seolah meminta izin untuk mengiyakan.
Namun, Nadya malah beranjak dari duduknya seraya berujar ringan. “Mandi, yok Ndut.”
Kemudian membawa Adam masuk ke dalam rumah, namun langkah gadis itu terhenti oleh tangan Hasna yang menyodorkan bungkusan berisi pisang goreng.
“Titip pisang goreng buat Ibu, Kak,” ucap Hasna.
Nadya menoleh sekilas, lalu melirik ke arah meja. “Tarok sana aja, itu Ibu juga udah pulang.”
Hasna menunduk sekilas, menyembunyikan bibirnya yang melengkung miring, namun seketika berubah manis saat ia mengangkat wajahnya.
“Aku tunggu di depan rumah, ya, Bang,” ucapnya sambil meletakkan bungkusan yang dibawa, lalu buru-buru berbalik pulang ke rumah tanpa berpamitan.
Rizal masih berdiri di tempatnya, tatapannya berpindah-pindah—antara menjawab Hasna atau mengejar Nadya yang sudah masuk ke dalam rumah.
Laki-laki yang sudah berpakaian rapi itu menghela napas panjang, bahunya merosot perlahan seiring bibirnya bergumam, pasrah.
“Heh, alamat nggak dapet kopi malam ini.”
Bersambung.
Haii pembaca setia ku, Author mau ngucapin selamat lebaran, minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf apabila dalam menulis karya masih terdapat banyak kekurangan baik di alur, penempatan tanda baca, atau dialog-dialog yang kurang mengenakkan dibaca. Terimakasih sudah menemani author amatir ini belajar dan berkembang, sekali lagi mohon maaf lahir batin, ya ….
Sehat-sehat untuk kita semua, dan semoga kita dipertemukan dengan ramadhan dan lebaran di tahun-tahun yang akan datang.
Salam hangat
Anna🍁
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻