NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beban berat

  Seperti ada beban berat yang menimpa dadanya, namun Hanum tetap mencoba menerima keputusan Reza dengan ikhlas.

  "Aku tahu Ya Allah, aku tidak bisa memaksa orang lain untuk menuruti apa yang menjadi keinginanku. Tapi, aku tidak percaya kalau—" ia menjeda ucapannya. "Kalau Reza tidak memiliki pendirian!"

  Kini, Hanum duduk di bangku taman dengan kedua tangan menutup wajahnya, mencoba untuk melepaskan kesedihan yang membebani hatinya.

  Dibukanya tas yang dia bawa, lalu mencari sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Ia menemukan sebuah buku inspirasi, setelah meraba-raba dalam tasnya.

  "Ah, akhirnya aku temukan." Ucapnya sambil tersenyum.

 Setiap kali merasa hatinya terbebani, Hanum selalu membuka buku yang berisi kata-kata bijak dan motivasi, agar bisa membuatnya lebih kuat dan percaya diri.

  Ia langsung mengukir senyum ketika membuka halaman pertama. "Jangan biarkan kesedihan mengalahkanmu. Kamu lebih kuat dari yang kamu pikir."

  Hanum melanjutkan membaca beberapa halaman lagi, lalu membiarkan kata-kata inspiratif itu meresap ke dalam hatinya.

  "Alhamdulillah, aku sudah merasa lebih tenang, lebih kuat, dan juga percaya diri." Ucapnya dengan semangat, lalu menutup buku itu.

  Sebelum pergi meninggalkan taman, Hanum menatap sekeliling taman itu, menghela napas lega, lalu pergi mendekati halte bus. Ia hendak pergi mengajar extra musik di salah satu sekolah menengah atas yang berada di kotanya.

  Namun, saat menyebrangi jalan raya, matanya hanya terpaku pada lampu merah yang menyala. Hingga tiba-tiba, ia mendengar suara klakson yang keras, dan melihat mobil yang melaju kencang menuju ke arahnya.

   Beruntung dengan sigap Hanum segera melompat ke belakang. Ia dapat merasakan angin yang dihasilkan oleh mobil yang melaju sangat dekat. Hanum memegangi dadanya yang terasa detak jantungnya berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah mobil yang berhenti mendadak itu.

  Dalam keadaan shock dan sedikit marah, ia berteriak. "Apa yang kamu lakukan?! Aku hampir saja tertabrak!"

  Pengendara itu langsung keluar dari mobil dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, maaf, aku tidak melihat mu tadi," ucapnya yang lansung membuat tatapannya tertahan.

  "Hanum?"

  "Abi?"

  Keduanya tertawa setelah mengetahui bahwa mereka saling mengenal, lalu Abi mengajak Hanum menepi ke pinggir jalan.

  "Ehm, yang barusan aku minta maaf, ya. Ah, sebenarnya tadi aku terlalu bahagia memikirkan sesuatu, sampai nggak sadar kalau ada lampu merah di depan." Kata Abi.

  Hanum tertawa kecil, "bahagia? Ini terdengar aneh tapi nyata, Bi. Kita kok bisa kebalikannya, ya?"

   Kerutan tipis seketika muncul di dahinya, "kebalikannya? Tunggu-tunggu, maksudnya bagaimana, nih?" tanya Abi yang hanya dibalas senyum oleh Hanum.

  "Ah, sudahlah, ini sama sekali bukan hal penting." Kata Hanum.

  "Beneran?" tanya Abi yang dijawab senyum dan anggukan dari Hanum.

  "Oh ya, ngomong-ngomong kamu mau ke mana?" Tanya Abi lagi.

  "Aku mau nunggu bis, Bi. Kegiatanku setiap hari kamis, mengajar extra musik di sekolah kita dulu." Kata Hanum.

  "Wow! Kalau begitu ikut aku saja, kebetulan kita satu arah."

  "Ya udah, ayo!" Ucap Hanum tanpa penolakan, "udah mau telat nih." Katanya, lalu berjalan cepat ke mobil— mendahului Abi.

  Abi berlari untuk membukakan pintu mobilnya, "hey, aku yang punya mobil kenapa kamu yang lebih dulu?" Gurau Abi yang memicu gelak tawa.

  Di dalam mobil, keduanya tampak asyik mengobrol, bertanya dan bercerita tentang kabar masing-masing.

  "Selamat ya, Bi. Aku pasti bakal jadi tamu pertama yang akan mengisi daftar hadir." Kata Hanum setelah Abi bercerita, bahwa dirinya akan melamar kekasihnya pada malam ini juga.

  "Okey... Aku tunggu kamu di pintu masuk." Kata Abi, lalu berbalik tanya, "oh ya, ngomong-ngomong kamu tadi bilang kalau kita kebalikannya? Hmm, kalau boleh tahu, kanapa tuh?"

  Ragu-ragu Hanum bercerita, lagi pula Abi juga belum tentu memahami perasaanya.

  "Kamu habis putus cinta, ya?" Tebak Abi, asal.

  Hanum melirik ke atas dengan bibir mengerucut.

  "Jadi benar, tebakan aku?" Sambungnya lagi.

    "Ya... Gimana ya, Bi? Aku udah nunggu dia sampai lima tahun, dan sampai sekarang dia masih bilang, ada banyak hal yang ingin dia capai. Aku rasa dia emang nggak serius sama aku."

  Abi menghembus napas, "sabar ya, Num. Mungkin dia bukan jodoh mu." Katanya.

  "Aku pikir juga gitu." Kata Hanum, "sudah sampai, Bi. Makasih, ya." Ucapnya, lalu turun dari mobil Abi.

  "Salam buat semua guru yang masih mengajar di sana, ya." Teriak Abi yang dijawab acungan jempol oleh Hanum.

* *

   Sejak kepergian Hanum, Nadia jadi sedikit menyalahkan Reza. Nadia ingin mendapatkan Reza tanpa dicap sebagai perebut oleh Hanum, karena Hanum merupakan kakak kandungnya sendiri.

  "Mas, harusnya tadi kamu nggak bilang gitu sama mbak Hanum." Kata Nadia, yang membuat Reza jadi agak kesal.

  "Kamu ini maunya apa, sih? Kamu ingin kita nikah, kan? Ya udah, dengan begini kan kita jadi lebih mudah." Tukas Reza, kesal.

  "Kamu juga harus mikir dong, mas. Rencana awal kita main alus, kan? Karena tindakan bodoh kamu tadi, aku jadi nggak enak sama mbak Hanum, kalau tiba-tiba kita nikah, apa yang mbak Hanum pikirkan tentang kita?" Balas Nadia yang lebih kesal.

  Sejenak Reza berpikir, "maaf, sayang." Ucapnya setelah menyadari, lalu berusaha meraih tangan Nadia.

  Nadia menarik tangannya sebelum tersentuh oleh Reza. "Ck, aku pulang, ah!" Kata Nadia, sambil beranjak pergi.

 "Nad—Nadia!" Seru Reza, yang tidak dihiraukan oleh Nadia. "Arghh... Sial!" katanya.

  Dulunya Reza sangat mengagumi kecantikan Hanum. Hijabnya yang elegan, selalu menutup rambutnya yang hitam dan lembut.

  Hanum tidak memerlukan perhiasan, ataupun make-up yang berlebihan untuk menonjolakan kecantikanya, karena hijabnya sendiri sudah cukup untuk membuatnya terlihat cantik dan anggun.

  Namun semua itu terjadi sebelum Reza mengenal Nadia. Adiknya Hanum yang penampilanya selalu seksi itu, seringkali menonjolkan kekuk tubuhnya yang bohay. Cara berpakaian Nadia dan Hanum sangatlah berbeda.

  "Nadia, kenapa aku selalu lemah di hadapanmu? Kakak mu itu sangat cantik, tapi aku seperti terhipnotis saat melihat tubuh seksi mu." Reza bicara pada dirinya sendiri, setelah Nadia tak terlihat lagi.

  "Itu karena kamu terlalu fokus pada penampilan luar, dan terlalu mudah terpesona oleh kecantikan fisik!" Kata peri baik yang ada dalam dirinya.

  "Itu wajar, Reza. Tubuh seksi itu penting, dan kamu pantas dengan wanita seperti Nadia. Kamu harus terbiasa dengan budaya yang menekankan penampilan luar. Lihat semua orang yang berada di sekitar mu, semuanya memiliki pasangan yang cantik dan seksi, kan? Kamu lebih pantas dengannya." Kata peri jahat yang ada di dalam dirinya.

  Sejak perkataannya tadi pada Hanum, hatinya mendadak dipenuhi kebimbangan. Di satu sisi, Reza melihat Nadia yang seksi dan menarik perhatiannya dengan penampilan yang mempesona.

  Di sisi lain, dia melihat Hanum dengan pakaian tertutup. Cara Hanum membawa dirinya dengan percaya diri, juga tak kalah memancarkan kecantikan yang lebih dalam.

  Reza pusing sendiri dibuatnya, karena dua hal yang berbeda itu, "argh! Terserahlah!"

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!