Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27. Salah paham
Happy Reading
"Gue pacar Aily Marsela. Si cewek kampung, si cewek cupu, si cewek serba ungu yang lo benci. Dan gue gak pernah suka sama cewek iblis kayak lo!"
Pacar? Aily tertegun mendengar ucapan Alderza barusan. Bagai mimpi yang menjadi nyata. Benarkah ini Alderza?
Rasa sakit akibat tamparan Sinta tidak ada tandingannya bila dibandingkan dengan hatinya yang sedang berbunga-bunga.
Hari ini, rasanya Aily ingin meledak-ledak. Namun, dia merasa serba salah. Aily ingin sekali tersenyum, tetapi tidak mungkin di depan semua orang.
Rasanya Aily akan terlihat seperti penjahat jika dia tersenyum dibalik tangisan Sinta.
"Sekarang gue baru sadar, ternyata lo caper banget sampe nangis histeris di depan semua orang kayak gini!" Alderza pergi berlalu begitu saja.
Tidak lupa tentunya, Alderza menggandeng tangan Aily. Sangat erat, seperti orang yang tidak ingin kehilangan.
"Lo jahat sama gue! Gue benci sama lo!" Sinta kembali berteriak.
Semua orang memperhatikannya, termasuk Aily yang terus menoleh kebelakang untuk melihatnya.
"Aku kayak orang jahat." Ucap Aily kepada Alderza saat mereka berjalan pergi.
"Lo gak jahat, dia pantes buat dapetin itu!"
Aily tetap saja merasa bersalah. Saat ia melihat Sinta dari kejauhan, di sana ada Riska yang sedang memeluknya erat.
Ingin rasanya ia memeluk Sinta, sahabatnya. Namun, jika diingat kembali sikapnya seperti apa, itu sangat menyayat hati.
"Udah, gak usah dipikirin. Lo baru sembuh, mending istirahat aja." Alderza mengantar Aily sampai ke tendanya.
Mereka berdiri saling berhadapan di depan tenda milik anak perempuan. Alderza sama sekali tidak bosan, ingin terus-menerus menatap mata Aily yang bersinar.
Emosinya mereda jika mata indah itu menatapnya kembali, terutama jika ditambah bibirnya yang tersenyum.
Tapi sayang, kali ini Aily hanya menatap Alderza tanpa senyuman.
"Kenapa?" Tanya Alderza khawatir melihat raut wajah Aily.
"Kenapa kamu bilang kita pacaran?"
Alderza terkejut. Sungguh dia belum mempersiapkan alasan untuk hal yang satu ini. Kata-kata itu refleks keluar dari mulutnya.
"Gue... gue bisa kok, jadi pacar pura-pura lo." Ucap Alderza sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dia mengembuskan napas sejenak lalu berkata, "Gue gak mau lo kenapa-kenapa lagi."
Ada sedikit rasa senang ketika Alderza memberi perhatian lebih kepadanya. Ada juga rasa sakit yang membuncah ketika Alderza berkata pacar pura-pura.
"Kenapa harus pura-pura?"
Alderza merundukan wajahnya sembari mengembuskan napas panjang, matanya kini terlihat sayup dan...sedih?
"Itu karena gue cuma pengen lindungin lo aja."
"Kamu gak suka sama aku? Terus kenapa kamu cium aku?"
Alderza langsung membuang muka. Dia tidak ingin membahas itu lagi.
Sebenarnya bukan itu, Alderza tahu bahwa di hati Aily ada cowok lain yang ia cintai selama tujuh tahun.
Tidak mungkin Alderza bisa mendapatkan hatinya. Saat membayangkan kejahatan yang dulu sudah dia lakukan kepada Aily saja sudah membuatnya meringis.
Gue gak pantes. Gue terlalu jahat sama lo, Aily Ucap Alderza dalam hati.
Aily tidak bisa berkedip. Baru saja dia terbang sampai langit ke tujuh, tetapi sudah dijatuhkan lagi.
Ini terlalu sakit.
Sepertinya, ia sudah berharap lebih pada Alderza, sampai ia tidak mau mengatakan apa pun kepadanya.
"Mendingan lo tidur aja, istirahat. Kalo ada apa-apa, langsung telepon gue."
Cowok itu pergi berlalu begitu saja menyisakan luka yang dalam. Aily berusaha menahan air matanya. Ya, Aily harus menegarkan hatinya agar lebih kuat lagi.
"Jadi kamu cuma mau aku jadi pacar pura-pura aja?" Tanya Aily, dan saat itu juga Alderza menghentikan langkah kakinya.
"Iya, Alderza. Aku nggak apa-apa, kok." Ucap Aily menahan sesak sembari tersenyum.
Aily langsung masuk ke tenda, tangannya memegang kuat dadanya yang sesak. Matanya membendung air mata, tetapi dia tidak boleh menangis di sini.
Aily menarik napas dalam-dalam lalu membuka tas, mencari buku ungu yang selalu dia bawa ke mana pun. Dia menuliskan semua yang dia rasakan.
Tangannya dengan gemetar menulis rasa sakitnya dengan perlahan.
Dear, diary
Luka, luka, dan luka, semuanya terasa begitu menyakitkan. Aku memang sudah biasa menerima luka seperti itu. Tapi, kenapa rasanya begitu berbeda kali ini? Lukanya bahkan terasa begitu menyakitkan pada saat kau bersikap biasa saja terhadap diriku.
Aku menyerah atas semuanya. Ini sudah saatnya bagiku untuk berhenti memperhatikan orang yang sama sekali tidak pernah melihatku sama sekali.
Pada akhirnya, kita hanya seperti utara dan selatan yang memang tidak akan pernah bisa bersatu karena terpisahkan oleh Garis Khatulistiwa. Kita memang tidak akan pernah ditakdirkan untuk bersama.
Aily menutup diary nya. Alderza benar. Perasaannya yang dia pendam selama tujuh tahun memang tidak berguna.
Tidak ada artinya sama sekali di matanya.
Mungkin memang seperti ini jalannya, Aily hanya bisa melihatnya dari jauh. Ya, itu sudah cukup. Aily tidak akan berharap terlalu banyak lagi.
***
Alderza terdiam, dia sangat sadar apa arti perasaan ini. Rasa di mana jantung berdebar kencang, rasa nyaman saat berada di sampingnya.
Rasa ingin melindungi dan tidak mau kehilangan. Sehari saja Aily tidak masuk sekolah dapat membuatnya gelisah setengah mati.
Alderza sadar betul perasaannya. Ini adalah rasa cinta yang menggebu.
Tapi, kenapa Aily harus mencintai orang lain? Dia menunduk sembari mengacak-acak rambutnya.
Aily, gue sayang sama lo, dan gue gak pernah sesayang ini sama cewek mana pun. Ucap Alderza dalam hati.
***
Mentari pagi mulai menyilaukan setiap insan yang tengah tertidur. Sebelum semua orang bangun, Aily sudah membuka mata terlebih dahulu.
"Wulan?" Aily kaget saat melihat Wulan sedang tidur di sampingnya.
"Hmmm... masih pagi. Bobok lagi ya."
Aily tersenyum. Mungkin Wulan kelelahan. Apa yang terjadi ya semalam? Apa Sinta dan Riska benar-benar menerima hukuman dari Wulan yaitu menjilat kakinya?
Tapi tiba-tiba, dia teringat ucapan Alderza semalam. Rasa sakitnya masih membekas, tidak mau hilang.
Aily langsung bangun dan keluar dari tenda. Sepertinya udara sejuk pagi hari sangat menenangkan.
Mungkin saja bisa membuat hatinya sedikit sejuk dengan kabut-kabut yang menemaninya.
Tapi mata Aily langsung melotot kaget saat Sinta dan Riska sedang memegang buku diary ungu miliknya.
Tidak. Tidak. Semua perasaannya kepada Alderza dia curahkan dalam diary itu.
Kenapa? Kenapa harus itu yang mereka ambil? Tubuh Aily bergetar hebat, jantungnya berdetak kencang.
"Si-Sinta... Riska...."
"Oh, jadi cinta pertama lo itu Alderza?" Tanya Sinta sembari memegang buku diary yang sudah terbuka.
Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, mohon dikoreksi ya. Love you all guys.