Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Gista!" langkah Gista terhenti terhenti, ia yang tenga membawa sebotol air untuk di berikannya pada Raden seketika harus terhenti.
Gista yang tenga bersama Aca seketika menoleh kebelakang, dapat mereka lihat seorang pemuda datang menghampirinya.
"Siapa sta?" bisik Aca
"Temen sekolah lama gue dulu." balas Gista setenga berbisik
"Gista, ini bener lo kan?" ucap pemuda yang bernama Dika itu, lawan main basket Raden.
Gista mengangguk. "Iya ini bener gue, dik."
"Astaga Gista, lo kemana aja? Sejak lo pindah sekolah nomor lo gak bisa dihubungi lagi. Gue cariin lo kemana-mana tapi gak ketemu-ketemu.."
"Gue ganti nomor,"
"Kenapa? Dan kenapa enggak simpan nomor wa gue?"
"Tanpa gue jelasin lo juga tau dik.." ucap Gista, ia kembali teringat kejadian dua tahun yang lalu.
Flashback on:
"Dasar temen setan, lo tau gak cowok yang selalu lo deketin itu cowok gue anjing!"
"Kasih paham sin.." ucap teman Sinta
Plak!
Plak!
Gista memegangi pipinya yang terasa sakit akibat tamparan Sinta dan gengnya, tak hanya di tampar rambutnya juga di tarik. Rambut Gista di tarik dan ia di siram dengan air bekas ngepel lantai.
Byurr!
"Haha.. makannya jadi cewek jangan kegatelan sama cowok orang." ucap Sinta
"K-kalian salah paham, gue gak ada niatan buat godain kak Dika." ucap Gista, ia meraup wajahnya yang basah akibat air kotor yang Sinta dan temannya siramkan padanya
Sinta maju satu langkah, mendekat pada Gista. Tangan Sinta terangkat mencekik tenggorokkan Gista hingga wajah sang empuh memucat.
"Sin, udah nanti mati anak orang." ujar Anggun yang menghentikan Sinta yang tenga mencekik Gista
Bruk.
Tubuh Gista merosot ke lantai saat Sinta melepaskan cekikannya, napas Gista terengah-engah. Sinta dan teman-temannya pergi membuat Gista bernapas lega namun hal itu tak bertahan lama, seorang pemuda masuk untuk merenggut mahkota Gista.
Gista menggeleng lemah, tubuhnya sudah tak ada tenaga lagi untuk memberontak, siswa suruhan Sinta mendekat pada Gista yang masih terduduk di lantai
"Jangan mendekat, menjauhlah." ucap Gista sembari terus mundur hingga punggungnya menubruk dinding dan ia tak dapat bergerak lagi. "Jangan, tolong jangan sakiti gue."
Kedua siswa itu menyeringai. "Kita enggak bakal nyakitin lo kok, kita cuma mau ajak lo bersenang-senang." ucap salah satu siswi
Gista menggeleng, air matanya mengalir deras. "Tolong jang—"
Sret..
Baju seragam Gista berhasil di sobek kedua siswi tersebut, Gista memeluk dirinya sendiri untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos.
'Siapapun tolong gue..'
Gista pasrah pada hidupnya, matanya tertutup rapat saat kedua pemuda itu mendorong kepalanya hingga membentur tembok dan menghilangkan kesadarannya.
BRAK.
Pintu toilet dibuka secara kasar.
"Dika."
Bug!
Bug!
Bug!
"Brengsek lo!"
Bug.
Dika memukul kedua teman kelasnya secara bertubi-tubi, ia tak memberi cela pada keduanya untuk membalas pukulan yang ia layangkan.
"A-ampun dik, gue disuruh."
Tangan Dika berhenti di udara. "Siapa? Cepat katakan siapa yang sudah suruh kalian?!"
"Pacar lo, Sinta."
Deg.
Dika terdiam mematung, membuat kedua laki-laki itu mengambil kesempatan itu untuk lari.
"Gista, bangun sta.." Dika menepuk pelan wajah Gista, berusaha membangunkan Gista yang masih belum sadarkan diri.
Usaha Dika tak sia-sia, Gista sadarkan diri.
"Lo udah bangun sta?" ucap Dika yang bernapas lega. "Ayo kita pergi ke Uks, lo harus di periksa."
Gista tak menjawab ucapan Dika, ia menangis terisak membuat Dika panik.
"Lo kenapa sta? Jangan nangis.."
"Gu--gue kotor dik, dia renggut ke—" Gista tak bisa berkata apa-apa lagi, ia menangis sejadi-jadinya, meratapi nasibnya yang mengenaskan ini
Dika menggeleng. "Enggak, lo masih suci sta. Dia belum sempat ngapa-ngapain lo, gue udah hajar dia habis-habisan." Dika menarik Gista kedalam pelukannya. "Sudah, jangan nangis lagi."
"G-gue takut dik ..."
"Ada gue, lo aman!"
Flashback off
Tak air mata Gista kembali mengalir kala mengingat peristiwa yang hampir merenggut kesuciannya, ia sering kali mendapatkan bully-an dari pacar Dika hingga Gista memutuskan keluar dari sekolahnya walaupun berujung ia mendapatkan cambukan dari mamanya.
"Lebih baik di siksa mama dari pada disiksa orang lain.." ucap Gista pada saat itu. "Aku lebih suka cambuk mama dari pada mendengar tawa mereka yang berhasil menyakitiku.."
___________
Di rooftop, kini Raden berada ia meluapkan seluruh emosinya disana dengan memukul-mukul tembok, ia tak memikirkan tanganya yang sudah mengeluarkan darah.
Bug!
Bug!
"Hentikan Raden!"
Raden menghentikan kegiatannya kemudian ia menoleh pada sumber suara, namun setelah itu ia kembali memukul tembok.
Bug!
Bug!
Bug!
"Raden Berhenti, ini melukai kamu." Gista memegangi kedua tangan Raden untuk menghentikan aksi gila pemuda itu
"Minggir, jangan ikut campur!" tanpa sengaja Raden mendorong Gista membuat sang empuh jatuh terduduk.
Bruk
"Gista!" Raden hendak membantu Gista namun sang empuh menepis tangannya
"Jangan sentuh gue!" ucap Gista. "Lo jahat den, gue kira lo beda dari cowok lain nyatanya lo sama aja."
Gista bangkit, berdiri di hadapan Raden. "Gue kecewa sama lo.."
Raden terkekeh. "Gue yang harusnya bilang gitu, gue kira lo beda dari cewek lain nyatanya sama aja, sasimo."
Mendengar ucapan Raden membuat mata Gista melebar. "Apa lo bilang? Coba ulangi."
"Sasimo."
Plak
Raden meringis kesakitan kala Gista menamparnya.
"Lo kira gue cewek apaan hah?"
"Kenapa lo marah? Bukannya benar ya kemaren jalan sama Gala terus hari ini sama kapten basket sma pelita.."
Gista memutar bola matanya malas. "Makannya kalo orang nge-chat itu dibaca!"
Raden tak bersuara, pemuda itu memalingka wajahnya.
"Gue kemaren itu cuma pura-pura pacaran sama Gala supaya kakaknya kembali'in motor gue."
Gista menarik napas berat. "Keputusannya ada di lo, den. Kalo lo mau akhiri hubungan ini gue terima. Sepertinya mengakhiri hubungan ini keputusan yang terbaik, kita udahan aja ya?"
Deg.
Mendengar ucapan Gista membuat Raden yang tadinya memunggunginya seketika menoleh padanya. "Enggak semua masalah diselesaikan dengan perpisahan sta, atau lo mau pacaran sama Gista atau enggak Dika?"
"Sembarangan kalo ngomong."
"Emang benarkan?"
"Terserah lo mau mikir apa, gue mau putus."
"Enggak, aku gak mau putus dan gak akan pernah mau putus sama kamu!" Raden memeluk Gista membuat sang empuh terkejut. "Maaf, maafin aku. Aku ngomong kayak gitu karena aku cemburu, aku cemburu liat kamu sama yang lain. Kamu gak boleh deket cowok lain selain aku, cuma aku."
Kini giliran Gista yang terdiam, dia sengaja berdiam diri untuk membalas Raden.
"Maafin aku gak bales chat kamu, aku kesal karena kamu gak dateng kerumah pohon kemaren. Maafin aku juga tadi dorong kamu, aku gak sengaja sayang beneran." ucap Raden. "Kamu denger aku kan sayang?"
Gista tak menjawab ucapan Raden, ia melepaskan pelukan Raden padanya. Gista melangkah maju memunggungi Raden, langkah Gista terhenti saat mendengar suara tangis seseorang.
Gista berbalik, matanya melebar saat melihat Raden menangis. "Raden lo nangis?"
Raden tak menjawab, pemuda itu kembali berhambur ke pelukan Gista. "Maafin aku sta, aku gak mau putus. Aku janji gak bakal kayak gitu lagi, aku cinta sama kamu.." racau Raden dengan terisak
Gista tak menyangkah Raden menangis, takut putus dengannya. Ia benar-benar merasa di cintai, tangan Gista terangkat membalas pelukan Raden dan mengusap lembut punggung sang empuh.
Wajah Gista mengembung kala menahan tawanya, jujur saja ia merasa sangat gemas pada Raden bak anak kecil yang tak dibeliin mainan oleh ibunya. "Cuma gara-gara itu?" tanya-Nya
Raden menganggukan kepalanya membuat tawa Gista pecah. "Kayak anak kecil aja, udah jangan nangis lagi."
Raden menurut, ia menghapus air matanya dengan tangannya sendiri. "Tapi, kamu maafin aku 'kan?"
"Maafin gak ya.."
"Sayang."
"Iya aku maafin, besok-besok gak boleh gitu lagi ya? Kamu harus dengerin penjelasan aku dulu."
Raden mengangguk patuh, keduanya duduk di kursi yang ada di rooftop.
"Aku boleh baring bantalan paha kamu gak? Tapi kalo gak boleh gak papa kok" tanya Raden dengan hati-hati
Gista tersenyum kemudian menganggukan kepalanya, dengan cepat Raden membaringkan tubuhnya dengan alas kepala paha sang kekasih.
Tangan Gista terangkat membelai rambut sang kekasih yang kini sudah tertidur pulas.
"Gista.." panggil aca pelan
Gista menoleh pada gadis itu yang tenga membawa kotak p3k ditanganya. Ya, Gista tadi sempat menghubungi Aca untuk membawakan obat untuk mengobati tangan Raden.
"Gua mau anter ini" ucap Aca tanpa suara hanya gerakan mulut saja
Gista menganggukan kepalanya, "Bawa kesini ca, Raden tidur."
Gista mengobati tangan Raden yang terluka itu akibat ia memukul-mukul tembok yang keras itu, "Nakal banget sih, kan luka gini nge-rugi'in diri sendiri."
Raden menggeliat kala obat merah itu menempel pada kulit tangannya, mungkin dia merasa perih.
Gista sedikit geli kala laki-laki itu mendusel pada perutnya kala tidurnya terusik guna mencari tempat nyaman.
"Dah selesai.." gungam Gista pada diri sendiri seraya tersenyum memandang Raden yang tertidur lelap, tanpa terganggu saat ia memainkan pipinya.
Maaf gue ga bisa ngasih bintang ga ada koin 😭😭