NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 30. BCS

Meskipun belum sembuh total kakinya, Albi masih bisa berjalan jauh. Ia berusaha untuk sembuh agar bisa balas dendam dengan musuh. Albi tidak mempedulikan keadaannya, memilih berjuang demi harga dirinya dan istrinya.

Prasasti masa pemulihan dengan beristirahat di rumah. Albi tidak mengijinkan keluar rumah meskipun dekat. Karena bahaya sedang mengintainya, diam-diam. Kedua mertuanya sudah mengantisipasi agar semua orang yang ada di dalam rumah untuk waspada jika ada orang tidak di kenal.

Ponsel Prasasti berdering suaminya menelpon. ” Iya, Mas. Ada apa? "

"Aku sudah tahu siapa orang yang mencelakaimu, dia juga yang mengambil dokumen perusahaan, " kata Albi di seberang.

Prasasti terkejut mendengar fakta yang terjadi kemudian bertanya dengan serius. "Siapa dia?"

"Elena, salah satu staf di perusahaan. Ternyata bersengkokol dengan Rosmaya si muka sebelah," jawab Albi seenaknya.

Prasasti menahan tawa mendengar perkataan Albi kemudian terdiam setelah mengingat sesuatu. "Apa kamu bersama perempuan itu?"

Ada perasaan menghantui Prasasti, ada keingintahuan tentang perempuan bernama Elena. Prasasti belum pernah pergi ke perusahaan Albi dan tidak mengenal karyawannya. Hal itu membuatnya tertarik ingin pergi ke sana.

”Tentu saja di sini juga ada Bisma dan yang lain," jawab Albi jujur.

Prasasti semakin tidak tenang pikirannya timbul berbagai macam pertanyaan namun, tidak bisa mendeteksi keadaan disana. ”Aku ingin pergi sebentar apakah boleh?"

Albi mengerutkan alisnya melihat layar ponsel gelap ternyata batrenya habis. Sesaat ia melihat Elena dengan tatapan penuh kebencian. Ia mengecas ponselnya.

Prasasti nekad pergi tanpa ijin Albi, ia mencari mama mertuanya tapi tidak ada terpaksa nekad pergi sendiri bersama sopir pribadi. "Pak Heri, tolong antar saya ke perusahaan suami saya,"

Prasasti masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru dalam hatinya ingin segera melihat perempuan bernama Elena. Pak Heri langsung masuk mobil dan menyalakan mesin kemudian melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.

Khasanah yang baru saja selesai membersihkan halaman samping bersama bibi melihat Prasasti keluar merasa heran perasaanya tidak tenang. Ia segera menelpon Albi tapi tidak diangkat. Lalu menelpon suaminya, sama juga tidak di respon.

Selama perjalanan ke kantor Prasasti merasa kalau arah jalan beda dengan jalan ke kantor suaminya. Tiba-tiba perasaannya tidak tenang tapi berusaha bersikap biasa.

Setelah cukup lama perjalanan Prasasti baru tahu kalau sopirnya bukan pak Heri. Ia tersenyum getir melihat lewat kaca spion dalam mobil. Ia menelpon seseorang. Ia tahu saat ini sedang tidak baik-baik saja. Prasasti mengirimkan lokasi kepada Jesika agar memberitahu suaminya segera bertindak.

Pak sopir merasa aneh melihat Prasasti bersikap biasa saja padahal sedang di jebak. Ia melirik lewat kaca spion terlihat Prasasti sedang tertawa dengan seseorang lewat ponselnya.

Mobil berhenti di depan rumah mewah. Prasasti mematikan panggilan teleponnya melihat sekitar merasa asing lalu bertanya. "Pak, kita dimana? Kan saya minta di antar ke kantor suami saya, kenapa ke sini? Memangnya rumah siapa ini?"

Pak sopir membukakan pintu, Prasasti tidak mau keluar tetap di posisi duduk. Pak sopir merasa gemas melihat Prasasti ingin menggendongnya namun, suara seseorang mengurungkan niatnya.

"Biar aku saja yang urus dia," kata seorang perempuan berdiri tak jauh dari mobil.

Rosmaya melihat Prasasti tersenyum senang, berjalan mendekati Prasasti dan berdiri di samping mobil. Badannya sedikit membungkuk kepalanya berada di jendela kaca mobil.

"Apa kamu takut bertemu denganku?" tanya Rosmaya dengan nada mengejek.

Prasasti tidak bergeming dari tempat duduknya, tatapannya lurus ke depan, melirik pun tidak. "Kamu saja yang terlalu percaya diri,"

Rosmaya membuka pintu mobil dan menyeret Prasasti keluar secara paksa. Prasasti terkejut bahkan belum siap melawan sampai terjatuh di lantai. Ia meringis menahan sakit pada pinggangnya dan tangannya, lalu berusaha berdiri dan merapikan pakaiannya.

"Kamu berani melawanku, kamu akan merasakan akibatnya," Rosmaya geram.

Rosmaya merasa diremehkan Prasasti tidak terima, ia ingin melawan dengan berkelahi tapi di tahan oleh Gael yang datang bersama Dorman. "Tunggu,"

Gael dan Dorman melihat Prasasti dari atas sampai bawah saling senyum. "Bagaimana kalau dia jadi urusan kami saja?"

Gael berbisik di telinga Rosmaya. Rosmaya menatap Gael dan Dorman bergantian dengan heran. "Tidak bisa, aku ingin bermain-main dulu dengannya. Kalian urus dulu suaminya,"

Rosmaya menyuruh bodyguard membawa Prasasti masuk ke dalam rumah tersebut. Gael dan Dorman sangat kesal dengan Rosmaya yang suka mengatur, mereka juga ingin mempunyai wewenang atas kerjasamanya.

"Apa kamu berpikiran sama denganku?" tanya Dorman menatap kepergian Rosmaya.

"Iya, bagaimana membuat Rosmaya bertekuk lutut sama kita?" sahut Gael dengan tatapan benci ke arah Rosmaya.

"Kalau begitu kita selesaikan urusan kita dengan Albi, lalu kita urus istrinya, gimana?" Dorman memberi ide.

"Baiklah, aku setuju," kata Gael.

Keduanya berjalan masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah mewah tersebut. Sementara di tempat lain Albi sedang kesal dengan ponselnya yang mati karena sedang menerima panggilan dari istrinya.

Ponsel Bisma berdering, Jesika istrinya menelponnya memberitahu Prasasti di bawa pergi oleh seseorang. Alamatnya sudah di share ke chat WhatsApp milik Albi.

Bisma terkejut segera memberitahu Albi. Albi meraih ponsel milik Bisma melakukan panggilan telepon dengan Jesika. "Bagaimana bisa istriku bersama si laknat itu?"

"Mana aku tahu, Bi. Istrimu bilang mau ke kantor kamu, ternyata justru di sekap oleh penjahat," sahut Jesika.

”Apa katamu, istriku mau ke kantor. Pantas saja dia tadi sempat bilang mau pergi tapi ponselku mati, jadi aku tidak tahu kalau istriku akan ke kantor," kata Albi menurunkan nada suaranya.

"Aku sudah mengirim lokasi tempat istrimu berada, nanti buka ponselmu," Jesika menjelaskan.

Sekitar dua jam Albi menunggu ponselnya full batrei langsung membuka chat, beberapa panggilan dari istrinya tidak terjawab dan chat juga banyak membuatnya khawatir. Ia sempat terkejut membaca salah satu chat dari istrinya kalau sopir pribadinya bukanlah pak Heri melainkan orang lain.

Albi membaca lokasi yang dikirimkan oleh Jesika. Sepertinya aku tahu tahu lokasi ini gumam Albi sambil memikirkan cara menyelamatkan istrinya.

Bisma dan kedua temannya sedang merencanakan menangkap musuh. Mereka sepakat berpencar untuk mengelabuhi para musuh yang tersebar.

"Sepakat, " kata Dasa.

"Bagaimana, Apa kalian punya rencana lain?" tanya Albi menatap ketiga temannya.

"Sudah, saatnya berpencar dan menyamar," jawab Abas.

"Aku dan beberapa orang ku akan mengelabuhi kawanan musuh menjauhi lokasi, agar kamu bisa menyelamatkan istrimu," sahut Dasa.

Albi mengangguk setuju, mereka mempersiapkan segala perlengkapan dan segera pergi ke lokasi menggunakan mobil masing-masing. Albi sendirian mengendarai mobil menuju lokasi istrinya berada.

"Kita lihat siapa nanti yang menang," gumam Albi.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!