Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Satu Minggu berlalu
Nenek Ratmi begitu telaten membersihkan muka di tubuh Lisa, ada lebam di tangan dan pipi, kepala Lisa berdarah seperti terkena benda tumpul.
Sampai saat ini Lisa masih belum membuka matanya, Nenek Ratmi tidak mampu membawa Lisa ke dokter, jadi dia memberi obat herbal pada gadis cantik di depannya ini. Pakaian Lisa sudah tidak bisa di pakai, banyak sobekan di sana sini, Nenek Ratmi memakaikan baju miliknya. Ada beberapa tetangga yang menyumbangkan baju bekas mereka juga, namun karena wanita ini belum bangun, baju itu masih menumpuk di sudut ruangan.
"Nek Lila pulang" Suara khas anak kecil masuk ke gubuk kecil itu. Lila bukanlah cucu kandung nenek Ratmi, nenek Ratmi tidak punya anak, suaminya meninggal, Lila dia temukan saat masih bayi. Nenek Ratmi mengaggap Lila sebagai cucunya sendiri.
"Kenapa baru pulang? Ini sudah sore, jangan terlalu capek cari rongsokan Lila, nenek masih ada uang"
Lila tersenyum, dia belum menceritakan pada neneknya jika dia mendapatkan pekerjaan di makam kompleks sebelah.
Lila menaruh karung yang dia buat untuk mengumpulkan barang bekas ke sudut ruangan. Dia mendekat ke arah neneknya.
"Kakak cantik itu belum bangun ya nek?"
tanya Lila mengalihkan pembicaraan.
Nenek hanya bisa menghembuskan nafas berat, dia merasa bersalah pada wanita di depannya ini.
"Lukanya sudah mulai kering, tapi tubuhnya masih lemah"
Nenek Ratmi menatap Lila, dia menggeleng melihat cucunya.
"Cuci tangan dulu, masih ada nasi di meja, kamu cepat makan"
Lila mengagguk cepat, dia berjalan riang ke belakang untuk mencuci tangannya. Lila langsung berlari ke arah meja, dia melihat ada nasi dan juga tempe goreng di atas nasi itu.
"Nenek sudah makan?" Tanya Lila.
"Sudah makan saja, nenek sudah kenyang"
Lila tersenyum, dia mulai memakan nasi itu, namun Lila sangat tahu kalau nenek pasti belum makan, Lila sengaja menyuapkan nasi itu ke nenek Ratmi.
"Makan saja Lila"
"Nasinya terlalu banyak nek, Lila tidak akan bisa menghabiskan nasi ini"
Nenek Ratmi tersenyum sambil mengusap kepala Lila, sungguh menyesal sekali orang yang sudah membuang Lila.
Mereka saling suap-suapan, Lila sesekali bercerita hal lucu yang dia alami tadi, membuat nenek Ratna tertawa. Tawa itu membuat Lisa mulai membuka matanya.
Awalnya nenek Ratmi dan Lila tidan menyadari kalau Lisa sudah membuka mata, namun saat tawa mereka terhenti, mereka mendengar Lisa yang merintih meminta air.
"Nek kakak cantiknya sudah bangun" Teriak Lila. Nenek Ratmi langsung mendekat, dia mendengar Lisa meminta air.
"Ambil kan air nak" pinta nenek Ratmi. Lila berjalan tergesa, sambil mengambil gelas di meja dekat dia mengambil nasi tadi.
Lisa mengamati keadaan di sekelilingnya, dia merasa asing dengan tempat itu, Lisa mencoba mengingat apa yang terjadi padanya namun itu membuat kepalanya sakit.
"Minum dulu nak"
Lisa mengagguk, nenek Ratmi membangunkan Lisa, Lisa langsung menghabiskan air itu.
"Saya ada di mana?" Tanya Lisa pelan.
"Lila menemukan kamu tidak jauh dari rumah ini, nenek boleh tahu siapa nama kamu nak?" tanya Nenek Ratmi.
"Saya Lisa Bu, saya baru saja merantau di Jakarta" Ucap Lisa. Dia hanya ingat kalau dia punya sahabat baru bernama Tari, mereka tinggal bersama di sebuah kontrakan kecil.
selain itu dia lupa, Lisa bahkan tidak ingat kenapa dia ada di tempat ini, dia juga tidak tahu kenapa di tubuhnya ada banyak luka.
Lisa dulu dari panti asuhan, dia ke jakarta untuk mencari pekerjaan. Dia bertekad ingin punya banyak uang dan membantu anak-anak panti. Dia tidak tahu akan berakhir di tempat seperti ini.
"Halo kakak cantik, nama aku Lila" Ucap Lila memperkenalkan diri.
"Lisa" Ucap Lisa dengan suara nada begitu pelan.
"Lila di belakang ada nasi bubur sedikit,tolong bawa ke sini"
Lila mengagguk cepat, Lisa masih bingung, dia terus memijat kepalanya yang masih terasa nyeri.
"Terima kasih ya nek sudah membantu Lisa"
"Sama-sama nak, kalau masih lemas, lebih baik tiduran lagi"
Lisa menggeleng, dia celingukan mencari ponselnya. Tapi Lisa tidak melihatnya di mana pun.
"Apa dia kecopetan dan di buang ke sini?" Batin Lisa.
"Cari apa nak?"
"Lisa mau menelfon teman Lisa nek, mau mengabari teman Lisa kalau Lisa baik-baik saja, Lisa takut teman Lisa hawatir"
"Ini sudah mau malam, di sini tidak ada telepon, hanya ada telpon umum di dekat jalan raya. badan nak Lisa masih lemah, kalau mau mengabari teman nak Lisa, lebih baik besok saja"
Lisa mengagguk setuju, dia mengamati seluruh tempat ini, meski tempat kontrakan nya kecil namun masih layak huni, Lisa tidak menyangka di zaman sekarang masih ada orang yang tinggal di gubug seperti ini, di dinding rumah ini bahkan dari kardus dan barang-barang bekas lainnya. Lisa tak bisa membayangkan kondisi rumah ini kalau ada hujan, pasti basah semua.
"Maaf nak, rumah nenek jelek ya?"
"tidak nek, rumahnya bersih, hanya saja menurut Lisa, rumah ini tidak layak huni, nenek mau tinggal sama Lisa di kontrakan?" Tanya Lisa dengan nada lembut.
"Nenek tidak mau merepotkan nak, nenek sudah nyaman di sini, banyak tetangga juga, nenek sudah biasa kerja di sini, nenek sudah nyaman di sini nak"
Lisa tidak bisa memaksa, saat Lila datang. Nenek menyuapi Lisa dengan begitu telaten. Lisa awalnya ingin menolak, tapi dia terharu, sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Lisa merasa mendapat kasih sayang itu dari Nenek Ratmi. Lisa menitikkan air mata. Apalagi saat nenek Rami mengelap bekas makanan di bibirnya. Lisa begitu terharu sekaligus bahagia, akhirnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Kenapa menangis nak? Ada yang sakit?"
Lisa menggeleng pelan, dia tersenyum sambil meraih tangan Nenek Ratmi, Lisa mencium tangan itu penuh khidmat.
"Maukah nenek jadi keluarga Lisa?"
"Kenapa tidak mau? Nenek senang sekali jika punya anak seperti kamu"
"Terima kasih nek" Lisa memeluk tubuh Nenek Ratmi, Lila ikut nimbrung ke ke pelukan mereka.
"Yei akhirnya Lila punya kakak" ucap Lila begitu gembira. Mereka pun tertawa bersama melihat tingkah Lila yang melompat-lompat kegirangan.
****
Sejak Lisa tiada, Angga bak patung hidup. Dia menghabiskan semua waktunya di kantor. Foto Lisa dia taruh di seluruh ruangan kantornya. Saat dia lelah dia selalu menatap foto-foto itu sambil tersenyum.
"Kenapa kamu ninggalin aku begitu cepat? kenapa kamu menyusul Galih? Kamu tahu Galih tidak pernah mencintai kamu, tapi kenapa kamu menyusul dia? Aku juga ingin ikut dengan kalian" Bisik Angga di depan foto Lisa yang tengah tersenyum.
Sudah satu Minggu ini Angga tidak makan, dia hanya minum air putih saja, hidupnya berantakan. Yang ada di benaknya hanya Lisa dan Lisa.
Sang Ibunda terpaksa menjemput Angga yang tidak pulang-pulang.
"Ya Tuhan! Kamu kenapa jadi begini Angga?" Teriak Bu Nada yang masuk ke ruangan kerja putranya. Bik Sumi masih koma, dan anaknya bak mayat hidup.
Rasanya Bu Nada ingin sekali memutar waktu, dia ingin Lisa kembali hidup. Tapi takdir berkehendak lain.
"Kamu jangan selalu begini Angga, Lisa pasti sedih jika tahu kamu seperti ini" Gumam Bu Nada pada putranya. Dia meminta sekuriti untuk membawa putranya pulang.
Angga terus bicara tak jelas sambil terus memanggil nama Lisa.
"Aku tidak bisa membiarkan putraku terus begini. Dia harus kembali bangkit" batin Bu Nada. Dia tidak mau Angga, putra satu-satunya yang masih hidup kehilangan arah seperti ini.
masih di fase sad ya men temen 🤭🙏
btw smg lisa n bik sum ga kenapa2
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏