Saat kita baru tau jika kita memiliki seorang anak, bagaimana perasaan kita?,
Reynaldi, seorang pria yang baru saja bebas dari penjara harus memulai hidup baru lagi karena dia sadar telah membuat kesalahan yang bikin semua kelurganya malu. Delapan tahun Reynaldi harus hidup di penjara atas kesalahannya di masa lalu. Namun tak pernah ia duga ia harus bertemu dengan wanita yang dulu sempat jadi kekasihnya dan seorang anak perempuan yang baru berusia tujuh tahun. setelah di selidiki ternyata anak itu merupakan ank kandungnya yang tidak pernah ia ketahui.
Bagaimana cara Reynaldi menebus semua kesalahannya terhadap mantan kekasihnya dan anaknya?...
yu baca ceritanya!!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lia kena masalah di sekolah.
Kinan pun masuk untuk melihat keadaan Aldi yang terbaring lemah di tempat tidur.
"Mbak, aku ke kantor dulu, kalau mbak mau balik ke rumah minta antar pak Udin saja. Bang Aldi biar di jaga suster aja, " pesan Dika sebelum berangkat dan Kinan hanya mengangguk saja.
Dika pun pergi dan Kinan duduk di samping Aldi sambil menatap Aldi.
"Aku kecewa sama sama kamu bang, aku gak nyangka kamu sampai seperti itu. Tapi di lubuk hati ku aku sayang sama kamu, namun aku bingung bagaimana menghadapi mbak Nara orang yang sangat berjasa dalam hidup ku, " gumam Kinan.
Kinan hanya bisa meneteskan air mata memikirkan masalah ini. Aldi membuka matanya dan dia melihat Kinan ada di depannya. Aldi memegang tangan Kinan membuat Kinan kaget.
"Bang, " lirih Kinan.
"Aku minta maaf, " ucap Aldi dengan suara lirih.
"Aku panggil dokter dulu, " ujar Kinan lalu meninggalkan Aldi.
Aldi dia hanya bisa terdiam membiarkan Kinan pergi. Tak lama dokter datang namun Kinan tidak ikut masuk dia memilih di luar. Setelah dokter selesai memeriksa Aldi Kinan tidak langsung masuk dia menyuruh pak Udin untuk menemani Aldi.
"Kinan mana pak? " tanya Aldi.
"Di luar den, non Kinan nunggu di luar, " jawab pak Udin.
"Bapak suruh pulang aja, kasihan kalau dia di luar, " perintah Aldi yang mengerti perasaan Kinan.
"Baik den, " jawab pak Udin lalu keluar.
Namun tak lama Kinan malah masuk dengan membawa nampan makanan.
"Aku akan pulang setelah abang makan, " ucap Kinan sambil menyiapkan makanan Aldi.
Kinan duduk di hadapan Aldi lalu menyuapi Aldi makan dan Aldi hanya bisa terdiam dan menerima suapan Kinan. Setelah selesai Kinan beneran pulang namun Kinan menolak untuk di antar pak Udin karena dia berniat untuk menemui Nara dulu. Kinan pun berhenti di sebuah rumah yang sangat besar dan dia mendekati pagar rumah besar itu.
"Maaf cari siapa ya neng? " tanya seorang pria yang merupakan penjaga rumah itu.
"Non Nara nya ada pak? " tanya balik Kinan.
"Ada, silahkan masuk, " jawab penjaga rumah itu.
Kinan pun masuk dan dia duduk di ruang tamu menunggu Nara. Tak lama Nara keluar dan dia langsung mendekati Kinan.
"Kok kamu gak ngasih tau dulu mau ke rumah? " tanya Nara setelah memeluk Kinan.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu mbak, " jawab Kinan.
Nara tau apa yang ingin di bicarakan Kinan pasti masalah kemarin.
"Ayo duduk dulu, " ajak Nara dan mereka pun langsung duduk.
"Kamu mau bahas masalah kemarin kan? " tanya Nara dan Kinan langsung mengangguk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? " tanya Nara.
"Aku bingung mbak, setelah tau kalau bang Aldi mantan suami mbak yang sudah buat menderita. Aku kecewa aku marah sama dia tapi aku gak bisa bohong dengan perasaan ku. Aku sayang sama dia mbak, " ucap Kinan dan Nara tersenyum.
"Aku ngerti dan aku gak minta kamu buat ambil keputusan untuk ninggalin dia. Bang Ilham dia hanya melampiaskan amarahnya yang dulu tertahan karena Aldi di penjara, " balas Nara.
"Namun aku bisa akui kamu saudara atau teman tapi tidak dengan dia. Aku juga gak mau membuat Lia sedih karena harus terpisah dengan papanya, " lanjut Nara.
"Beneran mbak? " tanya Kinan sedikit lega.
"Beneran Ki, kamu tetap sahabat ku. Aku senang kalau kamu bahagia namun jika dia membuat kamu sedih lagi kami gak akan tinggal diam, " jawab Nara dan Kinan dia langsung memeluk Nara.
"Siapa yang datang? " Tiba-tiba mamanya Nara datang.
"Tante, " ucap Kinan lalu mendekati mamanya Nara dan langsung di peluk.
Mereka pun langsung berbincang dan Kinan sangat senang karena semua keluarga Nara menerima keputusan nya untuk tetap bersama Aldi dan malah mereka menasehati Kinan membuat Kinan senang.
"Denger ya, Aldi dia baik hanya saja dulu dia terlalu gegabah karena dia merasa berkuasa dan hanya kesalahan faham membuat dia gelap mata, " ucap mama Nara.
"Makasih lo tante bisa memaafkan bang Aldi, " ucap Kinan.
"Karena tante juga merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Nara, kalau saja dulu tante gak egois memisahkan Nara dan Ilham mungkin semua itu gak akan terjadi, " ucap mamanya Nara.
"Ma, " lirih Nara dan memeluk sang mama.
"Aku benar-benar makasih tante, " ucap Kinan dan semua orang mengangguk.
Setelah datang ke rumah Nara Kinan memutuskan untuk pulang ke rumah Dika dan tibanya di sana Kinan melihat Lia duduk di depan rumah.
"Sayang, lo kamu udah pulang? " tanya Kinan mendekati Lia.
"Mama darimana kok susah banget di hubungi? " bukannya menjawab Lia marah marah.
"Mama habis dari rumahnya tante Nara, " jawab Kinan.
"Oh, " balas Lia dengan lesu.
"Ayo masuk! " ajak Kinan dan mereka masuk.
Lia langsung masuk kamar dan Kinan bisa melihat wajah Lia sedikit murung.Namun Kinan tidak terlalu memikirkan dia langsung ke dapur membuat makan siang buat Lia. Lia di kamar dia bukannya ganti baju melainkan duduk di tempat tidur lalu mengeluarkan sebuah kertas dan di tatapnya.
"Gimana aku kasih tau mamanya, " gumam Lia lirih.
Kertas yang Lia pegang merupakan surat panggilan orang tua karena Lia telah berbuat kesalahan namun Lia seperti itu karena ada penyebabnya. Akhirnya Lia pun keluar memutuskan untuk memberitahu sang mama walau dia harus di marahi.
"Ma, " panggil Lia pada Kinan yang sedang memasak.
"Ada apa sayang? " jawab Kinan tanpa melirik Lia karena sedang memasak.
"Ada yang mau Lia bicarakan sama mama, " beritahu Lia membuat Kinan berbalik dan menatap Lia.
"Lia tunggu di meja makan saja, " ucap Lia lalu melangkah menuju meja makan dan dia duduk di sana menunggu sang mama.
Kinan pun selesai memasak dan semua makanan di bawa ke meja makan.
"Apa yang mau kamu bicarakan? " tanya Kinan sebelum makan.
Lia pun menyerahkan surat panggilan orang tua pada sang mama. Kinan pun mengambilnya lalu membukanya dan dia kaget setelah membacanya.
"Apa masalah nya? " tanya Kinan santai.
"Lia gak Terima dikatain anak penjahat, " jawab Lia dengan menunduk.
Kinan pun terdiam karena dia gak bisa berkata apa-apa.
"Maafkan Lia ma, " lirih Lia.
"Ya sudah kamu makan dulu besok mama datang ke sekolah, " ucap Kinan dan Lia pun makan.
Setelah makan Lia langsung pergi mandi dan ganti baju. Dia duduk di balkon kamar sambil bermain ponsel. Kinan yang melihat itu hanya bisa memperhatikan dari jauh.
Kinan berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini. Kinan bingung dan dia mengkhawatirkan mental sang anak Lia.