Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
membujuk Alex..
"Sayang,,bagaimana kabar anak kita? apa dia sehat?" tanya Alex saat suaminya Laura itu sudah pulang dari tugas nya.
*Sehat sayang,,lihatlah,perut ku semakin membesar kan? artinya anak kita pun semakin besar di dalam,,gerakannya sudah mulai terasa,meskipun belum terlalu kuat." ujar Laura bergembira menceritakan perkembangan bayinya didalam.
"Coba kurasakan,,kali aja dia menendang dari dalam,," Alex mendekatkan wajahnya ke perut buncit Laura.
"Wahhhh dia benar benar bergerak sayang! aku bisa merasakan nya!" seru Alex riang.
Alex mengusap usap permukaan perut Laura.
Alex terlihat sangat antusias dengan kehamilan Laura.
Alex tidak menyadari kalau sikapnya barusan membuat istrinya terlihat sedih,bahkan hampir menangis.
Apa jadinya kalau Alex tahu yang sesungguhnya? anak yang sangat dia harapkan ini sebenarnya bukan lah darah dagingnya? membayangkan saja hati Laura Serasa di cubit.
"Menurut mu apakah dia perempuan atau laki laki?" tanya Alex iseng.
"Aku tidak tahu Mas,tapi menurut ku dia adalah perempuan,karena aku sangat suka kalau dia berjenis kelamin perempuan." jawab Laura.
"Dia pasti laki laki..!" tiba tiba Lexi menginterupsi.
Entah kapan munculnya pria pembuat onar itu,tau tau sudah bergabung dengan mereka.
Melihat kedatangan Lexi membuat Laura meremas tangannya.
bagaimana kalau mulut Lexi keceplosan mengaku kalau janin yang dia kandung adalah darah dagingnya? bisa tamat riwayat nya,tamat juga pernikahan mereka.
Alex pasti akan sangat membencinya.
"Kak Lexi,,sudah pulang?" sambut Alex tersenyum.
Lexi menjawab dengan deheman.
Dia ikut bergabung dengan mereka,duduk di sofa di hadapan mereka.
"Kata kakak bayi yang dikandung Laura adalah laki laki,kenapa kakak bisa seyakin itu?"
jantung Laura berdetak lebih kencang.
dia sudah seperti pencuri yang kedapatan dan tengah di sidang.
Lexi malah tidak terpengaruh oleh pertanyaan adiknya.
Lexi melonggarkan dasinya lalu menjawab pertanyaan sang adik.
"Feeling saja,,sama seperti Laura tadi yang menebak bayinya adalah perempuan,iya kan?"
mendengar itu hati Laura langsung lega.
Setidaknya dia tidak membongkar kenyataan.
"Hehehe,iya juga sih kak,," Alex menyengir.
"Laura,buatkan kopi hitam untukku,,antarkan ke ruang kerja ku,dan kamu Alex,,bisakah kamu ke kantor ku sekarang?"
"Ke kantor kakak? buat apa?" tanya Alex.
"Ada berkas ku ketinggalan di ruangan ku,aku membutuhkan itu malam ini,sementara asisten pribadi ku belum pulang dari meeting." ujar Lexi.
"Tentu saja kak,,aku akan mengambil nya untuk kakak sekarang,,nanti ku video call kalau aku sudah sampai dikantor kakak,karena aku tidak tahu berkas yang mana yang kakak butuhkan." Alex sangat penurut
"Pergilah." Lexi beranjak dari sana meninggalkan Laura yang belum beranjak ke dapur membuatkan kopi.
"Aku ikut ya mas?" pinta Laura merengek.
"Kak Lexi tadi menyuruh mu membuat kan kopi kan? buatkan sana,nanti kak Lexi menunggu lama,"
"Begini saja,bagaimana kalau kamu tunggu aku membuatkan kopinya,lalu kita pergi bareng,,kak Lexi membutuhkan berkas itu malam kan?" Laura setengah mendesak.
"Ada apa dengan mu? kenapa tiba tiba kamu pengen sekali ikut?" Alex memasang wajah heran.
"Kamu tahu sendiri kan mas,aku tidak pernah keluar rumah,sekali kali aku pengen keluar rumah menikmati suasana luar,"
Alex terdiam sejenak,lalu kemudian mengangguk setuju.
"Yasudah kalau begitu,buruan buat kopi kak Lexi,aku akan menunggu mu."
Laura buru buru ke dapur menyeduh kopi hitam untuk kakak iparnya itu,setelahnya menyuruh bik Nah mengantarkan nya.
"Ayo mas,kita berangkat." Laura terlihat sangat riang karena suaminya membiarkannya ikut.
Sementara di ruang kerja Lexi..
"kenapa bibik yang antar kopinya? dimana Laura?" tanya Lexi tidak puas.
"nyonya Laura ikut dengan tuan Alex keluar tuan."
"Sial! yasudah,bibik boleh pergi."
Lexi menelepon Alex.
"Kamu sudah berangkat?"
"Ini lagi berangkat kak,baru seratus meter dari rumah,"
"putar balik,ternyata asisten ku akan mengantar nya sebentar lagi."
"Baiklah kak kalau begitu."
Setelah sambung an terputus,Laura merengek pada Alex.
"Sayang,,kita nggak pernah lagi makan diluar,,aku pengen makan stik,boleh ya?"
Rengek Laura.
Alex terdiam sejenak,menimbang permintaan Laura,setelahnya dia mengangguk lalu memacu kuda besinya menuju restoran bistik.
***
"Mas,,,sebenarnya aku lebih suka kalau tinggal dirumah sendiri,tidak apa apa ngontrak,,asalkan hanya ada kita berdua." Laura mengeluarkan uneg uneg nya.
Alex menghela nafas panjang.
"Laura,,dengarkan aku,,waktu itu kita sudah membicarakan ini sebelumnya kan? aku sudah setuju waktu itu dan aku juga sudah mendapatkan rumahnya,mendadak kamu berubah pikiran.,sekarang kamu kembali membicarakan itu,,gimana sih? kamu jangan plin plan dong!" protes Alex tidak suka.
"Kali ini aku ingin pindah mas,meski pun tinggal dirumah kak Lexi sangat enak,dilayani,tapi lebih enak kalau dirumah sendiri,sekalipun cuma ngontrak."
Alex tidak menanggapi.
"uhmm,,Bisakah kepindahannya kita ini kamu yang seolah yang menginginkannya?maksudnya agar kak Lexi tidak salah paham ,," tatap Laura memelas.
"Kamu masih takut pada kak Lexi? atau kamu sering ditekan kak Lexi?" selidik Alex.
"Bukan begitu,,aku nggak nyaman saja tinggal satu atap dengan kakak ipar,,apalagi kamu sering ke luar kota,bahkan sering pulang larut malam," desah Laura memasang wajah sedih.
"baiklah kalau itu maumu, aku akan membicarakan ini lagi dengan kak Lexi,,asalkan kamu dan bayi kita sehat sehat,apapun akan kulakukan,," angguk Alex setuju.
Laura merasa lega mendengar jawaban suaminya.
Dia tidak sabar lagi menunggu hal itu.
Jika mereka berhasil keluar dari rumah itu,maka kesempatan Lexi untuk menidurinya tidak ada lagi.
Laura sangat puas dengan jawaban suaminya.
"Sayang,,kalau bisa yang jauh dari rumah kak Lexi ya? takutnya kak Lexi salah paham,,kalau dekat dekat situ juga kenapa harus pindah? pasti begitu nanti pertanyaan kak Lexi." ucap Laura meyakinkan suaminya.
"Aku akan mencari rumah yang dekat dengan kantor,meskipun mahal lebih baik begitu,supaya ada alasan kepindahan kita."
"Makasih ya sayang,,aku mencintaimu."
Ucap Laura meskipun sebenarnya hatinya berontak.
bersambung...