Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #14
Linus masuk ke dalam kelas dengan hati yang sedikit kacau, ia tiba-tiba kepikiran dengan Cery, memang sejak kepergian Cery Linus tidak jadi ia yang biasanya, dia lebih cenderung cuek,diam dan sering teledor dalam banyak hal.
Entah itu karena perasaan bersalah yang ia rasakan terhadap Cery, sehingga mempengaruhi seluruh hidup nya.
Apalagi saat ini hubungan nya dengan Raja dan Della benar-benar berakhir.
"Linus, cepat duduk, kenapa kau terlambat lagi?" tanya guru tersebut dengan tatapan tajam.
Guru matematika di sekolah itu memang cukup kiler.
"Maaf pak," jawab Linus singkat dan kemudian duduk di bangku nya.
Sementara itu di kelas Della.
"Selamat pagi anak-anak, maaf ya ibuk telat karena tadi di jalanan macet," ujar wali kelas Della dengan ramah.
"Iya buk ... Selamat pagi!" seru seisi kelas.
"Sebelum memulai pelajaran,ibu mau kasih tau kalian, kalau hari ini kelas kita kedatangan teman baru, pindahan," uajar wali kelas sambil meletakkan buku yang ia bawa ke atas meja nya.
"Murid pindahan buk? Pindahan dari mana?" tanya Della penasaran.
"Ibu belum tau banyak, sebaiknya kamu tanya sendiri orang nya, silahkan masuk nak!" Mata wali kelas tertuju kepada pintu masuk kelas.
Seseorang masuk ke dalam kelas dengan gaya jalan khas nya membuat seisi kelas tercengang.
"Ayo perkenalkan dirimu," ujar wali kelas lagi.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama gue Clara, kalian bisa panggil Clara atau Rara, gue pindahan dari SMA Mekarsari." ujar nya dengan senyum ramah.
Seluruh anak laki-laki di kelas tercengang, suara yang begitu imut,pipi sedikit caby dan bibir Semerah Cery.
"Cery!" Della berdiri dari duduknya dan tiba-tiba menyebut nama Cery.
Seluruh mata yang awalnya menatap ke arah Clara kini malah beralih ke Della.
"Della, apanya yang Cery? Dia Clara, kamu kenapa?" ujar Bu wali kelas bingung.
Gadis yang mengaku sebagai Clara juga melihat ke arah Della dengan tatapan bingung.
Della teridam setelah mengatakan hal itu, entah kenapa ia benar-benar melihat sosok Cery di depan sana, ia merasa wanita itu adalah Cery bukan Clara.
Dari awal masuk kelas saja Della sudah sedikit mengenali gaya jalan nya, tinggi badan nya suara nya juga.
Meskipun Clara sangat cantik jauh berbeda dengan Cery yang berpenampilan culun dan sama sekali tidak menarik tidak pernah mengunakan lipstik atau bedak tidak pernah menguraikan rambut namun Della yang selalu merundung nya tentu sangat kenal garis wajah nya juga sama sekali tidak berubah hanya saja Clara memakai Mak up meskipun itu sangat tipis.
"Clara silahkan pilih bangku mu, ada dua tempat duduk kosong di kelas ini," ujar Bu wali kelas untuk mencairkan suasana yang sempat membeku.
"Baik buk terima kasih," Clara berjalan ke arah bangku Cery, ia duduk di sana seolah sudah terbiasa duduk ia tidak terlihat cangung sama sekali.
Della memeprhatikan semua gerak-gerik Clara.
Tidak terasa jam pelajaran pertama pun akhirnya selesai, seluruh siswa dan siswi bergegas keluar dari kelas mereka masing-masing menyerbu kantin sekolah, pelajaran pertama cukup membuat mereka kelelahan menahan haus dan lapar.
Suasana kelas sudah sangat sepi, namun Clara masih duduk diam di bangku nya sambil bermain ponsel.
"Della, Lo ke kantin bareng kita gak?" tanya salah satu dari dua orang teman Della.
Della mengelengkan kepala sebagai jawaban, ia menyibukkan diri dengan buku pelajaran nya.
Setelah mendapat jawaban Della, kedua temannya pun segera meninggalkan kelas, kini yang tersisa di dalam kelas hanya Della dan Clara si murid baru.
Namun Della yang semula anteng di kursi nya tiba-tiba berdiri dari dan berjalan ke arah banggu Cery.
"Maaf, apa gue boleh ngobrol sebentar sama Lo?" ujar Della dengan lirih, ia berdiri tepat di samping meja Clara.
"Oh, boleh, ada yang bisa gue bantu?" tanya Clara menoleh sekilas ke Della dan kemudian kembali fokus ke ponsel nya.
Jelas-jelas yang ada di hadapannya saat ini orang lain, berbeda jauh dengan Cery, Clara lebih terlihat cuek dan nada bicaranya terdengar sangat angkuh.
Della tidak peduli dengan Clara yang cuek terhadap nya, ia mengambil satu kursi yang ada di dekatnya dan kemudian duduk di samping Clara.
"Kenapa Lo milih bangku ini? Kan masih ada bangku yang lain?" Della membuka topik pembicaraan.
Clara mengerutkan keningnya, ia menutup ponselnya dan kemudian menatap wajah Della.
"Emang kenapa kalau gue mau duduk di sini, ini kan dekat sama jendela, adem dong pas belajar," jawab nya.
Della lagi-lagi teridam, perlawanan ini tidak pernah ia dapatkan dari Cery, sepertinya dugaan tentang wanita itu adalah Cery salah, ya bagaimana mungkin orang yang sudah meningal bisa hidup kembali.
"Oh iya, kalau gue boleh tau, tadi pas perkenalkan Lo kayaknya ada nyebutin satu nama deh, maksud nya apa ya gue jadi penasaran," ujar Clara lagi, ia membuka pertanyaan baru saat menyadari Della yang tidak lagi angkat bicara.
"Maaf, gue salah orang, gue pikir Lo Cery, wajah Lo sama persis, tinggi badan dan gaya jalan kalian sama," setelah menjawab pertanyaan Clara dengan secepat kilat Della berdiri lalu berlari kecil keluar dari dalam kelas.
Ia terlihat aneh di mata Clara, si anak baru.
"Apa-apaan?" gumam Clara yang kemudian tersenyum miring.
Sementara itu Della yang sedih memilih untuk pergi ke taman, ia tidak bisa membendung air matanya hingga menangis.
"Hiksss, Della Lo kenapa bodoh banget sih? Lihat orang mirip dikit aja Lo sampai ngira itu Cery, sekangen apa Lo sama si culun?" Della bahkan mengumpat kepada dirinya sendiri sambil menyeka air mata.
Namun di saat seperti itu, seseorang tiba-tiba duduk di sebelah nya dan mengulurkan sebotol air mineral.
"Ngapain lo? Masih meratapi dan menyesal ya?" ujar laki-laki tersebut.
Della segera menyeka air matanya dan kemudian melirik ke arah laki-laki tersebut.
"Ngomong apa sih kak Raja? Jelas-jelas kakak juga kayak gitu kan? Jangan pikir aku gak tau," balas Della sambil menerima air dari Raja.
Ya sejak kepergian Cery, Raja dan Della mulai dekat, karena mereka sama-sama merasa kehilangan, Raja menyukai Cery sementara Della selalu menyesali perbuatannya sejak Cery menolongnya.
"Gue denger- denger, di kelas Lo ada murid baru ya? Katanya mirip Cery, emang ada ya orang yang bisa mirip sama Cery, gue gak percaya meskipun tu gosip nyebar di kantin sekolah tadi," gumam Raja dengan tatapan kosongnya.
Della menatap Raja, dia bukan bingung karena Raja tidak percaya, namun rasa bingung itu datang saat mendengar gosip tersebar di kantin, itu artinya bukan hanya Della yang merasa kalau Clara punya kemiripan dengan Cery, namun yang lainnya juga.
"Kenapa Lo natap gue sampai segitunya?" ujar Raja lagi.
Namun Della tidak menjawab, dia juga sedikit kesal karena Raja tidak percaya, ia berdiri dari duduknya dan kemudian memegang pergelangan tangan Raja." ayo ikut aku kak, aku bakal tunjukkin orang nya.
Della puan menyeret paksa Raja ke kelas nya, mereka sempat cekcok di sepanjang koridor sekolah karena Raja tidak mau dan tidak percaya.
Namun setibanya di kelas, mereka tidak melihat siapapun, tidak ada orang di sana, kelas kosong, tidak ada Clara atau tas nya di sana.
"Mana? Mana orang nya?" ujar Raja menatap kesal Della.
"Lah kok gak ada? Apa mungkin dia ke kantin?" jawab Della lagi.
"Lo nipu gue apa gimna sih? Gue gak suka di giniiin gue jadi makin ingat sama Cery, udah lah gue mau ke kelas," Raja yang kecewa berjalan cepat keluar dari kelas Della meninggal kan Della sendirian di sana.
Della tidak peduli tentang apa yang di katakan oleh Raja, dia keluar dari kelas dan berlari menuju kantin, dia berfikir mungkin Clara ada di kantin sekolah.
Namun tiba-tiba ia berpapasan dengan Linus, Linus menghadangnya dan membuat Della tidak bisa berlari.
"Mau kemana Lo? Ada yang mau gue omongin sama Lo Della, tadi gue nyariin Lo gak ketemu," ungkap Linus sambil merentangkan kedua tangannya agar Della tidak bisa melewati dirinya.
"Ngapain Lo nyari gue? Gue gak ada waktu, alias sibuk! Minggir!" ucap Della mendorong Linus dan kembali berjalan.
Linus sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini sejak dua Minggu belakang, Della benar-benar sudah tidak menganggap nya saudara lagi meskipun ia sudah meminta maaf.
"Ini soal Cery," lirih Linus membuat langkah Della seketika terhenti.
Della berbalik dan kembali menghampiri Linus. Ia menatap wajah Linus penuh penasaran.
"Apa yang Lo maksud tentang Cery?" ujar Della.
"Tadi pagi gue gak sengaja nabrak cewek, yang wajah nya itu kalau di lihat-lihat mirip banget sama Cery, dia anak baru di kelas Lo kan? Lo gak mungkin gak kenal dan gak ngeh sama wajah nya kan?" Linus terlihat sangat bersemangat menceritakan itu kepada Della.
Della kini semakin yakin kalau pandangan nya tidak lah salah karena Linus juga sampai menyadari itu adalah wajah Cery.
"Kenapa Lo jadi ikut campur? Bukan nya Lo gak suka Cery? Sekarang ngapain Lo pakai segala peduli ada yang mirip sama dia," ujar Della masih dalam kekesalan terhadap Linus.
"Gue gak sejahat yang Lo kira, gue udah nyesel selama dua Minggu atas apa yang gue lakuin, kalau seandainya gue bisa masuk ke kantor polisi dan bilang kalau gue penyebab kematian Cery apa ada yang percaya? Apa ada yang bisa percaya sama gue?" jawab Linus dengan wajah penuh tekanan.
Della terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa, yang jelas ucapan Linus juga ada benarnya, malam itu tidak sepenuhnya salah Linus, tapi semua itu terjadi karena Rena, dia lah biang masalah ini.
"Sebenarnya gue juga lagi nyari tu anak, nama nya Clara, tapi asal Lo tau aja, kak Raja gak percaya dan lo juga harus tau, mereka memang mirip tapi tidak dengan sikap nya," jelas Della sambil memegang pundak Linus.
"Gue tau, dia kasar dan tegas," jelas Linus menuduk dia mengingat bagaimana Cery yang lembut dan sangat perhatian.
Della menarik nafas panjang, tidak tau harus berkata apa lagi kepada Linus, ia juga pada akhirnya iba dengan Linus yang seperti ini.
Bersambung ....