NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Sakit

Sejak tadi Laura menelpon Nadia tapi tidak bisa. "Nad, lo dimana sih?" Mondar mandir sambil terus menelpon meski sudah ada pemberitahuan bahwa nomor yang di tuju tidak dapat di hubungi.

"Kenapa, dek?" tanya Luna heran melihat adiknya itu yang sejak tadi gelisah.

Laura menoleh, sementara ponsel masih terus dia taruh di kupingnya. "Nadia gak bisa di telpon, kak. Ini hp nya mati atau kenapa?"

"Mungkin lagi ada kelas."

"Gak ah, gak mungkin ada kelas sepagi ini."

"Ya mungkin hp nya mati, atau Nadia gak sadar ada telpon masuk."

Laura menghela napas kasar sebelum akhirnya dia kembali mencoba menelpon Nadia lagi.

Sementara itu, Nadia saat ini sedang terbaring tak sadarkan diri di salah satu ruang rawat VIP rumah sakit Sentra Medika milik keluarga Bastian.

Bagian atas kepala sebelah kiri dibalut perban, plester luka di jidat dan bagian siku tangan kanan juga di balut perban. Nadia tidak terluka parah, karena memang saat terjadi kecelakaan laju motornya sangat pelan. Tubuhnya pun tidak terpental kuat.

Selang infus terpasang di pergelangan tangannya. Detak jantung terpantau stabil di layar monitor pendeteksi.

"Suster, dokter Bastian minta Suster untuk tetap berjaga di ruangan ini sampai pasien siuman." ujar Suster lain yang memang sengaja masuk ke kamar itu untuk memberi tahu Suster yang sedang mengganti botol infus Nadia.

"Oh gitu ya. Baiklah."

Begitu suster tadi pergi meninggalkan ruangan itu, Suster yang ditugaskan menjaga Nadia sejak semalam itu pun melangkah menuju sofa yang ada di ruangan itu.

"Tidur bentar deh, ngantuk banget." gumamnya.

Suster itu berbaring di sofa dan perlahan mulai memejamkan matanya. Hal terakhir yang dilihat sebelum matanya benar-benar tertutup adalah handphone milik Nadia yang tergeletak di atas meja dalam keadaan layar pecah, rusak dan dalam kondisi mati.

Setelah berusaha menelpon Nadia dan masih tidak bisa, akhirnya Laura menelpon Jeni. Lagi-lagi Jeni pun ikut tidak menjawab panggilan telepon dari Laura.

Jeni yang baru saja masuk ke mobil bersama Kevin, mendengar suara getaran handphonenya, tapi dengan sengaja dia tidak ingin memeriksa karena dia pikir Nadia yang menelpon.

"Sayang, hp kamu bunyi. Ada yang telpon gak sih?" ujar Kevin saat mendengar suara getaran itu.

"Bukan apa-apa. Nomor nyasar, udah dari kemarin."

"Oh gitu."

"Hmm."

Mobil melaju, Kevin menyetir dengan kecepatan sedang. Sesekali Kevin melirik kekasihnya, mata Kevin sebenarnya kurang nyaman dengan penampakan paha Jeni karena Jeni memakai rok mini.

Tegur gak ya! Moodnya kayaknya lagi gak bagus, kalau aku tegur ntar malah makin bad mood. Huh!

Sementara Jeni sendiri mulai merasa gelisah. Sebenarnya dia sangat ingin menjawab panggilan yang dikiranya itu panggilan dari Nadia. Tapi, cemburu buta benar-benar memperkuat dinding pertahannya untuk terus mengabaikan Nadia.

Di kota yang berbeda Laura masih mengkhawatirkan Nadia, satu-satunya harapan terakhir tentu saja Yuri. Laura pun akhirnya menelpon Yuri. Awalnya Yuri pun juga tidak menjawab panggilannya. Itu karena Yuri sedang bersiap untuk menuju ruang laboratorium.

Beruntungnya, tepat sebelum Yuri masuk laboratorium Yuri memeriksa ponselnya dan saat itu juga panggilan Laura masuk. Tanpa berpikir lama Yuri langsung menjawab.

"Ada apa, beb?"

(Lo di kampus?)

"Iya. Ini udah di depan lab. Kenapa, beb?"

(Nadia! Gue udah coba telpon Nadia dari tadi gak bisa-bisa.)

"O ya? Gue sih juga gak lihat Nadia sejak kemarin. Tapi, gue sempat nanya Jeni, katanya Nadia demam kemarin jadi dia izin gak masuk."

(Nadia demam?)

"Iya, Jeni yang bilang. Katanya Nadia yang ngasih tau. Terus ya, gue belum ketemu Nadia, selain karena sibuk di lab seharian juga karena pas pulang udah kecapean jadi langsung istirahat."

(Ya gue cuma khawatir aja sama Nadia. Habisnya gak bisa dihubungi sama sekali.)

"Ya udah nanti deh gue tanya Jeni ya."

(Hmm, tolong tanya Jeni ya beb. Gue udah coba telpon Jeni tapi gak diangkat juga.)

"Iya. Nanti gue tanyain. Ya udah ya beb, udah mau masuk lab. Oh ya, tante gimana?"

(Mama udah mulai membaik. Kemungkinan besok udah boleh pulang.)

"Syukur deh. Oke bye bye!"

(Bye, beb.)

Begitu panggilan berakhir, Yuri langsung mengalihkan ponselnya kembali ke mode silent. Sedangkan Laura sekarang sudah merasa sedikit lega setelah tahu kabar tentang Nadia.

...>~<...

Rio menghela napas panjang sebelum memulai membuka file yang harus dipelajarinya. File-file itu menumpuk di atas meja kerjanya. Jika boleh memilih, Rio sangat tidak suka pekerjaan seperti ini. Tapi, apa boleh buat, karena anak tunggal, jadinya tidak ada pewaris lain yang bisa menggantikannya untuk membantu papanya mengurus perusahaan.

"Bisa, aku bisa! Mama benar, kalau aku pemalas, mana mungkin Laura mau sama aku. Semangat, semangat!" gumamnya bicara sendiri.

Dengan penuh semangat, Rio mulai memeriksa file satu persatu. Ada kalanya Rio juga harus memeriksa beberapa data di komputernya.

Dering ponsel mengganggu fokusnya. Rupanya panggilan masuk dari Papanya.

"Iya, Pa."

(Nanti makan siang bareng papa. Ada hal penting yang mau papa bicarakan.)

"Oke, pa."

(Kamu di kantor?)

"Hmm."

(Itu bagus. Laki-laki pemalas sangat tidak diminati wanita. Meski punya banyak uang sekali pun, wanita yang benar-benar tulus tidak akan tertarik.)

"Iy, pa."

(Ya sudah. Lanjut kerja. Nanti papa share lock.)

"Oke, Pa."

Panggilan selesai, bukannya meneruskan kerjaan, pikiran Rio malah teralihkan oleh Poto Laura yang dia jadikan wallpaper depan layar ponselnya.

"Laura. Semoga kamu gak berubah pikiran. I Miss you so much."

Sementara itu, Laura saat ini sedang mengupas buah jeruk sambil mengobrol ringan dengan mamanya yang sudah siuman.

"Anak mama udah punya pacar sekarang?"

Laura menggeleng malu. "Gak kepikiran buat pacaran juga ma. Banyak tugas."

"Tapi punya pacar tu bisa bikin mood jadi baik loh dek." timpal Luna yang baru masuk membawa makanan yang baru dibelinya di luar.

"Ya itu kalau ketemunya cowok yang baik kak. Lah kalau ketemunya cowok yang gak bisa ngertiin, cemburuan dan posesif, yang ada nilai tambah hancur."

Luna tidak merespon apapun karena mulai sibuk membuka satu-persatu makanan yang tadi dia beli.

"Ya udah sih, sekarang sarapan aja dulu."

Laura memilih makanan apa yang ingin dia santap pagi ini.

"Nih, nasi pecel buat kamu." Luna memberikan kotak nasi berisi nasi pecel.

Laura terdiam sesaat saat mendengar nama makanan itu. "Aku gak suka nasi pecel kak."

"Loh, dulu kamu suka banget. Iya kan ma?"

"Itu dulu kak. Sekarang udah gak."

"Ya udah, gudeg aja mau?"

"Boleh deh, dari pada kelaparan." Mengambil gudeg yang sebenarnya tidak begitu dia sukai.

Laura tetap memilih menyantap gudeg dari pada harus menyantap nasi pecel yang sebenarnya kesukaan Rio, Laura tau itu saat mereka pacaran dulu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!