Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan dan Masa Depan
Lampu-lampu neon estetik mulai menyala satu per satu, menghiasi sudut-sudut instalasi seni dan bangunan kontainer yang ditumpuk artistik di kawasan kota kreatif itu. Setelah tiga hari penuh berkutat dengan lensa kamera, tim fotografer, dan berbagai arahan gaya yang melelahkan, sore ini Shane dan Aiena akhirnya bisa bernapas lega.
Tidak ada lagi gaun pengantin yang berat atau rambut yang kaku oleh hairspray, keduanya kini tampil santai dengan pakaian kasual, membaur di antara para seniman muda dan wisatawan yang memenuhi destinasi wisata tersebut.
Shane melangkah dengan tangan yang terselip santai di saku celana jinsnya, sementara matanya tak henti memindai arsitektur unik di sekeliling mereka.
“Akhirnya, Na. Tinggal kita berdua. Santai,” ujarnya sambil menoleh ke arah Aiena yang tampak antusias memotret sebuah mural besar menggunakan ponsel.
Aiena menurunkan ponselnya, memberikan senyum lebar yang memperlihatkan lesung pipinya yang manis. “Jujur, Shane, aku senengnbanget bisa jalan-jalan gini tanpa beban. Bali ternyata punya sisi lain yang modern ya, bukan cuma pantai sama pura.”
“Memang. Ini konsepnya kota kreatif, semacam ruang komunal buat para kreator,” Shane menunjuk ke arah sebuah galeri terbuka yang memajang kerajinan keramik kontemporer. “Cocok buat kamu yang bikin-bikin konten terus. Siapa tahu kamu dapat inspirasi untuk proyek baru di sini.”
Aiena tertawa kecil, melangkah mendekati sebuah gerobak es krim artisan yang berdesain retro. “Inspirasi proyek baru? Aku malah masih mikirin buat desain kemasan produk nanti, Tuan Calon Suami.”
Shane ikut berhenti di sampingnya, memesan dua cone es krim rasa sea salt caramel dan vanilla. Untuknya dan untuk Aiena.
“Nah, itu dia. Anggap aja kencan sore ini sebagai riset lapangan. Kamu lihat orang-orang di sini? Perhatikan perilakunya. Anggap mereka semua pelanggan kita. Kamu pernah dapat mata kuliah perilaku konsumen, kan?”
Aiena menerima cone es krimnya, lalu mereka berjalan menuju sebuah area duduk yang terbuat dari ban bekas yang dicat warna-warni. “Hebat ya, Pak Shane. Sambil menyelam minum air. Kencan sambil survei lapangan.”
Shane menyandarkan punggungnya, menatap Aiena dengan tatapan yang jahil. “Namanya efisiensi, Na. Efisien waktu, efisien biaya.”
Aiena menyendok es krimnya menggunakan sendok kayu kecil dengan gerakan canggung untuk menutupi rasa malunya. “Setelah nikah, aku tetap boleh kerja kan?”
“Terserah kamu, Na. Perusahaan memang butuh kamu, tapi kalau kamu mau jadi ibu rumah tangga full, aku nggak keberatan. Kamu mau kerja dari rumah juga nggak masalah.”
“Oh ya, satu lagi. Soal anak…”
Shane menoleh ke arah Aiena. “Aku terserah kamu, Na. Aku ingin cepat ada anak, tapi kalau kamu belum siap, kita bisa tunda…”
“Aku siap, Shane,” potong Aiena cepat. “Aku siap kalau sama kamu. Kamu sudah buktiin, kamu bisa lindungi aku, kamu juga pasti bisa jadi papa yang baik buat anak kita nanti.”
Setelah es krim habis, keduanya kembali berjalan. Menikmati pemandangan yang asri dan udara yang sejuk. Langkah membawa mereka ke taman multimedia outdoor yang dihiasi lampu warna-warni, efek dramatis dan suara latar yang membuat suasana semakin hidup.
“Soal kerjaan…” Shane memperlambat langkahnya. “Kalau kamu mau jabatan yang lebih tinggi atau mau jadi sekretarisku boleh. Bilang aja.”
“Aku mau tetap di posisi yang sekarang, Shane,” jawab Aiena mantap. Ia memang menikmati pekerjaan dan posisinya saat ini. Editing foto dan membuat gambar konten adalah spesialisasi dan hobi Aiena. Selama ini, ia mengerjakan job desk-nya itu dengan senang hati.
“Oke kalau kamu nyaman disana. Aku juga senang nggak perlu rekrut orang baru buat divisi pemasaran digital,” sahut Shane santai. Ia berjalan sedikit di depan Aiena. Membuka jalan terlebih dahulu, memastikan tidak ada bahaya di depan mereka, mengingat bahwa taman ini cukup gelap di hari yang sudah mulai sore.
***