NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:509
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi ke Kota (5)

Adam dan Ziva menyelinap keluar dari kafe, lingkungan kembali dipeluk keheningan yang mencekik, membawa perasaan campur aduk pada keduanya.

Ziva bahkan tak bisa berhenti gemetar setelah keluar dari kafe, dia bergerak dengan susah payah hanya untuk melangkah sekali.

Hatinya sedikit goyah setelah merasakan tekanan aneh di udara, sungguh perasaan yang baru. Bahkan Adam harus mengeluarkan sedikit tenaga lebih untuk meneruskannya.

Mereka tak tahu apa yang terjadi, lagipula keduanya tak memiliki pengetahuan banyak tentang kiamat ini.

Mengingat ini membuat keduanya berhenti melangkah sejenak dan berpikir 'Mungkin Rifana akan tahu apa yang terjadi' Bagaimanapun dalam pandangan mereka, sosok Rifana merupakan keberadaan yang misterius.

Pria itu seakan memiliki banyak rahasia di sakunya.

Ditambah kebiasaannya untuk membuat rencana yang memuakkan itu sebenarnya sangat membantu tim berada dalam garis lurus, meski terkadang stagnan, memiliki rencana sebenarnya sangat bermanfaat di berbagai sisi.

Ini tetap menjaga mereka agar tetap berada pada jalur yang mereka pilih, dan itu juga membantu mereka menghadapi berbagai situasi tak terduga.

Keduanya memiliki firasat yang sama layaknya pikiran kolektif yang spontan 'Jika dia disini, kami akan tinggal sedikit lebih lama.' Meski Adam membenci saat dimana otaknya kewalahan, dia sebenarnya belajar banyak hal dari penjelasan Rifana.

Meski kecepatan belajarnya di bawah rata-rata, Adam bisa menjaga materi di kepalanya lebih melekat dibandingkan orang lain, entah karena apa.

Kedua bersaudara itu melangkah di tengah kosongnya jalan raya, gedung-gedung di sisi jalan telah hancur dijarah dan bahkan beberapa telah dibakar habis oleh api pada malam sebelumnya.

Ini menciptakan aroma panas tengik disaat yang sama.

Mereka menyusuri jalur menuju mall, namun tak semudah itu.

Makhluk mutan tak sepenuhnya menghilang, kesunyian total di tempat ini malah membuat suasana semakin berat bagi keduanya. Mereka tak tahu apa yang tersembunyi di balik kegelapan jauh di depan mereka.

Adam bahkan ingin berbalik dan kembali ke kafe karena khawatir. Namun ia tak melakukannya, sebagai seorang pria bagaimana bisa dia begitu lemah.

Ditambah adiknya ada di belakangnya saat ini, harga dirinya menepis pikiran pengecut itu menjauh dan menggenggam pipa besinya lebih kuat.

Rifana selalu menekankan satu hal pada Adam di percakapan mereka sebelumnya, jangan menjadi sok berani.

Adam tak mengerti mengapa pria itu mengatakannya, dia hanya mengingatnya secara verbatim, bahkan dengan bantuan penjelasan darinya Adam masih tak bisa menangkap maksud dari perkataan itu.

'Apakah yang dia maksud itu impulsif atau apa?' Adam meneruskan jalurnya, di belakangnya Ziva menoleh kesana kemari, tubuhnya tak bisa tenang secara normal sekarang, dia terkadang menggigit kukunya sembari berjalan cepat.

Hatinya terus berdegup kencang, sejak mereka pergi dari perumahan.

Entah apa yang terjadi, Ziva menebak secara asal, mungkin saja dunia mengalami perubahan sekali lagi.

Mereka menyusuri jalan-jalan tersembunyi kota untuk sampai ke tempat yang dijanjikan Rifana, setelah beberapa waktu mereka akhirnya melihat gedung besar itu.

Bayangan dari makhluk-makhluk misterius berlarian dalam kegelapan, di kejauhan, Adam dan Ziva dapat melihat gedung besar dengan tiga lantai yang berdiri kokoh.

Lampu neon yang tergantung di dindingnya telah terkelupas mati sejak lama, menyisakan jejak warna yang tak sinkron dengan warna utamanya.

Mereka saling menatap sebentar, Adam mengambil alih kepemimpinan dan menuntun Ziva di belakangnya, mereka mengendap di gedung-gedung kecil di sisi jalan.

"Kita masuk lewat basement aja dam" Ziva berkata di belakangnya, dia mengetuk pundak Adam menunjuk ke tikungan di depan mereka.

Adam mengangguk "Ide bagus, tetap di belakang gua" Dia mengambil rute itu, melalui jalan yang menurun mereka berdua terselubung dalam gelapnya dunia.

Cahaya retakan tak dapat melewati kanopi tebal yang meliputi jalur itu tanpa celah.

Di sepanjang jalur, sampah berserakan di seluruh tempat, bau tengik yang membaur di udara menyusup melintasi hidung mereka.

Bersamaan dengannya, udara turun beberapa derajat, mereka akhirnya sampai ke pintu masuk parkiran bawah tanah itu, seperti yang diduga, kegelapan total menyambut mereka.

Adam menyarankan Ziva untuk bergerak sedikit lebih dekat, dia mengawali keduanya memasuki kegelapan itu.

Tetesan air menggema di seluruh tempat, desiran aneh juga menggetarkan telinga mereka dengan halus, Adam memastikan Ziva tetap dekat dengannya saat mereka melangkah.

Dengan mengandalkan pencahayaan minim dari pintu masuk, mereka terus mengendap di tempat itu, berpegang pada dinding yang sedingin es keduanya meraba jalan layaknya seorang tunanetra.

Mereka tak tahu apa yang dapat tersembunyi di balik kegelapan itu, siluet-siluet mobil terlihat bergerak di sudut mata Adam membuatnya tanpa sadar mempercepat langkahnya.

Semakin jauh mereka pergi, hal-hal mulai menjadi tak terkendali, dan saat itulah mereka mendengarnya.

Cahaya tampak di ujung ruangan, lilin obor menerangi kegelapan di sekitarnya, menampakkan sosok-sosok humanoid berjalan dalam kelompok.

Telinga mereka berderak, kelompok itu berbisik.

Adam dan Ziva menghentikan langkahnya.

Itu, manusia!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!