Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Akhirnya makan malam pun usai. Violet pun telah kembali ke dalam kamarnya. Sebelum tidur, ia mengambil laptopnya yang baru ia beli bersama Xavier tadi siang.
Violet membuka laptopnya dan menekan tombol on. Menunggu beberapa detik, akhirnya laptop pun menyala.
Violet segera mengetikkan sesuatu dalam laptopnya. Setelah menekan tombol enter, ratusan bahkan ribuan angka dan huruf mulai memenuhi layar laptopnya.
Jemari Violet terus bergerak dengan lincah di atas keyboard laptopnya. Pantulan cahaya layar memenuhi wajahnya yang tampak serius.
Barisan kode terus berjalan dengan begitu cepat di layar monitor, menebus sistem demi sistem keamanan milik Perusahaan Alexander.
Sudut bibirnya terangkat tipis saat ia berhasil masuk ke pusat data keuangan perusahaan itu. Semua jenis laporan transaksi keuangan berhasil ia akses.
Violet segera memasukkan flashdisk ke dalam laptopnya dan menyalin seluruh transaksi keuangan itu.
Pada saat transfer ke 80%, tiba-tiba di layar muncul sebuah pesan, “Siapa Kamu?”
Violet menarik sudut bibirnya, “Sepertinya seseorang telah mengetahui jika keamanannya di bobol. Hmmm... menarik.”
Ia pun mulai membalas pesan itu. "Seseorang yang mungkin akan membuat Perusahaan Alexander gulung tikar."
Setelah membalas pesan itu, Violet pun dengan tenang memindahkan aksesnya ke tempat yang sangat jauh, dan “Berhasil”. Ia berhasil memindahkan akses miliknya ke tempat yang sulit dijangkau.
Sedangkan proses penyalinan laporan keuangan pun terus berjalan dan berhasil ia salin. Walaupun sedikit terhambat karena adanya pesan masuk tadi.
Selanjutnya, ia masuk ke dalam rekening perusahaan dan melihat sejumlah uang yang dihasilkan Perusahaan Alexander.
Dengan segera, Violet masuk ke dalam akses rekening pribadi milik Darius Alexander, mengetikkan angka dan huruf. Akhirnya, transaksi ke dalam rekening pribadi milik Darius pun berhasil.
Setelah berhasil, ia pun segera menghapus dan menutup seluruh akses yang tadi digunakan untuk masuk ke sistem keamanan perusahaan Alexander dan juga ke rekening pribadi milik Darius. Jemarinya bergerak cepat hingga tulisan terakhir muncul di monitor.
‘Anda berhasil keluar.’
Violet bersandar pada kepala ranjang, menatap layar dengan senyum tipis penuh kepuasan.
Setelah puas dengan apa yang ia lakukan, kini waktunya ia tidur.
Tubuhnya terasa lelah, namun mengingat kejadian pada saat makan malam tadi, membuat hatinya kembali menghangat.
“My Alpha...” bisiknya pelan.
Wajahnya langsung memerah.
“Aishhh... kenapa aku jadi terus memikirkannya?” keluhnya sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Tak lama kemudian –
Ia pun terlelap dalam tidurnya.
...🩵🩵🩵...
Gelap.
Sunyi.
Tiba-tiba terdengar bunyi benturan yang keras.
Braaakkk!!!
Napas Violet terasa mencekat.
Matanya terbuka perlahan.
Yang ia lihat bukanlah sebuah kamar yang ia tempati. Justru tempat yang gelap dan yang terlihat hanya jalanan.
Ia berdiri di tengah jalan yang basah.
BRAKKK!!!
Suara itu membuat Violet mengalihkan kesadarannya.
“A-apa ini...?” gumamnya dengan tangan bergetar.
Di depannya, sebuah mobil berwarna silver menabrak pembatas jalan, hingga membuat kap mobil terlihat ringsek.
Asap mulai mengepul dari bagian depan mobil. Bahkan pintu mobil bagian depan pun langsung terbuka, karena saking kuatnya benturan itu.
Di kursi depan, nampak seorang pria bersandar lemah di kursinya dan dari pelipisnya darah mengalir keluar.
Sedangkan di kursi sebelahnya, seorang wanita tampak tak bergerak sama sekali dengan kepala berada di atas dashboard disertai darah yang keluar dari dahinya.
Bahkan pecahan kaca pun berserakan di tubuh mereka.
Tetapi –
Yang membuat hati Violet terasa sesak adalah suara tangisan di kursi belakang.
“Hiks... Mama...”
“Papa... bangun...”
Dua anak perempuan berada di sana.
Satu anak terlihat berusia sebelas tahun. Ia memeluk erat adiknya yang jauh lebih kecil.
Tubuh mereka bergetar ketakutan.
“Kak... aku takut...” tangis anak kecil itu.
“Kita gak boleh nangis Vi. Mama sama Papa pasti bangun...” ucap sang kakak walau air matanya terus jatuh.
Violet membeku.
Entah kenapa –
Pemandangan itu terasa sangat familiar.
Sangat menyakitkan.
Langkahnya terasa berat ketika mendekat ke arah mobil itu.
Lalu –
Anak perempuan yang lebih besar perlahan mengangkat wajahnya.
Dan saat mata mereka bertemu, Deg!
Tubuh Violet langsung gemetar hebat.
Karena wajah anak itu –
Sangat mirip dengannya.
“Ti-tidak...” bibir Violet gemetar dan tubuhnya perlahan mendadak mundur.
Orang-orang pun mulai terlihat mendekati mobil itu.
“Tolong! Tolong!” teriak seorang wanita yang melihat kursi belakang.
“Ada anak kecil di dalam!”
Para warga langsung berusaha membuka pintu mobil belakang.
Dengan menggunakan alat yang dibawa oleh satu pria itu, akhirnya pintu belakang mobil terbuka.
Para warga segera membawa anak-anak itu keluar.
Bahkan sebagian warga ada yang menelepon ambulance, pemadam kebakaran dan polisi.
Kedua anak perempuan itu di bawa menjauh dari mobil. Mereka masih terus berpelukan dengan erat.
“Papa... Mama... jangan tinggalin kami...”
Violet memegang kepalanya yang mulai terasa sakit.
“Akhhh...”
Lalu tiba-tiba –
BOOMMM!!!
Sebuah ledakan besar terjadi.
“PAPAAA!! MAMAAA!!
Jeritan dua anak perempuan itu menggema memilukan.
“Tidakkkk!!”
Violet ikut berteriak.
Dan seketika –
Ia terbangun dari tidurnya.
“Hahhh... hahhh... hahhh...”
Tubuhnya dipenuhi keringat dingin.
Matanya memerah, tanpa sadar air mata mengalir di pipinya.
“S-siapa mereka...?”
Suara tangisan anak kecil itu masih terus terngiang di kepalanya.
Bahkan suara ledakan itu terasa begitu nyata.
Violet menatap tangannya yang gemetar.
“Kenapa... mimpi itu terasa nyata...?”
Di saat pikirannya kosong, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok!!!
Violet segera menghapus jejak air mata itu dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya.
Dan terlihat di depan sana, Xavier tengah berdiri dengan cemas.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Violet yang berusaha menahan air matanya, tiba-tiba saja langsung terisak kembali mengingat akan mimpinya itu.
Xavier segera membawanya ke dalam pelukannya.
Hiksss... hiksss...
“Saya ke sini karena mendengarmu teriak. Apa kamu habis mimpi buruk?” ucapnya pelan.
Violet tidak menjawab. Ia hanya terus menangis.
Xavier menepuk punggungnya pelan. Dan merasakan hembusan napas yang mulai teratur.
Xavier pun segera menggendongnya dan membawanya ke arah ranjang.
Dengan pelan, ia menidurkan Violet. Lalu menatapnya dengan lembut. Tangan kanannya ia biarkan mengusap pipi Violet.
“Saya tidak akan membiarkanmu menangis karena sedih. Tetapi saya akan berusaha membuatmu bahagia selama kamu berada di sisi saya,” ucapnya pelan.
Cup
Ia mencium kening Violet dengan lembut. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Violet.
Ketika hendak pergi, tiba-tiba Violet menggenggam tangannya.
“Jangan pergi,” ucapnya dengan mata yang tertutup.
Xavier pun akhirnya memberhentikan langkahnya. Ia melihat mata Violet yang terpejam disertai aliran air mata yang keluar dari sudut matanya.
Xavier tak tega melihat itu, ia pun perlahan duduk di sampingnya, dan mengusap rambutnya.
“Tidurlah. Saya akan tetap di sini menemanimu.”
Tangan Violet pun ia genggam lalu menciumnya.
Perlahan, Xavier pun mulai mengantuk.
Dan akhirnya ia pun tertidur di kasur yang sama dengan posisi duduk sambil menyender pada kepala ranjang.
Hembusan napas terdengar dari keduanya. Mereka pun terlelap dalam tidur.
......To be continued......