NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaki Gn. Ciremai

Tio berjalan mengikuti suara kendaraan.

Tubuhnya masih lemas—efek perjalanan panjang, efek kelaparan yang baru pulih, efek semua yang telah ia lalui.

Tapi semangatnya menyala terang. Ia bisa mendengar suara kendaraan di kejauhan. Suara mesin, suara klakson, suara kehidupan modern yang sudah lama tidak ia dengar.

Setelah berminggu-minggu hanya mendengar suara hutan dan gamelan gaib, suara-suara ini seperti simfoni terindah.

Jalan setapak di hutan perlahan melebar, berubah menjadi jalan tanah yang lebih jelas. Bekas roda kendaraan di tanah—mungkin milik petani atau pengumpul hasil hutan. Tio mengikuti bekas roda itu, berjalan semakin cepat meski napasnya memburu.

Sepuluh menit. Dua puluh menit. Akhirnya, ia sampai di ujung jalan setapak.

Di depannya terbentang pemandangan yang membuatnya berhenti sejenak. Sawah bertingkat menghijau membentang sejauh mata memandang.

Di kejauhan, gunung menjulang—bukan Slamet, tapi gunung lain dengan bentuk yang berbeda. lebih hijau, dengan puncak yang tertutup kabut tipis. Dan di lereng gunung itu, tersebar rumah-rumah penduduk, khas desa pegunungan Jawa Barat.

Tio memandangi gunung itu lama. Ada sesuatu yang familiar, tapi ia tidak bisa mengingatnya.

Ia terus berjalan, sekarang di pematang sawah. Petani-petani di sawah menatapnya heran—melihat orang asing dengan pakaian kotor, compang-camping, berjalan tertatih di tengah hari. Beberapa berhenti bekerja, memandang dengan campuran iba dan curiga.

Tio mengabaikan tatapan itu. Ia fokus pada satu tujuan: menemukan jalan utama, menemukan manusia, menemukan pertolongan.

Setelah setengah jam berjalan di pematang sawah, ia akhirnya tiba di jalan desa. Jalan aspal kecil, hanya muat untuk satu mobil. Di pinggir jalan, ada papan penunjuk kayu, sudah lapuk.

Tio membacanya. Dan dunia berhenti berputar.

"Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan"

Kuningan. Jawa Barat.

Tio mengerjap, membaca sekali lagi. Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Bukan Pemalang. Bukan Jawa Tengah. Bukan Gunung Slamet.

Kuningan. Gunung Ciremai.

Ia mendaki Slamet. Ia tersesat di Slamet. Ia jatuh di Slamet. Ia berhari-hari bertahan di Slamet. Ia masuk ke desa gaib di... di mana? Di lereng Slamet juga.

Tapi sekarang ia di Ciremai. Jarak antara Slamet dan Ciremai... Tio mencoba mengingat peta. Mungkin 200-300 kilometer. Berhari-hari perjalanan darat. Berbulan-bulan jika berjalan kaki.

Dan ia menempuhnya dalam... beberapa jam? Beberapa hari? Ia tidak tahu pasti. Yang ia tahu, mustahil ia menempuh jarak sejauh itu dalam kondisi terluka parah dan tanpa makanan.

Tio duduk di pinggir jalan, memegang kepala. Pikirannya kacau.

Lorong antar dunia. Itu nyata. Itu bukan mimpi. Itu bukan halusinasi. Itu... itu nyata.

"Pak... Pak... sehat?"

Suara itu membuat Tio mendongak. Seorang wanita paruh baya berdiri di depannya, mengenakan daster lusuh dan membawa keranjang sayuran. Wajahnya penuh iba melihat kondisi Tio.

"Bapak kumaha? Ti mana?" (Bapak bagaimana? Dari mana?) Suaranya logat Sunda kental.

Tio mengerjap. Bahasa Sunda. Ia mengerti sedikit—dari teman-teman kuliah dulu—tapi tidak fasih. Selama berminggu-minggu ia mendengar bahasa Jawa kuno dari Ki Jaga dan Mbok Ranti. Sekarang tiba-tiba bahasa Sunda. Perubahan yang membingungkan.

"Aku... saya..." Tio mencoba berbicara, tapi suaranya serak, tidak karuan.

Wanita itu mendekat, melihat Tio lebih dekat. Matanya membelalak melihat kondisi bajunya yang compang-camping, tubuhnya yang kurus, bekas-bekas luka di kaki, tangan dan wajah.

"Astagfirullah... Bapak kena musibah? Tersesat di gunung?"

Tio mengangguk lemah.

Wanita itu segera meletakkan keranjangnya, berjongkok di depan Tio.

"Antosan di dieu, Pak. Abdi badé manggil salaki." (Tunggu di sini, Pak. Saya mau panggil suami.)

Ia berlari meninggalkan Tio, meninggalkan keranjang sayurnya. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan seorang pria—suaminya—dan beberapa warga lain.

"Mang, ieu aya jalma leungit di gunung. Pakaianna kumaha kitu, rusak kasadayana."

(Mang, ini ada orang hilang di gunung. Pakaiannya bagaimana itu, rusak semua.)

Pria itu—bapak-bapak berusia sekitar 40-an, berkumis tipis, memakai sarung dan kaos oblong—mendekati Tio. Matanya mengamati dengan cepat, seperti orang yang terbiasa menilai situasi.

"Manawi katingali, ieu mah pendaki. Aya anu terang?" (Kelihatannya, ini pendaki. Ada yang tahu?)

Yang lain menggeleng. Tidak ada yang mengenali Tio.

"Pak, tiasa ngomong?" (Pak, bisa bicara?) tanya bapak itu.

Tio mengangguk. "Bisa... sedikit." Suaranya keluar, masih serak.

"Namina saha? Ti mana?" (Namanya siapa? Dari mana?)

"Tio... Tio Wirawan. Dari Jakarta."

Bapak itu mengangguk. "Tio... kesasar di gunung? Gunung Ciremai?"

Tio menggeleng. "Slamet. Saya mendaki Slamet."

Wajah-wajah di sekitarnya berubah heran. "Slamet? Gunung Slamet? Di Pemalang?" tanya seorang warga.

Tio mengangguk.

"Lah... tebuh pisan atuh. Ieu mah Ciremai, Kuningan." (Lah... jauh sekali. Ini Ciremai, Kuningan.)

"Jauh pisan, Pak. Bade naon ka dieu?" (Jauh sekali, Pak. Mau apa ke sini?) tanya yang lain.

Tio tidak bisa menjawab. Ia hanya menggeleng lemah. "Saya... saya tidak tahu. Saya hanya berjalan... dan sampai di sini."

Warga saling pandang. Beberapa berbisik-bisik, mungkin membicarakan keanehan cerita ini. Tapi tatapan iba masih dominan.

Kondisi Tio memang memprihatinkan—ia terlihat seperti baru selamat dari bencana.

Bapak berkumis itu—yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak RT—mengambil keputusan.

"Mangga, Pak Tio, ka rorompok abdi heula. Istirahat, bersihkeun badan. Engké urang pikirkeun saterusna."

(Mari, Pak Tio, ke rumah saya dulu. Istirahat, bersihkan badan. Nanti kita pikirkan selanjutnya.)

Dua warga membantu Tio berdiri. Ia dibopong perlahan, berjalan menuju rumah Pak RT yang tidak jauh dari sana.

Sepanjang jalan, Tio mendengar bisikan-bisikan warga dalam bahasa Sunda.

"Kasian pisan, kuru pisan."

"Muhun, sigana sabaraha minggu di leuweung."

"Tapi atuh, naon hubunganna Slamet jeung Ciremai? Jauh pisan."

"Ah, meureun manéhna bingung, leungiteun ingetan."

Tio mengerti sedikit. Mereka mengasihaninya. Mereka juga bingung dengan ceritanya. Mungkin mereka mengira ia stres atau hilang ingatan.

Tapi Tio tahu. Ia tahu apa yang terjadi. Dan ia juga tahu, tidak akan ada yang percaya jika ia menceritakan yang sebenarnya.

Rumah Pak RT sederhana—rumah kampung khas Sunda, dengan dinding kayu dan teras beralas semen. Tio dibaringkan di dipan bambu di teras.

Seorang wanita—istri Pak RT—segera membawakan segelas air putih dan sepiring nasi hangat dengan la seadanya.

"Punten, Pak, sakadarna. Tuang heula." (Maaf, Pak, seadanya. Makan dulu.)

Tio menerima dengan tangan gemetar. Air putih itu—air biasa, bukan air ajaib dari tempurung—terasa luar biasa segar. Nasi hangat itu—nasi biasa, dengan lauk tahu goreng dan sambal—terasa seperti hidangan bintang lima.

Ia makan perlahan, menikmati setiap suapan. Di sekelilingnya, warga berkumpul, mengawasi dengan campuran iba dan ingin tahu. Anak-anak kecil menatap dari balik pintu, penasaran dengan orang asing compang-camping ini.

Setelah selesai makan, Tio merasa lebih baik. Tenaganya mulai kembali. Pikirannya mulai jernih.

"Pak RT," ia memulai. "Saya... saya mau lapor polisi. Saya mau hubungi keluarga."

Pak RT mengangguk. "Muhun, Pak. Tapi istirahat heula. Isukan urang ka kantor polisi." (Iya, Pak. Tapi istirahat dulu. Besok kita ke kantor polisi.)

Tio menggeleng. "Sekarang, Pak. Tolong... saya harus segera hubungi ibu saya."

Melihat desakannya, Pak RT mengalah. Ia mengambil ponsel dari saku, menyerahkannya pada Tio. "Mangga. Telepon."

Tio menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Jari-jarinya menekan nomor yang sudah lama tidak ia hubungi. Nomor rumah orang tuanya di desa.

Tut... tut... tut...

"Assalamu'alaikum?" suara itu. Suara ibunya. Masih sama, seperti yang ia ingat.

Tio ingin bicara, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Air mata mengalir deras.

"Assalamu'alaikum? iki sopo?" (Assalamu'alaikum? Ini siapa?)

"Bu... Bu... ini Tio."

Hening di seberang. Beberapa detik. Lalu suara isak tangis pecah.

"Tio? iki bener Tio Le? koe isih urip?”

"Iya, Bu. Ini Tio. Tio masih hidup, Bu."

Tangis di seberang semakin keras. Tio mendengar suara ayahnya di latar belakang, bertanya ada apa. Lalu suara ibunya berteriak,

"Bapak... Tio... Tio telepon... Tio urip...!"

Tio menangis di teras rumah Pak RT, di tengah warga yang hanya bisa diam haru.

Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, ia sudah pulang. Setidaknya, ibunya tahu bahwa anaknya masih hidup.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
baca sekarang jadi lupa alur😭😭
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!