Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Terlambat atau Tepat Waktu
Bab 29 — Terlambat atau Tepat Waktu
Pintu gudang didorong keras dari luar.
BRAK!
Suara itu menggema di seluruh ruangan.
Semua orang di dalam langsung menoleh.
Alisha Pratiwi yang masih terikat di kursi langsung mengangkat kepala. Matanya melebar.
Di ambang pintu berdiri Alvaro.
Napasnya berat. Tatapannya langsung mengarah pada satu orang.
Alisha.
“Alisha!” suaranya keras.
Gadis itu langsung merasa lega sekaligus panik.
“Kak Alvaro!”
Alisha Mahendra terdiam beberapa detik. Wajahnya jelas tidak siap melihat kedatangan itu.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Ia cepat menoleh ke arah dua pria yang berdiri tidak jauh dari pintu.
“Hadang dia!”
Perintah itu langsung membuat suasana berubah.
Dua pria itu bergerak cepat.
Salah satu mencoba menyerang lebih dulu.
Alvaro tidak menunggu.
Tinju pertamanya langsung menghantam wajah pria itu.
Pria itu terjatuh ke lantai.
Satu lagi mencoba menyerang dari samping.
Alvaro menahan pukulan itu lalu membalas dengan tendangan keras ke perutnya.
Pria itu mundur beberapa langkah.
Damar masuk dari belakang.
Ia langsung menarik salah satu pria dan menjatuhkannya.
Perkelahian terjadi dengan cepat.
Suara benturan terdengar di dalam gudang.
Alvaro tidak fokus pada mereka.
Matanya hanya mencari satu orang.
Alisha.
Ia melihat gadis itu terikat di kursi.
Wajahnya pucat.
Tangannya langsung mengepal.
Ia bergerak lebih cepat.
Satu pria mencoba menghalangi lagi.
Alvaro mendorongnya ke samping dengan keras hingga pria itu menabrak peti kayu.
Tanpa berhenti, ia langsung berlari menuju Alisha.
“Bertahan,” katanya cepat.
Ia mengeluarkan pisau kecil dari sakunya.
Tali di tangan Alisha langsung dipotong.
Begitu terlepas, tangan Alisha gemetar.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Alvaro.
Alisha mengangguk cepat meski air matanya mulai jatuh.
“Aku… aku takut…”
Alvaro langsung menariknya berdiri.
“Aku di sini.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup membuat Alisha merasa sedikit tenang.
Ia langsung memegang lengan Alvaro erat.
Seolah takut pria itu menghilang.
Di belakang mereka, Damar masih berusaha menahan satu pria yang belum jatuh.
Alvaro tidak peduli lagi.
Fokusnya hanya membawa Alisha keluar.
Ia menarik tangan gadis itu.
“Kita keluar sekarang.”
Namun langkah mereka terhenti.
Suara langkah terdengar dari belakang.
Pelan.
Tapi cukup jelas.
Alvaro langsung menoleh.
Di sana berdiri Alisha Mahendra.
Tangannya memegang batang besi.
Wajahnya tidak lagi tenang.
Tatapannya penuh emosi.
“Kamu datang juga,” katanya pelan.
Alvaro berdiri di depan Alisha.
Melindunginya.
“Lepaskan semuanya sekarang,” kata Alvaro dingin.
Alisha Mahendra tertawa pelan.
“Kamu selalu begitu.”
Ia melangkah mendekat.
“Sok jadi pahlawan.”
Alvaro tidak menjawab.
Ia tetap berdiri di tempat.
Siap jika terjadi sesuatu.
“Apa kamu pikir ini akan berakhir semudah itu?” lanjutnya.
Alisha di belakangnya mulai gemetar lagi.
Ia tidak menyangka semuanya akan seperti ini.
“Aku hanya ingin bicara…” katanya pelan.
Alisha Mahendra langsung menatapnya tajam.
“Kamu diam!”
Suasana kembali tegang.
“Semua ini karena kamu,” katanya dingin.
Alisha menggeleng.
“Aku tidak pernah—”
“Cukup!”
Bentakan itu memotong kalimatnya.
“Kalau kamu tidak ada, semua ini tidak akan terjadi!”
Alvaro maju satu langkah.
“Ini bukan cara menyelesaikan masalah.”
Alisha Mahendra tersenyum tipis.
“Masalah?”
Ia mengangkat batang besi itu sedikit.
“Ini bukan masalah kecil.”
Ia menatap langsung ke arah Alvaro.
“Ini hidupku.”
Tangannya mulai gemetar.
“Aku tidak akan kehilangan semuanya.”
Alvaro tetap tenang.
“Ini sudah terlalu jauh.”
Alisha Mahendra menggeleng.
“Belum.”
Ia melangkah lebih dekat.
“Belum cukup jauh.”
Dalam satu gerakan cepat, ia mengangkat batang besi itu tinggi.
“Kalau aku tidak bisa memiliki semuanya—”
Ia mengayunkan besi itu.
Alvaro langsung bergerak.
Ia menarik Alisha ke samping.
Namun jaraknya terlalu dekat.
DUK!
Batang besi itu menghantam bagian samping kepala Alvaro.
Suara benturan itu membuat Alisha menjerit.
“KAK ALVARO!”
Tubuh Alvaro langsung goyah.
Ia berlutut di lantai.
Darah mulai mengalir dari pelipisnya.
Alisha langsung memegangnya.
“Jangan… jangan seperti ini…”
Suaranya gemetar.
Alisha Mahendra berdiri kaku.
Matanya melebar melihat darah di lantai.
“Aku… aku tidak…”
Tangannya gemetar.
Batang besi itu jatuh ke lantai.
Ia mundur satu langkah.
Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Damar yang melihat itu langsung menghampiri.
“Alvaro!”
Ia membantu menahan tubuh pria itu.
Alvaro masih sadar.
Napasnya berat.
Matanya mencoba fokus.
Ia menoleh ke arah Alisha.
“...kamu tidak apa-apa?”
Alisha menggeleng cepat sambil menangis.
“Aku tidak apa-apa… tapi kamu…”
Alvaro mencoba tersenyum tipis.
“Itu yang penting…”
Suara sirene mulai terdengar dari kejauhan.
Semakin lama semakin dekat.
Damar langsung menoleh ke arah pintu.
“Bantuan datang.”
Suasana di dalam gudang mulai berubah.
Salah satu pria yang tadi jatuh mencoba bangkit, tapi langsung dihentikan Damar.
Pintu gudang terbuka.
Beberapa polisi masuk dengan cepat.
“Semua diam!”
Suara itu tegas.
Alisha Mahendra masih berdiri di tempat.
Ia tidak bergerak.
Polisi mendekat dan langsung menahannya.
Tangannya diborgol.
Ia tidak melawan.
Tatapannya kosong.
“Aku hanya ingin semuanya kembali…” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Petugas medis masuk membawa tandu.
Alvaro diangkat perlahan.
Alisha tidak mau melepaskan tangannya.
“Aku ikut,” katanya cepat.
Damar mengangguk.
“Tenang saja. Dia tidak akan sendirian.”
Alisha tetap di sampingnya.
Tangannya masih menggenggam tangan Alvaro.
Mobil ambulans siap di luar.
Pintu gudang terbuka lebar.
Udara malam masuk.
Semua terlihat mulai terkendali.
Alisha menatap wajah Alvaro yang pucat.
“Jangan tutup mata…”
Alvaro masih mencoba bertahan.
Tatapannya lemah.
Tapi masih melihat ke arah Alisha.
“Aku… tidak akan… meninggalkanmu…”
Suaranya hampir tidak terdengar.
Ambulans mulai bergerak.
Sirene kembali berbunyi.
Lampu merah biru menyala di jalan yang gelap.
Di dalam gudang, polisi masih mengamankan lokasi.
Damar berdiri diam sejenak.
Matanya memperhatikan sekitar.
Lalu ia melihat sesuatu.
Di lantai dekat salah satu peti, ada sebuah ponsel.
Bukan milik Alisha.
Bukan milik Alvaro.
Ia mengambilnya.
Layar ponsel itu menyala.
Ada satu pesan masuk.
Damar membaca pelan.
Wajahnya langsung berubah serius.
Di layar hanya ada satu kalimat.
“Permainan baru dimulai.”
Damar menatap layar itu beberapa detik.
Lalu menoleh ke arah pintu gudang yang sudah kosong.
siapa yang sebenarnya sedang bermain di balik semua ini?
#bersambung
Hai readers othor mengucapkan happy eid mubarak mohon maaf lahir dan batin
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~