Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Arcelia tidak langsung menoleh.
Ia tahu.
Kalau ia menoleh sekarang, ia mungkin akan melihat sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
“Bersiaplah.”
Suara itu bukan lagi samar. Bukan seperti gema di kepala.
Ia terasa nyata.
Hangat.
Dekat.
Arcelia memejamkan mata.
Hitung sampai tiga.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia berbalik cepat.
Kosong.
Kamarnya sunyi. Tirai tidak bergerak. Pintu tertutup. Tidak ada siapa pun. Tapi napas di tengkuknya tadi… bukan imajinasi. Tangannya gemetar saat ia meraih ponsel. Ia hampir menekan nomor Kaelion, tapi berhenti.
Tidak.
Ia harus mulai berani menghadapi ini.
Pagi berikutnya,
Angka di cermin tidak muncul. Namun perasaan berat itu tetap ada.
Di sekolah, suasana terasa biasa bagi orang lain, tapi tidak bagi Arcelia. Beberapa siswa berbisik saat ia lewat.
“Katanya perusahaan keluarganya lagi bermasalah…”
“Gara-gara skandal itu…”
Arcelia menunduk. Ia benci bagaimana masalah orang dewasa bisa menyeret anak-anaknya ikut menjadi bahan bisik-bisik.
Di ujung lorong, Kaelion menunggunya.
“Aku baca berita tadi,” katanya tanpa basa-basi.
Arcelia mengangguk pelan.
“Papa bilang itu framing,” ujarnya lirih.
Kaelion menatapnya serius. “Aku percaya ayahmu.”
Kalimat sederhana itu membuat dadanya sedikit hangat.
“Tapi Lia,” lanjut Kaelion, “kalau ada yang menyerang dari luar dan dari… sisi lain, kita nggak bisa cuma diam.”
Arcelia terdiam.
“Empat hari lagi,” bisiknya.
Di kantor pusat,
Ruang kerja Papa Alveron dipenuhi tumpukan berkas dan layar yang menampilkan grafik fluktuasi.
Bang Kaiven berdiri di sampingnya, menunjuk pola tertentu.
“Serangan digital dan kebocoran data terjadi tiap malam sekitar jam yang sama,” jelasnya. “Seolah ada penanda waktu.”
Papa Alveron menyipitkan mata.
“Terencana.”
Eveline di sisi meja menambahkan, “Dan yang aneh, Pak… sistem keamanan kita sebenarnya tidak ditembus. Aksesnya menggunakan kredensial internal yang valid.”
Pengkhianatan.
Kata itu kembali menggema.
Papa Alveron berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap kota.
“Saya ingin audit menyeluruh,” katanya tenang. “Dan mulai hari ini, tidak ada keputusan besar tanpa persetujuan saya langsung.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan Bang Kai.”
“Ya, Pa?”
“Kamu tetap di sisi Papa Bang”
Bang Kaiven mengangguk.
Bukan sebagai anak.
Tapi sebagai partner.
Sore itu di rumah,
Elvarin duduk di lantai ruang keluarga, sibuk memilih desain undangan kecil untuk ulang tahunnya.
“Aku pengin tema biru tua,” katanya semangat. “Kayak langit malam ya.”
Arcelia menatapnya lama.
Langit malam.
Gelap.
Dalam.
Ia teringat angka di cermin.
“Varin,” panggilnya pelan.
“Iya Kak, ada apa?”
“Kalau nanti ulang tahunmu sederhana aja nggak apa-apa, kan?”
Elvarin tertawa kecil. “Aku juga nggak mau besar-besar kok. Yang penting kita kumpul.”
Kita.
Kata itu terasa seperti jangkar.
Malam datang lagi,
Arcelia berdiri di depan cermin. Ia tidak menunggu angka muncul.... Ia yang berbicara dulu.
“Kalau kamu memang ada… muncul.”
Keheningan.
Beberapa detik berlalu,
Lalu—
Permukaan cermin bergetar samar, seperti permukaan air yang disentuh angin. Angka muncul perlahan.
3
Jantung Arcelia berdegup lebih keras.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Bayangannya tersenyum.
Bukan senyumnya.
“Karena waktumu hampir habis.”
Arcelia mundur satu langkah.
“Apa yang kamu mau?”
Bayangan itu mendekat, tanpa ia bergerak.
“Aku hanya ingin kembali.”
Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat.
“Kembali dari mana?”
Bayangan itu tidak menjawab. Sebaliknya, cermin retak tipis di satu sudut. Garis halus seperti luka pertama.
Di sisi lain kota,
Wanita bergaun hitam duduk bersama seorang pria tak dikenal di meja privat sebuah lounge mewah.
“Perusahaannya akan runtuh sebelum akhir minggu,” pria itu berkata yakin.
Wanita itu tersenyum tipis. “Pastikan hari ulang tahun itu jadi momen puncaknya.”
“Kenapa harus hari itu?”
Tatapannya berubah.
“Karena simbol itu penting.”
Ia berdiri.
“He’ll watch everything fall in one night.”
Di kamar utama,
Papa Alveron duduk bersama Mama Mirella dalam keheningan.
“Kamu kelihatan makin tegang,” ucap Mama Mirella lembut.
Papa Alveron menghela napas. “Aku bisa melawan pesaing bisnis. Tapi kalau mereka mulai menyentuh anak-anak…”
Mama Mirella menggenggam tangannya, “Kita lindungi mereka bersama Pa.”
Papa Alveron menatap wanita yang telah berdiri di sampingnya selama bertahun-tahun. Di tengah badai yang mengancam dari luar dan dalam, satu hal yang belum retak adalah fondasi rumah mereka. Dan itu adalah kekuatan terbesarnya.
Malam semakin larut,
Di kamar Arcelia,
Retakan kecil di sudut cermin bertambah panjang. Dan sebelum ia tertidur, ia mendengar satu kalimat terakhir.
“Dua hari lagi.”
Hitung mundur terus berjalan.
Dan kali ini,,, Ia tahu, saat angka mencapai nol, bukan hanya perusahaan yang akan jatuh. Sesuatu yang terkunci sejak lama… akan bangkit.
Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari ketika Arcelia terbangun lagi.
Kali ini bukan karena suara.
Bukan karena mimpi.
Tapi karena sunyi yang terlalu sunyi.
Ia duduk perlahan di tempat tidur. Udara terasa lebih berat, seolah kamar itu menyusut beberapa inci. Retakan di sudut cermin memanjang.
Tipis.
Tapi jelas.
Arcelia berdiri. Kakinya dingin menyentuh lantai. Ia melangkah mendekat.
“Kalau kamu ingin kembali,” bisiknya pada bayangan di sana, “kenapa lewat aku?”
Bayangan itu menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, bayangan itu tidak meniru gerakannya sama sekali.
Ia tetap diam ketika Arcelia mengangkat tangan.
Ia tetap tersenyum ketika Arcelia tidak.
“Aku tidak memilih,” suara itu terdengar, bukan dari luar, tapi dari dalam kepalanya.
“Kamu yang membuka.”
Arcelia membeku.
“Aku tidak pernah—”
“Waktu kecil.”
Potongan ingatan itu datang seperti kilatan petir.
Tangga.
Lampu mati.
Suara tangisan.
Dan dirinya kecil berdiri di depan cermin besar di rumah lama mereka.
Ia pernah berbicara pada sesuatu. Ia pernah… meminta sesuatu.
Napasnya tercekat.
“Apa yang aku lakukan?” bisiknya gemetar.
Bayangan itu perlahan mengangkat tangan.
Dan menyentuh sisi dalam cermin. Permukaannya bergetar.
Angka berubah.
2
Pagi datang dengan langit kelabu.
Di ruang makan, Papa Alveron menerima telepon sebelum sempat duduk. Wajahnya tidak menunjukkan emosi, tapi Kaiven yang berdiri di dekatnya tahu, kabar itu buruk.
“Baik. Bekukan sementara,” ujar Papa Alveron tenang sebelum menutup panggilan.
“Apa lagi Pa?” tanya Bang Kaiven.
“Bank menunda fasilitas kredit kita.”
Bang Kaiven menghela napas pelan. “Timing nya terlalu presisi.”
Papa Alveron menatapnya. “Ini bukan sekadar menjatuhkan. Ini ingin membuat kita panik.”
Bang Kaiven mengangguk. “Dan kalau kita panik, kita pasti akan membuat kesalahan. Baik sengaja atau tidak Pa”
Untuk beberapa detik, keduanya berdiri dalam diam, dua generasi yang menghadapi badai yang sama.
“Fokus,” kata Papa Alveron akhirnya. “Kita tahan sampai ulang tahun itu lewat.”
Ia tidak tahu kenapa ia mengatakan itu. Tapi seolah ada firasat yang sama. Bahwa malam ulang tahun Elvarin akan menjadi titik balik.
Di sekolah,
Arcelia terlihat lebih diam dari biasanya.
Kaelion menyadarinya sejak pertama kali mereka bertemu di gerbang.
“Angkanya turun lagi?” tanyanya pelan.
Arcelia mengangguk.
“Dua.”
Kaelion tidak terkejut lagi. “Ada yang kamu ingat?” tanyanya hati-hati.
Arcelia ragu. Lalu ia menceritakan potongan memori itu.
Tentang rumah lama.
Tentang dirinya kecil yang berdiri di depan cermin.
Tentang sesuatu yang ia minta karena merasa kesepian.
Kaelion terdiam lama.
“Kadang,” katanya pelan, “anak kecil nggak sadar apa yang mereka panggil.”
Arcelia menatapnya dengan mata berkabut.
“Kalau itu benar… berarti ini salahku?”
Kaelion langsung menggeleng.
“Bukan. Anak kecil nggak pernah berniat jahat. Kalau ada sesuatu yang datang… itu karena sesuatu memang menunggu kesempatan.”
Angin sore berhembus pelan di lapangan kosong itu.
“Dan sekarang?” tanya Arcelia lirih.
“Sekarang kita cari cara nutupnya.”
Di sisi lain kota,
Claudia berdiri di ruang arsip kantor, pura-pura menyusun berkas. Padahal ponselnya aktif.
“Dua hari lagi,” bisiknya pada lawan bicara di ujung sana.
“Perusahaannya hampir goyah total.”
Suara di seberang terdengar puas. “Bagus. Pastikan malam itu ada gangguan tambahan.”
Ia tersenyum tipis. “Aku punya ide.”
Malam itu,
Arcelia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada ranjang.
Ia tidak menatap cermin.
Ia tidak ingin melihat angka lagi.
Tapi suara itu datang lagi.
Lebih lembut.
“Hampir.”
Arcelia memejamkan mata. “Apa yang kamu mau dariku?” tanyanya dalam gelap.
“Tubuhmu.”
Jawaban itu membuat darahnya terasa membeku.
“Kamu membuka pintu,” suara itu melanjutkan. “Sekarang aku hanya ingin masuk sepenuhnya.”
Arcelia berdiri cepat.
“Tidak.”
Cermin bergetar.
Retakan bertambah.
Angka belum berubah.
Masih 2.
Tapi kini, di bawah angka itu,,,,
Muncul bayangan kecil.
Seperti siluet anak perempuan berdiri di belakang dirinya.
Arcelia tersentak.
Dirinya kecil.
Menatapnya dari dalam cermin. Dan anak itu berbisik satu kalimat yang sama seperti dulu.
“Aku cuma nggak mau sendirian.”
Air mata Arcelia jatuh tanpa ia sadari.
Bukan hanya takut.
Tapi rasa bersalah.
Di kamar utama,
Papa Alveron berdiri di balkon bersama Mama Mirella
“Kita sudah melewati krisis lebih besar,” ucap Mama Mirella lembut.
Papa Alveron mengangguk. “Tapi kali ini rasanya berbeda.”
“Kenapa?”
Ia menatap langit yang gelap.
“Seperti ada sesuatu yang menunggu.”
Istrinya menggenggam tangannya lebih erat.
“Kita hadapi bersama ya.”
Dan di dalam rumah itu. Tanpa mereka tahu, hitung mundur terus berjalan.
Dua hari lagi.
Satu malam lagi setelah itu.
Dan ketika angka menjadi nol, bukan hanya bisnis yang akan diuji. Tapi jiwa yang pernah membuka pintu.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....