Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 24
Dua hari telah berlalu semenjak insiden kalung itu. Gerald tidak memberikan penjelasan apapun. Bahkan aku merasa Gerald menghindariku. Padahal sebelumnya dia selalu mengejarku bersama Mark. Terkadang aku melamun dan memikirkan apa yang aku lihat ketika aku pingsan waktu itu.
Siang itu di hari sabtu. Aku sibuk mengelap busur panahku. Hari ini adalah hari kegiatan ekstrakurikuler. Jadi aku mulai bersiap-siap. Saat aku tengah sibuk memasang pelindung lengan, dada dan juga jari, seorang wanita masuk ke ruang ganti klub memanah tempat aku berdiri sekarang ini.
"Kau Mila kan?"
Tanya wanita berwajah cantik itu.
"Iya?"
Ternyata wanita itu tidak sendiri. Dua orang pria tampan lainnya kemudian masuk keruangan ini.
"Apa yang kau lakukan pada Gerald?"
"Aku?"
Seketika sekelilingku mulai ramai. Beberapa siswa mengintip dari luar. Aku benci keadaan dimana aku menjadi perhatian.
"Ikut aku."
Dia menarik aku pergi di tengah keramaian itu. Aku hanya diam sambil membaca situasi. Apa sebenarnya yang diinginkan wanita di hadapanku ini.
Lalu sampailah aku di sebuah ruangan yang terdapat banyak lukisan dan alat-alat kesenian lainnya. Disana aku melihat Gerald sedang terdiam sambil menatap kearah luar jendela dan memegangi kalung yang aku tunjukan kemarin. Ada sesuatu yang terjadi. Energi Gerald yang kurasakan yang keluar dari tubuhnya tidak seperti sebelumnya. Namun sosok wanita yang selalu disisinya tidak terlihat disekitarnya.
"Gerald tidak pernah begini sebelumnya."
Aku merasa ada kesedihan dalam diamnya. Dadaku merasa sesak saat bayangan kejadian kemarin muncul.
"Apa ini ada hubungannya dengan bayangan yang ku lihat kemarin?"
Aku menghampiri Gerald yang masih tidak menyadari kehadiranku. Namun tiba-tiba sosok itu muncul dihadapanku. Mataku terbelalak. Aku juga terjatuh kelantai karena terkejut. Gerald yang akhirnya menyadari kehadiranku langsung menghampiriku untuk membantuku berdiri. Namun tatapan Gerald yang sebelumnya khawatir berubah menjadi ketidaksukaan.
"Apa yang kau lakukan disini?!"
Gerald melihat ke arah orang-orang yang membawaku.
"Kalian yang membawanya?!"
Tanyanya kesal.
"Kami khawatir padamu Gerald. Kamu tidak seperti biasanya."
Jelas wanita itu.
"Mei, ini bukan urusanmu."
Salah satu pria yang mengikuti Mei menghampiri Gerald dengan wajah kesal. Satu pukulan melayang ke pipi Gerald.
"Kau anggap kami apa?!"
Pria itu berteriak.
"Juna. Juna! Hentikan."
Gerald membalas pukulan itu.
"Bisa kah kalian bersikap seperti tidak tahu apa-apa?! Kalian terlalu ikut campur!"
Suasana di ruangan mulai kacau. Mei hanya terdiam sedih melihat perkelahian di depan matanya. Pria lainnya yang belum aku ketahui namanya mencoba melerai mereka. Aku melihat sosok wanita di hadapanku menatap sedih Gerald. Sekilas aku melihat roh itu mengeluarkan air mata. Saat aku memperhatikan sosok itu, aku baru ingat. Pakaian yang di kenakannya sama persis dengan gadis yang aku lihat di bayanganku kemarin.
Di tengah perkelahian itu, kalung yang di genggam Gerald terlempar ke arahku. Refleks aku menangkap kalung itu. Lalu tubuhku tiba-tiba berpindah ke sebuah tempat yang asing.
Sosok pria muncul dari arah belakang melewati tubuhku. Aku menatap tanganku kembali.
"Apa yang terjadi padaku sebenarnya?"
Aku melihat Gerald muda berhenti di sebuah rumah bergaya kuno. Dan dari balik pintu rumah itu muncul seorang gadis yang pernah kulihat sebelumnya.
"Gerald!"
Senyum tulus Gerald muda terukir menyambut kedatangan gadis itu.
"Lama sekali."
"Maaf, ibuku sedang tidak ada dirumah. Dia menginap ditempat kekasihnya."
Dari obrolan yang kutangkap, peristiwa itu sepertinya terjadi sebelum insiden pemerkosaan yang ku lihat kemarin.
Tiba-tiba tubuhku berpindah lagi. Kini aku melihat Gerald yang sudah merampas kalung yang aku genggam. Aku tampak bingung sesaat. Aku mulai mencerna apa yang sebenarnya terjadi padaku kemarin dan saat ini.
"Apa ini kekuatan baru? Tapi bagaimana bisa?"
"Kalian semua keluar!"
Teriak Gerald yang menyadarkanku.
Wajahnya tampak berbeda dari bayangan yang aku lihat sebelumnya. Sosok hantu wanita itu menatap sedih ke arah Gerald. Aura yang ku rasakan dari roh itu dan juga Gerald sekarang hanyalah sebuah kesedihan yang mendalam. Tanpa sadar air mataku terjatuh. Mereka terkejut dan bingung saat melihatku menitikan air mata. Aku melihat sosok wanita itu mencoba menggerakkan bibirnya.
"Tolong."
"Siapa... Siapa namamu?"
Di tengah kebingungan mereka aku bertanya pada sosok di hadapanku yang tidak bisa mereka lihat. Aku menarik dua kursi dan meletakkannya berhadapan. Aku duduk di salah satu kursi itu. Mereka yang berada di ruangan seni ini hanya menyaksikan ke gilaanku.
"Dia bicara dengan siapa Jun?"
"Aku tidak tahu. Aku mulai merinding sekarang."
Aku memberikan kursi kosong itu ke sosok wanita yang masih berdiri memandangi Gerald yang memandangiku. Aku pun menoleh ke arah Gerald.
"Tarik kursi itu dan duduk bersamaku disini."
Gerald yang biasanya pemberontak menuruti perintahku. Aku melihat dengan jelas teman-teman Gerald merasa terkejut akan tingkah Gerald yang menurutiku. Aku meletakkan kursi kosong itu menghadap Gerald. Gerald memandangi kursi kosong itu.
"Julia."
"Julia."
Aku mengulangi ucapan sosok itu.
Seketika Gerald menoleh ke arahku saat mendengar sebuah nama keluar dari bibirku. Dan temannya juga begitu. Gerald hanya terdiam sambil memandangku. Dan sosok di hadapannya juga masih tetap memandanginya dengan tatapan sedih.
"Apa yang kau tahu tentangnya? Apa yang kau tahu?!"
Gerald mulai berteriak. Air matanya mengalir. Gerald yang biasanya tengil tiba-tiba saja berubah jadi seorang pria yang rapuh. Mei yang ada di belakangku memeluk Juna dan mulai menangis juga. Bass berbalik menyembunyikan wajahnya yang hampir menangis.
"Kenapa kau diam!! Jawab aku sekarang!"
Gerald mulai menggoyangkan kursi yang ku duduki dengan kasar. Sontak Mei yang melihatnya merasa muak lalu mendang kursi Gerald hingga Gerald jatuh tersungkur kelantai. Aku masih terdiam. Gerald mulai menangis tersedu-sedu.
"Kau bodoh Gerald!! Bodoh! Kau manusia terbodoh di dunia!!"
Teriak Mei.
"Sudah cukup Gerald!! Sudah cukup!! Aku muak atas kelakuanmu!! Ternyata hanya karena Julia! Hanya karena Julia kau menjadi seperti ini!!! Sampai kapan Gerald?! Mau sampai kapan!! Kamu pikir Julia tidak sedih dengan kelakuanmu selama ini Gerald?!!!!"
Juna memeluk Mei yang menangis gemetar. Bass menghampiri Gerald. Lalu satu pukulan melayang kepipinya.
"Sudah lama aku ingin melakukan ini padamu, Gerald."
Sosok hantu itu menghampiri Gerald lalu memeluknya dengan tampang sedih. Tangannya yang penuh darah itu mengelus lembut rambut Gerald seolah-olah sedang menenangkannya. Sekarang aku mengerti alasan keberadaan hantu itu. Namun yang aku belum pahami adalah Aura dendam yang muncul padanya. Aku bangun dan menghampiri Gerald dan memeluk Gerald seperti yang di lakukan sosok itu. Gerald terkejut atas tindakanku. Lalu tangisannya terdengar lebih menyayat hati dari sebelumnya.
"Julia... Julia..."
Gerald memanggil-manggil nama sosok itu dengan tidak berdaya.