Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil Penawar dan Lahirnya Pedang Ilahi
Kabut putih perlahan menyatu kembali, menutup rapat gerbang Vila Naga Langit dan menyembunyikan sisa-sisa abu pembantaian di luar sana.
Di dalam area vila, Shen Yueru dan Paman Zhao masih berlutut di atas aspal dengan tubuh gemetar. Mereka mendengar suara ledakan petir yang memekakkan telinga dari luar, dan pikiran mereka sudah membayangkan skenario terburuk: Arya tewas dicabik-cabik oleh Pasukan Harimau Besi.
Namun, ketika kabut itu membelah, sosok pemuda berpakaian usang itu melangkah masuk tanpa setetes darah pun menodai pakaiannya.
"T-Tuan Lin... Anda..." Paman Zhao terbata-bata, matanya terbelalak menatap Arya seolah melihat hantu. Sebagai seorang praktisi bela diri, ia tahu persis seberapa mengerikan kekuatan belasan elit Harimau Besi yang dipimpin Tuan Muda Jin.
"Anjing-anjing Ibukota itu sudah kubuat diam," ucap Arya datar, berjalan melewati mereka menuju teras vila.
Ia menjentikkan jarinya ke arah Shen Yueru. Sebuah botol giok kecil melesat dan mendarat mulus di pangkuan gadis itu.
"Sesuai kesepakatan, itu adalah sisa dari Elixir Kehidupan. Bawa kembali ke Ibukota dan berikan pada kakekmu," perintah Arya tanpa menoleh. "Dan sampaikan satu pesan pada Tetua Emas dari Aliansi Bela Diri Ibukota."
Langkah Arya terhenti di ambang pintu, auranya mendadak berubah setajam pedang yang baru dicabut dari sarungnya.
"Katakan padanya, cucunya sudah mati di tanganku. Suruh dia mencuci lehernya bersih-bersih, karena aku akan segera datang untuk mengambil kepalanya."
Mendengar kalimat itu, napas Shen Yueru seakan terhenti. Membunuh cucu Tetua Emas sama saja dengan menabuh genderang perang melawan seluruh dunia persilatan fana di negara ini! Namun, melihat punggung pemuda itu yang tegak menyerupai gunung purba, Shen Yueru sadar bahwa Aliansi Bela Diri baru saja membangunkan monster yang salah.
"B-Baik, Tuan Lin. Keluarga Shen akan selalu mengingat kebaikan Anda hari ini," Shen Yueru bersujud dalam-dalam, lalu memapah Paman Zhao pergi dari tempat itu secepat mungkin.
Setelah kepergian mereka, Arya melangkah menuju ruang bawah tanah vila yang telah ia ubah menjadi ruang kultivasi tertutup. Energi spiritual di ruangan ini adalah yang paling pekat, disuplai langsung oleh Mata Formasi Sembilan Naga.
"Waktunya melebur senjata."
Arya duduk bersila di tengah ruangan. Ia mengeluarkan Embrio Pedang Terbang yang berkarat dan Inti Kayu Petir Berusia Seribu Tahun dari dalam Kantong Spasialnya. Kedua benda itu melayang di udara, ditopang oleh Indra Surgawi-nya.
Di Alam Atas, untuk menempa sebuah pedang ilahi dibutuhkan Tungku Bintang dan Api Karma. Di Bumi, Arya hanya bisa menggunakan Api Dao dari Qi Sejati keemasannya yang dipadatkan secara ekstrem.
"Bakar!"
Wusss!
Api berwarna emas pekat meledak dari telapak tangannya, menelan kedua material tersebut. Suhu di ruang bawah tanah itu melonjak hingga ribuan derajat dalam hitungan detik. Dinding beton mulai meleleh, namun formasi penahan yang Arya pasang sebelumnya menjaga agar panas itu tidak merusak fondasi vila.
Besi berkarat dari Embrio Pedang itu mulai mencair, membuang seluruh kotoran fana yang menempel selama ribuan tahun, menyisakan setetes logam cair berwarna perak murni yang berdenyut memancarkan hukum ruang dan waktu.
Sementara itu, Kayu Petir purba hancur menjadi abu, melepaskan hukum guruh surgawi yang meledak-ledak. Kilatan petir biru menyambar-nyambar liar di dalam ruangan.
"Menyatulah!" raung Arya.
Ia menggigit ujung lidahnya, menyemburkan seteguk Darah Esensi murni tepat ke tengah pusaran api. Darah Kaisar Immortal itu bertindak sebagai katalis pamungkas. Logam perak murni dan esensi petir biru itu saling melilit, melebur menjadi satu kesatuan di bawah tekanan spiritual yang mengerikan.
Tringggg!
Sebuah dengungan pedang yang sangat nyaring bergema, menembus dinding vila dan terdengar hingga ke lautan awan di luar sana, membuat burung-burung di udara jatuh pingsan.
Api keemasan perlahan mereda. Di depan Arya, melayang sebilah pedang kecil berukuran sejengkal. Pedang itu tidak memiliki gagang, bilahnya berwarna perak bening layaknya kristal, dihiasi oleh urat-urat biru yang memancarkan kilatan listrik.
"Meski masih berada di tingkat Senjata Roh Rendahan, ini sudah cukup untuk memenggal kepala dari jarak seratus mil," Arya tersenyum puas. Ia menunjuk pedang kecil itu. "Mulai hari ini, namamu adalah Petir Pembelah Langit."
Pedang itu berdengung riang seolah mengerti ucapan majikannya, lalu berubah menjadi seberkas cahaya biru dan melesat masuk ke dalam Dantian Arya untuk terus dipelihara oleh lautan Qi-nya.
Dengan senjata di tangan dan adiknya yang kini telah aman, tatapan Arya beralih ke utara.
Di saat yang sama, ratusan kilometer dari sana, di aula utama Aliansi Bela Diri Ibukota.
PRANG!
Sebuah cangkir giok hancur berkeping-keping dilemparkan ke dinding. Tetua Emas, seorang pria tua bertubuh kekar dengan rambut perak sebahu, berdiri dengan wajah merah padam karena murka. Di tangannya, sebuah lempengan batu giok kehidupan yang bertuliskan nama cucunya, Jin, telah terbelah dua.
"Siapa... Siapa yang berani membunuh cucuku?!" raungan Tetua Emas mengguncang seluruh aula, membuat puluhan master bela diri yang berlutut di bawahnya memuntahkan darah segar karena tekanan energi. "Kirim seluruh Pasukan Elit Harimau Besi! Cari tahu siapa pembunuhnya, aku akan memotong dagingnya hidup-hidup dan membakar jiwanya!"