Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Penuh Kepalsuan
Hening yang pekat sempat merayap di antara riuhnya kerumunan trotoar jalanan ibu kota setelah tamparan keras Sintia mendarat di pipi Suci Wahyuni. Tamparan yang bukan lahir dari rasa cemburu masa lalu, melainkan sebuah ledakan murka atas hilangnya naluri kemanusiaan seorang ibu. Suci Wahyuni masih bersimpuh di atas semen yang berdebu, memegangi pipinya yang kian memerah menahan panas yang menjalar hingga ke rahangnya.
Suci terdiam sejenak. Otaknya yang licik, yang terbiasa memutarbalikkan fakta di bawah tekanan, berputar dengan kecepatan penuh di balik sepasang mata elangnya. Pandangannya yang semula dipenuhi bisa kebencian perlahan-lahan meredup, bergeser ke arah sosok mungil yang berdiri di samping Sintia.
Arka. Anak kandung yang beberapa menit lalu ia maki di dalam benaknya sebagai bocah pembawa sial, kini bertransformasi menjadi satu-satunya sekoci penyelamat di tengah amuk badai yang siap menenggelamkannya.
Dengan gerakan yang sengaja diperlambat agar terlihat rapuh dan menderita, Suci mulai merangkak di atas lututnya, mengabaikan seragam pelayannya yang kian kotor bersaput debu jalanan. Ia mendekati Arka dengan kedua tangan terulur ke depan, bergetar layaknya seorang ibu yang sedang sekarat merindukan belaian buah hatinya.
"Arka... Anakku... Maafkan Mama, Nak..." Suci mulai melancarkan drama air matanya. Suaranya mendadak berubah menjadi lengkingan pilu, serak, dan penuh dengan vibrasi kesedihan yang dibuat-buat. Air matanya meluncur deras, membasahi riasan tebal di wajahnya hingga luntur membentuk guratan-guratan hitam yang dramatis.
Suci sengaja mengeraskan suaranya, mendongak sekilas ke arah Kenzi Hutama yang berdiri tegak bak menara karang di belakang Sintia. Ia ingin memamerkan kerapuhan ini, memicu rasa iba dari sang CEO yang ia ketahui memiliki kuasa mutlak untuk melepaskannya dari jerat hukum.
"Mama terpaksa melakukan ini semua, Arka! Mama pergi karena Mama dikejar-kejar orang jahat, Mama mau mencari uang untuk masa depanmu, Nak! Ibu mana yang tega meninggalkan darah dagingnya sendiri jika tidak terdesak?" ratap Suci, tubuhnya berguncang hebat oleh tangisan yang terdengar begitu menyayat hati di telinga orang awam yang menonton di sekitar trotoar. "Kembalilah pada Mama, Sayang... Tante Sintia itu orang asing, dia tidak akan pernah bisa mencintaimu seperti Mama mencintaimu..."
Namun, kepolosan anak-anak acap kali memiliki radar yang jauh lebih tajam daripada logika orang dewasa dalam mendeteksi busuknya sebuah kepalsuan.
Arka menatap sosok wanita yang merangkak ke arahnya dengan pandangan yang dipenuhi kengerian yang teramat mendalam. Ingatan bocah itu tidak merekam belaian hangat dari kata "Mama" yang baru saja diucapkan Suci, melainkan gema bentakan, cubitan kasar, dan bayangan punggung Suci yang melangkah pergi meninggikannya di dalam rumah kontrakan kumuh tempo hari.
"Tidak! Jangan mendekat! Arka takut!" teriak Arka, suaranya melengking tinggi, pecah oleh kepanikan yang mendadak menyerang dadanya.
Tanpa ragu sedikit pun, bocah enam tahun itu membalikkan badannya, menolak mentah-mentah pelukan sandiwara dari ibu kandungnya. Arka berlari kencang ke arah belakang, menubrukkan tubuh mungilnya pada kaki Sintia, menyembunyikan wajah tembamnya di balik lipatan blazer krem milik wanita yang baru beberapa jam ini merengkuhnya. Ia mencengkeram kain celana Sintia dengan begitu erat, tubuhnya bergetar hebat di balik perlindungan sang ratu.
Sintia segera membungkuk, melingkarkan lengan anggunnya di sekitar bahu Arka, mengunci bocah itu dalam dekapan protektifnya sambil menatap Suci dengan pandangan yang kian dingin dan jijik. Sandiwara murah itu telah gagal total di hadapan kemurnian hati seorang anak.
****
Melihat kegagalan total Suci, Alfandi Rian Mahesa yang sejak tadi berdiri mematung bagai penonton figuran, mendadak melihat sebuah celah baru. Jika anak kandungnya sendiri lebih memilih Sintia, dan jika Sintia begitu mencintai Arka, maka satu-satunya tiketnya untuk kembali menikmati empuknya kasur kemewahan dan keluar dari gang sempit yang bau adalah dengan menaklukkan kembali hati mantan istrinya.
Rian melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Sisa-sisa kesombongan sebagai mantan Direktur Utama Hutama Group telah tanggal sepenuhnya dari tubuhnya yang kini ringkih. Ia menjatuhkan ego lelakinya tepat di hadapan Sintia.
"Sintia... Tolong, lihat aku sejenak, Sin," ucap Rian, suaranya bergetar egois, memelas di tengah bisingnya lalu lintas sore itu. Ia mencoba meraih ujung lengan blazer Sintia, namun langkah tegap Kenzi yang bergeser satu senti ke depan membuat jemari Rian tertahan di udara.
"Aku tahu aku telah berdosa besar padamu, Sintia. Aku dibutakan oleh wanita iblis itu!" Rian menunjuk Suci dengan penuh kebencian, mencoba melemparkan seluruh kesalahan pada mantan selingkuhannya demi membersihkan namanya sendiri. "Tapi lihatlah Arka, Sin... dia butuh sosok seorang ayah. Anak itu butuh aku dan kamu untuk tumbuh normal. Tolong berikan aku kesempatan kedua... Kita bangun lagi semuanya dari awal. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik, aku akan menebus semua air mata yang pernah kujatuhkan dari matamu..."
Rian meratap, air matanya menetes di atas trotoar semen, sebuah penyesalan yang lahir bukan karena ia menyadari betapa setianya Sintia di masa lalu, melainkan karena dompetnya telah kosong dan perutnya kian lapar oleh kemelaratan.
Sintia Arunika tidak bergeming satu mili pun. Ia bahkan tidak sudi mengarahkan pandangan matanya ke arah wajah Rian. Bagi Sintia, pria yang berlutut di hadapannya saat ini hanyalah seonggok bayangan masa lalu yang telah mati dan membusuk menjadi abu. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada jemari mungil Arka yang masih mencengkeram erat tangannya.
Sintia mengabaikan mantan suaminya dengan keheningan yang teramat menyakitkan—sebuah bentuk hukuman tertinggi di mana keberadaan seseorang bahkan tidak lagi dianggap ada di dalam semesta kehidupannya. Pengabaian yang begitu mutlak itu membuat Rian membeku, menyadari bahwa gerbang emas menuju kehidupan lamanya telah dikunci rapat-ganda dan kuncinya telah dibuang ke dasar samudra terdalam.
****
WIUUUUU... WIUUUUU... WIUUUUU...
Suara sirine mobil patroli kepolisian memecah ketegangan di atas trotoar, menggema di antara dinding-dinding tinggi hotel bintang lima. Dua mobil sedan putih-biru berhenti tepat di samping pembatas jalan. Empat petugas kepolisian berseragam lengkap turun dengan langkah taktis, dipimpin oleh seorang inspektur yang langsung menghampiri Kenzi Hutama setelah menerima laporan darurat dari pihak manajemen keamanan hotel terkait dugaan percobaan pembunuhan menggunakan zat beracun.
"Selamat sore, Bapak Kenzi. Kami menerima laporan Anda mengenai adanya tindakan kriminal di dalam area restoran," ucap sang inspektur tegas.
Kenzi mengangguk dingin, sepasang mata sipitnya beralih menatap Suci yang masih bersimpuh. "Petugas, wanita ini, Suci Wahyuni, telah menyusup ke dalam dapur restoran dengan identitas palsu dan diduga kuat telah memasukkan zat kimia berbahaya ke dalam minuman konsumsi Ibu Sintia Arunika. Saya meminta pemeriksaan laboratorium forensik segera dilakukan pada pecahan gelas di dalam sana."
Mendengar kata "polisi" dan melihat borgol besi yang berkilat di pinggang petugas, seluruh topeng kerapuhan dan drama tangis Suci lenyap seketika. Ketakutan akan dinginnya sel tahanan memicu kegilaan liarnya untuk kembali mengambil alih kesadarannya.
Saat dua petugas melangkah maju dan mencengkeram lengannya untuk dipasangkan borgol, Suci mulai meronta dengan beringas. Ia menjerit, menendang-nendangkan kakinya di atas tanah layaknya kesurupan monster jahanam.
"Lepaskan saya! Saya tidak bersalah! Ini fitnah! Kalian semua berkomplot untuk menghancurkanku!" raung Suci histeris, suaranya melengking tinggi, memekakkan telinga orang-orang yang menonton di sepanjang trotoar. Wajah cantiknya berkerut mengerikan, urat-urat di pelipisnya menonjol keluar menahan amarah yang meluap-luap.
Petugas dengan cekatan mengunci kedua tangan Suci di belakang punggung, memaksa tubuh wanita ular itu berdiri dan menyeretnya menuju mobil patroli. Di sepanjang langkah seretan itu, Suci tidak berhenti meludahkan caci maki. Sepasang matanya yang merah dan penuh dengan bisa dendam menatap lurus ke arah Sintia dan Kenzi yang berdiri berdampingan.
"Sintia! Kenzi! Kalian pikir kalian sudah menang?! Ini belum berakhir!" teriak Suci, suaranya bergema parau di tengah bisingnya jalanan, dipenuhi oleh sumpah serapah yang teramat mengerikan. "Aku akan keluar dari tempat itu! Aku bersumpah demi sisa napasku, aku akan kembali dan menghancurkan hidup kalian berdua sampai sehancur-hancurnya! Ingat kata-kataku, Sintia! Kamu tidak akan pernah bisa hidup tenang selama aku masih bernapas!"
astaga
btw, kak. aku suka gaya cerita kakak...