Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Alibi
Arnold sempat tersentak, namun dengan kecepatan kilat, otak psikiaternya langsung memutar kemudi seratus delapan puluh derajat. Sorot matanya yang sempat mendingin sedetik lalu, langsung luntur berganti dengan binar mata polos yang dibuat-buat takjub.
Ia membolak-balikkan ponsel di genggamannya, menatap bagian belakang benda pipih itu dengan ekspresi super kagum.
"Softcase kamu kok lucu banget ih? Aku juga mau," ucap Arnold tiba-tiba dengan nada suara yang sengaja dibuat heboh.
Lova menghentikan langkahnya, menatap suaminya itu dengan dahi berkerut dalam. Ia melirik ponselnya sendiri yang sedang dielus-elus Arnold.
"Ini kan biasa aja Kak, apa Kakak suka? Kalau memang suka, nanti aku belikan juga buat Kakak," sahut Zarisha heran dan bingung. Padahal itu cuma softcase bening polos, tidak ada gambar atau hiasan apa pun.
'Di bagian mana yang lucunya, ya?' batin Lova, heran.
"Suka banget! Pokoknya belikan yang kembaran ya!" seru Arnold girang, menyembunyikan kepanikan batinnya karena gelembung pesan dari Teddy masih terus berkedip di layar depan.
Mata Arnold kemudian beralih pada nampan yang dibawa Lova. Hanya ada satu mangkuk bubur di sana. Otak jenius Arnold langsung menangkap peluang emas untuk mengusir Lova untuk sementara waktu agar dia bisa mengeksekusi Teddy tanpa gangguan.
"Loh, buburnya kok cuma satu mangkok, Istriku?" tanya Arnold sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kan yang sakit cuma Kakak," jawab Lova polos.
"Gak bisa, gak bisa. Sekarang kamu kembali ke dapur dan bawa buburnya satu lagi. Biar kita bisa saling suapan. Kamu belum sarapan juga kan? Ayo sini Kakak suapin kamu," rengek Arnold manja, mendorong pelan tangan Lova.
"Kita pakai ini aja, Kak. Gantian aja nyuapinnya," pinta Lova yang sedikit mulai ada rasa jengkel melihat kelakuan pria dewasa mirip anak kecil ini.
"Kalau nanti kita satu sendok suap-suapannya, kamu bisa ketularan demam. Sana ambil satu lagi di dapur, sekalian buat Mama kita juga."
Lova diam sejenak, memikirkan ucapan Arnold yang terdengar masuk akal juga. "Ya sudah, sebentar ya Kak, aku ambil dulu," ucap Lova setuju. Ia meletakkan nampan bubur Arnold di meja nakas, lalu berbalik badan menuju dapur kembali.
Begitu derap langkah kaki Lova menjauh dan dipastikan aman, senyuman manja di wajah Arnold langsung lenyap seketika. Berganti dengan seringai licik nan mematikan.
"Mari kita beri pelajaran untuk si pengganggu ini," desis Arnold dingin.
Dengan gerakan cepat, Arnold membuka kamera ponsel Lova. Ia menyendok sedikit bubur ayam di atas nakas menggunakan tangan kirinya, lalu mengarahkannya ke depan kamera seolah-olah ada tangan seseorang yang hendak menyuapinya dengan mesra.
Cekrek!
Foto sesendok bubur hangat dengan latar belakang kasur dan wajah Arnold yang memasang senyum paling songong sejagat raya berhasil diabadikan. Kelihatan sangat intim, seolah-olah Lova sedang duduk di tepi kasur sambil telaten menyuapinya sarapan pagi.
Tanpa membuang waktu, Arnold mengetik balasan telak menggunakan nomor Lova:
[Lova]: Maaf ya Ted, jangan ganggu aku. Suamiku semalam drop dan sekarang aku lagi sibuk menyuapinya semangkok bubur di ranjang. Soal cerita wanita jahat itu, aku gak peduli sama sekali. Mau apa pun masa lalunya, dia tetap suamiku yang sah, ganteng, dan bertanggung jawab. Tolong jangan jadi pengganggu di rumah tanggaku lagi ya. Bye!
Klik!
Pesan terkomit sempurna.
Setelah puas melihat pesan itu terkirim, Arnold langsung menghapus seluruh sisa pesan dan riwayat panggilan dari Teddy semalam tanpa sisa. Bersih total. Langkah terakhir, jemari panjangnya dengan kejam menekan tombol BLOKIR.
"Nah, selesai! Silakan kau mengamuk di sana, Teddy Bear," gumam Arnold puas sambil melempar HP Lova kembali ke atas kasur dengan santai.
Namun, begitu ponsel itu tergeletak tak bernyawa, senyuman sinis di wajah Arnold perlahan memudar. Kamar itu mendadak kembali sunyi, menyisakan Arnold yang terpaku menatap langit-langit.
Kata-kata Teddy di dalam pesan tadi kembali terngiang, menghantam kesadarannya dengan telak.
‘Dia menikahimu hanya sebagai alat untuk mendapatkan harta warisan keluarga Darmawan! Kamu hanya dimanfaatkan, Lova!’
Arnold mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik selimut. Dada naik turun, merasakan sesak yang tiba-tiba menghimpit. Apa yang dikatakan Teddy, tidak sepenuhnya salah. Awal pernikahan ini memang didasari oleh motif egoisnya untuk merebut warisan papanya, Charless Darmawan yang akan diambil alih oleh Tania.
Arnold memijat pelipisnya yang mendadak kembali berdenyut nyeri. Detak jantungnya yang menggila begitu melihat nama Teddy ... Arnold menggelengkan kepalanya dengan keras, mencoba mengusir semua perasaan asing itu.
‘Gak. Ini salah,’ batin Arnold mengingatkan dirinya sendiri dengan dingin.
Sebagai seorang psikiater, dia tahu betul batasan profesional. Dia tidak boleh melibatkan perasaan. Apa yang dia rasakan sekarang pasti hanya bentuk dari countertransference, sebuah kondisi di mana terapis ikut terbawa emosi oleh pasiennya.
'Ya, pasti hanya itu,' tambahnya lagi meyakinkan hati.
‘Zarisha itu pasienku. Dan aku adalah psikiaternya. Pernikahan ini hanya transaksi medis. Tidak lebih. Sekarang, semua sudah kembali padaku. Cukup membuatnya pergi saja kan?’ Arnold membatin, menanamkan kalimat itu kuat-kuat di dalam otaknya, seolah sedang membangun benteng tinggi untuk membatasi hatinya sendiri agar tidak melangkah terlalu jauh.
Tepat saat benteng itu berhasil ia tegakkan kembali, terdengar suara langkah Lova yang kembali dari dapur sambil membawa semangkuk bubur baru.
Arnold langsung mengubah raut wajahnya. Begitu Lova masuk, Arnold tidak lagi menatapnya dengan binar mata manja yang tulus seperti tadi, melainkan dengan tatapan, datar, mencoba kembali membatasi dirinya layaknya seorang dokter yang sedang mengobservasi pasiennya.
"Ini Kak buburnya," ucap Lova polos, duduk di tepi ranjang.
"Terima kasih. Sekarang, kamu makan sampai habis. Setelah ini kita mulai sesi terapimu yang tertunda kemarin," ujar Arnold dengan suara datar dan sedikit berjarak, membuat Lova sempat tertegun sesaat karena perubahan sikap suaminya yang begitu cepat.
"Ta-tapi tadi katanya mau saling suap? Lagian, Kakak kan belum sembuh?" Entah kenapa ada rasa kecewa muncul di hati Lova.
Arnold tidak segera menjawab. Pria itu sengaja mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar, menatap langit pagi yang mulai cerah, mencoba mengabaikan getaran aneh di dadanya saat mendengar nada kecewa dari suara istrinya. Benteng pertahanan yang baru ia bangun di dalam kepalanya tidak boleh runtuh begitu saja.
"Aku sudah jauh lebih baik, Zarisha. Dan batasan di antara kita harus tetap berjalan sesuai kesepakatan. Aku psikiatermu, kamu hanya pasienku," sahut Arnold datar, tanpa menoleh sedikit pun.
Lova tertegun di tempatnya. Genggaman tangannya pada mangkuk bubur yang masih hangat itu perlahan mengerat.
*bersambung*
Minggu ini jatah yg lain dulu y thor
tapi jgn khasy,bunga selalu bertaburan untuk mu😍😍
poor Teddy
semangat pak jemput jodoh yg lain
walaupun Lova pisah Ama KA Arnold nya
kyk nya ga bakalan Ama lu juga dah 🫣
kalau aku jadi lova ya..aku akan berfikir seperti itu,dunia yg terlalu sempurna dan tanpa cela malah menambah ketakutan yg luar biasa.
karena ga akan ada hidup yg terlalu sempurna bukan?
tapi di satu sisi....jadi Arnold juga berat
selama puluhan tahun baru merasa jatuh cinta dan takut kehilangan seseorang yg amat dahsyat. hingga membuat sangkar yg sebegitu sempurna nya
othor dukung siapa
aku si.....dukung Teddy 🤣🤣🤣
bagaimana pun dan apapun alasan nya
namanya psikiater yaa
ini nih kalau punya sedikit aja jiwa pisko jadi psikiater
rada ngeriiii🫣🥹🥹
mudah mudahan dia beneran tulus Ama lova ya Thor
🥹🥹🥹
karena sudah bertahun tahun terperangkap di situasi yg menakutkan.
baru ngeliat cahaya tapi dipaksa masuk lagi keruangan gelap
bingung mau pegangan Ama siapa
bingung main percaya sama siapa🥹🥹
iy ya..licin amet tu muka kyk ubin mesjid yg baru dipel🤣🤣.
aku Teddy bgt
tapi mas dokter juga ok si
Yee maruk🤣🤣
aku jadi merinding euy
ini... kyknya sakit juga y,si Arnold 🫣🤔
tuh kan sepintar-pintarnya Arnold menghindar pasti bertemu juga sama Teddy bear...jadi penasaran setelan ini apa yang akan terjadi ya ...🤔🤔🤔🤸🏼♀️