NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Rahel dan misinya

Rahel berjalan riang di koridor kampus. Sebuah hal tidak biasa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia tersenyum ramah dan menyapa semua anak fakultas seni. Mereka menatap heran kepada anak tomboy itu. Tidak biasanya, batin mereka semua.

Biasanya, Rahel akan berjalan santai ala-ala anak cool, tapi kali ini mereka melihat hal yang berbeda dari gadis itu. Kira-kira apa yang telah merasuki tubuh Rahel, pikir mereka.

Sementara Rahel, gadis itu tidak terlalu memusingkan wajah aneh mereka semua. Hari ini adalah hari yang benar-benar menyenangkan. Tentunya, bukan hanya hari ini saja, namun hari-hari berikutnya akan lebih menyenangkan.

Gadis itu sudah resign dari tempat kerjanya dulu. Tempat kerja yang menurutnya seperti neraka dunia. Gaji mini namun kerja harus selalu rapi, bahkan jam kerja pun benar-benar tidak bersahabat. Sebuah kebanggaan baginya karena bisa terlepas dari lingkaran pekerjaan tersebut.

Dan sebagai gantinya, ia mendapatkan perkejaan santai namun dengan gaji yang luar biasa. Tadi sebelum ia pamit pulang dari kediaman yang di tempati sahabatnya, ia mendapatkan seamplop uang dari Nyonya Adeline karena berhasil membuat Laura tidak murung lagi.

Hahaha.. jika terus seperti ini ia bisa betah kerja seperti ini. Menjadi badut untuk sahabatnya.

“Hel, Lo kesambet?” tanya Thea, teman kelasnya.

“Hahaha, gue lagi seneng.” Balas gadis itu dengan tawa yang menurut Thea terdengar horor di telinganya.

Thea menggelengkan kepalanya pelan melihat hal itu. “Bocah aneh. Oh iya, ada yang nyariin Lo.”

“Siapa?”

“Siapa lagi kalo bukan kating yang ngincar sahabat Lo itu. Dia nunggu di kantin,” ucapnya.

Tanpa berpamitan pada Thea, Rahel langsung saja melesat dengan cepat. Ia harus menyelesaikan ini. Firasatnya mengatakan jika kating itu akan kembali mengintrogasinya dengan banyak pertanyaan yang mengarah kepada sahabatnya. Dan tentu saja, ia akan menyelesaikan persoalan itu.

Di ambang pintu, Rahel menyapu setiap sudut meja dan kursi kantin. Matanya terhenti pada satu objek yang katanya sedang menunggunya. Ia berdehem pelan, berjalan dengan gaya sok cool dan duduk di hadapan pria tersebut.

“Lo nyari gue, Kak?” tanpa basa-basi, Rahel langsung saja bertanya. Ia akan membuktikan kepada Gaharu jika ia akan bekerja dengan baik. Dan ini adalah sebuah pembuktian. Setelah ini ia akan langsung melapor kepada sekertaris Juan.

Abizar tersenyum tipis. Menutup buku jurnal di depannya.

“Akhirnya nongol juga,” ucap Abizar dengan nada santai, namun sorot matanya tajam menyelidik. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuh ke arah Rahel. “Gue nggak butuh basa-basi, Hel. Laura di mana sekarang?”

Rahel menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan gaya yang sengaja dibuat sedingin mungkin. “Pertanyaan Lo basi, Kak. Sejak kapan gue jadi agen pelacak lokasi buat Lo?”

Rahel bersorak di dalam hati. Ia merasa bangga dengan sikap yang baru saja ia keluarkan, terlihat keren, hahaha.

“Jangan main-main, Hel. Gue tahu Lo habis ketemu sama dia, 'kan?” tanya Abizar dengan tenang. “Kasih tahu gue alamatnya, dan gue anggap urusan kita selesai.”

Rahel terkekeh, suara tawanya terdengar meremehkan. “Sejak kapan kita punya urusan? Lagian sahabat gue itu manusia, bukan barang hilang yang bisa Lo klaim lokasinya gitu aja. Sahabat gue butuh ketenangan, dan ketenangan itu.. jauh-jauh dari makhluk kayak Lo.”

Abizar menghela nafas, mencoba menahan emosi yang mulai tersulut. “Gue cuma mau mastiin dia baik-baik aja,” ucap Abizar dengan suara yang kini merendah.

Rahel memutar kedua bola matanya malas. “Denger ya, Kak. Tanpa pertanyaan basa-basi Lo itu, sahabat gue udah pasti baik-baik aja. Jadi, simpen aja rasa simpati Lo itu buat diri Lo sendiri.”

Abizar terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk sampul buku jurnal dengan irama yang tidak beraturan. Ia tampak sedang menimbang-nimbang sejauh mana ia bisa menekan gadis di depannya ini.

“Oke, gue hargai loyalitas Lo sebagai sahabat,” Abizar kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih dingin. “Tapi Lo harus sadar satu hal, Hel. Laura nggak bisa terus-terusan sembunyi di balik punggung orang lain. Masalah dia sama gue nggak akan selesai kalau dia cuma kirim 'anjing penjaga' buat ngadepin gue.”

Mendengar kata-kata itu, emosi Rahel hampir saja terpancing, namun ia teringat pada amplop tebal di sakunya. Ia harus tetap terlihat profesional.

“Anjing penjaga?” Rahel tertawa renyah, kali ini suaranya terdengar sangat puas. “Kalau gue anjing penjaga, berarti Lo itu cuma lalat pengganggu yang bahkan nggak layak buat gue lirik. Kak, sadar diri deh. Laura itu udah ada ditangan orang yang beneran bisa jagain dia.”

Abizar mengernyitkan dahi. “Siapa? Siapa yang Lo maksud? Dia bahkan nggak tinggal lagi di rumah bokapnya.”

Rahel bangkit dari duduknya, merapikan letak jaketnya dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat agar terlihat dramatis. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di depan wajah Abizar yang mulai tampak gusar.

“Mending Lo fokus aja sama tugas-tugas akhir Lo. Jangan buang-buang waktu buat cari tahu sesuatu yang bukan level Lo. Laura udah bahagia, dan tugas gue adalah mastiin orang kayak Lo nggak ngerusak kebahagiaan itu lagi.”

Rahel menepuk pundak Abizar dengan sisa-sisa keberaniannya sebelum berbalik. Tepat saat ia akan melangkah, Abizar kembali bersuara.

“Lo nggak tahu gue siapa, gue bisa aja suruh petinggi kampus cabut beasiswa Lo detik ini juga,” ujarnya

Rahel kembali berbalik, ia menumpukan satu tangannya di meja. “Silahkan, gue nggak takut. Tapi.. Lo harus hati-hati sama keputusan yang Lo ambil. Karena...” Rahel menggantung ucapannya. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya dan berbisik.

“...apa yang Lo lakuin sekarang, bisa aja jadi boomerang buat diri Lo sendiri, Kak.” Rahel tersenyum manis.

Tanpa menunggu balasan, Rahel melenggang pergi dengan langkah lebar. Ia merasa benar-benar menang telak. Di dalam kepalanya, ia sudah menyusun kata-kata untuk laporannya nanti.

‘Abizar sudah saya hadapi. Si kating itu kena mental. Situasi terkendali.’

HAHAHAHA.. ternyata pekerjaan ini benar-benar menyenangkan baginya. Gadis itu berjalan kembali dengan riang. Melihat pesan yang sudah bertanda centang biru yang menandakan jika pesan tersebut sudah di baca oleh sekertaris Juan. Ia berjalan dengan riang, menikmati misi pertamanya.

Sibuk dengan ponselnya, Rahel tidak tahu saja jika di depan sana ada seseorang yang berjalan berlawanan arah. Dan kejadian yang sudah terduga pun tidak dapat di hindari. Terjadi tabrakan yang membuat Rahel hampir saja terjatuh, namun beruntungnya gadis itu karena sebelum ia jatuh ke lantai, sebuah tangan sudah lebih dulu menahan tubuhnya.

Rahel membuka matanya saat tidak merasakan rasa sakit pada tubuhnya. Ia membuka sebelah matanya dan sontak ia terkejut. Ia melotot lalu menegakkan tubuhnya dengan cepat. Meneguk ludahnya dengan gugup saat di depannya berdiri dosen yang benar-benar ia hindari.

Pak Baskoro.

'Sial, gue baru aja seneng. Udah tertimpa lagi aja musibah.'

'Emang paling bener seneng-seneng tuh pake batasan. Kalo udah gini mau gimana?'

“Selamat siang, Pak,” sapanya dengan gugup.

“Kamu ini tidak memiliki mata? Selalu saja ceroboh,” cibir pria itu.

Rahel meringis, kepalanya tertunduk dalam. Sementara jemarinya meremas ponsel yang tadi ia banggakan. Aura menyeramkan Pak Baskoro seolah langsung melahap habis semangat riangnya dalam sekejap. Rasanya seperti baru saja memenangkan lotre lalu tiba-tiba kena rampok.

“Maaf, pak. Lain kali saya akan hati-hati.”

'Udahlah minta maaf aja, lagian emang gue yang salah. Debat sama artefak tua di depan gue ini malah bikin gue kehilangan banyak energi.'

Pak Baskoro tidak langsung membalas. Ia hanya diam memperhatikan gerak-gerik dan riak wajah mahasiswi di depannya.

“Kelasmu akan berlangsung 15 menit lagi, kenapa masih di sini?”

Rahel membulatkan matanya kaget. Benar! Ia lupa tentang kelasnya. Ini gara-gara kating hukum yang tiba-tiba ingin bertemu.

“Ahaha.. iya pak, ini saya baru aja mau pergi ke kelas. Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya permisi.”

Rahel berbalik hendak pergi setelah membungkuk sebagai permintaan maaf. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti karena celetukan dosen tersebut.

“Kelasmu berlawanan arah, Rahel. Itu arah kantin, kamu ingin membolos?”

Rahel meringis di dalam hati. Ia berbalik dengan hati-hati, menyengir tanpa dosa. “Hehe, saya lupa. Saya pamit, pak. Selamat siang!”

Tanpa mendengar balasan apapun lagi, Rahel langsung saja melangkah dengan cepat. Lebih tepatnya setengah berlari. Sementara Pak Baskoro memperhatikan dalam diam. Selalu saja ada tingkah aneh jika ia berhadapan dengan gadis itu.

***

Selasa, 12 Mei 2026

Published : Selasa, 12 Mei 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!