⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RODA NASIB BERPUTAR Bag.1
Benteng pertahanan yang paling kokoh sekalipun, biasanya hancur karena pembusukan dari dalam.
Raka sangat sadar akan filosofi ini, dan dia punya segudang trik agar hal itu tidak terjadi di perusahaannya.
Belakangan ini beban kerja Wahyu sedang gila-gilaan, dan Raka bisa melihat asistennya itu mulai kelelahan secara fisik maupun mental. Raka khawatir kalau sewaktu-waktu Wahyu mendadak burnout dan melempar handuk resign. Masalahnya, Wahyu itu rela banting tulang bukan karena ngejar gaji; anak itu sendiri aslinya sudah tajir melintir. Satu-satunya alasan dia bertahan murni karena ikatan brotherhood di antara mereka berdua.
Di ruang kantor CEO lantai teratas Gedung Grup Adiyaksa.
"Sini bentar lu, teken dokumen ini." Raka menyodorkan sebuah map berisi dokumen setebal empat atau lima halaman kepada Wahyu.
Wahyu menerimanya dengan dahi berkerut bingung, matanya membaca barisan kalimat di dokumen itu dengan wajah nge-blank.
"Eh, bentar, Bos Raka..." Semakin jauh dia membaca, ekspresinya berubah drastis dari datar menjadi syok berat, hingga akhirnya matanya mulai berkaca-kaca. "Ini apaan anjir?! Ngapain lu ngasih saham perusahaan ke gua?"
Raka membalasnya dengan senyuman hangat, bukan senyum angkuh khas seorang CEO, melainkan senyuman tulus dari seorang kakak yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan bersama adiknya.
"Lu tuh umurnya udah nggak muda lagi, udah saatnya lu punya aset karir lu sendiri."
"Dari awal Grup Adiyaksa ini berdiri sampai meraksasa kayak sekarang, lu selalu ada nemenin gua berdarah-darah. Kalau nggak ada lu, empire ini nggak bakal pernah ada," ucap Raka dengan nada yang sangat tulus. "Saham 30% ini murni hak lu. Dengan pegang saham ini, lu bukan lagi kerja berbakti buat gua, tapi lu lagi ngebangun kerajaan lu sendiri."
Di sinilah letak kejeniusan Raka; dia mengikat komitmen Wahyu dengan menjadikan asistennya itu sebagai salah satu pemilik sah dari perusahaan.
Wahyu sempat menolak keras pemberian itu berulang kali, merasa tidak pantas menerimanya. Namun karena Raka terus memaksanya, Wahyu akhirnya menyerah dan membubuhkan tanda tangannya di atas meterai.
Mulai detik ini, status Wahyu resmi naik kelas dari sekadar asisten menjadi pemegang saham mayoritas. Dia kini memiliki power dan suara yang jauh lebih absolut di dalam Grup Adiyaksa.
Tak lama setelah itu, kawasan komersial baru akhirnya resmi dibuka untuk umum.
"Gimana buzzer gelombang pertama? Udah siap launching?" tanya Raka. Yang dia maksud adalah barisan food vlogger dan selebgram papan atas yang sengaja di-endorse mahal untuk melakukan review kuliner.
"Aman, Bos. Udah gua setting semua dari jauh hari," jawab Wahyu dengan penuh percaya diri.
Dalam hitungan jam, jagat maya langsung digempur oleh fyp dan trending topic berisi video ulasan tentang restoran steak tersebut di berbagai platform.
[MAKAN MEWAH TAPI MURAH?! BONGKAR RAHASIA RESTO STEAK PALING WORTH IT SE-JAKARTA!]
[CUMA RATUSAN RIBU BISA MAKAN WAGYU A5 ASLI JEPANG?! TEMPAT INI BIKIN RUSAK HARGA PASARAN!]
Melihat headline umpan klik (clickbait) yang berseliweran itu, Raka tersenyum puas. Di dalam kepalanya, skema kerajaan bisnis lifestyle yang masif mulai tergambar jelas; sebuah ekosistem mandiri di mana lalu lintas manusia dan perputaran uang di kota ini akan berpusat pada satu titik.
Menyusul viralnya restoran tersebut, gelombang video review tentang staycation di jajaran hotel sekitarnya juga mulai membanjiri beranda media sosial.
Para influencer sepakat memuji bahwa kompleks perhotelan di sana benar-benar menawarkan pengalaman menginap mewah namun dengan harga miring gila-gilaan.
Tak butuh waktu lama, netizen yang FOMO (Fear Of Missing Out) dari seluruh penjuru daerah mulai berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk membuktikan sendiri keviralan tempat itu.
"Eh, hotel yang satu ini kok beda sendiri bentuknya?"
Suatu hari, saat sedang memantau situasi di lapangan, Wahyu tak sengaja melihat beberapa gerombolan gadis yang sedang berkerumun di depan bangunan hotel bobrok. Ya, itu adalah satu-satunya hotel yang gagal diakuisisi karena pemiliknya yang serakah.
Hotel itu terlihat sangat jomplang dan merusak estetika di tengah deretan bangunan lain yang sudah direnovasi mewah.
"Deretan hotel yang lain kok fasadnya seragam semua ya. Gimana kalau kita cobain nginep di hotel yang ini aja? Keliatan beda vibes-nya," usul salah satu gadis.
"Ih, ogah ah! Liat aja tuh bangunannya jelek bin buluk gitu."
"Ah lu mah! Siapa tau emang sengaja dibikin konsep rustic atau vintage gitu kan? Udah yuk, nyobain semalem doang ini."
Setelah dirayu habis-habisan oleh temannya, kedua gadis itu pun akhirnya check-in di hotel reot tersebut.
Melihat kejadian itu, Wahyu langsung merasa firasatnya tidak enak.
"Bos, lu sadar nggak sih kalau hotel buluk itu malah berpotensi nyolong hype dan pelanggan kita?" lapor Wahyu, mengutarakan kekhawatirannya. Ia takut kebobrokan visual hotel itu malah dianggap sebagai keunikan anti-mainstream oleh anak-anak muda zaman sekarang. Siapa yang tahu kalau kesialan ini malah bawa hoki buat si tua bangka itu?
Tapi di luar dugaan, Raka malah meresponsnya dengan santai tanpa beban.
"Halah, hal receh kayak gitu mah udah gua prediksi dari awal."
"Sekarang lu instruksiin semua manajer hotel kita: potong room rate 30% dari harga sekarang! Plus, kasih complimentary free sarapan dan makan malam! Terus buat tamu yang mau makan siang di resto steak kita, kasih mereka voucher diskon 50%!"
Wahyu nyaris menampar pipinya sendiri karena mengira dia sedang berhalusinasi pendengaran.
"Bos! Promo gila-gilaan gitu mah namanya bunuh diri, bisa bangkrut kita!"
Wahyu kira kelakuan bakar uang Raka cuma berlaku saat masa persiapan. Tapi siapa sangka, di saat operasional sudah jalan dan waktunya panen cuan, bosnya ini malah ngasih layanan gratisan seolah lagi ngabdi ke panti jompo.
"Lu tuh gimana sih, Wahyu? Katanya lu ngerti prinsip 'Pelanggan adalah Raja'? Tugas kita sekarang tuh manjaan raja-raja ini semaksimal mungkin, sampai mereka ngerasa utang budi dan wajib ninggalin review bintang lima buat kita."
"Buset dah... ternyata istilah 'Pelanggan adalah Raja' tuh ada wujud nyatanya toh," gumam Wahyu, menyerah.
Walau hatinya menjerit, Wahyu tetap menjalankan instruksi Raka. Harga sewa kamar dipangkas habis-habisan, tapi dia mewanti-wanti staf agar standar pelayanannya tidak boleh turun sedetik pun. Kebersihan kamar harus setara ruang VIP rumah sakit, dan semua seprai serta handuk wajib menggunakan grade satu dari supplier top di Jakarta.
Wahyu sadar betul, ini adalah strategi Price War alias perang harga brutal yang dirancang khusus untuk menghancurkan kompetitor hingga ke akar-akarnya.
Dengan gempuran fasilitas dewa harga kaki lima ini, hotel bobrok itu dijamin bakal mati kutu kelaparan. Nanti, kalau si pemilik rakus itu sudah bangkrut dan angkat kaki, Grup Adiyaksa akan memonopoli kawasan ini sepenuhnya. Nah, di titik itulah mereka baru akan meraup untung besar-besaran.