Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Tanya Masa Laluku
Pagi itu, suasana di lobi kantor udah kayak pasar kaget. Wartawan numpuk, kamera di mana-mana, dan bisik-bisik karyawan yang ngelihatin Nara kayak lagi ngelihat buronan kelas kakap. Nara cuma bisa nunduk, ngeratin pegangan tangannya di jas Arga. Arga sendiri udah balik ke setelan mautnya—jas gelap, rambut klimis, dan muka tembok yang nggak bisa dibaca.
"Tahan bentar, Nara. Sepuluh menit lagi semua ini kelar," bisik Arga pas mereka di dalem lift menuju ruang konferensi pers.
"Gue takut, Ga. Gimana kalau mereka nanya soal kontrak itu sedetail mungkin? Gue nggak jago bohong di depan kamera," Nara remes-remes ujung gaun navy pilihan Arga yang cantik banget tapi kerasa berat di badannya.
Arga berhenti melangkah tepat di depan pintu besar. Dia muter badan Nara biar fokus ke dia. "Lo nggak perlu bohong. Lo cuma perlu diem. Biar gue yang mainin narasinya."
Begitu pintu dibuka, kilatan lampu *flash* langsung nyerbu mata mereka. Silau banget. Arga narik Nara duduk di meja panjang yang udah penuh mikrofon. Bayu berdiri di pojok sambil ngasih kode jempol, mukanya tegang tapi tetep berusaha kelihatan tenang.
"Langsung saja ke intinya," suara Arga berat dan tegas, bikin suasana ruangan yang tadinya bising langsung sunyi senyap. "Soal foto kontrak yang beredar, saya tegaskan di sini: Itu benar. Dokumen itu memang pernah ada."
Ruangan langsung heboh lagi. Wartawan saling sahut-sahutan.
"Tapi," potong Arga, matanya tajam banget natap lensa kamera di depannya. "Kontrak itu dibuat saat saya dan Nara masih dalam tahap penjajakan yang salah arah. Kami berdua sama-sama kaku, sama-sama takut berkomitmen, sampai akhirnya kami pikir sebuah kertas bisa jadi jaminan. Tapi seiring berjalannya waktu, kertas itu jadi sampah bagi kami. Karena perasaan tidak bisa dikontrak."
"Lalu bagaimana dengan masa lalu Mbak Nara?" tiba-tiba seorang wartawan cowok dari barisan belakang teriak. "Ada rumor kalau Mbak Nara ini sengaja mendekati Anda karena hutang keluarga? Apakah pernikahan ini cuma cara Mbak Nara buat lunasin masa lalunya yang kelam?"
Nara tersentak. Jantungnya kayak berhenti detak. Masa lalu soal ayahnya, soal kejaran penagih hutang sebelum ketemu Arga... itu luka yang paling dia tutupin rapat-rapat. Dia ngerasa seluruh mata di ruangan itu nungguin dia buat hancur.
Tangan Nara di bawah meja gemeteran hebat. Dia mau nangis, tapi dia nggak mau kelihatan lemah.
Tiba-tiba, Arga ngeraih tangan Nara di depan semua orang. Dia nggak cuma megang, tapi menggenggamnya kuat-kuat di atas meja supaya semua kamera bisa ngambil gambarnya.
"Cukup," desis Arga. Suaranya nggak keras, tapi auranya bikin wartawan tadi langsung ciut. "Jangan tanya masa lalu istri saya. Apa pun yang terjadi sebelum dia ketemu saya, itu bukan urusan publik. Yang jadi urusan kalian adalah fakta kalau saat ini, saya—Arga—tidak akan membiarkan siapa pun mengungkit luka lama hanya demi rating berita."
Arga berdiri, masih sambil megang tangan Nara. "Nara punya masa lalu, saya punya masa lalu yang mungkin lebih gelap. Tapi yang kami punya sekarang adalah masa depan. Siapa pun yang mencoba menggali lebih dalam soal kehidupan pribadi Nara sebelum menikah dengan saya, akan berhadapan langsung dengan tim hukum saya. Konferensi pers selesai."
Arga langsung narik Nara keluar dari ruangan itu tanpa peduli sama teriakan pertanyaan lain yang makin liar. Mereka masuk ke ruang kerja Arga yang kedap suara, dan begitu pintu ketutup, Nara langsung luruh ke pelukan Arga.
"Ga... mereka tahu dari mana soal itu?" tangis Nara pecah. "Rio bener-bener jahat banget..."
Arga meluk Nara erat, tangannya ngusap-ngusap punggung Nara buat nenenangin. "Sshh... tenang. Gue di sini. Gue nggak bakal biarin mereka gali lebih jauh. Masa lalu lo itu milik lo, Nara. Dan sekarang, lo punya gue buat nutupin itu semua."
Di balik jas mahalnya yang tadi kelihatan sombong di depan wartawan, Arga ngerasa hatinya perih liat Nara serapuh ini. Dia tahu, perang ini baru aja naik level. Rio nggak cuma mau hancurin karirnya, tapi mau hancurin mental Nara. Dan buat Arga, itu adalah kesalahan terbesar yang pernah Rio lakuin.
---
Nara masih terisak di dada Arga, tangannya meremas kemeja mahal itu sampai kusut masai. Ruang kerja CEO yang biasanya hening dan penuh aura otoritas itu sekarang cuma berisi suara tangis pelan Nara yang pecah karena ketakutan. Luka lama soal keluarganya yang dikejar hutang, soal masa-masa dia harus kerja serabutan cuma buat nyambung hidup—semuanya kayak dipaksa dikuliti lagi di depan kamera tadi.
"Gue... gue malu, Ga. Mereka bakal anggep gue cewek murahan yang cuma mau duit lo," gumam Nara di sela tangisnya.
Arga ngelepas pelukannya dikit, terus dia nangkup muka Nara pakai kedua tangannya. Dia maksa Nara buat natap matanya yang lagi berkilat marah, tapi bukan marah ke Nara.
"Dengerin gue, Nara. Liat mata gue," suara Arga berat dan stabil banget. "Nggak ada yang murah dari perjuangan lo buat bertahan hidup. Kalau mereka mau bahas soal hutang, biar gue kasih tahu mereka kalau lo itu investasi paling berharga yang pernah gue temuin. Lo bukan matre, lo itu pejuang. Dan gue bangga punya istri yang nggak gampang nyerah sama keadaan."
Arga nyium kening Nara lama banget, seolah mau transfer semua kekuatannya ke cewek itu. "Masa lalu lo itu urusan lo, dan sekarang jadi urusan gue buat jagain. Jangan dengerin mereka. Mereka cuma orang asing yang butuh bahan gosip buat makan siang."
Nara narik napas panjang, nyoba buat tenangin deg-degan di dadanya. "Tapi Rio... dia nggak bakal berhenti sampai gue bener-bener hancur di mata publik, Ga."
Arga senyum miring, tapi kali ini senyumnya dingin banget, tipe senyum yang bikin lawan bisnisnya biasanya langsung pengen pensiun dini. Dia ngeraih HP di meja kerjanya, terus neken tombol speaker.
"Bayu, masuk sekarang," perintah Arga singkat.
Detik berikutnya, Bayu masuk dengan muka yang nggak kalah tegang, tapi di tangannya udah ada map merah yang tebel banget. "Semua udah siap, Pak Arga. Tim IT udah nemuin jejak digital kalau foto kontrak itu disebar pertama kali lewat akun palsu yang IP-nya terdaftar atas nama perusahaan cangkang milik Rio Pratama."
"Bagus," desis Arga. Dia natap Nara bentar, seolah mau mastiin Nara denger ini semua. "Langsung rilis bukti itu ke publik lima menit lagi. Dan soal hutang keluarga Nara... pastiin semua portal berita yang tadi nanya aneh-aneh dapet surat somasi sebelum jam makan siang. Bilang ke mereka: Satu kata lagi soal masa lalu istri saya, saya beli medianya sekalian cuma buat saya tutup."
Nara melongo denger omongan Arga yang bener-bener kayak di film-film. "Ga, lo serius?"
"Gue nggak pernah main-main kalau soal lo, Nara," Arga nengok ke arah jendela besar yang nampilin gedung-gedung tinggi Jakarta. "Rio udah salah pilih lawan. Dia pikir dengan nyerang masa lalu lo, gue bakal malu dan ngelepasin lo. Dia nggak tahu kalau itu malah bikin gue punya alasan buat hancurin dia tanpa sisa."
Bayu langsung keluar lagi buat eksekusi perintah bosnya. Di ruangan itu, Arga balik lagi nyamperin Nara, dia ngerapiin rambut Nara yang agak berantakan kena air mata tadi.
"Jangan tanya masa lalu lo lagi ke diri lo sendiri dengan rasa malu, Nara. Karena buat gue, masa lalu lo itu yang ngebentuk lo jadi wanita hebat kayak sekarang. Sekarang, hapus air mata lo. Kita masih punya satu agenda lagi sebelum hari ini berakhir."
"Apa lagi?" tanya Nara sambil ngusap pipinya.
"Kita bakal datangi Rio langsung. Gue mau dia minta maaf di depan muka lo, sebelum dia bener-bener nggak punya muka lagi buat tampil di Jakarta," jawab Arga mantap.
Nara ngerasa keberaniannya balik lagi. Di samping Arga, dia ngerasa nggak perlu takut lagi sama bayang-bayang masa lalunya. Ternyata benar, di balik jas mahal itu, ada pelindung yang siap perang demi kebahagiaan Nara.
---
Nara narik napas panjang, berusaha nahan getaran di tangannya yang masih kerasa dingin. Dia ngelihatin Arga yang lagi ngerapiin dasinya di depan cermin besar ruang kerjanya. Sosok Arga yang sekarang bener-bener beda sama cowok yang pakai kaos oblong hitam di rumah kayu kemarin. Sekarang, dia balik jadi CEO yang auranya mematikan, tapi tatapannya ke Nara tetep lembut banget.
"Ga, lo yakin mau nemuin Rio sekarang? Dia pasti lagi ngerasa di atas angin karena postingan itu," kata Nara pelan.
Arga berbalik, jalan nyamperin Nara terus benerin kerah gaun Nara yang agak miring. "Justru itu. Orang kayak Rio harus dijatuhin pas dia lagi ngerasa paling tinggi. Biar sakitnya berasa sampai ke tulang."
Arga ngeraih tangan Nara, terus mereka jalan keluar ruangan. Di sepanjang koridor kantor, semua karyawan yang tadinya bisik-bisik langsung diem seribu bahasa pas liat tatapan tajam Arga. Nggak ada yang berani angkat muka, apalagi ngeluarin HP buat motret.
"Bayu, mobil udah siap?" tanya Arga pas nyampe depan lift.
"Siap, Pak. Tim hukum juga udah standby di depan gedung perusahaan Pratama. Wartawan yang tadi di bawah juga udah mulai geser ke sana gara-gara bocoran tim kita," jawab Bayu sambil sibuk sama tabletnya.
Di dalem mobil, suasana hening banget. Nara natap jalanan Jakarta yang macet, pikirannya melayang ke masa lalu yang tadi ditanyain wartawan. Masa-masa dia harus ngumpet di gudang gara-gara penagih hutang dateng, atau pas dia harus nahan laper demi bayar kontrakan.
Tiba-tiba, tangan Arga nggenggam tangan Nara di atas kursi mobil. "Jangan diingat lagi. Masa lalu lo itu pintu yang udah gue kunci rapat. Sekarang, kuncinya ada di gue, dan nggak bakal gue kasih ke siapa pun."
Nara senyum tipis, dia nyenderin kepalanya di bahu Arga. "Makasih ya, Ga. Gue nggak tahu bakal jadi apa kalau kontrak itu kebongkar pas gue nggak sama lo."
"Gue nggak bakal biarin itu terjadi," gumam Arga sambil ngecup pucuk kepala Nara.
Nggak lama, mobil mereka berhenti di depan gedung pencakar langit milik keluarga Pratama. Benar aja, puluhan wartawan udah nunggu di sana. Begitu Arga turun dan ngebukain pintu buat Nara, lampu flash kembali nyerbu. Tapi kali ini, Arga nggak nunduk. Dia jalan tegap, ngerangkul pinggang Nara dengan protektif banget, seolah mau pamer ke dunia kalau Nara adalah miliknya yang paling berharga.
Mereka masuk ke lobi dan langsung menuju lantai paling atas tanpa hambatan. Pas pintu ruangan Rio terbuka, mereka ngelihat Rio lagi duduk santai sambil minum wine, mukanya kelihatan puas banget natap layar TV yang nampilin berita skandal Arga.
"Wah, liat siapa yang dateng. Pasangan kontrak paling fenomenal tahun ini!" ledek Rio sambil berdiri, ketawa ngeremehin. "Gimana rasanya jadi bahan omongan satu Indonesia, Arga? Seru kan?"
Arga nggak bales ketawa. Dia malah jalan pelan mendekat ke meja Rio, naruh map merah yang tadi dibawa Bayu tepat di depan muka Rio.
"Lo tahu apa yang lebih seru dari gosip, Rio?" tanya Arga, suaranya rendah tapi bikin bulu kuduk berdiri. "Ngekihat seseorang kehilangan segalanya dalam hitungan menit cuma gara-gara satu kesalahan bodoh: Nyentuh milik gue."
Rio ngerutin dahi, dia buka map itu dengan tangan agak gemeter. Begitu dia baca isinya, mukanya yang tadi merah segar langsung pucat pasi kayak mayat.
"Ini... ini nggak mungkin! Lo nggak bisa narik investasi ini sepihak!" teriak Rio panik.
"Gue bisa. Dan gue baru aja ngelakuinnya," Arga narik kursi, terus nyuruh Nara duduk di sana sementara dia berdiri di sampingnya kayak pengawal pribadi. "Sekarang, lo punya dua pilihan. Minta maaf ke Nara di depan kamera wartawan di bawah sana, atau lo liat gedung ini disita bank besok pagi."
Nara natap Rio yang sekarang bener-bener kelihatan kayak pecundang. Semua kesombongan cowok itu ilang gitu aja. Di sampingnya, Arga berdiri tegak dengan tangan yang masih setia ngerangkul bahu Nara. Di detik itu, Nara sadar kalau masa lalunya nggak akan pernah bisa nyakitin dia lagi, selama ada Arga yang berdiri di depannya.