Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pintu mobil tertutup dengan bunyi pendek yang teredam. Tidak keras, tapi cukup untuk menyisakan getaran di dalam kabin yang sempit itu.
Adrian langsung duduk di kursi pengemudi tanpa menoleh. Tangannya sudah berada di setir bahkan sebelum ia benar-benar nyaman duduk, jari-jarinya menggenggam terlalu kuat, sisa emosi yang belum sepenuhnya turun dari kejadian beberapa saat lalu.
Clara duduk di sampingnya, punggung tegak, tas berada rapi di atas pangkuannya. Ia tidak langsung bicara. Hanya menarik napas perlahan, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar terlalu cepat.
Mobil pun bergerak meninggalkan lokasi.
Beberapa kendaraan di belakang masih melirik sekilas, tapi perhatian itu cepat menghilang begitu jarak mulai menjauh. Jalan kembali seperti biasa, lalu lintas berjalan, suara klakson sesekali terdengar, tidak ada yang benar-benar berubah.
Di dalam mobil, justru sebaliknya. Lima menit pertama berlalu tanpa percakapan.
Adrian fokus ke jalan, matanya lurus ke depan, rahangnya masih mengeras. Clara juga diam, pandangannya tidak berpindah dari kaca depan, tapi jelas ia tidak benar-benar melihat apa yang ada di sana.
Lalu pelan Clara tersenyum kecil. Bukan senyum hangat. Lebih seperti reaksi yang muncul tanpa izin.
"Apa?" Adrian bertanya tanpa menoleh.
"Tidak ada," jawab Clara ringan. "Hanya... aku tidak menyangka kita akan sampai di titik ini."
"Maksudmu?"
Clara menoleh perlahan, memperhatikan profil wajah Adrian beberapa detik sebelum bicara. "Maksudku ini, Adrian. Kita duduk di sini setelah kamu meninju seseorang di tengah jalan karena kamu tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri."
Nada suaranya tetap tenang. Justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam dari kalau ia berteriak.
"Aku peringatian jangan mulai...."
"Aku sudah mulai." Clara memotong, masih dengan nada yang sama, tapi lebih tegas. "Karena aku sudah terlalu lama diam."
Adrian mengembuskan napas pendek tapi tidak membalas.
"Kamu meninju Leon Raffael," lanjut Clara tanpa menaikkan suara. "Di depan umum. Di depan semua orang yang ada di sana."
"Aku tidak peduli siapa dia."
"Tapi aku peduli." Kali ini suaranya sedikit lebih dingin. "Karena aku yang akan menanggung akibatnya. Bukan kamu. Tapi Aku. Reputasiku. Bisnisku. Semua yang sudah aku bangun." Tangannya mengepal di atas tasnya. "Dan kamu tidak memikirkan satupun dari itu saat kamu memutuskan untuk keluar dari mobil dan meninju orang di tengah jalan."
"Kamu yang menyulut aku." Adrian akhirnya merespons suaranya naik, tangannya memukul setir sekali. "Di dalam mobil tadi pagi kamu yang terus bicara tentang Elena dan Leon. Kamu yang bilang mereka terlalu dekat. Kamu yang...."
"Aku mengatakan apa yang aku lihat." Clara memotong cepat. "Tapi aku tidak menyuruhmu kehilangan kendali."
"Jadi ini salahku?"
"Tentu saja salahmu."
Jawaban itu sederhana. Tapi tidak memberi ruang untuk ditawar.
Adrian tertawa kecil, pendek, tanpa emosi lalu kembali fokus ke jalan.
Beberapa detik berlalu sebelum ia bicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah dan lebih dingin.
"Kamu yang mengatur semua ini." Ia tidak bertanya. "Aku tahu."
Hening sejenak.
Clara tidak langsung menyangkal. Ia hanya menatap Adrian, seolah sedang menilai apakah kalimat itu benar-benar serius atau hanya bentuk emosi sesaat.
"Jadi kamu sadar," katanya akhirnya.
"Aku sadar." Adrian mengangguk kecil. "Berita di portal itu, foto Elena dan Leon, semua yang sudah kamu lakukan belakangan ini." Matanya masih di jalan. "Aku tidak sebodoh yang kamu kira."
Clara menatapnya.
"Dan kamu tetap membiarkan?"
"Aku tidak keberatan dengan caramu," jawab Adrian datar. "Selama hasilnya sama dengan yang aku mau." Ia berhenti sebentar. "Tapi jangan pura-pura kamu melakukannya untukku, Clara. Kamu melakukan ini untuk dirimu sendiri."
Clara mengalihkan pandangan ke depan. Tidak menjawab. Karena tidak ada yang perlu ia bantah dari kalimat itu.
Lampu merah muncul di kejauhan dan mobil melambat sebelum akhirnya berhenti. Di luar kendaraan lain berjejer, kota tetap berjalan seperti biasa, tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di dalam mobil itu.
"Aku sudah muak, Adrian." Suara Clara berubah tidak lagi dingin. "Aku sudah banyak berkorban untukmu. Dan melakukan terlalu banyak hal hanya untukmu." Pandangannya lurus ke depan, ke lampu merah yang masih menyala. "Tapi kamu masih saja pergi setiap hari mengejar perempuan yang bahkan tidak mau melihatmu lagi."
Adrian tidak menjawab.
"Aku selalu ada di sampingmu." Suara Clara semakin pelan. "Tapi kamu tidak pernah benar-benar melihatku."
Lampu hijau menyala. Adrian tidak langsung bergerak. Klakson dari belakang memecah jeda itu. Ia menginjak gas dan mobil kembali melaju.
Sisa perjalanan diisi dengan diam yang berbeda, tidak lagi tegang. Seolah semua yang perlu dikatakan sudah keluar dan yang tersisa hanya konsekuensinya.
Adrian melirik Clara dari sudut matanya.
Perempuan itu duduk diam, lebih tenang dari sebelumnya tapi juga lebih jauh. Tatapannya lurus ke depan, tidak lagi mencari respons darinya.
Di situlah sesuatu dalam diri Adrian mulai bergeser. Bukan penyesalan. Lebih ke perhitungan.
Perempuan yang hampir pergi. Dan ia yang tidak punya apa-apa tanpa Clara, tidak ada tempat tinggal, tidak ada pekerjaan yang cukup layak untuknya, tidak ada akses ke dunia yang Clara buka untuknya selama setahun terakhir. Elena sudah menutup semua pintu. Clara adalah satu-satunya kartu yang ia punya. Dan ia hampir saja membiarkan kartu itu jatuh.
Ia menarik napas pelan.
"Clara."
Tidak ada jawaban.
"Aku minta maaf." Suaranya berubah lebih pelan, lebih lembut, suara yang ia keluarkan di momen-momen tertentu yang ia tahu selalu berhasil. "Aku tahu aku salah. Dan aku tahu kamu yang selalu ada di sini sementara aku terus melihat ke tempat yang salah."
Clara tetap diam, tapi bahunya sedikit menegang.
"Kamu yang aku punya sekarang," kata Adrian. "Bukan Elena. Tapi kamu."
Clara menoleh ke arahnya.
Tidak langsung percaya. Tidak juga menolak. Hanya menatap dengan mata yang tahu lebih banyak dari yang wajahnya tunjukkan, mata perempuan yang sudah mendengar terlalu banyak kata-kata yang terdengar tulus tapi tidak terasa sungguhan, yang di momen-momen tertentu memilih untuk tidak membedakannya. Karena kadang lebih mudah untuk percaya.
"Sudahlah, tidak perlu minta maaf," katanya akhirnya. Hanya itu.
Mobil berbelok memasuki jalan menuju rumah Clara.
Mereka masuk ke dalam rumah tanpa bicara. Clara menaiki tangga dengan Adrian di belakangnya.
"Aku butuh waktu sendiri." Suaranya datar, saat sudah sampai di depan pintu kamar.
Adrian berdiri beberapa langkah di belakangnya, tapi Adrian tetap mencoba mendekat.
"Tidak, Clara. Justru kamu butuh di hibur." kata Adrian, ia berjalan semakin mendekat ke arah Clara lalu mencium bibirnya, sambil tangan nya membuka pintu kamar.