Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Handoko yang duduk dikursi tengah memijat pangkal hidungnya pusing, disampingnya sang istri memasang wajah tak terbaca sedang Catherine, Syela dan Miko juga tengah menduduki kursi tak jauh dari keduanya.
Bagas dan sang istri pun berada disana, kini mereka semua ada di lorong salah satu rumah sakit, menunggu seorang Dokter keluar dari ruangannya.
Setelah penjelasan Bagas beberapa menit lalu, untuk mengetahui jujur atau tidaknya suaminya itu Dinda berinisiatif untuk melakukan tes DNA antara Bagas dan Putra Syela. Semua orang pun menyetujuinya, dengan harapan hasilnya benar sesuai perkataan Bagas, setidaknya itu yang dipikirkan Dinda.
Dan Catherine malah mengharapkan hasil yang sebaliknya, Bagas pasti berbohong untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan menyudutkannya. Lain lagi dengan Miko dan Syela yang mengharapkan kebaikan untuk semuanya.
Semuanya tengah harap harap cemas hanya Bagas yang nampak tenang karena dia yang menjalani, dia jelas tau apa yang terjadi.
Setelah menunggu tiga jam lamanya akhirnya Dokter kepercayaan Dinda pun keluar dari ruangan. Semua orang langsung mendekat kecuali Syela yang masih duduk bersama sang Putra digendongannya.
"Gimana hasilnya?" tanya Dinda tenang.
"Sabar dikit kenapa sih Din" ucap Dokter itu santai karena memang Dinda adalah teman satu sekolahnya dulu. Dilebarkannya kertas yang dia pegang, "Negatif, Ansel bukan Putra Bagas" jawabnya yakin.
Dengan lancangnya Catherine merampas kertas yang dipegang Dokter tersebut, setelah membaca hasilnya kepalanya menggeleng berkali kali. "Nggak ini nggak mungkin, ini pasti di sabotase kan iyakan?" ucapnya mendapati angka 99% DNA keduanya tidak cocok.
"Gimana mungkin hasil tes DNA keluar secepat ini, hasilnya pasti diubah, kalian bekerja sama kan iyakan" tambahnya menunjuk Bagas, istrinya dan si Dokter.
"Catherine kenapa kamu yang begitu perduli, hasilnya sudah jelas negatif kenapa kamu harus memaksa Ansel jadi anak Bagas" ucap Miko tak senang dengan sikap Catherine. Syela saja terlihat santai dan menerima, kenapa gadis itu malah menolak percaya.
Bagas sendiri sudah hendak menampar Catherine jika sang istri tak menahannya, kesal karena gadis itu terus ingin menyeretnya kedalam lubang neraka.
"Maaf Nona, rumah sakit ini alat alatnya memang sudah canggih, jika hanya ingin tau hasil tes DNA seseorang memang tak perlu menunggu lama, dan saya menjunjung tinggi sumpah kedokteran, saya tidak akan mengubah apapun hasil tes dari rumah sakit" jelas Dokter itu merasa tersinggung dengan perkataan Catherine.
"Jadi semuanya sudah jelaskan, dia bukan anakku, sayang ayo kita pulang" ucap Bagas mengajak istrinya untuk pulang.
Tak ada lagi yang perlu dibincangkan atau sekedar basa basi, Bagas melenggang pergi bersama sang istri setelah pamit pada Dokternya. Sedang Catherine dan keluarganya beserta Miko dan Syela masih berada di lorong itu.
"Terimakasih Dok, maaf jika kami ada salah kata" ucap Syela tak enak hati dengan sang Dokter.
"Tidak papa Nona, kalau begitu saya permisi dulu, saya masih ada jadwal praktek" pamit Sang Dokter kemudian pergi juga.
Catherine terdiam masih dengan kertas hasil DNA itu ditangannya.
"Kita pulang, masih ada yang perlu kita semua bicarakan" ucap Handoko tegas dan mereka semua pun berniat pulang kerumahnya, Miko pun sama dia harus menjelaskan sesuatu juga.
Setibanya dikediaman Handoko semua orang masih terdiam dengan pikiran masing masing, tak ada yang memulai percakapan dalam ruang tamu itu. Wajah mereka menampakan ekpresi yang berbeda beda.
"Aku kekamar dulu mau ganti baju dan menidurkan Ansel" pamit Syela yang memang masih memakai baju pengantin, dirumah sakit tadi karena itu dia menjadi pusat perhatian.
"Cepatlah lalu kemari lagi". Handoko berkata tanpa menatap wajah Syela.
Setelah beberapa menit kemudian Syela kembali dengan pakaian lebih santai, namun ekpresi semua orang tetap sama keterdiaman juga.
"Sekarang tolong jelaskan ada apa sebenarnya ini, kenapa Papa susah memahami yang terjadi? " Handoko memulai introgasi. Tak ada yang membuka suara baik Miko, Catherine maupun Syela.
"Catherine jawab Papa, apa maksud penjelasan Bagas di aula tadi" todongnya meminta penjelasan pada sang putri kesayangan.
Catherine yang sejak tadi tertunduk lesu cepat mendongak. "A.... Aku.... Huahhhhhhhh" dia malah menangis kencang.
Gadis itu mendekat duduk berlutut didepan Handoko. "Hikkks......maafin Catherine Pa, aku memang yang meminta Bagas untuk datang dan menikahi Syela.... karena aku ingin memisahkannya dengan Miko, aku mencintai Miko Pa... aku tak ingin berpisah darinya" terangnya sambil menangis tersedu.
"Lalu bagaimana dengan kejadian malam itu kenapa kau juga ada dimobil dan menyerahkan Syela begitu saja pada Bagas? " Miko angkat bicara.
Catherine tak menjawab dia hanya menangis. "Jawab Catherine!" Handoko menimpali.
Dengan susah payah Catherine menahan isakan tangisnya sebagai alasan padahal otaknya tengah menyusun kata kata agar dirinya tak ketahuan bersalah.
"Karena memang dia yang menjualku pada Bagas, dia yang menawarkan diriku kepada Bagas untuk membuatku menderita". Syela yang menjawab, nada bicaranya terdengar tenang tanpa emosi padahal hatinya tengah membara saat ini. Catherine terpana bagaimana bisa Syela tau hal yang selama ini disembunyikannya.
"Kau jangan mengada ngada Syela, bagaimana Catherine yang baik bisa melakukan hal itu, lagi pula bukannya kamu bilang tak ingat kejadian malam itu" Susi yang membantu Catherine mengelak.
"I... Iya kamu jangan memfitnah ku Syela, aku ada dimobil juga karena kupikir Bagas memang kenalanku jadi kubiarkan kalian berdua" timpal Catherine. Syela tersenyum miring.
"Tetap sama, kamu begitu tetap seperti memberikan ikan pada kucing lapar, kamu tau Syela tak sadarkan diri tapi kamu biarkan berdua dengan seorang pria dewasa otakmu dimana Ket" ucap Miko mulai emosi.
"I... Itu.... Aku..... Akuuu".
"Syela bicara" putus Handoko. Kali ini dia ingin mendengarkan penjelasan putrinya sendiri, sejak tadi anak yang sudah dia anggap orang lain itu hanya bicara sepotong sepotong saja. Dia ingin memberi kesempatan.
"Kalau aku bicara apakah Tuan bisa menerimanya, karena semua yang terjadi padaku adalah ulah putri kesayanganmu" tanya balik Syela.
Handoko sesaat melirik Catherine yang masih setia berlutut dikakinya. "Bicaralah" ujarnya.
Syela menarik nafas dalam lalu membuangnya panjang. "Sebenarnya Catherine sudah merencanakan semua ini sejak lama, dia sudah memendam kebencian padaku sejak remaja, dia menjebakku untuk ikut berpesta diklub malam itu agar bisa diberikannya pada Bagas, lalu dia pergi keluar negeri bukan untuk kuliah tapi hanya bersembunyi dariku, dia juga merebut hati kalian berdua agar menerimanya menjadi anak kalian, kemudian merebut Miko dariku...... semua sudah dia susun sedemikian rupa agar aku menderita".
"Tidak, jangan percaya dia Pa.... dia bohong!!!!" seru Catherine panik nada bicaranya meninggi.
"Omong kosong, pintar sekali kamu membalikkan fakta Syela.... Kamu hanya takut karena tak tau siapa sebenarnya Ayah putramu kan, karena bukan Bagas orangnya" Susi membela Catherine.
Syela tak takut menghadapi dua perempuan yang saling melindungi ini dia tak gentar sama sekali. Dia pun melempar buku Diary yang dibacanya dirumah sakit keatas meja, Catherine terbelalak melihatnya. Bagaimana bisa buku itu ada ditangan Syela, pikirnya.
"Semuanya ada dalam buku itu, itu Diary milik Catherine" ucap Syela.
Sekejap kemudian Catherine ingin mengambil Diary itu tapi kalah cepat dengan Miko yang memang dekat dengan meja tersebut. Pria itupun menyerahkannya pada Handoko, hingga Catherine terduduk lemas tak bisa berbuat apapun.
Walaupun ragu dan takut jika yang dikatakan Syela benar, pelan pelan Handoko mulai membaca Diary itu. Betapa terkejutnya dia saat kalimat demi kalimat mulai sesuai dengan ucapan Syela. Dan,
Plak!!!!
Tamparan keras jelas mendarat di pipi Catherine.
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya