Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PASHAM (Lorong Antar Dunia)
Langkah pertama memasuki kabut terasa biasa saja. Dingin, lembab, sama seperti kabut di desa. Tapi langkah kedua, langkah ketiga, semuanya berubah.
Dunia berputar.
Tio merasakan sensasi aneh—seperti gravitasi berubah arah, seperti ia berjalan tapi juga jatuh, seperti tubuhnya terbelah menjadi ribuan bagian yang tersebar di berbagai tempat. Pusing, mual, tapi juga anehnya membuat kepala terasa ringan.
Kabut di sekitarnya tidak lagi putih polos. Sekarang kabut itu berwarna-warni—pelangi yang bergerak, mengalir, membentuk pusaran-pusaran cahaya. Dan di dalam pusaran itu, Tio melihat...
Gambar-gambar.
Seperti film yang diputar cepat, tapi jelas. Ia melihat dirinya kecil, bermain di halaman rumah, dikejar ayam tetangga. Ia melihat ibunya tersenyum, menyuapinya bubur.
Ia melihat ayahnya pulang kerja, menggendongnya, mencium keningnya.
Masa lalu. Masa kecilnya.
Pusaran itu berganti. Ia melihat dirinya remaja, SMA, bermain bola dengan teman-teman. Ia melihat dirinya lulus, wisuda, tersenyum di foto bersama orang tua.
Ia melihat dirinya berangkat ke Jakarta, naik bus, melambai pada ibu yang menangis di terminal. Masa lalu. Masa mudanya.
Pusaran berganti lagi. Ia melihat dirinya di kantor pertama, di percetakan kecil, bertemu Bambang dan Hendra untuk pertama kali. Ia melihat mereka bertiga tertawa, bersulang, merayakan kontrak pertama. Ia melihat kesuksesan, uang, mobil, apartemen.
Masa lalu. Masa jayanya.
Lalu pusaran itu berubah gelap. Ia melihat Bambang, sendirian di depan komputer, mentransfer uang perusahaan ke rekening pribadi. Ia melihat Bambang di kasino online, wajahnya tegang, keringat mengucur. Ia melihat Bambang kalah, marah, transfer lagi, kalah lagi.
Masa lalu. Masa pengkhianatan.
Tio ingin berteriak. Ingin memukul Bambang di dalam gambar itu. Tapi tangannya hanya menembus pusaran, tidak mengenai apa-apa.
Pusaran berganti lagi. Lebih cepat, lebih kacau. Ia melihat dirinya sendiri—di kontrakan sempit, tidur sendirian, menangis.
Ia melihat dirinya di gunung-gunung, mendaki sendirian, menjauh dari semua orang. Ia melihat dirinya di pos pendakian, tersenyum arogan pada Pak Giman.
Masa lalu. Masa pelarian.
Dan kemudian, pusaran itu berhenti. Tio berdiri di lorong yang sunyi. Hanya kabut abu-abu di sekelilingnya. Tidak ada suara. Tidak ada gambar. Hanya keheningan yang mencekam.
"Tio..."
Suara itu datang dari arah depan. Samar, tapi jelas.
"Tio... nak..."
Ibunya.
Di kejauhan, di dalam kabut, ia melihat bayangan. Sosok perempuan tua, membungkuk, berpakaian sederhana. Wajahnya samar, tapi ia tahu itu ibunya.
"Nak... kapan kowe mulih? Kangen..." (Nak... kapan kamu pulang? Kangen...)
Tio ingin berlari ke arahnya. Ingin memeluknya. Ingin minta maaf. Tapi kakinya seperti tertanam di tanah.
"Bu... aku... aku..."
"Tio, mulih, Le. Ibu ngenteni." (Tio, pulang, Nak. Ibu menunggu.)
Satu langkah. Tio maju satu langkah ke arah ibunya.
Dan ingatan itu datang. Pesan Ki Jaga.
"Ojo noleh mburi. Terus mlaku nganti metu." (Jangan menoleh ke belakang. Terus jalan sampai keluar.)
Tapi ini bukan menoleh ke belakang. Ini ke depan. Ini ke arah ibunya. Apa salahnya?
Ia maju lagi satu langkah.
"Tio... sini nak... ibu rindu..."
Tangan Tio terulur. Jarak antara ia dan bayangan ibunya semakin dekat. Lima meter. Tiga meter. Satu meter.
Dan saat tangannya hampir menyentuh, bayangan itu berubah.
Wajah ibunya meleleh. Menjadi sesuatu yang lain. Hitam, dengan mata merah menyala, gigi runcing berlapis-lapis. Makhluk itu tertawa—tawa melengking yang ia kenal. Tawa yang ia dengar di malam-malam di hutan.
Tio menjerit, mundur tersentak.
Makhluk itu tertawa lebih keras. Lalu perlahan, ia menghilang, kembali menjadi kabut.
Tio terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya memegang dada, mencoba menenangkan diri.
Tipuan. Itu tipuan. Jangan percaya.
Ia mulai berjalan lagi ke depan. Tidak boleh menoleh. Tidak boleh berhenti. Terus maju.
Tapi suara-suara itu tidak berhenti.
"Tio... lo inget gue? Bambang. Gue minta maaf, Gue... gue nyesel."
Bambang. Di sebelah kiri. Tio melihat bayangan Bambang, duduk di lantai, menangis, wajahnya kacau.
"Maafin gue. Gue nggak tahu bakal separah ini. Gue... gue kehilangan segalanya. Istri gue pergi. Anak gue... gue nggak bisa lihat anak gue. Maafin gue."
Tio mengepalkan tangan. Kemarahan lama muncul. Ingin ia mendekat, memukul, menghajar Bambang hingga babak belur.
Tapi ia ingat pesan Ki Jaga. Tipuan. Semua tipuan.
Ia terus berjalan.
"Tio... Mas Tio..."
Suara lain. Perempuan. Ia tidak mengenali.
Di depannya, muncul bayangan seorang wanita muda. Cantik, berjilbab, tersenyum.
"Mas Tio, aku Rina. Yang dulu suka sama Mas pas kuliah. Mas inget?"
Tio mengerutkan kening. Rina? Teman kuliah? Tio ingat—Rina, anak arsitektur, yang sering pinjam catatan kuliah. Dulu ia suka diam-diam, tapi tidak pernah berani mendekat.
"Mas, aku... aku masih sendiri. Mas Tio gimana? Pulang yuk, kita ketemu. Aku... aku masih nunggu."
Tio tersenyum getir. Tipuan yang manis. Tapi ia tahu ini palsu.
Ia terus berjalan.
Suara-suara lain silih berganti. Teman SMA, teman kuliah, mantan pacar, tetangga rumah. Semua memanggilnya, mengajaknya bicara, merayunya untuk berhenti, untuk menoleh.
Tapi yang paling berat adalah suara-suara dari gunung.
Suara Pak Giman. "Le, wis tak omongi, gunung ki urip. Ojo sok ngremehne." (Nak, sudah kubilang, gunung itu hidup. Jangan meremehkan.)
Suara bayangan-bayangan itu. Tawa melengking, geraman, bisikan-bisikan di malam hari.
Suara makhluk dengan mata merah yang memburunya.
"Hei, Tio... mampir sini... kita main... kita makan..."
Tio menggigil. Tangannya meremas benda kecil di sakunya—batu pemberian Ki Jaga. Batu itu hangat, menenangkan.
"Kuat, Le," bisik suara Ki Jaga di dalam hatinya. "Ojo noleh. Terus mlaku." (Kuat, Nak. Jangan menoleh. Terus jalan.)
Ia terus berjalan. Entah berapa lama. Mungkin menit, mungkin jam, mungkin hari. Waktu tidak berarti di lorong ini.
Suara-suara itu semakin lama semakin samar, semakin jauh. Atau mungkin telinganya sudah terbiasa. Yang jelas, ia tidak lagi tergoda untuk menoleh.
Dan kemudian, di depan, ia melihat cahaya.
Bukan cahaya warna-warni seperti pusaran tadi. Cahaya putih, hangat, seperti matahari pagi. Samar di kejauhan, tapi jelas.
Pintu keluar.
Tio mempercepat langkah. Setengah berlari, setengah berjalan. Semakin dekat, cahaya semakin terang.
Di ambang pintu, ia berhenti sejenak. ia tidak Menoleh ke belakang, tapi merasakan dan seperti melihat—lorong gelap, kabut abu-abu, suara-suara yang masih samar.
Ia menarik napas panjang.
"Makasih, Mbah. Makasih, Mbok. Makasih, wong Tenganan." (Terima kasih, Kakek. Terima kasih, Mbok. Terima kasih, orang Tenganan.)
Lalu ia melangkah ke dalam cahaya.
Dunia berputar lagi. Lebih cepat, lebih keras. Tio merasakan tubuhnya seperti ditarik, dipelintir, dihancurkan dan dibentuk ulang. Rasa sakit luar biasa, tapi hanya sesaat.
Lalu semuanya berhenti.
Tio terbaring di semak-semak. Daun-daun basah menyentuh wajahnya. Bau tanah, bau hutan. Tapi berbeda. Ada bau lain—bau asap, bau kendaraan, bau... manusia.
Ia membuka mata.
Langit biru di atas. Pepohonan hijau. Tapi tidak seperti hutan di Slamet. Ini hutan yang berbeda—lebih rendah, lebih rimbun, dengan suara burung yang berbeda.
Tio duduk perlahan. Tubuhnya sakit, tapi tidak seperti dulu. Ini sakit biasa, sakit setelah perjalanan jauh.
Ia berdiri. Kakinya kuat. Tangannya kuat. Tidak ada luka, tidak ada infeksi, tidak ada bengkak.
Ia memandang sekeliling. Tio tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menangis.
Ia berhasil. Ia keluar.
Di tangannya, batu pemberian Ki Jaga masih tergenggam. Batu itu sekarang terasa biasa saja—hanya batu hitam kecil, tidak istimewa.
Tapi Tio tahu, batu ini adalah pengingat. Bahwa ia pernah berada di tempat lain. Bahwa ia pernah bertemu makhluk lain. Bahwa ia pernah melewati lorong antar dunia.
Dan bahwa ia berhasil pulang.
Ia menyimpan batu itu di saku, lalu mulai berjalan menuju arah papan desa.
Di belakangnya, tidak ada apa-apa. Hanya hutan biasa, dengan suara burung biasa, dan angin yang berhembus biasa.