yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 Ramadhan Kita
Hari demi hari di lalui dengan penuh ketegangan. Semakin hari semakin parah juga masa jam malam berlaku.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit serba kekurangan, ditambah dengan adanya jam malam. Membuat mereka yang tidak memiliki makanan untuk bertahan hanya bisa mengganjal dengan air minum saja selama berhari-hari.
Sungguh kekejaman militer zionis makin menggila. Banyak yang tidak tahan hingga ada yang nekad keluar rumah sekedar mencari bantuan ke tetangga, tapi berakhir mengenaskan menjadi sasaran peluru yang menembus tubuh mereka.
Jika ditanya sudah berapa korban tewas, jawabanya ratusan bahkan lebih. Terlebih ketika ada aksi protes, militer zionis tak akan segan dan berhati-hati untuk menghardik mereka dengan peluru, gas airmata, pukulan, tendangan bahkan pemenjaraan.
Namun yang menjadi pertanyaan sesungguhnya. Mengapa para pemuda bahkan anak-anak, mereka berani melawan para penjajah itu hanya berbekal batu dan ketapel padahal lawan mereka peluru. Gerombolan ini biasa di sebut pejuang 'Intifadhoh' mereka melakukan itu ketika jam malam berakhir.
Tapi yang lebih menakjubkan nya. Para penjajah itu dengan gayanya menenteng senjata api. Tapi begitu berhadapan dengan gerombolan intifadhoh ini, penjajah berlari sembunyi. Terkadang sampai ada aksi kocak sampai yang melihatnya mengumpat dan mengejek payah.
****
" Marhaban ya Romadhon... Marhaban ya Romadhon..." teriak iring-iringan warga menyambut bulan suci ramadhan esok hari.
Semua orang bersuka cita menyambut ramadhan. Jika tahun-tahun sebelumnya mereka bisa membuat acara meriah. Namun tahun ini, mereka hanya bisa meneriakkan gema takbir dan sholawat. Karena sulitnya masa-masa ini. Sulitnya mencari makanan dan sulitnya bergerak bebas untuk keluar kota.
" Alhamdulillah, besok kita sudah mulai shaum.. Lapar kita bernilai ibadah". Kata bijak Yaseer memecah keheningan ruang keluarga itu.
Semua sedang berkumpul sambil bersholawat di dalam rumah mereka.
" Iya betul itu. mudah-mudahan saat berbuka nanti akan banyak takjil dan makanan lainnya". Harap Haniya serius.
" Shaum pertama kita tanpa baba... " lirih Haniya lagi.
" Udah ga usah sedih.. Baba itu udah enak. Di suguhi makanan surga. Kita juga sama. Makan kurma itu buah surga.. " celetuk Yaseer ceria.
" Kurma makanan surga, yang ngirim malaikat kak?" tanya Abia polos.
" Ya ngga malaikat juga dong. Kurma banyak tuh di souq, yang ngirim petani kurma". Jelas Yaseer geli.
" Itu tadi buah surga. Harusnya malaikat itu datang kerumah rumah kita. Jadi kita ga usah susah susah cari di souq.. " elak Abia tak mau kalah.
" Eh bocil, dibilangin kurma banyak di souq. Malaikat itu harusnya bukan ngirim kurma, tapi nyabut nyawa para penjajah itu satu-satu .... " sulut Yaseer tak terima di kalahkan.
" ish kakak nih... harus nya begitu juga sih.. Jadi ada 2 malaikat. Satu kirim kurma, satu lagi cabut nyawa penjajah" ujarnya menyetujui ide kakaknya dengan wajah serius sambil angguk-angguk.
"iya begitu... Baru adil.... Biar kita bebas..". setuju Abia sambil merentangkan tangan mungilnya.
Mereka tertawa bersama dengan kerandoman Abia dan Yaseer.
"Kamu pikir malaikat itu kurir hah?" sela Abang nya.
" Biar aja sih bang, biar berimajinasi, ga kaku kayak Abang .. " celetuk Haniya sambil berlalu ke dapur.
Abang nya hanya melirik mengikuti gerak langkah Haniya.
" Awas mata itu jereng... Lari baru tau.. " celetuk Yaseer sambil berlalu tertawa.
" Shobar .. Shobar... Punya adik ga ada akhlaq.. " racaunya lirih.
Ummi hanya geleng-geleng saja melihat tingkah anak-anaknya. Ia membiarkan anaknya saling berceloteh supaya bisa mengurai gundah kesedihan tanpa baba nya.
****
" Haniya... Sahur yuk.. " suara ummi membangunkan Haniya.
"hmmmm .. Iya ummi." jawab Haniya setengah mengantuk.
" Tolong bangunkan Abang dan Yaseer ya.. ", pinta umminya. Haniya mengangguk sambil turun dari ranjang nya ke kamar mandi.
" Abang, Abang bangun bang. Sahur.. Yaseer.. bangun.." suara Haniya mengguncang tubuh Abang dan Yaseer bergantian.
" Ya sebentar lagi baba... Yaseer masih ngantuk... " gumam Yasser masih terpejam.
Bugh....
" ough.... Iya siap aku bangun.. " kaget Yaseer langsung bangun terduduk.
" eh akak... Kirain baba.. ". yaseer yang baru membuka mata terkejut melihat Haniya yang bersedekap menatapnya lekat.
" Baba udah ga ada. Kamu jangan susah kalo dibangunin. Abis mimpi ketemu baba apa, sampe ngigo gitu.." sulut Haniya manyun
" hehe... Biasanya kan begitu kak. Baba yg bangunin sahur." lirih Yaseer merasa kehilangan lagi.
" Udah ayo bangun. Kita bantu ummi.. " sela Abang sambil bergegas bangun.
***
" Kenapa sih bangunin sahur aja kayak mau turnamen debat... Rame banget..." tanya umminya ketika melihat Haniya datang menghampiri nya ke dapur.
" Itu mi, Yaseer susah di bangunin. Malah ngigo kalo baba yang lagi bangunin... " sungutnya.
Ummi terpekur seketika.... Ya kebiasaan yang berubah. 'astaghfirullah... kuatkan hamba ya Allah.. ' lirih batinnya.
" Ya sudah. Tapi sudah pada bangun kan?". Tanya ummi lembut berterimakasih.
" Sudah mi. Hadir... " potong Yaseer cepat. Ckk.. Mata Haniya mendelik.
*****
Ramadhan terus berjalan. Namun tak menyurutkan aksi para penjajah. Begitu juga para pejuang intifadhoh. Semakin banyak korban luka, tewas dan penangkapan di mana-mana.
" Laila.... Assalamualaikum Laila....." teriak Umma Husni tergesa dari depan pintu.
" waalaikumussalam... " sambut Haniya yang membuka pintu.
" Ada apa Umma Husni..kok panik gitu...?". Tanya Haniya bingung.
" Ummi... Mana ummi mu.. " desak Umma Husni
" Ya saya disini Umma Husni" jawab Laila cepat.
" Mana Abbas... " tanya nya lagi
" Abbas sedang berburu takjil tadi izin nya" jelas ummi semakin bingung.
" Ya Allah Laila ... sepertinya Abbas di tangkap oleh penjajah...". Lirih ummah Husni.
" apa......!"
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.