mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pentas Kecil Melati
April, awal musim kemarau.
Jakarta mulai memasuki masa peralihan. Hujan mulai jarang, matahari semakin terik. Tapi di rumah Menteng, semuanya tetap sama: hangat, ramai, dan penuh tawa.
Pagi itu, Melati bangun dengan semangat yang tidak biasa. Ia langsung berlari ke kamar orang tuanya, melompat ke tempat tidur Kalara dan Raka yang masih terlelap.
"Ma! Ayah! Bangun! Hari ini penting!"
Kalara membuka mata dengan malas. "Jam berapa, Nak?"
"Jam setengah enam! Melati nggak bisa tidur!"
Raka menguap. "Memangnya ada apa, Sayang?"
"Melati kan pentas tari di sekolah! Hari ini! Semua harus datang!"
Kalara dan Raka saling pandang. Mereka lupa—hari ini adalah pentas seni sekolah Melati. Putri bungsu mereka yang biasanya pemalu, untuk pertama kalinya akan menari di atas panggung.
"Ya ampun, Melati lupa kasih tahu!" Melati memukul jidatnya sendiri. "Maklum, sibuk."
Raka tertawa. "Sibuk apa, sih? Kan masih TK."
"Sibuk sekolah, sibuk main, sibuk jagain Asmara. Sibuk, pokoknya."
Kalara mengelus rambut Melati. "Iya, iya. Sekarang kita siap-siap. Biar jam 8 kita sudah sampai sekolah."
Melati melompat senang. "Yes! Melati mau panggil Eyang juga! Dan Tante Lastri! Dan Om Arsya! Dan Tante Nad! Dan Asmara! Dan Kiki! Semua!"
"Semua akan datang, Sayang. Tenang."
Melati berlari keluar kamar, meninggalkan Kalara dan Raka yang menggeleng-geleng.
"Anak kita yang ini energinya juga luar biasa," kata Raka.
"Iya. Mungkin nggak pernah tidur juga."
Mereka tertawa, lalu bangun untuk memulai hari.
Kabar tentang pentas Melati menyebar cepat di rumah Menteng. Eyang Kusuma yang sedang sarapan langsung bersemangat.
"Eyang mau lihat cicit nari! Pasti lucu!"
"Tapi Eyang, nanti banyak orang," kata Arsya khawatir. "Eyang kuat?"
"Eyang kuat, Nak. Eyang harus lihat Melati nari."
Lastri menawarkan diri, "Saya temani Eyang. Bawa kursi roda kalau perlu."
Nadia menggendong Kiki sambil menyuapi Asmara yang ogah-ogahan makan. "Kami semua juga datang. Melati pasti senang."
Asmara yang mendengar kata "Melati" langsung menunjuk ke atas. "Ti! Ti!"
Iya, kakak Melati. Nanti kita lihat kakak nari."
Asmara bertepuk tangan meskipun tidak mengerti. Usianya kini 1 tahun 9 bulan, sudah bisa berlari kecil dan mengucapkan beberapa kata. Tapi yang paling ia suka adalah meniru gerakan—terutama saat melihat Melati berlatih tari di ruang keluarga.
Pukul 8 pagi, mereka berangkat dengan dua mobil. Sama seperti saat pameran Rara, Raka mengemudikan mobil pertama bersama Kalara, Rara, dan Melati. Arsya di mobil kedua bersama Nadia, Asmara, Kiki, Lastri, dan Eyang Kusuma.
Di sekolah TK Melati, suasana sudah ramai. Panggung sederhana didirikan di halaman, dengan latar belakang warna-warni. Orang tua duduk di kursi-kursi plastik yang disusun rapi. Anak-anak berlarian di belakang panggung, beberapa sudah memakai kostum.
Melati langsung dijemput gurunya untuk bersiap di belakang. Ia melambaikan tangan pada keluarganya.
"Doain Melati, ya!" teriaknya.
"Sukses, Sayang!" balas Kalara.
Mereka mencari tempat duduk. Beruntung dapat di barisan depan, dekat panggung. Eyang Kusuma duduk di kursi yang sudah disiapkan Lastri. Asmara di pangkuan Arsya, Kiki di gendongan Nadia.
Acara dimulai dengan sambutan kepala sekolah. Lalu penampilan demi penampilan: menyanyi, puisi, drama kecil. Rara bosan, Asmara gelisah, Kiki tidur.
Akhirnya, tiba giliran kelompok Melati. Tari tradisional—Tari Topeng Betawi. Anak-anak TK dengan kostum warna-warni naik ke panggung. Melati di barisan depan, terlihat paling kecil.
Begitu musik mulai, Melati menari. Gerakannya tidak sempurna—beberapa langkah salah, beberapa kali lihat kiri-kanan meniru teman. Tapi ia menari dengan sepenuh hati. Senyumnya lebar, matanya berbinar.
Eyang Kusuma menangis. "Lihat dia... seperti Rarasati kecil."
Lastri terharu. "Iya, Tante. Waktu kecil, Rarasati juga suka menari. Ibu saya selalu bilang, dia menari dengan hati."
Kalara memegang tangan Raka. Raka mengusap air mata.
Di panggung, Melati terus menari. Di tengah tarian, ia melakukan kesalahan—langkahnya salah, hampir jatuh. Tapi ia bangkit lagi, tertawa kecil, lalu melanjutkan. Penonton tertawa haru.
Rara berteriak, "Semangat, Melati!"
Asmara ikut berteriak, "Ti! Ti!"
Bahkan Kiki terbangun, menatap panggung dengan mata bulat.
Tari selesai. Tepuk tangan meriah. Melati dan teman-temannya membungkuk, lalu lari turun panggung. Begitu sampai di bawah, Melati langsung mencari keluarganya.
"Ma! Ayah! Melati lihat!" teriaknya, berlari.
Kalara menggendongnya. "Kamu hebat, Nak! Hebat banget!"
Raka mencium pipinya. "Ayah bangga."
Eyang Kusuma memanggil, "Sini, Nak. Eyang lihat."
Melati mendekat. Eyang memegang kedua pipinya. "Kamu menari dengan hati. Itu yang terpenting. Nenekmu Rarasati juga begitu."
Melati tersenyum. "Beneran, Eyang?"
"Beneran. Eyang lihat sendiri."
Setelah acara selesai, mereka makan siang di restoran favorit Melati: restoran ayam goreng. Melati masih dengan kostum tarinya—ia tidak mau ganti baju.
"Aku mau pakai ini terus!" protesnya.
"Nanti kotor, Sayang."
"Nggak apa-apa! Ini baju kemenangan!"
Semua tertawa. Asmara ikut-ikutan tertawa meskipun tidak tahu kenapa.
Di restoran, Melati duduk di kursi tinggi, dengan bangga memamerkan kostumnya pada semua orang. Rara yang sudah kelas 4 SD agak malu, tapi tetap mendukung adiknya.
"Kamu hebat, Ti," katanya. "Waktu Rara sekecil kamu, Rara malu-malu naik panggung."
"Beneran, Kak?"
"Beneran. Jadi kamu lebih berani dari Rara."
Melati tersenyum bangga.
Asmara sibuk dengan ayam goreng di piringnya. Ia sudah bisa makan sendiri, meskipun berantakan. Kiki, yang kini 7 bulan, duduk di kursi bayi sambil memegang mainan. Ia mulai bisa duduk sendiri, meskipun masih goyah.
Eyang Kusuma makan dengan lahap. "Hari ini bahagia. Lihat cicit-cicitku tumbuh."
Lastri mengangguk. "Iya, Tante. Kita diberi umur panjang untuk lihat mereka."
Nadia meraih tangan Arsya di bawah meja. Arsya tersenyum.
Sore harinya, mereka pulang ke rumah Menteng. Melati langsung memajang foto-foto pentasnya di kamar, di samping piagam Rara.
"Asmara, lihat!" panggilnya pada adiknya yang merangkak masuk. "Ini Melati lagi nari!"
Asmara menatap foto itu, lalu bertepuk tangan. Ia tidak mengerti, tapi ikut senang.
Kiki terbangun dan mulai rewel. Nadia menyusuinya di ruang keluarga. Rara dan Melati nonton televisi. Asmara main balok di matras. Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya, ditemani Lastri. Arsya dan Raka diskusi ringan tentang pekerjaan. Kalara sibuk dengan ponselnya—mengirim foto-foto Melati ke grup keluarga.
"Besok kita bikin album foto, yuk," usul Kalara. "Kumpulin semua foto anak-anak."
"Setuju," sahut Nadia. "Dari baby sampai sekarang."
"Biar ada kenangan."
Rara yang mendengar langsung nimbrung. "Rara mau bantu! Rara bisa gambar sampulnya!"
Melati ikut. "Melati mau bantu pilih foto!"
Asmara mengangkat tangan, meskipun tidak mengerti. "Asmara mau!"
Semua tertawa.
Malam harinya, setelah anak-anak tidur, mereka berkumpul di ruang keluarga. Kali ini, Eyang Kusuma yang memulai obrolan.
"Anak-anakku," panggilnya. "Eyang mau ngomong sesuatu."
Semua diam, siap mendengar.
"Eyang sudah tua. Eyang tidak tahu berapa lama lagi Eyang di sini. Tapi Eyang ingin kalian tahu, Eyang bahagia. Sangat bahagia."
Arsya meraih tangan Eyang. "Eyang, jangan bicara begitu. Eyang masih kuat."
"Iya, Eyang," sahut Kalara. "Eyang masih panjang umur."
Eyang tersenyum. "Eyang tahu. Tapi Eyang ingin kalian siap. Suatu hari nanti, Eyang akan pergi. Dan Eyang ingin kalian tidak sedih. Eyang ingin kalian terus bersama, terus bahagia."
Lastri menangis. "Tante..."
"Lastri, kau sudah seperti anakku sendiri. Jaga mereka, ya. Jaga keluarga ini."
Lastri mengangguk, tak sanggup berkata-kata.
Eyang lalu menatap Arsya dan Kalara. "Kalian berdua, anak-anak Rarasati. Kalian hebat. Kalian bisa melalui semua ini. Jaga adik-adik kalian. Jaga anak-anak kalian. Dan jangan lupa, selalu cinta."
Arsya dan Kalara memeluk Eyang. Mereka menangis.
Nadia dan Raka ikut terharu. Kiki di gendongan Nadia terbangun, ikut menangis. Asmara yang tidur di kamar seolah merasakan sesuatu, merangkak keluar dan bergabung dalam pelukan keluarga.
Malam itu, mereka berpelukan lama. Sebuah momen yang akan selalu diingat.
Seminggu kemudian, Eyang Kusuma jatuh sakit.
Dia demam tinggi, batuk-batuk. Lastri panik, segera memanggil ambulans. Eyang dibawa ke rumah sakit. Semua keluarga datang—Arsya, Nadia, Kalara, Raka, bahkan Rara dan Melati ikut (meskipan tidak boleh masuk ruang rawat).
Dokter memeriksa dengan teliti. "Pneumonia. Usia lanjut, jadi harus dirawat intensif."
Arsya memegang tangan Eyang. "Eyang, kuat, ya. Kami di sini."
Eyang tersenyum lemah. "Eyang... nggak apa-apa... Nak. Eyang sudah siap."
"Eyang jangan bicara gitu!" potong Kalara. "Eyang harus sembuh!"
Eyang menatap mereka semua. "Anak-anakku... Eyang sayang kalian. Kalau Eyang pergi... jaga keluarga ini. Jangan sampai... cerai-berai."
Air mata jatuh dari pipi Eyang.
Mereka menangis. Tapi di tengah tangis, Rara tiba-tiba berkata, "Eyang, Rara akan gambar Eyang. Gambar yang bagus. Biar Eyang lihat nanti kalau udah sembuh."
Eyang tersenyum. "Iya, Nak. Eyang tunggu."
Melati ikut, "Melati juga! Melati bikin kalung buat Eyang!"
Asmara, yang tidak mengerti, ikut merangkak ke samping tempat tidur, memegang jari Eyang. "Eyang... jangan sakit."
Bayi itu bahkan belum bisa bicara lancar, tapi kata-katanya membuat semua terharu.
Malam itu, mereka bergantian menjaga Eyang. Lastri paling setia, tidak mau pulang. Arsya dan Kalara bergantian. Raka dan Nadia mengurus anak-anak di rumah.
Doa-doa dipanjatkan. Harapan terus digantungkan.
Tiga hari kemudian, Eyang membaik. Demam turun, batuk berkurang. Dokter mengatakan kondisi stabil. Semua lega.
"Eyang keras kepala," goda Lastri. "Masa mau pergi ninggalin kita?"
Eyang tertawa lemah. "Eyang denger cucu-cucu Eyang. Mereka minta Eyang sembuh. Jadi Eyang sembuh."
Rara dan Melati diizinkan masuk. Mereka langsung memeluk Eyang.
"Eyang, lihat! Rara bawa gambar!" Rara menunjukkan lukisan baru: Eyang dikelilingi semua keluarga, dengan tulisan "Eyang Pahlawan Kami".
Melati memberikan kalung manik-manik buatannya. "Ini buat Eyang. Biar Eyang cepat sembuh."
Eyang memakai kalung itu meskipun agak sempit. "Makasih, Nak. Cantik sekali."
Asmara, yang digendong Arsya, mengulurkan tangan ke Eyang. "Eyang... Eyang..."
Eyang mengelus rambutnya. "Cicit Eyang yang paling kecil. Tumbuh besar, ya."
Kiki, di gendongan Nadia, tersenyum pada Eyang. Senyum bayi yang selalu bisa mencairkan hati.
Eyang menatap semua orang. "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih sudah memberi aku kesempatan lagi."
Sepekan kemudian, Eyang pulang ke rumah Menteng. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Ia bisa duduk, bahkan berjalan pelan dengan bantuan Lastri.
Rumah Menteng kembali ramai. Rara dan Melati sibuk "menjaga" Eyang—memastikan Eyang minum obat, makan, istirahat. Asmara sibuk berlarian, Kiki sibuk merangkak. Suasana hangat seperti sedia kala.
Suatu sore, saat mereka semua berkumpul di ruang keluarga, Eyang berkata, "Anak-anak, Eyang mau bilang sesuatu."
Semua diam.
"Eyang sadar, usia Eyang sudah di ujung. Tapi Eyang bahagia. Eyang punya kalian. Eyang punya keluarga yang luar biasa."
Arsya memegang tangan Eyang. "Eyang, kami yang berterima kasih. Eyang datang dan melengkapi kami."
Kalara menambahkan, "Iya, Eyang. Sebelum Eyang datang, kami merasa ada yang kurang. Sekarang... lengkap."
Eyang tersenyum. "Eyang hanya titip satu pesan."
"Apa, Eyang?"
"Jangan pernah berhenti berkumpul seperti ini. Setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun. Meskipun Eyang sudah tiada nanti, kalian harus tetap bersama. Rumah ini harus terus bernyanyi."
Mereka mengangguk, berjanji dalam hati.
Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut. Bercerita, tertawa, kadang menangis. Rara menunjukkan lukisan-lukisannya. Melati menari kecil. Asmara berlarian. Kiki tertidur di pangkuan Nadia.
Rumah Menteng sunyi.
Tapi tidak sepi.
Karena rumah ini bernyanyi.
Bernyanyi dengan suara cinta.
Bernyanyi dengan suara generasi baru.
Bernyanyi dengan suara harapan.
Selamanya.
Bersambung...