NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25. Kejadian tak terduga

Happy Reading

"Lagunya kok bisa menghayati gitu, sih? Udah lama pinter nyanyi, jadi pinter menghayati, atau..." Tanya MC pada Aily yang memang bernyanyi lebih banyak dibandingkan Wulan.

Wulan langsung menyikut Aily agar dia menjawab semua pernyataan yang diberikan.

"Emm... ini lagu spesial buat cinta pertama gue." Ucap Aily dengan jujur dan polos, yang seketika membuat Alderza menatap Bintang dengan tatapan tajam.

"Eh?" Ucap Wulan terkejut diiringi dengan tawa tak percaya.

Tentu saja, siapa yang menyangka Aily akan mengaku di depan banyak orang jika lagu ini spesial untuk cinta pertamanya.

Tiba-tiba, langsung saja terdengar suara cowok yang tidak terima, pasalnya mereka sudah berniat untuk mendekati Aily, tapi karena dia bilang seperti itu, pupus sudah harapan mereka.

"Yaaahhh....."

Alderza yang sedari tadi berada di belakang mereka hanya bisa mematung, lidahnya kelu, hatinya terasa sakit saat Aily berkata seperti itu.

Mungkinkah Bintang? Batin Alderza.

"Harusnya jangan jujur kayak gitu, entar gak ada cowok yang deketin kamu!" Wulan mengerucutkan bibirnya kesal.

"Gak sebegitu ngarepin cowok lain sih. Tapi kamu hebat juga ya bisa langsung nebak."

"Jelas." Wulan seketika membanggakan dirinya sendiri.

Setelah berbincang lama dengan MC, Aily, Wulan, dan Alderza pun dipersilahkan kembali dan diganti dengan pertunjukan kelas IPS 5.

Wulan rasanya sudah tidak sabar menemui kedua cecunguk itu, rencana jahatnya agar mereka menjilat kakinya berjalan lancar.

"Eh, Aily ya? Minta no WA nya dong." Ucap salah satu cowok dari kelas lain.

"Instagram nya apa, ya? Pengen liat foto-fotonya yang imut."

"Aily, gabung sama kita yuk?"

"Maaf, sibuk!" Jawab Wulan.

Untung saja Wulan langsung mengajak Aily melewati kerumunan para cowok yang kurang belaian itu. Karena saat itu, raut wajah Alderza sangatlah menyeramkan. Kemudian, mereka bertiga pun bergegas kembali ke tempat anak kelas mereka.

Aily tidak tahu seperti apa penampilannya jika tidak ada Wulan, mungkin dia akan ditertawakan oleh semua kelas, serta rasa gugupnya akan memuncak karena tampil dengan Alderza.

Semenjak kehadiran Wulan, Aily jadi memiliki keberanian untuk tersenyum atau berkomunikasi dengan orang lain.

"Makasih ya." Ucap Aily sambil memeluk sahabatnya itu.

"Lo gak ada bilang makasih sama gue?" Ucap Alderza yang sedari tadi kesal.

"Eh iya, makasih juga ya Alderza." Aily tersenyum pada Alderza sembari masih memeluk sahabatnya itu.

Wulan membalas pelukan Aily. Setelah itu, dia langsung melepaskan pelukannya dan memegang tangan Aily, sembari terus menuntunnya menghampiri anak kelasnya.

"Kaki gue udah gatel nih." Ucap Wulan diiringi dengan tawa renyah.

Ketika mereka tiba di kumpulan anak kelas 12 IPS 4, Wulan mencari-cari keberadaan duo cewek tengil yang akan menjilat kakinya.

Sialnya, dia tidak menemukan batang hidung mereka.

"Ke mana mereka?" Tanya Wulan pada Bintang.

"Gak tau, mau gue bantu cariiin?"

"Ayo!"

"Pengkhianat lo, Tang!" Rafa menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.

"Gimana ya. Gue cowok sih. Cowok baik itu harus tepatin janji. Dan mereka kan udah janji buat jilat kaki si bulan yang bau. Ya, gue harus bantu."

Wulan mendorong Bintang. Menyebalkan. Dia malah menghina kakinya. Dasar cowok sialan!

"Oke, gue bantu cari Sinta sama Riska." Rafa bangkit, lalu berdiri menghampiri mereka.

Wulan, Bintang, dan Rafa mencari keberadaan Sinta, dan Riska. Meskipun Wulan tahu yang tulus membantunya hanya Bintang.

Ya, terlihat jelas dari wajah Rafa bahwa dia ingin melindungi kedua bocah tengik itu.

Tapi tak apa, Wulan hanya ingin mereka jera saja. Hukuman ini bukanlah hal penting, melainkan yang paling utama adalah jangan pernah mengganggu Aily lagi.

Setelah berkeliling, mereka akhirnya menemukan Sinta dan Riska yang sedang berada di perkemahan Alderza.

"Liat kan, gue bilang apa. Si Alderza ini suka sama Aily. Buktinya, selain dia bantu Aily sama Wulan tampil dengan baik tadi, di bukunya juga banyak banget gambar bocah kampung ini!" Ucap Sinta sembark memegang kertas berisikan tumpukan gambar Aily.

Bukan hanya satu gambar yang mereka temukan, tetapi banyak sekali. Dan itu membuat Sinta semakin geram.

Matanya memerah. Sinta rasanya ingin menangis melihat gambar-gambar itu.

"Ris, gimana dong? Bantuin gue." Ucap Sinta sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Riska langsung memeluk Sinta. "Besok, kita kasih pelajaran ke-"

"Ke siapa? Sebelum itu, kalian harus jilat kaki gue dulu!"

***

Mereka bertiga pergi, menyisakan Aily dan Alderza yang saling terdiam. Rasanya canggung sekali melihat Alderza tak bersemangat dan...gelisah?

Bahkan untuk berada di dekatnya saja sudah terasa aura negatif yang sangat kuat. Menyeramkan!

Terlihat bayangan yang datang menghampirinya, Aily langsung mengalihkan pandangannya.

"Eh, Aily. Suara kamu bagus banget, gak nyangka bisa nyanyi kayak gitu." Ucap Bagas tiba-tiba, cowok ganjen kedua di kelas setelah Bintang.

"Makasih." Aily tersenyum kecil sembari memandang api unggun.

"Gue WA kok gak dibales sih? WA lo yang ada di grup kelas kan?" Tanya Bagas.

Sebenarnya Aily sudah lama tidak bergabung di grup kelas, itu hanya nomor lamanya yang sudah tak terpakai.

"Itu-"

"Gak aktif ya? Minta no nya yang baru dong."

Mendengar itu, Alderza langsung berdiri dan menatap Bagas dengan tajam. Cowok itu langsung mundur beberapa langkah saat menerima tatapan tersebut.

"HP Aily gue sita. Masih ada niatan buat chat dia?" Bentak Alderza.

Menyeramkan. Darah Alderza sudah mendidih. Saat mendengar ada yang meminta no WA Aily, dia ingin menunjukan wajah jelek cowok murahan itu.

Bagas menelan salivanya, wajah Alderza yang tampan berubah seperti serigala yang ingin memakan mangsanya.

"Sekali lagi lo ganggu dia, lo bakal berhadapan sama gue!"

"So-sorry, Bos." Bahas langsung pergi, menyisakan Aily dan Alderza.

Aily yang melihat itu sedikit tercengang. Memang, Alderza sangat berlebihan jika harus menunjukkan wajah menakutkan dan mengancam sedemikian rupa.

Tapi tetap saja, Aily harus berterima kasih.

"Makasih." Ucap Aily karena Alderza mau melindunginya dari orang tidak penting itu.

"Jangan kepedean. Gue marahin dia karena berisik!"

Aily cemberut. Dia selalu saja salah. Alderza saat ini seperti cewek yang sedang datang bulan, sangat sensitif.

Aily hanya bisa diam dan memainkan kukunya. Dia bingung harus berbuat apa lagi.

"Mau diem di sini, terus digangguin cowok gak bener, atau ikut gue?" Tanya Alderza yang sudah berdiri menunggu jawaban dari Aily.

Aily mengangguk dan berdiri. Dia langsung mengikuti Alderza dari belakang.

"Kok nunduk lagi. Kayak tadi dong, senyum, terus angkat mukanya."

Aily mengangkat wajahnya, memperlihatkan dengan jelas wajah cantiknya. Kulitnya putih, hidungnya mancung, bulu matanya yang lentik, dan semua yang sempurna melekat padanya.

"Maaf, udah kebiasaan." Ucap Aily sambil berjalan mengikuti Alderza.

Kini bukan lagi Aily yang mengikuti Alderza dari belakang. Tapi mereka berjalan sejajar seperti sepasang kekasih yang sedang mencari udara segar dan memisahkan diri dari keramaian.

"Kamu marah ya?" Tanya Aily sambil berusaha memberanikan diri menatap wajah Alderza.

"Tanya nya pake 'lo', bukan 'kamu'. Barusan lancar banget perasaan."

Aily mengerucutkan bibirnya. Sepertinya benar bahwa Alderza sedang datang bulan, sensitif sekali.

"Oke, oke. Lo marah sama gue?" Tanya Aily lantang membuat Alderza berhenti sejenak, lalu menarik napasnya.

"Gak, cuma barusan lo nyanyi jelek banget, bikin kuping gue mau pecah!"

"Terus, kalo gitu kenapa kamu masih mau terusin sampe akhir? Kenapa gak direcokin aja?"

"Ya, gue kasian aja ngeliatnya. Makanya gue maksain diri buat nerusin sampe akhir."

Jadi, apa semua orang yang berkata kalau suaranya bagus adalah kebohongan semata?

Padahal, lagu itu Aily tunjukan untuk Alderza. Tapi kenapa responnya sangat menyakitkan.

Sekali lagi, Aily mengembuskan napas pasrah. Pantas saja Alderza tidak pernah meliriknya sama sekali, mendegar suaranya pun sudah tidak mau.

"Oh gitu, ya. Maaf." Ucap Aily pelan.

Alderza me atap Aily, wajahnya terlihat sayu dan murung. Apa perkataannya barusan terlalu kasar?

"Padahal, lagu itu aku nyanyiin buat-"

"Cinta pertama lo?"

Aily mengangguk pelan. Alderza langsung memegang kedua bahu Aily. Mereka berdiri berhadapan. Cowok itu mengangkat dagu Aily agar bisa menatap matanya.

Perbuatan Alderza barusan langsung membuat tubuh Aily bergetar, jantungnya terus berdetak tak karuan.

Sungguh, Aily rasanya ingin meledak kali ini.

Alderza menatap mata Aily yang indah, ingin rasanya ia meluapkan segalanya. Ya, segala kekesalan yang mengganjal di dalam hatinya.

Segalanya!

"Denger, cowok itu bajingan. Ngapain masih inget-inget cinta pertama? Belumm tentu dia juga inget lo!"

Aily tersenyum. Kali ini, dalam posisi sedekat ini, Aily hanya bisa tersenyum.

"Kalo dia gak inget, aku bakal berusaha buat bikin dia inget sama aku."

Alderza berdecak kesal. Aily ternyata keras kepala, masih saja tidak mau melupakan cinta pertamanya.

Dia bahkan dengan berani berkata seperti itu kepadanya. Menyebalkan!

Andai saja dia tahu siapa cowok itu, mungkin dia sudah mencabik-cabik wajahnya.

"Cowok itu gak ada yang bener! Ngapain juga inget cinta pertama, masih banyak cowok lain. Emangnya cuma dia doang apa cowok di muka bumi ini?"

"Aku udah sayang sama dia selama tujuh tahun, gak mungkin bisa berubah secepat itu!"

Alderza mengembuskan napas kesal karena Aily masih berani melawan.

"Tujuh tahun lo sayang dia? Bener-bener gak berguna, rasa sayang lo gak bakal di anggap sama dia."

"Nggak apa-apa, yang penting-" Ucapan Aily terpotong, Alderza langsung menarik tubuh Aily dan mencium bibirnya dengan tiba-tiba.

Aily hanya bisa melotot kaget. Bibir Alderza terasa sangat lembut dan hangat. Aliran listrik mulai menyengat tubuhnya sampai dia tidak bisa bergerak sama sekali.

Beberapa detik kemudian, Alderza tiba-tiba tersadar dan melepaskan Aily. Dia melotot kaget dan mengacak-acak rambutnya frustrasi. Wajahnya memerah seperti tomat merah.

"Apa yang barusan gue lakuin?" Tanya Alderza pada Aily.

Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, jangan lupa dikoreksi ya. Love you guys.

1
Ros🍂
semangat thor💪 ijin mampir
Kamado Tanjirou: makasih
total 1 replies
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!