Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sikap lembut Lexi di Singapura..
Suasana di restoran rooftop itu mendadak hening, hanya menyisakan suara denting sendok perak Lexi yang beradu dengan piring porselen. Lexi tampak sangat menikmati momen ini—momen di mana ia akhirnya memiliki kontrol penuh atas wanita yang selama ini ia incar.
"Istirahatlah sejenak setelah ini," ucap Lexi, jemarinya kini mengusap punggung tangan Laura dengan ritme yang menghipnotis. "Aku sudah memesan suite di Marina Bay. Kita tidak akan langsung pulang ke Jakarta."
Laura tersentak kecil, teringat pada suaminya yang ditinggalkan di rumah. "Tapi Lexi... Alex pasti mencariku. Dia akan curiga jika aku menghilang tanpa kabar."
Lexi terkekeh, suara tawa yang rendah dan penuh kemenangan. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu menunjukkan layar pada Laura. Sebuah pesan terkirim dari nomor Laura ke nomor Alex:
'Mas, aku butuh waktu sendiri di vila Bogor untuk menenangkan diri satu hari. Jangan cari aku dulu ya, aku ingin menjaga kandunganku agar tidak stres. I love you.'
"Kapan kamu mengirim ini?" bisik Laura ngeri.
"Saat kamu tertidur di pesawat tadi," jawab Lexi santai sembari meminum wine putihnya.
"Ponselmu ada padaku, Laura. Dan Alex? Dia pria yang terlalu patuh. Dia tidak akan berani melanggar permintaan istrinya yang sedang hamil muda."
Lexi menatap perut Laura dengan binar pemilikan yang tak terbantahkan. Ia tahu benar, sejak malam itu, ia telah memberikan peringatan keras pada Laura untuk tidak membiarkan Alex menyentuhnya sedikit pun. Dan Laura, dalam ketakutannya, telah mematuhi perintah itu hingga ia dinyatakan hamil.
Laura merasakan mual yang bukan berasal dari kehamilannya, melainkan dari betapa rapinya jebakan yang dibuat Lexi. Pria di hadapannya ini bukan sekadar terobsesi; ia adalah arsitek yang memastikan tidak ada celah bagi orang lain dalam hidup Laura.
"Tes DNA tadi hanya formalitas untuk dokumen hukumku nanti," lanjut Lexi, kembali tenang seolah tidak ada ancaman yang baru saja keluar dari mulutnya. "Aku ingin dunia tahu secara legal bahwa anak ini adalah ahli waris tunggal dari garis keturunanku. Bukan anak seorang Alex."
Lexi berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Laura. Gerakannya sopan, namun sorot matanya menuntut kepatuhan. "Ayo. Matahari mulai terbenam. Aku ingin menunjukkanmu pemandangan dari kamar kita. Kamar yang akan menjadi saksi bahwa Kamu adalah rumah bagi anakku, dan kamu adalah milikku seutuhnya."
Dengan kaki yang terasa lemas, Laura menyambut uluran tangan itu. Ia berjalan di samping Lexi, merasakan cengkeraman pria itu di pinggangnya yang seolah berkata bahwa pelarian adalah hal yang mustahil.
Cahaya jingga matahari terbenam menyusup masuk melalui dinding kaca suite mewah itu, menyelimuti ruangan dengan warna keemasan yang hangat namun terasa mencekam.
Di atas sofa beludru yang menghadap ke pelabuhan, Laura tidak lagi menjauh. Sebaliknya, ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Lexi, membiarkan aroma parfum maskulin pria itu memenuhi indranya.
Ada sesuatu yang patah di dalam diri Laura—atau mungkin, sesuatu yang baru saja tumbuh. Rasa lelah karena terus melawan arus kini berganti dengan kepasrahan yang aneh.
Ia melingkarkan lengannya di pinggang Lexi, merapatkan tubuhnya seolah mencari perlindungan pada sosok yang justru menjadi penjara baginya.
"Lexi..." bisik Laura lembut, suaranya terdengar manja yang dibuat-buat namun terasa nyata karena pengaruh hormon dan keputusasaan. "Aku ingin es krim cokelat dengan potongan stroberi segar. Sekarang."
Lexi tertegun sejenak. Ini adalah pertama kalinya Laura meminta sesuatu darinya tanpa nada benci atau ketakutan. Senyum tipis namun penuh kemenangan terukir di wajah tegasnya. Ia mengelus rambut Laura dengan penuh kasih sayang, gerakan yang sangat posesif.
"Apapun untukmu, sayang. Apapun untuk anak kita," jawab Lexi rendah. Ia segera meraih telepon intercom untuk memerintahkan pelayan hotel menyiapkan permintaan Laura secara eksklusif.
Setelah meletakkan telepon, Lexi menarik Laura lebih rapat ke dalam pelukannya. Laura mendongak, menatap mata elang pria itu yang kini meredup oleh gairah dan kepuasan. Laura mengulurkan tangannya, mengusap rahang tegas Lexi dengan ujung jarinya, sebuah tindakan yang membuat napas Lexi sedikit memberat.
Giliran Laura yang memejamkan mata, menikmati usapan lembut tangan Lexi di perutnya yang masih rata. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit yang perlahan ia terima: Lexi telah memutus semua jembatan yang menghubungkannya dengan dunia luar. Dengan Alex yang terlalu pasif dan Lexi yang begitu dominan menyediakan segalanya, Laura merasa jeratan kakak iparnya ini bukan lagi sekadar paksaan, melainkan kebutuhan yang melumpuhkan.
Ia bermanja-manja bukan hanya karena keinginan janin di rahimnya, tapi karena ia tahu, hanya dengan menyenangkan Lexi, ia bisa bertahan hidup di dalam sangkar emas ini.
Pintu suite mewah itu tertutup rapat, mengunci dunia luar di balik kemewahan Marina Bay Sands. Di dalam, suasana temaram hanya diterangi oleh kerlip lampu kota Singapura yang menembus dinding kaca raksasa. Udara terasa berat, sarat dengan ketegangan yang akhirnya pecah menjadi gairah yang tak terbendung.
Tanpa sepatah kata pun, Lexi menyudutkan Laura ke dinding. Ia menatap Laura dengan tatapan yang membakar, tatapan seorang pria yang akhirnya mendapatkan apa yang paling diinginkannya. Hasrat yang selama beberapa hari ini tertahan di balik topeng ketenangan dan kontrol, kini meledak tanpa ampun.
Laura tidak lagi menolak. Kebahagiaan semu yang ia bangun tadi sore, ketakutan yang melumpuhkan, dan kebutuhan akan perlindungan dari sosok dominan Lexi melebur menjadi satu kepasrahan yang berbahaya. Ia membalas ciuman Lexi dengan intensitas yang sama, membiarkan dirinya hanyut dalam pusaran gairah yang ditawarkan pria itu.
Malam itu, Lexi melampiaskan segalanya. Setiap sentuhan, setiap kecupan, dan setiap desahan adalah bentuk klaim kepemilikan yang absolut. Ia menjelajahi setiap jengkal tubuh Laura seolah ingin memastikan tidak ada jejak pria lain di sana, terutama Alex.
Gairah mereka membara, melupakan sejenak status mereka sebagai kakak-adik ipar, melupakan pengkhianatan, dan melupakan rahasia kelam yang mengikat mereka. Di bawah selimut sutra, dalam kegelapan yang intim, mereka hanya dua insan yang terperangkap dalam romansa gelap, saling memberi dan menerima kenikmatan yang memabukkan namun juga menyakitkan.
Bagi Lexi, malam ini adalah puncak kemenangannya. Ia telah menguasai tubuh dan hati Laura, dan ia akan memastikan wanita itu tidak akan pernah bisa lepas darinya lagi.
bersambung...