Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya~
📢FYI, cerita ini alurnya santuyy yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Kepulangan Pak Suami
Sore itu, cahaya keemasan jatuh miring menerobos dinding kaca tinggi bandara.
Langit di luar tampak berwarna jingga pucat, membingkai siluet pesawat yang berbaris tenang di landasan.
Suara pengumuman di area kedatangan mengalun datar di antara langkah kaki, dan obrolan samar orang-orang yang sedang menunggu pertemuan.
Tamara berdiri di belakang garis pembatas area kedatangan internasional. Penampilannya rapi, tapi wajahnya gelisah.
Suasana di sekitarnya ramai. Namun, perhatiannya hanya tertuju pada lorong imigrasi di balik pintu kaca yang masih tertutup.
Di layar informasi, status penerbangan suaminya bertuliskan arrived. Tamara menarik napas, dadanya terasa menghangat sekaligus sesak menahan sabar yang penuh rindu.
"Tamara!" Suara yang terdengar akrab memanggilnya dari sebuah arah.
Tamara spontan menoleh.
Ternyata mertuanya baru datang bersama beberapa orang keluarga, yang sudah tidak asing lagi bagi Tamara.
Mereka memang sudah janjian, untuk sama-sama menjemput Arvin, seolah kedatangan ini adalah acara keluarga.
Tamara menyalimi mertuanya, para tante dan paman satu per satu, seraya saling bertanya kabar.
Kehebohan tetap terasa, walau tidak sebanyak saat orientasi menantu waktu itu.
Reni yang ikut hadir, memeluk Tamara singkat.
"Ya ampun, Tamara... Makin cantik aja kamu," pujinya tak ragu.
Wajahnya antusias. "Ngomong-ngomong, selamat ya atas penghargaan yang diraih kemarin," ucapnya, diikuti anggukan yang lain.
Tamara tersenyum, pipinya terasa hangat oleh sorot perhatian keluarga suaminya.
Seorang paman menyahut, "Media lagi ramai sekali membahas tentang kamu, Tamara. Penghargaan perusahaan itu, nggak main-main loh."
Tamara hanya mengangguk sopan. Ia tidak kaget akan hal itu.
Setelah perusahaannya menerima penghargaan itu, sejak kemarin—beberapa media terutama portal bisnis, memang lebih banyak melambungkan namanya.
Elva yang berdiri di samping Tamara, tertawa kecil.
"Sekarang, pengantin baru di keluarga kita memang lagi sering disebut-sebut oleh media, nih."
Elma ikut mendekat, menepuk pelan lengan Tamara. "Iya. Tante bangga banget deh, sama kalian berdua."
Ia menatap dengan senyum bangga. "Kamu berhasil di bisnis kamu. Arvin juga lagi disorot karena prestasi akademiknya."
Percakapan pun bergeser membahas Arvin, tentang konferensi internasional yang diikutinya.
Reni yang masih berdiri di dekat Tamara, senyum haru.
"Tante masih nggak nyangka... Arvin berhasil menjadi salah satu peraih awards bergengsi di Oxford," ujarnya.
Tamara mengangguk setuju.
Media saat ini bukan hanya ramai membahas tentangnya, tetapi juga banyak menaruh perhatian pada pencapaian Arvin.
Netizen kembali ramai menyebut namanya, setelah media kampus resmi merilis foto Arvin yang berdiri di podium aula besar konferensi Linacre College.
Bukan hanya saat mempresentasikan hasil pemikirannya, tapi juga ketika menerima penghargaan atas risetnya di hadapan ratusan delegasi.
Beberapa media bahkan menyandingkan foto dan pencapaian suami istri itu, sebagai pasangan ideal, berprestasi, dan ramai mendapat pujian sebagai simbol keberhasilan.
"Pantas saja media heboh," kata seorang tante sambil tersenyum lebar.
"Kalian itu pasutri dari latar belakang berbeda, tapi sama-sama berprestasi," imbuhnya.
Tamara hanya mendengarkan, berdiri diantara pujian dan kebanggaan itu. Namun di balik itu, ia tetap menunggu satu hal: kehadiran suaminya.
Bukan penghargaan atau pun pujian, melainkan satu pelukan yang sebentar lagi akan terasa nyata.
Hingga pintu kaca otomatis di depan mereka kembali terbuka. Tamara yang masih di tengah percakapan kecil keluarga suaminya, langsung menoleh.
Arvin muncul di antara arus langkah para penumpang. Jasnya terlihat agak kusut, wajahnya sedikit lelah, tapi matanya terangkat mencari arah.
Sampai tatapan mereka bertemu. Segala suara di sekeliling, mendadak terasa menjauh.
Tamara mengangkat tangan, melambai kecil dengan senyum merekah.
Melihat sosok istrinya, wajah Arvin seketika berubah. Lelahnya langsung luruh, digantikan senyum lega yang sudah ia tahan sejak mendarat.
"Nah! Itu Arvin... " seru salah seorang anggota keluarga.
Mereka melambai kecil, menyambut kedatangannya dengan senyum bahagia.
Arvin mempercepat langkah, koper ditarik asal, hingga ia tiba di depan Tamara yang berdiri berdampingan dengan mamanya.
Tamara tersenyum kecil, lalu memberi isyarat lewat gerakan mata, agar terlebih dahulu memeluk sang mama.
Arvin mengangguk, lalu memeluk mamanya. Elva mengusap pundaknya dengan bangga dan penuh rasa syukur.
Setelahnya, Arvin menatap ke arah istrinya. Nyaris canggung, seakan sadar banyak pasang mata di sekitar mereka.
Namun, rupanya rasa rindu lebih kuat daripada apa pun. Ia mendekat, tanpa ragu menarik Tamara ke dalam pelukannya.
Tangannya melingkar erat pada punggung Tamara, seolah itu tempat ternyaman yang langsung meredakan segala beban dan lelahnya.
Pelukan itu tidak tergesa, tidak juga lama. Tapi cukup unutk membuat Tamara larut, menghirup aroma yang ia kenali dan sangat ia rindukan.
"Aku kangen banget," bisik Arvin di dekat telinga.
Tamara tersenyum. "Aku juga," balasnya, sebelum melepas pelukannya.
Tak lama setelahnya, mereka berpindah ke sebuah restoran bandara. Meja panjang dipenuhi oleh berbagai hidangan hangat, serta suara percakapan keluarga kembali cair.
Arvin duduk di samping Tamara. Ia tak ragu menunjukkan kedekatan keduanya, yang bahkan baru terjalin sedikit demi sedikit dari jarak jauh.
Pembicaraan pun mengalir membahas seputar perjalanan Arvin, hingga pengalamannya saat acara konferensi.
Arvin menjawab santai. Ia tidak berlebihan, kata-katanya sederhana, seakan semua itu memang hanya bagian dari pekerjaan.
Tamara ikut mendengarkan sambil menyuap makanannya perlahan, kadang menimpali seperlunya.
Di sela-sela hidangan yang mulai berkurang, obrolan itu lebih banyak disusul tawa ringan, membuat suasana di meja itu hangat oleh kebersamaan.
Elma yang duduk di seberang, meletakkan gelasnya.
"Ya begitu lah, Tamara. Kamu harus ekstra sabar kalau suami kamu itu jarang di rumah," katanya.
Kemudian menambahkan, "Hidupnya memang nggak jauh-jauh dari belajar-mengajar, juga penelitian yang nggak habis-habis."
Tamara mengangguk paham. "Iya, Tante."
Reni yang baru selesai mengelap bibir dengan tisue, ikut bersuara.
"Arvin itu memang dari dulu suka sibuk. Kayak nggak ada waktu mikirin hal yang lain."
Senyumnya sedikit menggoda keduanya. "Sampai istri aja, harus dicarikan dulu sama orang tua. Ternyata, nyangkutnya di kamu, Tamara."
Gelak tawa ringan memenuhi udara sekitar mereka. Bukan tawa ledekan, melainkan tawa bahagia yang penuh syukur.
Arvin hanya tersenyum, menoleh istrinya sekilas dengan sorot mata hangat.
Di sela candaan itu pula, ia meraih tangan Tamara. Dari balik meja, ia menggenggam lembut tangan itu, membiarkan rasa rindunya tersampaikan tanpa kata.
Seorang paman menghentikan tawanya, lalu sedikit mencondongkan tubuh.
"Ya gimana nggak sibuk? Banyak orang yang perlu Arvin," ujarnya.
"Ke Oxford aja bukan cuma buat presentasi, tapi sekalian bawa misi kerjasama kampus," tambahnya dengan nada ringan.
Elma menatap keponakannya dengan senyum bangga. "Nggak heran, Vin. Banyak yang memberi dukungan buat kamu maju di pemilihan rektor mendatang."
Beberapa yang lain menimpali dengan anggukan setuju.
Sementara Tamara kaget.
Ia menatap suaminya dengan sorot mata agak melebar.
Rektor?
Arman yang duduk di ujung meja, ikut bicara. "Beberapa kalangan memberi dukungan, karena memang mereka tidak meragukan lagi kapabilitas Arvin."
Pria paruh baya itu menatap putranya sebentar. "Tinggal orangnya aja, merasa terpanggil apa enggak," lanjutnya dengan nada lebih santai.
Arvin tersenyum tipis, sambil menggenggam tangan Tamara lebih erat.
"Sebenarnya, aku masih perlu waktu untuk memikirkan itu, Pa. Aku juga mau merundingkannya lebih banyak dengan Tamara dulu," kata Arvin.
Beberapa kepala langsung mengangguk setuju, tapi wajah mereka tak bisa menyembunyikan harapan yang besar.
Sementara Tamara hanya terdiam, masih mencerna informasi yang baru di dengarnya.
Ia kembali menatap wajah Arvin yang selalu tenang, seolah tak ada hal apa pun yang mengusiknya.
Aku benar-benar menikahi laki-laki yang penuh kejutan, batin Tamara.
Arvin menoleh, seolah paham yang sedang di pikirkan Tamara.
Ia sedikit mendekat, lalu berbisik lembut. "Nanti kita bahas di rumah, ya."
BERSAMBUNG...
Wah... akhirnya pasutri kita yang sempat LDR an bersama lagi nih...
Kayaknya udah siap banget melepas rindu yang berat ituuu😍
Terasa lengkap gak sih kebahagiaan mereka? Karir lagi bagus-bagusnya, terus udah saling menerima, mana keluarganya kompak ngasih support...
Apa iya kebahagiaan ini bakal awet terus ya?