"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengemis Pekerjaan di Depan Sang Rival
Aroma tanah basah sisa hujan semalam masih menguar di udara pagi kawasan perumahan elite Menteng. Di depan sebuah gerbang hitam menjulang tinggi milik kompleks kediaman mewah tempat Rania kini tinggal, Rendra Wijaya berdiri dengan tubuh yang kaku. Kedua telapak tangannya yang melepuh dan dibalut kain perban kumal sisa kemarin terasa berdenyut linu, namun rasa sakit itu dipaksanya untuk tenggelam di balik rasa lapar yang membakar lambungnya.
Uang lima puluh ribu rupiah kumal pemberian Rania tempo hari sudah habis tak berbekas untuk menebus obat darah tinggi Ibu Ratna di apotek dekat rutan. Hari ini, Rendra tidak punya sepeser pun uang di kantong celananya. Proyek ruko tempatnya bekerja sebagai kuli panggul semen mendadak dihentikan sepihak oleh mandor karena kendala perizinan, membuat Rendra kehilangan satu-satunya sumber penghasilan serabutannya.
Dengan otak yang buntu dan perut yang perih, kaki Rendra entah bagaimana membawanya berjalan sejauh belasan kilometer menuju alamat ini. Tempat di mana mantan istrinya kini membangun takhta kemewahannya sendiri setelah berhasil merebut kembali semua aset yang dulu sempat dikuasai keluarga Wijaya.
"Mau cari siapa, Pak? Kalau mau minta sumbangan, bukan di sini tempatnya," tegur salah seorang sekuriti penjaga gerbang dengan pandangan penuh selidik melihat penampilan Rendra yang kusam dengan kaos oblong yang melar dan sandal jepit yang hampir putus.
Rendra menelan ludahnya yang terasa kesat. "P-permisi, Pak... Saya... Saya ingin mencari pekerjaan apa saja di rumah ini. Masak, bersih-bersih, jadi tukang kebun, saya mau, Pak... Tolong tanyakan pada pemilik rumah..."
Belum sempat sekuriti itu mengusir Rendra secara kasar, sebuah mobil sedan mewah berwarna putih mutiara yang Rendra kenali sebagai milik Elang Danuarta perlahan bergerak pelan keluar dari area halaman dalam menuju gerbang.
Kaca mobil bagian depan terbuka. Sosok Elang Danuarta dengan kemeja kasualnya yang rapi tampak duduk di balik kemudi. Rupanya, pagi itu Elang sengaja datang untuk menjemput Rania dan Abid. Namun, yang membuat jantung Rendra seolah berhenti berdetak adalah pemandangan di kursi penumpang.
Di sana, duduk Abid. Anak kandungnya yang dulu hampir ia biarkan mati kejang di malam badai karena takut jok mobilnya kotor. Abid saat ini tampak sehat, tampan, dan bersih dengan seragam sekolah TK internasional yang sangat mahal. Di samping Abid, Rania duduk dengan senyuman keibuan yang sangat manis, sedang merapikan tas sekolah anak mereka dengan penuh kasih sayang. Mereka terlihat sangat bahagia, dan kehadiran Elang di sana seolah melengkapi sosok pelindung yang selama ini tidak pernah Rendra berikan.
"Abid... Anakku...,"batin Rendra menjerit pedih. Air matanya mendadak menggenang di sudut mata melihat betapa terawat dan bahagianya darah dagingnya sendiri di dekat pria lain.
Elang menghentikan mobilnya tepat di samping Rendra setelah diberi isyarat oleh sekuriti. Tatapan mata Elang dingin dan tajam saat melihat sosok mantan suami Rania yang kini kondisinya sudah hancur lebur seperti pengemis jalanan.
Rania yang menyadari kehadiran Rendra langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia bahkan menaikkan kaca mobil di sisinya hingga rapat, enggan untuk mengotori sepasang matanya dengan melihat wajah Rendra. Bagi Rania, pria di luar sana hanyalah masa lalu berdarah yang sudah mati dan dikubur dalam-dalam.
"Rendra? Mau apa lagi kamu datang ke tempat ini?" tanya Elang dengan nada suara yang sangat berat, datar, namun penuh penekanan intimidasi yang kuat dari balik jendela kemudi.
Plokk!
Rendra tidak memedulikan tatapan tajam para sekuriti di sekitarnya. Di atas paving blok jalanan Menteng yang bersih, ia menjatuhkan kedua lututnya, bersujud di samping mobil Elang dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya yang kotor oleh debu jalanan.
"Pak Elang... Rania... Saya mohon... Tolong beri saya pekerjaan apa saja di rumah ini," ratap Rendra dengan suara yang parau dan gemetar hebat. "Saya sudah tidak punya uang untuk makan... Ibu dan adik saya di penjara butuh biaya... Saya rela jadi tukang kebun, memotong rumput, atau membersihkan seluruh toilet di rumah ini, Pak! Saya janji akan bekerja keras, yang penting saya bisa dapat uang harian untuk menyambung hidup... Tolong saya..."
Mendengar ratapan mantan CEO sombong yang kini mengemis pekerjaan rendahan di depan rumah mantan istrinya sendiri, Elang tidak menunjukkan ekspresi puas yang berlebihan. Ia hanya menghela napas pendek, menatap Rendra dengan pandangan penuh penghinaan terdalam.
"Membersihkan toilet di rumah Rania, Rendra?" Elang terkekeh rendah, sebuah tawa satir yang benar-benar meremukkan sisa-sisa harga diri Rendra sebagai seorang laki-laki. "Dulu... saat Rania lelah mengepel lantai marmer rumahmu sampai pukul satu dini hari, ibumu dan adikmu mencacinya sebagai wanita tidak becus. Dan kamu... dengan teganya membiarkan anak kandungmu sendiri kejang tanpa mau mengantarnya ke rumah sakit karena takut mobil barumu kotor."
Elang menatap lurus ke dalam manik mata Rendra yang merah. "Tempat ini adalah tempat tinggal Rania dan Abid yang tenang. Tempat ini bersih dari segala bentuk racun masa lalu. Jadi... aku ataupun Rania tidak akan pernah mengizinkan seorang pria biadab seperti kamu untuk mengotori pekarangan ini, bahkan hanya untuk memegang sapu di sini."
Kata-kata Elang menjadi palu godam yang menghantam telak kesadaran Rendra. Dada pria itu naik turun menahan rasa sesak yang luar biasa.
"Pak Elang... Rania... Saya mohon..."
"Ambil ini," ucap Elang dingin. Ia merogoh kantong kemejanya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah yang masih baru, lalu menjatuhkannya ke atas tanah tepat di depan lutut Rendra yang gemetar. "Gunakan uang itu untuk membeli makan siangmu hari ini. Setelah itu, pergi dari sini dan jangan pernah berani menampakkan wajah kusammu lagi di depan Rania dan Abid. Jika kamu berani mengganggu ketenangan mereka lagi, aku tidak akan segan-segan membuatmu menyusul ibumu ke dalam sel."
Setelah mengatakan hal itu, Elang langsung menutup kaca jendela kemudinya rapat-rapat. Mobil sedan putih mewah itu perlahan melaju meninggalkan area gerbang, membawa Rania dan Abid menuju sekolah, meninggalkan Rendra yang terjerembap ke depan akibat dorongan angin mobil.
Rendra ditinggalkan sendirian di atas paving blok. Ia menatap selembar uang seratus ribu rupiah di depannya yang bergerak perlahan tertiup angin pagi. Kedua tangannya yang dibalut perban kumal mencengkeram tanah dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Rasa malu, kehancuran batin, dan penyesalan yang berdarah kembali menggasak seluruh jiwanya hingga hancur berkeping-keping. Dulu dia adalah raja di rumah mewahnya, memperlakukan Rania seperti pembantu tanpa harga diri. Dan sekarang, dia harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya bahkan tidak dianggap layak untuk menjadi seorang pembersih toilet di halaman rumah baru milik mantan istrinya sendiri. Karma dari Tuhan telah mengambil seluruh lantai kehidupannya, meninggalkannya membusuk dalam penyesalan yang tiada akhir di tepi jalanan.
pst dapat cap pelakor😄🤭