update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manajer Ketat - 1
Lin Yinjia mulai memahami satu hal sejak hari ketiga magang di perusahaan ekspor impor Guo Group. Perusahaan besar bukan tempat yang ramah bagi orang ceroboh.
Gedung itu terlihat megah dari luar—lantai marmer bersih, dinding kaca tinggi, dan lobi luas dengan logo perusahaan berwarna perak di tengahnya. Banyak mahasiswa mengira bekerja di tempat seperti ini pasti menyenangkan.
Yinjia juga sempat berpikir begitu. Sampai dia benar-benar masuk ke dalamnya. Ritme kerja di kantor ini terasa seperti mesin yang tidak pernah berhenti. Setiap orang berjalan cepat. Telepon berdering tanpa henti. Printer bekerja hampir sepanjang waktu. Bahkan suara langkah sepatu di lorong terasa terburu-buru. Tidak ada yang benar-benar santai.
Para magang ditempatkan di ruang kerja terbuka di lantai dua puluh tiga. Ruangan itu luas, dengan deretan meja panjang yang dipisahkan partisi rendah. Dari jendela besar di sisi ruangan, kota Shanghai terlihat seperti lautan gedung yang tak ada ujungnya.
Namun pemandangan itu tidak membuat pekerjaan terasa lebih ringan. Di depan ruangan berdiri seorang pria yang membuat semua orang menahan napas.
Song Jian.
Manajer senior divisi perdagangan internasional. Usianya sekitar empat puluh tahun, dengan rambut disisir rapi ke belakang dan wajah yang selalu tampak serius. Jasnya selalu sempurna—tidak ada lipatan, tidak ada kerutan.
Tatapannya tajam. Dan semua orang di kantor tahu satu hal. Song Jian tidak suka kesalahan.
Hari itu ia berdiri di depan meja para magang dengan sebuah map tipis di tangannya. Suasana ruangan langsung hening. Beberapa magang duduk tegak seolah sedang mengikuti ujian.
Song Jian membuka map itu perlahan lalu berkata dengan suara datar. “Mulai hari ini kalian tidak hanya menyalin dokumen atau membuat kopi.”
Beberapa magang terlihat sedikit lega. Namun kalimat berikutnya membuat mereka kembali tegang. “Kalian akan membantu proyek perdagangan dengan perusahaan Jepang. Dokumen kontraknya sedang disiapkan. Kesalahan sekecil apa pun bisa menyebabkan kerugian miliaran yuan.”
Tidak ada yang berani berbicara. Song Jian menatap satu per satu wajah mereka. “Kalau ada yang merasa tidak mampu, lebih baik mundur sekarang.”
Tidak ada yang bergerak. Beberapa detik berlalu. Song Jian menutup mapnya dengan pelan. “Bagus.”
Ia kemudian menunjuk meja di sisi kiri ruangan. “Kalian berempat membantu tim administrasi memeriksa dokumen pengiriman.”
Lalu menunjuk dua orang lainnya. “Kalian mengurus data ekspor bulan lalu.”
Terakhir, tatapannya berhenti pada Yinjia. “Lin Yinjia.”
Yinjia yang sejak tadi mencoba terlihat tidak mencolok langsung menegakkan punggungnya. “Ya, Pak.”
Song Jian berjalan mendekat beberapa langkah. Sepatunya berbunyi pelan di lantai marmer. “Kau mahasiswa ekonomi internasional?”
“Ya.”
“IPK?”
“3,78.”
Song Jian mengangguk singkat. “Lumayan.” Ia meletakkan sebuah map tebal di meja Yinjia. “Periksa data pengiriman ini. Bandingkan dengan laporan gudang. Kalau ada perbedaan angka, tandai.”
Yinjia menatap map itu. Isinya sangat tebal. Sepertinya puluhan halaman. “T-tidak apa-apa kalau saya bertanya jika ada yang tidak saya pahami?”
Song Jian menatapnya sebentar. Tatapan itu cukup membuat beberapa magang lain merasa kasihan pada Yinjia. Namun jawabannya ternyata tidak sekeras yang mereka bayangkan. “Boleh.”
Ia berhenti sejenak lalu menambahkan dengan nada datar. “Asal pertanyaannya tidak bodoh.”
Beberapa orang menahan senyum. Yinjia menarik napas kecil. “Baik, Pak.”
Song Jian kemudian kembali ke meja kerjanya di bagian depan ruangan. Begitu ia pergi, suasana ruangan kembali bergerak. Keyboard mulai berbunyi lagi. Telepon kembali berdering. Printer mencetak dokumen baru.
Yinjia membuka map di depannya. Halaman pertama langsung dipenuhi tabel angka. Tanggal pengiriman. Nomor kontainer. Berat barang. Nilai ekspor.
Ia membaca pelan-pelan. Awalnya terasa mudah. Namun setelah sepuluh halaman, matanya mulai llelah Angka-angka itu hampir terlihat sama.
Kesalahan kecil bisa sangat sulit ditemukan. Satu jam berlalu. Yinjia masih memeriksa dokumen yang sama. Di seberangnya, dua magang lain sudah mulai terlihat frustrasi. “Ini terlalu banyak…”
“Kenapa mereka memberi kita pekerjaan seperti ini?”
Namun Yinjia tidak ikut mengeluh. Ia hanya menunduk sambil terus membaca. Sesekali menandai sesuatu dengan pulpen merah.
Di tengah kesibukan itu, seorang wanita mendekat dari lorong. Sepatunya bertumit tinggi, langkahnya tenang dan teratur. Itu He Suyin.
Sekretaris pribadi presiden direktur. Penampilannya selalu elegan—rambut hitam panjang disanggul rapi, blazer abu-abu gelap yang pas di tubuhnya, dan ekspresi profesional yang hampir tidak pernah berubah.
Beberapa karyawan langsung memberi salam kecil ketika ia lewat. “Selamat siang, Sekretaris He.”
“Siang.” Ia menjawab singkat sambil terus berjalan. He Suyin berhenti di meja Song Jian dan menyerahkan sebuah dokumen. “Ini laporan yang diminta Direktur Guo.”
Song Jian membacanya cepat. “Terima kasih.”
He Suyin mengangguk. Sebelum pergi, ia melirik sekilas ke arah para magang. Tatapannya berhenti sejenak pada Yinjia yang sedang menunduk serius membaca dokumen.
Beberapa detik. Lalu ia pergi tanpa mengatakan apa pun. Yinjia sendiri tidak menyadarinya. Ia terlalu fokus pada angka-angka di depannya.
Beberapa menit kemudian, alisnya sedikit berkerut. Ia menemukan sesuatu yang aneh. Di laporan gudang, berat pengiriman sebuah kontainer tertulis 18.450 kilogram.
Namun di dokumen pengiriman tertulis 18.540 kilogram. Selisihnya tidak besar. Namun tetap berbeda.
Yinjia menandai angka itu dengan pulpen merah. Lalu memeriksa halaman berikutnya. Beberapa menit kemudian ia menemukan lagi selisih kecil. Tangannya berhenti. Ia berpikir sebentar. Lalu berdiri dari kursinya. Beberapa magang lain menatapnya.
Yinjia berjalan menuju meja Song Jian. Manajer itu sedang mengetik sesuatu di laptopnya ketika Yinjia berhenti di depan meja. “Pak… boleh saya bertanya?”
Song Jian tidak langsung mengangkat kepala. “Bicara.”
Yinjia membuka mapnya dan menunjuk angka yang ia tandai. “Saya menemukan beberapa perbedaan antara laporan gudang dan dokumen pengiriman.”
Song Jian akhirnya menatap map itu. “Berapa?”
“Sekitar sembilan puluh kilogram untuk kontainer ini.”
Song Jian mengambil map tersebut. Ia membaca beberapa baris. Lalu alisnya sedikit berkerut. Beberapa detik kemudian ia membuka halaman lain. Tangannya bergerak cepat membalik halaman. Lalu ia menatap Yinjia. “Bagaimana kau menemukannya?”
“Karena angka di laporan gudang selalu kelipatan lima puluh kilogram. Tapi di dokumen ini tidak.”
Song Jian menatapnya beberapa detik. Kemudian ia menutup map itu. “Bagus.” Itu hanya satu kata.
Namun cukup membuat beberapa magang lain menoleh. Song Jian jarang memuji siapa pun. Ia meletakkan map itu di mejanya. “Aku akan memeriksa ini dengan tim logistik.”
Ia menatap Yinjia lagi. “Kembali bekerja.”
“Baik, Pak.” Yinjia kembali ke mejanya. Namun kali ini beberapa magang lain memandangnya dengan ekspresi berbeda.
Salah satu dari mereka bahkan berbisik pelan. “Kamu benar-benar menemukan kesalahan itu?”
Yinjia hanya tersenyum kecil. “Cuma kebetulan.”
Namun dari meja depan ruangan, Song Jian melihat semuanya. Dan untuk pertama kalinya sejak para magang datang ke kantor itu…
Ia mulai memperhatikan Lin Yinjia sedikit lebih serius.