NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Mas Ingin Aku Berubah?

"Mas Prabu! Ini terlalu panas!"

Untuk ketiga kalinya kini Prabujangga menghela napas. Dia memegangi tubuh Kharisma yang bergelendotan di lehernya. Siapa sangka mengatur suhu air untuk istrinya itu ternyata sesulit ini?

"Tadi kamu mengatakan terlalu dingin, sekarang terlalu panas?"

Kharisma mengangguk cemberut.

"Sudah aku bilang Mas tinggalkan saja, aku bisa sendiri," ucap Kharisma, memperhatikan Prabujangga yang kembali mengukur suhu air di dalam bak mandi.

"Bisa sendiri?" ulang Prabujangga dingin, tangannya secara naluriah mengencang di pinggang Kharisma. "Jika bisa sendiri tidak mungkin kamu memecahkan benda itu dan bersimpuh menyedihkan di lantai tadi."

Prabujangga mencelupkan ujung jarinya ke dalam air. Saat suhu dirasa pas, ia meraih tangan Kharisma dan memasukan perlahan tangan wanita itu ke dalam air.

"Sudah?" bisiknya, merasa puas saat mendapati anggukan dari Kharisma.

Prabujangga perlahan mendaratkan tubuh Kharisma ke dalam bak mandi, gaun tidur tipis perempuan itu mulai basah bersamaan dengan air yang beriak. Prabujangga meraih ujung gaun tidur Kharisma dan menariknya ke atas kepala, meletakkan kain basah itu di lantai.

Prabujangga bangkit dan melangkah menuju lemari kecil tempat alat-alat mandi diletakan. Deretan sabun dengan merek mahal berderet, menghiasi lemari berpintu kaca.

"Saya tidak tau sabunmu yang mana," gumam Prabujangga, tangannya hendak meraih sebuah sabun cair dengan warna merah marun yang sangat mencolok dari sabun-sabun lainnya.

"Aku akhir-akhir ini menggunakan milik Mas," Kharisma menanggapi antusias. kepalanya melongok untuk mengintip lemari sabun.

Prabujangga mengerutkan kening. "Milik saya?" ulangnya, menoleh ke arah Kharisma.

Kharisma mengangguk. "Iya, yang Mas Prabu selalu gunakan itu... yang aromanya segar."

Prabujangga terdiam sejenak, matanya kembali menatap botol sabun beraroma mawar itu yang sudah pasti milik Kharisma. Untuk apa perempuan itu mengenakan sabunnya jika sabunnya sendiri masih sebanyak ini?

"Kenapa menggunakan milik saya dan tidak menggunakan sabunmu sendiri?" Tak menghiraukan lagi, Prabujangga meraih botol sabun dengan warna merah marun yang beraroma mawar alih-alih sabunnya. Itu mengundang kekesalan Kharisma.

"Tidak mau, aromanya jelek," tolaknya cemberut, bersedekap dan membuang muka saat Prabujangga mendekat.

Saat Prabujangga tidak mendengarkan dan memasang tampang datarnya itu, Kharisma semakin menjadi-jadi.

"Aku ingin menggunakan milik Mas saja!" rengeknya, menjauh saat Prabujangga berjongkok di samping bak mandi. "Aku tidak suka aroma yang itu!"

Prabujangga menulikan telinganya, tangannya sudah meraih jaring mandi dan menuangkan sabun cair beraroma mawar ke atasnya, menciptakan busa-busa.

"Sudah saya katakan bahwa saya mulai muak dengan sikapmu ini, Kharisma." Prabujangga melemparkan tatapan tajam. "Tidak semua kemauanmu harus saya turuti. Papa benar, kamu seperti ini karena saya terlalu banyak mentoleransi sikap manjamu itu."

"Mas!" Kharisma berseru protes saat Prabujangga meraih pergelangan tangannya dan menariknya mendekat.

"Ughh!" Kharisma merasa terkekang karena tangan Prabujangga yang menahan punggungnya, laki-laki itu menahan Kharisma di tempat dan mulai menggosok punggungnya dengan gerakan yang cukup lembut.

"Akan lebih mudah jika menurut," gumam Prabujangga datar, tangannya berpindah ke belakang kepala Kharisma saat perempuan itu bersandar di bahunya.

Sejenak Prabujangga hanya membersihkan bagian punggung istrinya. Tangannya menyebarkan busa-busa sabun di tubuh bagian belakang. Saat Kharisma hanya diam, dia menganggap bahwa diamnya Kharisma adalah bentuk kepatuhan. Tapi saat ia hendak menyabuni bagian depan perempuan itu, dia dibuat terbelalak.

Gerakan tangan Prabujangga berhenti saat mendapati istrinya itu menutupi mulut dengan tangan, matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah.

"Menangis lagi? Hanya karena masalah sepele sekarang?" Nada Prabujangga berubah muak, jaring mandi itu menyusut di dalam genggamannya.

Kharisma menggeleng, matanya yang berkaca-kaca menatap Prabujangga. "Maaf, Mas..." suaranya teredam karena telapak tangan yang menutupi mulut. "Aku tidak suka baunya, aku—"

"Apa?" Prabujangga memotong dingin. Namun meskipun begitu, ia tidak berusaha mendorong kepala Kharisma dari bahunya. "Kamu selalu saja seperti ini, merajuk jika keinginannya tidak dipenuhi. Kamu kira saya tidak lelah?"

Kharisma terisak. Matanya yang cantik itu terpejam saat mati-matian menahan tangis. Perasaannya yang begitu sensitif membingungkan sekaligus memancing amarah kejengkelan.

"Maaf jika Mas beranggapan seperti itu..." Dadanya gemetar sesegukan. "Aku tidak bermaksud menyusahkan Mas. Aku benar-benar tidak suka aromanya..."

Prabujangga memijat pelipis, merasa pening.

"Aromanya membuat aku—"

Kharisma berhenti saat perutnya bergejolak. Rasa mualnya kembali muncul saat mencium aroma sabun yang selama ini menjadi aroma Favoritnya. Tangannya menekan hidung dan mulut lebih kuat.

Prabujangga mendongak. Rasa frustrasi nya sekejap berubah menjadi kebingungan saat melihat reaksi Kharisma yang jelas tidak dibuat-buat.

"Ada apa?" Suara Prabujangga melembut, dia meletakkan jaring mandi itu dan perlahan meraih dagu Kharisma.

"Mual..."

Satu kata itu membuat Prabujangga menghela napas. Kenapa ia melupakan fakta bahwa istrinya itu sekarang sedang sakit? Kenapa ia justru memperparah dengan memarahinya seperti ini?

Prabujangga dengan lembut membelai rambut Kharisma, membiarkan istrinya itu menangis di pundaknya. Prabujangga menjauhkan sisa-sisa sabun dan membilas tubuh Kharisma.

"Saya tidak tau jika baunya bisa membuat kamu mual," gumamnya, mengelus punggung Kharisma saat istrinya itu sesegukan. "Saya... minta maaf."

Dua kata itu sungguh berat keluar dari mulutnya.

Prabujangga tidak pernah meminta maaf, terlebih lagi untuk hal sepele seperti ini. Tapi saat melihat Kharisma sesegukan seperti ini, entah mengapa kata-kata itu bisa terucap.

"Aku juga minta maaf karena menyusahkan Mas Prabu," bisik Kharisma, tangisnya sedikit mereda. Matanya yang memerah memandangi Prabujangga. "Dan untuk yang kemarin juga. Maaf karena banyak menuntut."

Prabujangga terdiam, pikirannya kembali melayang ke hari kemarin saat ia berusaha mengabaikan Kharisma sesuai dengan apa yang disarankan oleh ayahnya. Memang benar setelahnya Kharisma tidak lagi mengoceh padanya dan lebih memilih meninggalkannya tidur. Tapi justru Prabujangga tidak terbiasa dengan hal itu.

"Meminta maaf tapi tidak berubah untuk apa?" Prabujangga menanggapi dengan nada datar, meskipun kini terdengar ragu-ragu.

Dia bangkit dari tempatnya dan membawa sabun beraromakan mawar itu menjauh, meletakkannya kembali pada lemari khusus alat pemandian.

"Jadi... Mas ingin aku berubah, ya? Menjadi lebih pendiam?"

Gerakan Prabujangga terhenti.

"Kalau Mas merasa sikapku yang seperti ini membuat Mas muak, aku bisa kok berubah."

Prabujangga menolehkan kepalanya. Dia mendapati Kharisma tersenyum meskipun diiringi oleh cemberutnya yang khas. Perempuan itu kini menanggapi dengan tidak main-main, tapi entah mengapa Prabujangga merasa aneh—seolah-olah ia tidak benar-benar menginginkan hal ini. Tidak ingin istrinya itu kehilangan sikap kekanak-kanakannya.

"Bagus. Lakukan saja jika bisa."

...***...

Prabujangga mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan gerakan lambat namun jelas memancarkan kegelisahan. Ruangannya yang sepi memberinya tempat untuk lebih banyak berpikir. Kata-kata Kharisma saat di kamar mandi terngiang-ngiang di kepalanya.

"Kalau Mas merasa sikapku yang seperti ini membuat Mas muak, aku bisa kok berubah."

Prabujangga memijat pelipisnya. Kenapa sekarang ia justru terus-terusan memikirkan istrinya itu? Bukankah bagus jika dia ingin merubah diri menjadi lebih penurut? Lalu kenapa justru sekarang ia malah merada frustrasi seperti ini? Seolah-olah tak terima jika seandainya istrinya itu tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan kehilangan sikap bawelnya yang kekanakkan.

"Kamu selalu berhasil mengalihkan fokus saya, Kharisma," gumamnya, menutup mata untuk berusaha mengendalikan diri. Ruang kerjanya yang nyaman tiba-tiba membuatnya merasa tercekik.

Kharisma memang racun yang berbahaya, karena dia mampu memenuhi kepala Prabujangga.

Semuanya—dari sentuhannya yang membuat Prabujangga bisa tidur nyenyak setelah sekian lama selalu tidak bisa tidur sama sekali, hingga sikap manja nan kekanakannya itu yang berhasil membuat Prabujangga yang selalu fokus menjadi uring-uringan seperti ini.

Tiba-tiba, suara getaran yang berasal dari ponsel di atas meja membuat Prabujangga membuka mata, lamunanya buyar seketika. Nama Nina—asisten pribadinya—tertera di sana.

Prabujangga berdecak, lantas menggeser layar ke atas. "Ada apa?" Suaranya yang ketus terdengar tidak bersahabat saat sambungan terhubung.

"Maaf sebelumnya karena saya menganggu, tapi ada hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan, Pak."

Prabujangga menghela napas. "Apa?"

"Ada seseorang yang sangat mendesak ingin bertemu dengan bapak. Saya sudah mengatakan bahwa hari ini Bapak sedang berhalangan hadir, tapi dia tetap memaksa, bahkan kini berada di dalam ruangan bapak."

"Di dalam ruangan saya?" ulang Prabujangga, nadanya berubah mengancam. "Apa fungsi keamanan di sana jika mengurus satu orang lancang saja tidak becus?"

"K-kami tidak bisa melakukannya, Pak, karena..."

Prabujangga menyipitkan mata, kesabarannya kian menipis karena Nina yang tidak segera melanjutkan kalimatnya.

"Karena apa?" tuntutnya, suaranya naik satu oktaf. Ia bisa membayangkan bagaimana Nina terperanjat karena perubahan nada bicaranya.

"K-karena..."

Prabujangga mencengkram ponselnya erat-erat.

"D-dia suruhan Tuan Besar. Nona Lihana."

Bersambung...

1
partini
dihhh jangan jadi Kunti bogel yah no good,, bisanya kaya gitu sih jadi parno aku baca Nya
Elisabeth Lalang
Bukankah tujuan dari maksud pernikahan itu adalah agar Prabu dan Kharisma memiliki anak lalu kenapa sekarang Prabu semena-mena akan meninggalkan Kharisma Di Malam pengantinnya😟
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!