NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Kyara sedang menyiapkan bahan untuk memasak makan malam ketika deru mesin mobil berhenti di halaman. "Wah, Mas Doni udah pulang," ucapnya sambil kembali melanjutkan kegiatannya.

Di atas meja dapur sudah ada sayur yang baru ia cuci, bawang yang siap diiris, serta ayam yang akan dimasak.

Langkah kaki terdengar mendekat. Tak lama kemudian Hesti muncul di pintu dapur sambil melepas tasnya. "Kya."

Kyara langsung menoleh. "Iya, Ma?"

Hesti melirik bahan-bahan di meja dapur. "Kamu mau masak?"

"Iya, Ma. Aku mau masak makan malam."

Hesti menggeleng ringan. "Nggak usah terlalu banyak."

Kyara sedikit bingung. "Kenapa, Ma?"

Hesti menjawab santai, seolah itu hal biasa. "Soalnya Mama sama Dini nanti mau pergi ke rumah Tante Hilda. Ada acara keluarga."

Dini yang baru masuk dapur ikut menimpali. "Iya, Kak. Tante lagi bikin acara syukuran kecil-kecilan."

Kyara mengangguk pelan. "Oh... begitu." Ia tahu, setiap menjelang akhir bulan, adik mertuanya itu memang selalu mengadakan acara syukuran, namun ia tak pernah sekalipun diajak.

Doni muncul dan ikut berkata. "Aku juga mau makan malam di luar. Ada teman kantorku yang ulang tahun."

Kyara menoleh sedikit ke arah suaminya. "Iya, Mas." Ia tidak bertanya macam-macam. Hanya kembali melihat bahan masakan di depannya. "Berarti aku masak sedikit saja."

Hesti mengangguk. "Iya. Kamu makan saja di rumah."

Kyara mengangguk lagi tanpa curiga sedikit pun. "Iya, Ma."

Melihat Kyara yang begitu mudah percaya, Hesti dan Dini saling bertukar pandang sekilas. Tak lama kemudian mereka bertiga meninggalkan dapur menuju kamar Hesti.

Begitu pintu kamar Hesti tertutup, wanita itu langsung tertawa kecil. "Kasihan sekali dia."

Dini ikut tertawa pelan. "Iya, Ma. Lugu banget. Tolol."

Sementara Doni berdiri di dekat lemari sambil merapikan kemejanya. Di wajahnya tersungging senyum tipis. "Yang penting rencana kita lancar."

Hesti menyeringai kecil. "Tentu saja."

Dini menambahkan sambil terkekeh,

"Kalau dia tahu kita sebenarnya mau makan malam sama pacarnya Mas ..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya tertawa lagi.

Doni menyahut. "Sudah, sudah. Lebih baik sekarang kita siap-siap."

Dini dan Hesti mengangguk. Lalu Doni keluar duluan dari kamar ibunya disusul Dini.

______

Azan magrib baru saja usai ketika Kyara keluar dari dapur setelah memasak makan malam ala kadarnya.

Di ruang tamu, suasana terlihat sedikit berbeda. Hesti sudah berdandan rapi dengan gaun selutut modern berwarna gelap, rambutnya yang biasa ditutup kerudung, kini disanggul rapi dan wajahnya dipoles make-up yang cukup tebal.

Dini juga tak kalah mencolok. Ia mengenakan dress yang terlihat lebih seperti pakaian untuk pergi ke acara pesta daripada sekadar menghadiri acara keluarga.

Sementara Doni turun dari tangga dengan kemeja mahal dan jas tipis yang membuatnya terlihat sangat rapi.

Kyara sempat memperhatikan mereka bertiga beberapa detik. Di dalam hatinya muncul sedikit rasa heran. Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Hesti yang lebih dulu bersuara. "Kya, Mama berangkat dulu."

Kyara mengangguk. "Iya, Ma."

Dini mengambil tas kecilnya. "Kak, aku pergi dulu ya."

"Iya."

Doni kemudian mendekati pintu. "Kya, aku juga berangkat."

Kyara mengangguk lagi. "Iya, Mas. Hati-hati." Ia lalu ikut berjalan ke depan, mengantar mereka sampai ke teras rumah.

Mobil sudah menunggu di halaman. Ketiganya masuk ke dalam mobil. Doni duduk di kursi pengemudi, sementara Hesti dan Dini di belakang. Sebelum mobil berjalan, Hesti menurunkan kaca jendela. "Jaga rumah dengan baik. Awas ada maling!"

"Iya, Ma."

Doni hanya mengangguk singkat. Mobil kemudian perlahan keluar dari halaman rumah.

Kyara berdiri di teras sambil melihat lampu belakang mobil itu semakin menjauh di ujung jalan.

Ketika mobil itu akhirnya menghilang dari pandangan, Kyara masih berdiri di tempatnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit. Lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri. "Penampilan mereka mewah banget ..." Ia mengingat kembali bagaimana Hesti, Dini, dan Doni tadi terlihat sangat rapi.

Kyara mengerutkan kening. "Kayak mau bertemu orang penting saja." Namun setelah beberapa detik, ia mengangkat bahu kecil. "Ah, sudahlah." Ia lalu berbalik masuk kembali ke dalam rumah yang kini terasa sangat sepi.

Mobil Doni berhenti di depan sebuah restoran Korea yang cukup terkenal di kota Kembang. Lampu-lampu restoran menyala hangat, sementara papan nama yang besar terlihat mencolok di malam hari.

Doni turun lebih dulu dari kursi pengemudi, lalu membuka pintu untuk ibunya dan Dini.

Hesti menatap bangunan restoran itu dengan puas. "Tempatnya bagus juga."

Dini mengangguk setuju. "Ini restoran Korea yang selama ini ingin aku datangi," pekiknya heboh.

Doni hanya tersenyum tipis. "Ayo masuk. Nayla sudah menunggu di ruang VIP."

Mereka bertiga berjalan memasuki restoran. Aroma daging panggang dan bumbu khas Korea langsung menyambut begitu pintu dibuka.

Seorang pelayan menghampiri mereka dengan sopan. "Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?"

Doni menjawab singkat, "Kami sudah reservasi. Ruang VIP atas nama Doni Wiratama."

Pelayan itu langsung mengangguk. "Silakan ikut saya."

Mereka bertiga mengikuti pelayan itu melewati beberapa meja yang dipenuhi tamu. Suasana restoran cukup ramai, namun tetap terasa elegan. Tak lama mereka sampai di tangga yang menuju lantai dua.

Doni berjalan lebih dulu, diikuti Hesti dan Dini.

Sementara di lantai dua, suasana jauh lebih tenang karena sebagian besar ruangan adalah ruang VIP tertutup. Pelayan itu berhenti di depan salah satu pintu. "Silakan, Pak."

Doni mengangguk, lalu membuka pintu ruangan itu. Begitu pintu terbuka ... Hesti dan Dini langsung terdiam.

Di dalam ruangan VIP itu, seorang perempuan sudah duduk menunggu di kursi.

Perempuan itu mengenakan gaun elegan berwarna merah muda dengan potongan yang anggun. Rambutnya ditata rapi, dan perhiasan yang dikenakannya memantulkan cahaya lampu ruangan. Penampilannya terlihat mewah dan berkelas.

Jauh lebih mewah dari gambaran yang ada di kepala Hesti dan Dini.

Hesti sampai sedikit membelalakkan mata.

Sementara Dini tanpa sadar berbisik pelan, "Kak Nayla cantik banget ..."

Nayla berdiri dengan anggun begitu mereka masuk. Senyumnya manis dan percaya diri. "Selamat malam Mama Hesti, Dini?" Suaranya lembut.

Hesti masih menatapnya beberapa detik, seolah menilai dari ujung kepala sampai kaki. Di dalam hatinya, ia tidak bisa menutupi kekagumannya. Perempuan di depannya ini benar-benar terlihat seperti wanita dari kalangan atas. Berbeda jauh dengan

Kyara.

Hesti akhirnya tersenyum lebar. "Selamat malam juga, Nayla. Mama senang sekali bisa bertemu denganmu. Ternyata kamu jauh lebih cantik dan anggun dari yang Doni ceritakan." Ia memeluk Nayla sekilas.

Nayla tersenyum kecil. "Ah, Mama bisa saja. Jangan terlalu berlebihan memujiku. Mama jauh lebih cantik dan anggun," balas Nayla.

"Tapi Kak Nayla benar-benar cantik seperti bidadari," timpal Dini memuji.

Nayla melirik Dini, lalu menepuk bahu gadis itu. "Kamu juga ikut-ikutan ya."

"Tuh kan, calon istriku memang secantik bidadari." Doni ikut memuji dengan bangga.

Tatapan Nayla beralih ke Doni, "Mas ..." Rengekan manja keluar dari bibirnya.

Kemudian, mereka berempat tertawa.

Setelah perkenalan hangat itu, suasana di ruang VIP restoran itu berubah menjadi jauh lebih akrab.

Doni menarik kursi untuk ibunya, sementara Dini sudah duduk di sebelah Nayla dengan wajah penuh rasa penasaran.

Pelayan datang membawa menu, namun sebenarnya Doni sudah memesan beberapa hidangan sebelumnya.

Tak lama kemudian berbagai makanan mulai dihidangkan di atas meja ... daging sapi panggang, sup hangat, kimchi, serta beberapa hidangan khas Korea lainnya.

Aroma makanan memenuhi ruangan.

Namun perhatian Hesti dan Dini lebih banyak tertuju pada Nayla.

Hesti memperhatikan perempuan itu dari dekat. Cara duduknya anggun, tutur katanya lembut, dan pakaiannya jelas mahal. Dalam hati Hesti semakin kagum. "Jadi, kamu kerja satu kantor dengan Doni?" tanya Hesti sambil tersenyum.

"Iya, Mama," jawab Nayla dengan sopan. "Aku di bagian pemasaran. Tepatnya jadi manajer," ujarnya bangga.

Dini langsung ikut menyahut, "Waw, keren. Kak Nayla wanita karier. Pantesan Kak Nayla kelihatan pintar."

Nayla tertawa kecil. "Ah, biasa saja."

Dini menggeleng. "Nggak, serius. Kak Nayla kelihatan beda."

Hesti menimpali sambil tersenyum puas. "Mama juga langsung suka sama kamu."

Nayla terlihat sedikit tersipu. "Terima kasih, Ma."

Sementara Doni duduk tenang di sisi meja, menikmati bagaimana ibunya dan adiknya begitu cepat menerima Nayla.

Hesti lalu berkata lagi, "Kamu cantik, sopan, berpendidikan dan juga pintar." Ia melirik sekilas ke arah Doni. "Mama sekarang paham kenapa Doni begitu menyukaimu."

Dini langsung mengangguk cepat. "Iya, Ma. Kalau dibandingkan-" Ia hampir saja melanjutkan kalimatnya, namun berhenti sambil tertawa kecil.

Nayla hanya tersenyum, seolah mengerti apa yang tidak jadi diucapkan Dini.

Makan malam berlangsung dengan obrolan ringan dan tawa kecil. Suasana terasa seperti makan malam keluarga sungguhan.

Beberapa saat kemudian Hesti menaruh sumpitnya dan menatap Nayla dengan serius namun tetap lembut. "Nayla."

Perempuan itu langsung menoleh. "Iya, Ma?"

Hesti tersenyum hangat. "Mama mau bicara sesuatu." Doni ikut memperhatikan. Hesti lalu berkata dengan jelas, "Kalau memang hubungan kalian serius ... Mama sangat merestui."

Nayla sedikit terkejut, matanya membesar. "Ma?"

Hesti mengangguk mantap. "Kalau bisa ... kalian segera menikah saja."

Dini langsung berseru senang. "Setuju!" Ia bahkan tertawa kecil. "Aku juga sudah cocok banget sama Kak Nayla."

Doni tersenyum puas, sementara Nayla terlihat menutup mulutnya dengan tangan karena terharu. "Terima kasih, Ma ..."

Hesti lalu menepuk tangan Nayla dengan lembut. "Mama justru senang kalau Doni bersama perempuan seperti kamu. Bukan seperti istri Doni yang sekarang. Dia itu istri yang pembangkang, boros, jorok, pemalas dan nggak mau punya anak. Mama nggak suka sama dia." Suaranya berubah kesal.

Nayla mengusap punggung tangan Hesti. "Aku tahu, Ma. Mas Doni sudah menceritakan semuanya ke aku. Bagaimana sifat istrinya dan kelakuan buruk Kyara."

"Syukurlah kalau kamu sudah tahu," balas Hesti. "Secepatnya, setelah Doni menceraikan si Kyara. Kalian menikah ya?"

Doni dan Nayla mengangguk kompak.

Makan malam di ruang VIP restoran itu akhirnya selesai. Meja yang tadi penuh dengan berbagai hidangan kini sudah mulai dirapikan oleh para pelayan. Suasana juga perlahan menjadi lebih tenang.

Nayla berdiri dari kursinya sambil merapikan gaunnya. "Terima kasih banyak untuk makan malam yang indah ini, Mas, Mama, Dini," katanya sopan.

Hesti tersenyum lebar. "Justru Mama yang berterima kasih karena bisa bertemu dengan kamu. Calon menantu Mama."

Dini juga ikut berdiri dan memeluk Nayla dengan akrab. "Pokoknya kita harus sering ketemu ya, Kak."

Nayla tertawa kecil. "Tentu."

Doni berdiri di samping Nayla, lalu berkata, "Aku antar kamu pulang ya?"

Namun Nayla menggeleng pelan. "Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri."

"Oh, kirain tadi kamu naik taksi," ujar Doni.

"Nggaklah, Mas. Aku bawa mobil. Soalnya aku nggak mau ngerepotin kamu yang pasti bakal maksa buat nganterin aku pulang." Nayla terkekeh pelan.

Mereka lalu berjalan bersama keluar dari ruangan VIP, turun ke lantai satu, hingga akhirnya sampai di area parkir.

Mobil Nayla yang mewah sudah menunggu di sana. Perempuan itu membuka pintu mobilnya, lalu menoleh sekali lagi ke arah Hesti dan Dini. "Aku duluan ya, Ma, Din."

"Iya," jawab Hesti. "Hati-hati, Nak."

Nayla lalu masuk ke mobilnya. Mesin menyala, dan mobil itu perlahan keluar dari area parkir restoran.

Setelah mobil Nayla menghilang dari pandangan, Doni, Hesti, dan Dini juga berjalan menuju mobil mereka. Tak lama kemudian, mobil Doni melaju meninggalkan restoran.

Di dalam mobil suasana terasa santai.

Dini masih terlihat senang. "Aku suka banget sama Kak Nayla."

Hesti tersenyum puas. "Mama juga."

Doni hanya tersenyum kecil sambil fokus menyetir. Beberapa menit kemudian, ia akhirnya membuka suara. "Ma."

Hesti yang duduk di kursi belakang menjawab, "Apa?"

Doni melirik ke kaca spion sebentar. "Orang suruhan Mama sudah siap belum?"

Senyum Hesti langsung berubah menjadi licik. "Sudah dong." Ia bersandar santai di kursinya. "Dia sudah siap melakukan apa yang Mama perintahkan."

Dini menoleh penasaran. "Maksud Mama ... malam ini?"

Hesti mengangguk pelan. "Iya." Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. "Biar malam ini ..." Ia menatap ke depan dengan mata penuh kepuasan. "Kamu bisa menceraikan si Kyara."

Di kursi depan, Doni ikut menyeringai kecil. "Siap, Ma."

1
murni l.toruan
laporkan KDRT jadi istri harus punya pendirian yang tegas
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣. judul si kama emang markotop😁 busetdah istri mu pk lurah gimana ya😤....🤣🤣🤣🤣 selamat menik mati!
Ama Apr: tunggu sja🤗
total 1 replies
I Love you,
badai sedang mengintai kamu 🙏🤣🤣🤣
Ama Apr: betull giliran kluarga doni yg akan sengsara
total 1 replies
Kholifah Tiara
bagus juga,,,
Ama Apr: terima kasih kk
total 1 replies
stela aza
kelamaan sampai bosen 🤦
Amy
silahkan berpusing-pusing Ria Doni,,, Nah loooe mau ambil dimana duit segitu banyak, biar lagi kau jual ginjal, tdak akan cukup,,,
hehehehe tertawa jahat 🤭🤭🤭
Ama Apr: wilujeng lieur nya🤣
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
gebrakan ceritanya kaya siput thor... luamaaaa
Ama Apr: he, maaf kk. udah mau end kok
total 1 replies
merry
mntmmu istri bos kmu x don klo ia syukrinn kmuu 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwkwkkk
total 1 replies
I Love you,
Aku tunggu😁 kamu bangun dari mimpi panjang mu🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
Amy
itu menurut khayalan anda, silahkan berhayal setinggi-tingginya doni,
Ama Apr: wkwkwkkk
total 1 replies
I Love you,
astaga jgn lah masa pernikahan kontrak kama..!😤 kan dia masih terluka tega banget sih😭😭😤😡
Ama Apr: huhu, kali aja kyara mau🥲
total 1 replies
I Love you,
sukurin ajah kan Lo doni orang kaya'ye dia ga tau kerja di perusahan nyasiapa?😁🤣🤣🥰🥰🙏
Ama Apr: wkwkwk🤣
total 1 replies
I Love you,
🤣🥰. AH ..INI AWAL YG BAIK DAN DI BULAN YG BAIK PULA🙏🙏
Ama Apr: hehe, aamiin
total 1 replies
stela aza
ko kyara oncom bgt ,, kalau dia di jebak sama suami dan mertua,,, aturan dia udh punya feeling donk tiba2 ada orang numpang j rumah posisi dia lagi di rumah sendirian 🤦
I Love you,
bersiap siap bada sedang menuju kalian para penipulasi
I Love you,: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 2 replies
I Love you,
hum kandang2 sesuai realita cinta dan kasih sayang dari seorang yg ada di dalam karya karya tulis ini!!
I Love you,
muak aku 😤😡 masukan!! gini gini trus critanya muter2 wae jgn mara biar para pembaca ga bosan..🙏🙏🙏🙏😁😁😁🥰
Anonymous
awokawok bloon dan MASOKIS... kayaknya kisah nyata ini awokawok
stela aza
kyara terlalu bodoh ,,, males bgt lama2 , jadi istri yg smart dikit j kenapa ,, Ojo bloon
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!