Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Sore itu, langit Seoul tampak mendung, seolah ikut meresapi suasana hati Kim Ae Ra yang campur aduk.
Setelah sampai di rumah dan mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai namun rapi, Ae Ra berdiri sejenak di depan cermin, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
Ia melihat pantulan dirinya sendiri di sana—wanita muda yang tangguh, namun di dalam hatinya tersimpan kerentanan yang baru saja terkuak kembali karena rencananya bertemu Seo Jun.
"Ayo, Ae Ra. Kau bisa melakukannya. Kau hanya ingin mendengar kebenaran, itu saja," bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba memberi semangat.
Dengan langkah tegas, ia keluar dari apartemennya dan menuju halte bus.
Perjalanan menuju toserba kecil itu terasa lebih lama dari biasanya, meskipun jaraknya sama saja. Pikirannya terus berputar, membayangkan berbagai skenario yang mungkin terjadi saat bertemu Seo Jun nanti.
Apakah dia akan marah? Apakah dia akan menangis? Atau apakah dia akan bisa tetap tenang dan mendengarkan penjelasan Seo Jun dengan kepala dingin?
Saat bus akhirnya berhenti di halte dekat toserba, Ae Ra turun dan berjalan perlahan menuju bangunan kecil yang begitu familiar itu.
Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat papan nama toserba itu yang bergoyang pelan ditiup angin sore. Jantungnya berdebar kencang di dalam dadanya. Ini adalah tempat di mana ia menghabiskan banyak waktu luangnya, tempat di mana ia merasa aman dan nyaman, tempat di mana ia bertemu dengan teman-teman yang baik.
Namun sekarang, tempat itu terasa sedikit asing karena rahasia besar yang telah terungkap.
Ae Ra berhenti sejenak di depan pintu masuk, menatap bel kecil yang tergantung di atasnya.
Klining…
Suara bel itu terdengar, sama seperti biasa.
Namun, suasana di dalam toserba terasa berbeda. Tidak ada pelanggan lain yang terlihat, hanya ada lampu-lampu yang menyala terang dan rak-rak barang yang tertata rapi.
Dan di balik kasir, berdiri sosok yang sudah ia nanti—Lee Seo Jun.
Seo Jun sedang berdiri mematung saat melihat Ae Ra masuk. Matanya terbelalak sedikit, seolah ia tidak percaya bahwa gadis itu benar-benar datang.
Ia mengenakan kemeja flanel dan celemek toserba seperti biasa, penampilan yang selalu Ae Ra kenal dan sukai, namun hari ini, di mata Ae Ra, ada aura lain yang menyertainya—aura pewaris Haesung Group yang kuat dan berwibawa.
Dua sosok itu—Seo Jun yang sederhana dan Seo Jun yang kaya raya—bertabrakan di hadapan Ae Ra, membuatnya semakin bingung namun juga semakin penasaran.
"Ae Ra…" bisik Seo Jun pelan, suaranya terdengar bergetar.
Ia segera keluar dari balik kasir dan berjalan mendekat, namun berhenti beberapa langkah di hadapan Ae Ra, seolah ia takut mendekat terlalu cepat akan membuat gadis itu lari pergi.
"Terima kasih sudah datang. Aku… aku benar-benar tidak menyangka kau akan mau datang."
Ae Ra menatap Seo Jun lekat-lekat, mencoba mencari kebohongan di mata pria itu, namun yang ia lihat hanyalah rasa bersalah yang mendalam dan rasa lega yang tulus.
"Saya datang karena saya ingin mendengar penjelasan Anda secara langsung, Tuan Lee. Itu saja," jawab Ae Ra pelan, suaranya tetap tenang namun menjaga jarak.
Panggilan "Tuan Lee" itu membuat wajah Seo Jun sedikit menegang, namun ia mengerti. Ia tahu ia pantas mendapatkan itu.
"Baiklah. Terima kasih sudah memberiku kesempatan ini. Mari kita duduk di sana, ya?" Seo Jun menunjuk ke arah meja kecil di sudut toserba, tempat di mana mereka biasa duduk dan mengobrol santai.
"Aku sudah menyiapkan teh hangat untukmu. Seperti biasa."
Ae Ra mengangguk pelan dan mengikuti Seo Jun ke meja itu. Mereka duduk berhadapan.
Beberapa saat kemudian, Seo Jun kembali membawa dua cangkir teh hangat yang mengepul, menaruh satu di hadapan Ae Ra.
Aroma teh yang familiar itu memenuhi udara, sedikit banyak membantu meredakan ketegangan yang Ae Ra rasakan.
"Terima kasih," ucap Ae Ra pelan, menyentuh cangkir itu untuk merasakan kehangatannya.
"Sama-sama," jawab Seo Jun pelan, lalu duduk kembali di hadapan Ae Ra.
Ia terdiam sejenak, seolah sedang mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan yang berat ini.
Matanya tidak lepas dari wajah Ae Ra, seolah ia ingin mengingat setiap detail wajah gadis itu, takut ini adalah kesempatan terakhirnya untuk melihatnya dari dekat.
"Ae Ra," akhirnya Seo Jun memulai pembicaraan, suaranya rendah dan serius.
"Aku tahu aku telah banyak berdosa padamu. Aku menyembunyikan identitasku, aku membohongimu selama ini, dan aku mengerti jika kau merasa marah, kecewa, atau merasa dikhianati. Aku tidak punya alasan untuk membenarkan apa yang aku lakukan. Itu salahku, dan aku menanggung akibatnya sepenuhnya."
Ae Ra diam mendengarkan, menatap cangkir teh di hadapannya.
"Kenapa, Seo Jun? Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku?" tanyanya pelan, namun tegas.
"Kita teman, kan? Kenapa kau tidak bisa jujur saja padaku sejak awal?"
Seo Jun menghela napas panjang, wajahnya tampak sedih dan penuh penyesalan.
"Karena aku takut, Ae Ra. Aku takut jika kau tahu siapa aku sebenarnya, kau akan menjauh. Aku takut kau akan melihatku sebagai orang yang sombong, atau orang yang hanya pamer kekayaan. Dan yang paling penting, aku Takut kehilangan tempat di sampingmu. Sejak pertama kali bertemu denganmu di toserba ini, aku merasa ada sesuatu yang berbeda darimu. Kau tulus, kau baik, kau tidak pernah menilai orang dari penampilan atau latar belakangnya. Bersamamu, aku bisa menjadi diriku sendiri—bukan Lee Seo Jun pewaris Haesung Group, tapi hanya Seo Jun, orang biasa yang bekerja di toserba dan merasa bahagia hanya dengan melihat senyummu."
Ia berhenti sejenak, menelan ludahnya yang terasa tercekat.
"Ayahku, dia orang yang sangat keras dan ambisius. Dia selalu mengatur hidupku, selalu memaksaku untuk menjadi orang yang dia inginkan, bukan orang yang aku inginkan. Dunia bisnis itu keras, Ae Ra. Penuh dengan tipu daya, perhitungan, dan orang-orang yang hanya mementingkan keuntungan sendiri. Aku bosan dengan itu semua. Aku ingin lari sebentar dari dunia itu. Dan toserba ini, dan kau… kalian adalah pelarianku. Kalian adalah tempat di mana aku bisa bernapas lega."
Ae Ra mendengarkan dengan hati yang tergerak. Cerita Seo Jun masuk akal, dan ia bisa merasakan ketulusan di setiap kata yang diucapkan pria itu.
Ia mulai mengerti mengapa Seo Jun melakukan itu semua. Namun, rasa sakit karena dibohongi itu masih ada.
"Jadi… selama ini, semua perhatianmu, semua waktu yang kita habiskan bersama… itu semua asli? Bukan bagian dari rencana apa pun?" tanya Ae Ra pelan, matanya menatap Seo Jun lekat-lekat, mencari jawaban yang pasti.
Seo Jun segera mengangguk dengan tegas, matanya menatap mata Ae Ra dengan serius.
"Tentu saja asli, Ae Ra! Seratus persen asli. Tidak ada rencana, tidak ada skenario. Semuanya murni dari hatiku. Aku peduli padamu, aku menyukaimu—bukan sebagai bagian dari misi atau apa pun, tapi karena kau adalah Kim Ae Ra. Gadis yang baik, tangguh, dan luar biasa yang aku kenal di sini."
Hati Ae Ra terasa sedikit lega mendengar pengakuan itu. Setidaknya, persahabatan mereka itu nyata. Setidaknya, kenangan-kenangan indah itu bukan bohong belaka.
"Lalu soal klausul-klausul dalam dokumen itu?" tanya Ae Ra lagi, mengalihkan topik ke hal yang lebih penting dan sensitif.
"Kau bilang kau tidak tahu menahu soal itu. Benarkah?"
Wajah Seo Jun berubah menjadi serius dan sedikit marah saat membahas hal itu.
"Benar, Ae Ra. Aku bersumpah padamu, aku tidak tahu apa-apa soal itu sampai setelah pertemuan pertama kita selesai. Beberapa hari kemudian, saat aku memeriksa ulang berkas-berkas itu dengan tim hukumku karena aku merasa ada yang mengganjal, barulah aku menemukan klausul-klausul tersembunyi itu. Aku sangat marah, Ae Ra. Aku langsung marah besar pada ayahku dan tim yang menyiapkan dokumen itu. Bagaimana bisa mereka melakukan itu? Dan bagaimana bisa mereka melibatkanmu di dalamnya?"
Suaranya terdengar emosional, seolah ia benar-benar terluka karena kejadian itu.
"Aku sudah berdebat hebat dengan ayahku. Aku bilang padanya bahwa aku tidak akan melanjutkan kerja sama ini jika mereka tidak menghapus klausul-klausul itu dan meminta maaf dengan tulus pada Aegis Corp. Ayahku awalnya marah, tapi akhirnya dia setuju untuk merevisi semua dokumen itu. Aku membawa draf revisi yang baru ke pertemuan kedua nanti. Aku ingin kau tahu, dan aku ingin Tuan Hyun tahu, bahwa aku tidak pernah bermaksud menyakiti kalian atau merugikan Aegis. Aku akan memastikan kerja sama ini berjalan adil dan jujur, atau aku akan membatalkannya sama sekali."
Ae Ra menatap Seo Jun dengan takjub. Ia tidak menyangka Seo Jun akan berani berdebat dengan ayahnya sendiri demi kebenaran dan demi melindungi perasaannya serta Aegis Corp.
Rasa percaya pada Seo Jun perlahan mulai tumbuh kembali di hatinya. Mungkin pria di hadapannya ini memang orang yang baik, yang terjebak dalam situasi sulit karena latar belakang keluarganya.
"Aku… aku tidak tahu harus berkata apa, Seo Jun," ucap Ae Ra pelan, kali ini ia menggunakan nama panggilan biasa tanpa gelar, membuat Seo Jun tersenyum kecil karena lega.
"Aku masih sakit karena kau menyembunyikan identitasmu, aku masih butuh waktu untuk memproses semuanya. Tapi… aku percaya padamu. Aku percaya bahwa kau tidak tahu soal klausul itu dan bahwa kau sudah berusaha memperbaikinya."
Wajah Seo Jun bersinar bahagia mendengar kata-kata itu.
"Terima kasih, Ae Ra. Terima kasih banyak. Aku tidak memintamu untuk langsung memaafkanku sepenuhnya sekarang. Aku tahu butuh waktu. Tapi aku berjanji, mulai sekarang aku tidak akan menyembunyikan apa pun darimu lagi. Aku akan jujur dalam segala hal. Aku ingin kita tetap bisa menjadi teman seperti dulu, atau setidaknya… aku ingin tetap bisa ada di dekatmu."
Ae Ra tersenyum tipis, senyum yang tulus.
"Kita akan lihat nanti, Seo Jun. Tapi untuk sekarang, terima kasih sudah jujur padaku. Ini sangat berarti bagiku."
Mereka pun menghabiskan sisa waktu itu dengan mengobrol ringan, mencoba membangun kembali jembatan kepercayaan yang sempat retak.
Ae Ra merasa beban di dadanya sedikit berkurang. Ia kini tahu sisi lain dari cerita Seo Jun, dan ia merasa lebih tenang menghadapi pertemuan kedua dengan Haesung Group nanti.
Saat akhirnya Ae Ra harus pulang karena hari sudah mulai larut, Seo Jun mengantarnya sampai ke depan pintu toserba.
"Hati-hati di jalan, Ae Ra. Dan… tolong sampaikan salamku pada Tuan Hyun. Katakan padanya bahwa aku akan datang dengan niat baik dan dokumen yang sudah direvisi sepenuhnya nanti," kata Seo Jun pelan.
"Aku akan menyampaikannya. Sampai jumpa, Seo Jun," jawab Ae Ra pelan, lalu berbalik dan berjalan menuju halte bus.
Seo Jun berdiri di depan toserba, menatap punggung Ae Ra yang menjauh sampai hilang dari pandangan, dengan perasaan lega dan harapan yang baru.
Sementara itu, Ae Ra berjalan pulang dengan hati yang lebih ringan dan pikiran yang lebih jernih. Ia tahu, perjalanan masih panjang, dan masih banyak tantangan yang menanti.
Tapi setidaknya, sekarang ia memiliki kejelasan yang lebih—tentang Seo Jun, tentang Jae Hyuk, dan tentang dirinya sendiri.
Dan dengan kekuatan dari orang-orang yang menyayanginya, ia yakin ia bisa menghadapi apa pun yang ada di depan.