sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada getaran di dada
Tepat tengah malam pukul 00.15 Fadli dan Hasan yang saat itu baru saja sampai di jakarta setelah perjalanan dari Makasar mampir ke rumah Laluna, sekalian mau ambil Azka, takut putranya itu rewel secara selama ini cowok kecil imut itu tak pernah jauh dari nenek dan bibinya, memang si Azka punya Mbak yang tiap hari mengurusi kebutuhan nya tetapi keluarga Fadli tak mau menyerahkan semuanya pada baby sitter, takutnya mereka malah lebih dekat dengan orang lain daripada pada keluarganya sendiri.
Seperti ketika Laila menjemputnya tadi sore, si Azka juga tidak di dampingi Mbak nya, biasanya memang begitu ,Fadli selalu melibatkan adik perempuan nya itu untuk mengurusi putranya.
Sesampai di apartemen Laluna, Hasan memencet bel, sekali pencet seseorang seperti sedang berjalan membuka pintu.
"Lho kalian datang, ada hal penting kah". dokter Najwa membuka pintu heran atas kedatangan dua lelaki keren itu, seperti biasanya dokter Najwa yang memang mempunyai penyakit susah tidur sudah hampir dini hari dia belum terpejam jua, dan satu satunya hal untuk membunuh kebosanan adalah berkelana di alam Maya dengan scroll sosmed nya.
"kok belum tidur juga wa, jam segini?" tanya Hasan yang selalu memanggil Najwa dengan sebutan Wawa, itu adalah panggilan kesayangan pada waktu mereka sekolah.
"Biasa penyakit lama kumat, kalian kok tahu alamat rumah Luna dari mana?". Tanya Najwa sambil memberi Jawaban asal.
"makanya kalau punya masalah di pecahkan di cari solusi dan jalan keluar bagaimana mengatasinya, jangan di pendam sendiri, apa yang kami tidak tahu kan ada google map". Hasan setengah mengolok tapi lebih ke menasehati sahabat sekolahnya itu yang kini ternyata masih tetap ada di hatinya.
Sementara Fadli yang menanyakan dimana Azka dijawab oleh Najwa bahwa mereka berdua sedang tidur di kamar Luna, Fadli minta izin pada Najwa untuk menengok dan mengambil putra nya, begitu Fadli membuka pintu kamar pemandangan yang menyejukkan ada di hadapannya, Luna yang satu selimut dengan Azka sedang tidur meringkuk sambil memeluk Azka sementara Azka terlentang dengan satu kakinya berada di pinggang Laluna, terlihat Azka sangat nyaman dan lelap dalam tidurnya, mungkinkah cowok kecil itu merindukan sosok ibu? Fadli memandang dengan air mata yang tergenang, antara haru dan nelangsa, Azka sampai umur nya yang ke empat belum pernah sekalipun ketemu sama mamanya, tega sekali wanita itu meninggalkan dan melupakan putranya begitu saja, putra yang telah di kandungnya selama sembilan bulan tiada arti di benaknya.
Fadli tidak jadi membangunkan putranya, dia balik kanan dan malah ikut bergabung bersama Hasan dan Najwa di ruang tamu.
"Azka mana bos?" tanya Hasan.
"Dia lagi bahagia biarkan malam ini dia nginep di sini besok siang kita jemput lagi, besok kan Minggu biarkan dia menikmati tidurnya di pelukan Luna ". Jawab Fadli setengah iri, sementara dirinya saja belum pernah memeluk Luna, tapi putranya malah sudah tidur di pelukan wanita yang kini lagi membuat hari harinya mulai mekar berbunga .
"Pingin ya tidur di pelukan Luna, cie cie cemburu ni ye". ejek Hasan seperti bisa membaca fikiran Fadli, Fadli hanya manyun malah mengalihkan pertanyaan pada Najwa.
"Dokter Najwa, bagaimana perkembangan kasus kalian selanjutnya?" hanya Fadli, Najwa yang di panggil dengan embel-embel dokter itu menjadi kikuk.
"Panggil Najwa saja bang jangan di kasih embel-embel di depannya, kurang enak di dengar seperti ada batasan" protes Najwa, dan Fadli meng iyakan.
"Sidang tinggal sekali lagi terus putusan terakhir, semoga semuanya lancar, bukti sudah akurat karena dia yang terbukti selingkuh, meskipun dia menyewa pengacara hebat tetapi bukti perselingkuhan sudah nyata mana bisa dia menang". Jawab Najwa sambil menghidangkan segelas teh , setelah minum teh keduanya pun pamit pulang dan kini hanya Najwa dalam kesepiannya lagi, mata di pejamkan sampai lelah tidur pun tak kunjung datang, sedih rasanya tersiksa setiap malam tak bisa tidur, jika memang harus terpaksa dia minum obat biar bisa terpejam barang satu atau dua jam .
Pagi harinya Azka yang masih belum bangun dibiarkan saja sama Luna, semau dia mau bangun jam berapa secara kan ini juga hari Minggu, biarkan si bocil menikmati waktu nya.
"Oleh oleh dari siapa Mbak?' tanya Luna ketika melihat tas plastik diatas meja, setelah di buka isinya makanan kering dan macam macam kerajinan khas Makasar.
"Itu Abi nya Azka sama Hasan semalam kan kesini, kamu tidur macam orang mati saja ,kami mau membangunkan mu nggak enak hati". Jawab Najwa sambil sibuk bikin sarapan, si bocil semalam sudah request pagi ini mau sarapan sosis panggang dan nugget ayam serta telur dadar mata sapi tapi kuningnya harus tepat di tengahnya, nggak boleh sampai di pinggir, susah sekali request nya.
"Oh jadi mereka mau jemput Azka gitu mbak maksudnya?" tanya Luna.
"iya dan Fadli yang melihat kalian lagi tidur berpelukan jadi tak enak hati mau bawa putranya pulang, rencananya siang ini mau kesini mungkin bersama umi nya?" jawab Najwa.
"Si ibu Rahayu tak mau di panggil Umi, dia maunya di panggil bunda, awas nanti kalau beliau benar kesini jangan sampai Mbak Najwa memanggilnya Umi, nanti dia tak suka". saran Laluna memberi peringatan.
Najwa menoleh sebentar untuk meyakinkan pendengarannya, lalu mengangguk sambil melanjutkan aktifitasnya.
Luna mencomot begitu saja sosis dan bakso kenzler yang tengah di panggang Najwa dengan bibirnya yang komat Kamit menahan panas.
"Panas non, tunggu saja sebentar juga siap, bangunin sana gih si Azka, bilang sarapannya sudah siap". Perintah Najwa, dan Luna pun ke kamar melihat Azka yang baru bangun dan seperti kebingungan, mungkin dia berfikir dimana dia sekarang ini, seperti asing kamar sempit meski sudah pake AC tetapi kamar Azka tiga kali lebih luas dari kamar Luna.
"Halo Azka selamat pagi sayang". Sapa Luna.
"Tante Luna, Azka dimana nenek mana?" rengek Azka bingung karena biasanya ketika dia bangun yang di temuinya pertama kali adalah neneknya.
" Lupa ya Azka dimana, kan ada di rumah Tante, itu Tante Najwa sudah bikin sarapan buat kita, yuk kita keluar". bujuk Luna sambil siap menggendong Azka, tapi Azka tak mau di gendong dengan alasan dia bukan anak kecil.
"Akhirnya mereka bertiga menikmati sarapan sederhana itu yang sebenarnya hanyalah junk food bukan real food, Luna dan Najwa hanya memenuhi permintaan si bocil.
Ketiganya makan sambil bersenda gurau, Najwa memberikan segelas fresh milk pada Azka, Azka merasa sangat bahagia berada diantara dua wanita dewasa itu.
"Tante, boleh kah Azka tinggal di sini bersama kalian?"
Tanya si bocil membuat dua wanita itu saling berpandangan.
"Boleh saja , tapi kan harus minta izin sama nenek dan Abi, nanti Abi dan nenek kesini, kita tunggu saja ya?" hibur Luna pada si Azka.
*****