Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Obat P*rangsang
"Kenapa, Rul?" kernyit Nisa yang merasa heran dengan sikap ART-nya.
"Ibu nggak usah nyamperin Den Gani. Den Gani baik-baik aja kok," tenang Nurul sang ART yang sedang menjalankan misi untuk mencekoki Nisa dengan obat per*ngsang yang sudah dicampurkan ke dalam gelas minuman yang dia bawa. "Lebih baik Ibu istirahat aja di sini, soalnya Ibu kelihatan kayak lagi capek banget gitu," tuturnya yang terlihat seperti bawahan yang sangat perhatian pada majikannya.
"Iya, aku emang agak sedikit capek," ucap Nisa membenarkan.
"Ini, Bu, saya bawain minuman buat Ibu. Barangkali bisa nyegerin badan dan pikiran Ibu yang lagi kusut." senyum Nurul yang menyodorkan minuman yang dia bawa.
Nisa pun mengambil gelas minuman itu tanpa ada rasa curiga sedikit pun.
"Makasih ya," tuturnya ramah.
"Iya, Bu, sama-sama." angguk Nurul. "Kalau gitu saya pamit ke belakang lagi ya, Bu."
"Iya, silakan."
Selepas kepergian Nurul, Nisa mulai menyesap dan meminum jus yang ada di dalam gelas itu yang rasanya cukup enak. Lalu obat p*rangsang dengan dosis yang cukup kuat pun mulai masuk ke dalam tubuh Nisa.
Dari jauh para ART yang memang mendapatkan misi jahat dari Arya sedang mengawasi Nisa yang belum merasakan efek dari obat laknat yang telah mereka cekokan secara diam-diam.
"Andre udah datang belum, Lin?" tanya Nurul yang memang mengetahui perihal lelaki muda itu yang nanti akan menggarap Nisa di atas ranjang.
"Belum," jawab Alin. "Paling sebentar lagi dia datang."
"Kalau para pekerja yang lain gimana? Udah kamu amanin?"
"Udah dong, aku suruh mereka buat kerjain tugas dengan embel-embel atas nama Bu Nisa biar mereka nggak curiga saat majikan perempuan kita tiba-tiba bertingkah aneh. Selain itu kedatangan Andre pun kita buat serahasia mungkin."
"Kalau baby sitternya Den Gani gimana? Dia bersedia nggak kerja sama bareng kita di misi ini?"
"Aman," jawab Alin sembari membentuk jarinya dengan kode oke pada Nurul, yang menjelaskan bahwa sang baby sitter juga bersedia diajak kerja sama.
"Bagus," ucap Nurul merasa puas karena sebentar lagi setelah misi ini sukses dijalankan, mereka berdua dan semua yang terlibat akan mendapatkan bonus fantastis dari bos mereka yang bernama Arya.
Andre yang sudah datang ke rumah ini pun berjalan mendekat ke arah Alin dan Nurul diantar oleh salah satu penjaga di rumah ini.
"Alin, Sayang," bisik penjaga itu. "Orang suruhannya Pak Arya sudah datang nih," ucapnya memberi tahu.
Alin dan Nurul menoleh ke sumber suara dan mereka langsung terperangah saat melihat sosok pemuda yang ada di hadapannya itu.
"Gila, cakep banget," ucap Alin dan Nurul yang begitu terkesima dengan ketampanan Andre. "Sebelas dua belas sama Den Dimas," ucap mereka berdua.
Ditambah lagi dengan tubuh Andre yang gagah dan kekar membuat kedua wanita hampir meneteskan air liurnya.
Ya, meskipun ketampanan Dimas anak sulung Arya masih berada di atas Andre, tapi bagi kedua wanita itu, paras Andre udah paling daebak sebab mereka berdua tidak mungkin bisa mendapatkan pacar atau suami seperti Andre, jika pun ada, maka peluangnya sangat kecil sekali dan hanya orang yang memiliki keberuntungan yang tinggi bisa mendapatkan laki-laki yang tampan seperti Andre.
"Wanita yang harus aku tangani sudah siap belum?" tanya Andre pada Alin dan Nurul.