Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak kegelisahan
Di sepanjang perjalanan, Tiara tak henti-hentinya tersenyum sendiri. Dalam benaknya terbayang makan malam bersama sang ayah dan kakak laki-lakinya di sebuah restoran. Ia juga penasaran dengan gaun yang menurut pria itu, telah dibelikan sang ayah untuknya.
Lamunannya terhenti ketika sepeda motor berbelok ke jalan yang terasa asing.
“Lho, Bang... kok lewat sini?” tanya Tiara heran. “Bukannya ini arah ke terminal?
Memangnya ayah saya nunggu di restoran mana?”
“Ayahmu memilih restoran yang dekat terminal,” jawab pria itu tanpa menoleh.
Tiara mengernyit.
“Setahu saya, nggak ada restoran di dekat terminal.”
“Ada, kok. Baru buka belum lama ini.”
Tiara mengangguk. Ia memang jarang melewati jalan tersebut. Barangkali benar ada restoran baru yang belum pernah ia lihat. Pikiran itu membuatnya kembali tenang. Ia pun kembali menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
Beberapa menit kemudian, sepeda motor melintas di depan sebuah bangunan tua yang tampak terbengkalai. Jalan di kawasan itu jauh lebih sepi dibandingkan jalan utama. Tiba-tiba, pria itu memperlambat laju kendaraan lalu menepikannya.
“Lho, kok berhenti di sini, Bang?” tanya Tiara bingung.
“Saya kebelet buang air kecil. Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana.”
Tanpa menunggu jawaban, pria itu berjalan menuju sisi bangunan yang tertutup semak-semak.
Tiara menatap ke sekeliling. Jalanan tampak lengang. Tak ada kendaraan yang melintas. Karena lelah berdiri, ia duduk di pembatas jalan yang terbuat dari cor semen. Beberapa menit berlalu, tetapi pria itu belum juga kembali.
“Sudah belum, Bang?” teriak Tiara. “Lama banget, sih!”
Tak ada jawaban.
Perasaan gelisah mulai merayapi dadanya. Tiara pun berdiri dan melangkah beberapa langkah ke depan sambil menoleh ke arah bangunan tua itu.
Saat itulah, seseorang muncul diam-diam dari belakang. Sebelum sempat bereaksi, mulut Tiara dibekap dengan selembar kain. Gadis itu berusaha melepaskan diri sambil meronta sekuat tenaga, tetapi tenaga penyerangnya jauh lebih besar.
Pandangannya mulai berkunang-kunang. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, sementara kesadarannya perlahan memudar.
Dalam hitungan detik, Tiara tak lagi mampu melawan. Tubuhnya terkulai lemas sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
“Gue nggak salah jemput ‘kan?” tanya pria yang baru muncul dari balik semak-semak. Ternyata sejak tadi ia memang tidak pergi untuk buang air kecil. Semua itu hanyalah bagian dari rencana.
“Iya.” Ucok mengangguk puas. gadis yang gue ceritain kemarin. Cantik banget, kan? Kayak bidadari.”
Pria itu tak lain adalah Tyo. Ia menatap Tiara yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas tanah.
“Lo mau apain dia?” tanyanya dengan nada ragu.
Ucok menyeringai tipis.
“Gue bakalan pakai dia sampai puas. Setelah itu baru gue minta uang tebusan yang besar ke ayahnya.”
Tyo menghembuskan nafas kasar.
“Gila lo!”
Ucok berjongkok di samping tubuh Tiara. Ia memperhatikan wajah gadis itu dengan tatapan penuh niat buruk.
“Lihat, deh... kulitnya putih, wajahnya mulus. Lo yakin nggak pingin nyobain juga?”
Tyo ikut memandang Tiara beberapa saat tanpa berkata apa-apa.
“Setelah mendapatkan uang tebusan yang besar, kita tinggalkan kota ini. Kita akan memulai hidup baru.”
Bayangan uang dalam jumlah besar kembali memenuhi pikiran Tyo. Keraguannya perlahan mulai memudar, tergantikan oleh keserakahan. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia mengangguk mantap.
“Oke... gue ikut.”
Ucok tersenyum puas.
“Nah, gitu dong.” Ia bangkit sambil melirik bangunan kosong di depan mereka. “Ayo, kita bawa dia ke dalam sebelum ada orang yang lewat.”
Tiara masih terbaring tak sadarkan diri, sementara dua pria itu mulai menjalankan rencana jahat yang telah mereka susun.
*****
Sore mulai merambat menuju petang, tetapi Tiara tak kunjung pulang. Sejak tadi Yudha mondar-mandir di teras rumah dengan wajah gelisah. Berkali-kali ia menoleh ke ujung jalan, berharap sosok adiknya segera muncul. Namun harapan itu terus pupus.
"Yudha... kamu nunggu siapa? Kok kelihatan gelisah begitu?" sapa Bu Arum, tetangga yang baru muncul di teras.
"Ehm... Tiara belum pulang, Bu."
"Main ke rumah temannya kali. Sudah kamu telepon atau kirim pesan?"
"Sudah. Berkali-kali. Tapi nomor Tiara nggak aktif."
Bu Arum terdiam sesaat. Kerutan tipis menghiasi dahinya.
"Tapi memang dari siang tadi saya nggak melihat Tiara. Apa jangan-jangan...."
Yudha menatapnya cemas.
"Jangan-jangan apa, Bu?"
"Saya bukan mau bikin kamu panik. Hanya saja, sekarang banyak sekali kasus remaja yang menjadi korban penculikan atau tipu daya orang yang baru dikenalnya."
"Maksud Ibu?”
"Kamu pasti sering baca berita ‘kan? Banyak pelaku yang memanfaatkan kepolosan remaja seusia Tiara."
"Tapi adik saya nggak pernah berteman dengan laki-laki di media sosial."
"Kamu juga nggak mungkin mengawasinya selama dua puluh empat jam ‘bukan?”
Belum sempat ia menjawab, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Keenan turun dengan wajah letih sepulang bekerja.
"Pak Keenan," panggil Bu Arum. "Putri Bapak belum pulang."
Keenan langsung menghentikan langkahnya.
"Tiara belum pulang?"
"Iya, Yah," sahut Yudha. "Aku sudah coba menghubunginya berkali-kali, tapi nomornya nggak aktif."
"Kamu punya nomor teman-temannya?"
Yudha menggeleng.
"Aku nggak punya. Tapi aku tahu rumah Elsa, sahabat dekat Tiara."
"Di mana?"
"Jalan Anggrek nomor dua puluh tiga."
"Kita ke sana sekarang."
Tanpa membuang waktu, mereka segera masuk ke mobil. Meski tubuhnya masih lelah setelah seharian bekerja, Keenan memaksa dirinya tetap tenang. Dalam benaknya, ia masih mencoba berpikir positif. Mungkin Tiara sengaja menghabiskan waktu bersama sahabatnya setelah pertengkaran mereka kemarin.
Sesampainya di rumah Elsa, dugaan itu langsung terpatahkan.
"Tiara nggak ke sini kok, Om, Mas. Tadi setelah pulang sekolah kami langsung naik angkutan umum yang sama.”
"Dia nggak bilang mau ke mana? Ke mall atau ke tempat lain?" tanya Yudha penuh harap.
Elsa menggeleng.
"Nggak. Apa mungkin Tiara ke rumah neneknya?"
"Kalau ke sana, pasti Tiara ngasih kabar."
Elsa segera mengambil ponselnya.
"Sebentar ya, Om. Saya coba tanya teman-teman yang lain."
Jarinya bergerak cepat mengirim pesan ke beberapa nomor teman sekelas. Beberapa menit kemudian ia kembali mengangkat wajah.
"Gimana?" tanya Yudha tak sabar.
Elsa menggeleng pelan.
"Nggak ada yang tahu keberadaan Tiara."
"Tiara... kamu sebenarnya di mana, Nak?" gumamnya Keenan.
Karena tak memperoleh petunjuk sedikit pun, Keenan dan Yudha berpamitan.
"Kita cari ke mana lagi, Yah?" tanya Yudha begitu mobil kembali melaju.
"Kita keliling saja. Barangkali Tiara ada di taman kota, alun-alun, atau lagi jajan."
Mobil terus menyusuri jalan-jalan kota.
Di setiap tempat yang mereka singgahi, Keenan memperlihatkan foto Tiara dari ponselnya kepada orang-orang yang ditemuinya. Namun satu demi satu jawaban yang diterimanya selalu sama. Tidak ada yang pernah melihat gadis itu.
Malam akhirnya turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala, tetapi keberadaan Tiara masih menjadi misteri.
Keenan dan Yudha belum mengetahui bahwa gadis yang mereka cari sedang disekap di sebuah bangunan terbengkalai, menjadi korban kebiadaban dua pria yang sama sekali tak memiliki belas kasihan.
Mahesa hemmmm ada something ini