NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM DI PENDOPO

Malam terakhir mereka di Yogyakarta datang lebih tenang dibanding dua hari sebelumnya. Agenda resmi seluruh rangkaian acara kebudayaan telah selesai menjelang petang. Para peserta yang berasal dari berbagai instansi mulai kembali ke kamar hotel masing-masing untuk beristirahat sebelum pulang ke kota asal keesokan harinya.

Kirana baru saja melangkah keluar dari lobi aula utama ketika ponsel di genggamannya bergetar pelan. Ada pesan masuk dari Rani.

Rani: Kak, jangan sampai lupa bakpianya ya.

Kirana langsung tertawa pelan menatap layar gawai. Dua hari penuh diisi dengan rentetan acara formal yang melelahkan, dan perempuan itu ternyata masih konsisten memikirkan bakpia. Ia baru saja hendak mengetik balasan ketika sebuah suara familiar terdengar dari arah samping.

"Masih soal bakpia?"

Kirana menolehkan kepalanya. Danendra sudah berdiri beberapa langkah darinya. Kemeja putih yang dikenakannya sudah tidak serapi pagi tadi. Lengan bajunya sengaja digulung kasar sampai siku, sementara kartu identitas peserta masih menggantung longgar di lehernya.

"Kok tahu, Mas?" tanya Kirana heran.

"Kamu tertawa dengan ekspresi yang sama seperti kemarin," sahut Danendra lempeng.

Kirana mengangkat sebelah alisnya samar, menatap suaminya penuh selidik. "Kamu... sampai menghafal ekspresi wajahku, Mas?"

Danendra sempat terdiam, tampak berpikir selama beberapa detik sebelum akhirnya menyahut pendek. "Hm."

Jawaban jujur itu justru membuat Kirana kehilangan bahan untuk menggoda. Wajah Danendra terlihat terlalu serius saat mengatakannya, tanpa ada maksud bercanda sedikit pun.

Malam itu pihak panitia mengadakan jamuan santai di sebuah penginapan bernuansa tradisional yang letaknya tidak jauh dari kawasan acara. Tempatnya sengaja dipilih berbeda dari hotel modern tempat mereka menginap. Sebuah bangunan joglo besar berdiri kokoh di tengah halaman luas, dilingkupi lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram yang menghiasi seluruh area pendopo. Angin malam Yogyakarta berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang menenangkan.

Setelah jamuan makan malam selesai, sebagian besar tamu mulai berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil di area tengah. Ada yang sibuk mengobrol santai, ada yang berfoto bersama rekan kerja, ada pula yang mulai berpamitan lebih awal karena harus mengejar jadwal penerbangan subuh.

Kirana awalnya ikut berbincang dengan beberapa peserta dari perwakilan yayasan. Namun setelah hampir setengah jam berdiri menggunakan sepatu hak rendah, kakinya mulai terasa pegal. Ia memutuskan untuk memisahkan diri dan mencari tempat yang lebih sepi.

Tanpa sadar, langkah kakinya membawa Kirana ke salah satu sisi luar pendopo yang menghadap langsung ke arah taman. Tidak banyak orang di sana. Hanya ada beberapa kursi kayu panjang yang ditata rapi, ditemani suara jangkrik dari kejauhan.

Kirana mengembuskan napas lega, mendudukkan diri di kursi kayu jati yang berat. Akhirnya ia bisa merasakan ketenangan. Namun, ia baru saja menyandarkan punggungnya ketika suara langkah kaki yang kaku terdengar mendekat.

Danendra.

Pria itu menghentikan langkahnya selama beberapa detik, memperhatikan posisi Kirana sebelum akhirnya ikut duduk di kursi panjang yang sama. Ia sengaja menyisakan jarak yang cukup sopan di antara mereka.

"Kabur juga, Mas?" tanya Kirana, menoleh sekilas.

Danendra meliriknya. "Kabur?"

"Dari keramaian di dalam."

"Hm."

"Itu artinya iya?"

"Iya."

Kirana tertawa kecil, memalingkan wajahnya menatap taman. Ternyata mereka memiliki alasan yang sama untuk menyingkir dari ruang publik.

Beberapa menit berlalu tanpa untaian kata. Namun kali ini, keheningan di antara mereka sama sekali tidak menyisakan rasa kaku yang membuat gelisah. Mereka murni sedang menikmati suasana malam. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya lembut di antara rimbun pepohonan, sementara di kejauhan, laras gamelan terdengar mengalun pelan dari area utama pendopo.

"Kamu suka tempat tradisional seperti ini, Mas?" tanya Kirana, memecah kesunyian.

"Suka."

"Karena tenang?"

"Iya."

Kirana mengangguk paham. Jeda sunyi itu mendadak memutar kembali memori percakapan mereka siang tadi mengenai mimpi masa muda, arsitektur, dan hal-hal esensial yang selama satu tahun belakangan tidak pernah mereka sentuh.

"Aku... sebenarnya masih agak tidak menyangka," gumam Kirana pelan.

Danendra menolehkan kepalanya. "Tentang apa?"

"Kamu yang ingin jadi arsitek restorasi," jawab Kirana, menatap suaminya dari samping. "Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya."

Danendra mengangkat sebelah alis tipisnya. "Kenapa tidak bisa?"

"Karena sosokmu selama ini terlalu identik dengan meja kantor dan laporan perusahaan."

Pria itu tampak terdiam sebentar, menimbang kalimat istrinya. "Lumayan masuk akal."

"Kan?" kekeh Kirana. "Benar, kan?"

"Hm."

Kirana tersenyum tipis, jemarinya memainkan ujung selendang batiknya. "Lagipula, selama kita tinggal bersama, aku tidak pernah sekali pun melihatmu menggambar sesuatu."

Danendra memperhatikannya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan kembali ke arah taman. "Aku masih menggambar."

Kirana langsung menolehkan tubuhnya penuh, matanya melebar. "Hah? Serius, Mas?"

"Sesekali kalau sedang senggang."

"Kamu tidak sedang bercanda, kan?"

"Iya, serius."

Mata Kirana membulat sempurna. Entah kenapa, fakta kecil mengenai suaminya itu terasa mengejutkan bagi logikanya. "Seorang Mas Danendra Adipati ternyata diam-diam suka menggambar?"

"Kenapa nada suaramu terdengar seolah itu adalah hal yang aneh?" tanya Danendra, dahinya berkerut samar.

"Karena di mataku, kamu biasanya terlihat seperti tipe orang yang lahir ke dunia langsung membawa laporan keuangan perusahaan," jawab Kirana jujur, tawa kecilnya tertahan di ujung bibir.

Satu detik. Dua detik. Danendra terdiam menatap wajah Kirana yang menahan tawa.

Lalu... Danendra tertawa. Pria itu benar-benar tertawa lepas.

Tawanya memang terdengar pendek khas suaranya yang bariton, namun terdengar jelas di telinga Kirana. Itu bukan sekadar senyuman tipis pelit emosi yang biasa ia tampilkan di rumah, bukan pula hembusan napas meremehkan. Melainkan sebuah tawa murni yang jujur.

Kirana seketika langsung membeku di tempat duduknya, matanya terpaku menatap wajah suaminya tanpa berkedip. Danendra yang menyadari perubahan ekspresi istrinya langsung menghentikan tawanya secara instan, kembali merapikan gurat wajah datarnya.

"Ada apa?" tanya Danendra, sedikit bingung.

Kirana masih belum mengalihkan pandangan matanya. "Kamu... baru saja benar-benar tertawa, Mas."

Danendra tampak mengerutkan alisnya samar. "Memangnya kenapa?"

"Kamu hampir tidak pernah tertawa seperti itu selama setahun ini di rumah."

"Itu bukan sebuah hal yang aneh, Kirana."

"Bagiku itu hal yang aneh," sahut Kirana pasti.

Danendra menggelengkan kepalanya pelan, membuang muka ke arah lain. Namun, Kirana bisa melihat dengan jelas bahwa sudut bibir suaminya masih menyisakan bekas guratan senyum tipis yang belum hilang. Pemandangan langka itu entah kenapa membuat Kirana ikut tersenyam lebih lebar.

"Aku jadi makin penasaran," kata Kirana memancing obrolan.

"Penasaran apa?"

"Hasil sketsa gambarmu, Mas."

"Tidak ada yang menarik dari gambar itu," jawab Danendra praktis.

Kirana langsung menyeringai puas, kepalanya sedikit miring menatap suaminya. "Kalau kamu menjawab seperti itu, berarti dugaanku benar. Gambarnya memang ada."

Danendra memilih diam tidak menyahut pembelaan diri istrinya. Namun bagi Kirana, diamnya suaminya sudah lebih dari cukup sebagai bentuk jawaban setuju.

"Nanti kalau kita sudah sampai di rumah Jakarta, suatu hari aku ingin lihat ya, Mas," pinta Kirana, binar matanya menuntut persetujuan.

"Nanti."

"Nanti itu kapan?"

"Nanti saja."

"Itu bukan sebuah jawaban yang jelas, Mas."

"Bagi duniaku, itu sudah menjadi sebuah jawaban," sahut Danendra lempeng.

Kirana mendengus pelan, pura-pura kesal. "Mas ternyata tipe orang yang keras kepala sekali ya."

Danendra menolehkan kepalanya santai, menatap mata Kirana. "Kamu... baru menyadari fakta itu sekarang?"

Kirana langsung tertawa renyah, rasa canggungnya menguap sepenuhnya ke udara malam. "Selama ini aku kira cuma aku saja yang keras kepala di rumah."

"Tidak," balas Danendra pendek.

"Berarti kita berdua sama?"

"Hm."

Mereka saling bertatapan selama beberapa detik di bawah temaram lampu gantung pendopo. Lalu tanpa ada yang merencanakan terlebih dahulu, keduanya tanpa sadar sama-sama tertawa kecil.

Momen tawa bersama itu terasa begitu istimewa bagi mereka. Tawa itu lahir bukan karena mereka sedang menjaga sopan santun formalitas di depan keluarga besar, bukan karena kewajiban akta pernikahan, dan bukan pula karena mereka harus terlihat akur di depan publik. Melainkan karena sebuah untaian percakapan sederhana yang murni benar-benar mereka nikmati bersama.

Malam makin larut. Suara gamelan dari pendopo utama terdengar semakin samar, digantikan oleh embusan sejuk angin malam. Obrolan di kursi kayu panjang itu justru mengalir semakin panjang tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.

Mereka membahas teman kuliah yang pernah membuat mereka kesal, makanan yang tidak mereka sukai, sampai kebiasaan buruk masing-masing saat tinggal di rumah. Dan di sela-sela cerita itulah, Kirana menemukan sebuah fakta mengejutkan yang tidak pernah ia duga bisa terjadi pada suaminya.

"Jadi... waktu zaman kuliah di luar negeri dulu, kamu pernah benar-benar tersesat, Mas?" tanya Kirana, matanya berkedip tidak percaya.

Danendra memberikan anggukan pelan. "Sampai enam jam."

Kirana langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa agar tidak meledak terlalu keras. "Enam jam? Serius, Mas?"

"Hm."

"Seorang Danendra Adipati bisa tersesat sepanjang itu?"

"Iya," sahut Danendra lempeng, meskipun wajahnya tampak sedikit masam karena memori lamanya diungkit.

"Kamu?" desak Kirana lagi, memastikan.

"Iya, Kirana."

Pertahanan Kirana akhirnya runtuh, tawa renyahnya pecah memenuhi sudut taman yang sepi. "Bagaimana bisa caranya seorang pria presisi sepertimu bisa tersesat, Mas?"

Danendra memalingkan wajahnya sekilas, membetulkan letak jam tangannya dengan kaku. "Aplikasi GPS di ponselku mendadak rusak waktu itu."

"Terus?" tanya Kirana, masih terpingkal-pingkal sampai sudut matanya sedikit berair.

"Aku merasa tahu jalan pintas menuju asrama."

"Lalu kenyataannya?"

"Ternyata dugaanku salah jalan," jawab Danendra pendek.

Tawa Kirana semakin keras terdengar, bahunya bergoyang hebat akibat geli membayangkan sisi ceroboh suaminya. Danendra menatap wajah istrinya dengan ekspresi datar yang dibuat-buat. "Kamu tampak sangat menikmati penderitaan masa laluku."

"Maaf, Mas. Maaf," kekeh Kirana sembari menyeka sudut matanya yang basah oleh air mata tawa. "Aku cuma... benar-benar tidak menyangka kalau kamu punya sisi manusiawi yang seperti itu."

"Kejadian itu cuma terjadi satu kali seumur hidupku," bela Danendra datar.

"Satu kali saja rasanya sudah cukup lucu untuk kuingat sepanjang tahun, Mas," goda Kirana, binar jenaka masih menghiasi wajah meronanya.

Danendra mengembuskan napas pendek melalui hidung, namun kali ini ia tidak bisa menahan seulas senyum tipis yang terbit di bibirnya. Menatap wajah Kirana yang tertawa lepas di sampingnya ternyata terasa jauh lebih menyenangkan daripada apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Jam di layar ponsel Kirana sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam tepat. Area halaman pendopo joglo kini sudah semakin sepi, sebagian besar tamu undangan telah resmi kembali ke kamar hotel masing-masing untuk beristirahat.

"Kita harus kembali ke hotel sekarang," ucap Danendra akhirnya, memecah kesunyian malam sembari bergerak membetulkan posisi duduknya.

"Iya, Mas." Kirana mengiyakan pelan.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bergerak bangkit berdiri dari kursi kayu panjang tersebut. Ada jeda keheningan selama beberapa detik di mana mereka berdua murni hanya diam terpaku di posisinya. Entah kenapa, suasana malam di pendopo tua itu terasa terlalu nyaman untuk segera diakhiri begitu saja oleh realita pulang.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi, lalu Kirana menolehkan kepalanya menatap wajah suaminya dari dekat. "Mas."

"Hm?"

Kirana menyunggingkan senyum tipisnya yang teramat tulus. "Terima kasih, ya."

Danendra memperhatikannya beberapa detik. "Untuk apa?"

"Untuk dua hari perjalanan di kota ini," jawab Kirana pelan.

Danendra tidak langsung memberikan jawaban verbal. Pandangan matanya beralih sejenak menatap pendar lampu-lampu taman kecil yang temaram, sebelum akhirnya kembali menatap lurus mata Kirana. "Sama-sama."

Sebuah jawaban sederhana yang teramat singkat. Namun, hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hati Kirana terasa ganjil, tapi hangat. Karena dulu, menghabiskan waktu berdua dengan Kirana selalu terasa seperti menjalankan kewajiban yang harus dilakukan. Kini tidak lagi. Masih ada rasa canggung yang tersisa di antara mereka, dan masih ada jarak tak kasatmata yang belum sepenuhnya terkikis hilang. Namun untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, jarak itu terbukti sudah tidak lagi terasa terlalu jauh.

Mereka akhirnya bangkit berdiri dan mulai melangkah kaki berjalan bersama kembali menuju area mobil jemputan penginapan. Langkah kaki mereka bergerak dengan ritme yang pelan, tidak terburu-buru membelah kesunyian koridor.

Di sepanjang perjalanan menuju mobil, obrolan mereka masih terus berlanjut. Tentang bakpia, tentang Yogyakarta, tentang hal-hal remeh yang bahkan tidak penting. Anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang ingin percakapan itu segera berakhir.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!