NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Arista menatap gawainya lama, ada sedikit keraguan di matanya. Tapi dia sudah memikirkan sejak beberapa bulan yang lalu. Dia sudah memantapkan hati, tak ada lagi berkeluh kesah.

Semua tak perlu di tangisi , sudah saatnya dia bangkit. Sudah cukup tiga bulan lebih dia meratapi. Dia harus kuat dan harus berani mengambil keputusan demi putra-putranya.

Hatinya sudah hambar , bahkan sudah hilang rasa. Tapi dia masih akan bertahan, bukan demi suaminya, tapi demi putra-putranya.

Karena ada beberapa hal yang harus dia selesaikan terlebih dahulu , sebelum dia melepaskan diri.

" Pak Anjas, apa hari ini ada waktu ,bisa kita ketemu di restoran biasa kita bertemu klien." Arista mencoba mengirim pesan kepada Anjas. Dan langsung centang biru dia.

" Kebetulan sekali, sekarang saya sedang makan siang di sini, Bu Arista. Kalau Bu Arista mau ke sini, saya tunggu." balas Anjas.

" Saya segera ke sana." balas Arsita.

" Baik, Bu Arista, saya siap menunggu kapan pun Bu Arista tiba di sini." tulis Anjas absurd.

Arista yang membaca pesan dari Anjas , menggelengkan kepalanya.

\*\*\*\*\*\*\*"\*\*

Setelah keluar dari restoran, Pramono tidak langsung kembali ke kantor. Dia ingin ke rumah sakit, menemui dokter Mirna. Dia hanya ingin meluruskan masalah yang tadi.

Tak berapa lama, Pramono sudah sampai di depan ruang praktek dokter Mirna. Dengan ragu dia mengetuk pintu pelan.

Sengaja dia tidak memberi tahukan kedatangannya, karena sudah pasti dia akan menolaknya.

Tokk...tok..tok. Sepi

Sekali lagi Pram mengetuk pintu dengan sedikit keras. Tapi tetap tak ada jawaban dari dalam.

" Maaf, Pak. Dokter Mirna sepertinya sudah pulang. Karena tadi mengeluh kepalnya sakit." seorang perawat yang kebetulan lewat, memberi tahu Pram.

" Oh...sudah pulang ya, sus. Terima kasih sus, infonya. Kalau begitu saya permisi." pamit Anjas.

" Sama-sama, Pak. Silahkan." jawab perawat itu.

Tak lama setelah Pram berlalu, perawat tadi tampak menghubungi seseorang.

" Sudah,dok. Orang yang dokter maksud sudah pergi."

"Bagus. Terima kasih, sus. Kerja samanya." jawab suara dari seberang telepon.

" Sama-sama, dok." perawat itu menutup teleponnya. Dan melanjutkan tugasnya kembali.

[ Mau apalagi dia menemuiku. Tadi sudah di jelaskan kalau dia nggak mau di anggap duri di dalam rumah tangganya]

[Kenapa juga masih nggak punya malu mencariku. Walaupun pada kenyataannya semuanya sudah salah dari awal. Seharusnya aku tak terlalu masuk ke dalam urusan rumah tangga orang]

[ Sekarang harus bagaimana, ternyata benar, tak ada istilah sahabat antara laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa].

Mirna sebetulnya masih berada di dalam ruang kerjanya, tapi dia sengaja tak membukakan pintu. Karena dia tahu Pram yang ada di luar.

Mirna mencoba minta tolong pada salah satu perawat, untuk mengintai dan memfoto orang yang sedang mengetuk pintu.

Dan ternyata tebakannya benar. Pram sudah berada di depan pintu ruang prakteknya. Mirna yang masih memegang hpnya, buru-buru langsung di mode silent. Khawatir nada deringnya terdengar sampai ke luar ruangan.

Pram yang penasaran, mencoba menghubungi ke gawai Mirna. Tapi beberapa kali tak ada mengangkatnya.

"Arrggghh" Pram tampak kesal dan jengkel. Di acaknya rambut dengan ke dua tangannya.

Mirna menatap gawainya yang bergetar. Beruntung tadi dia cepat-cepat mengubah hpnya ke mode silent.

Mirna mendengus kesal. Tak seharusnya dia menghindar , tapi dia memang sudah merasa jenuh dan ingin mengakhirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!