Rivera Briar Edwina seorang siswa yang mengalami kecelakaan akibat tertabrak mobil dan jiwanya berpindah ke tubuh Aluna Effie Alfred seorang istri yang sangat dibenci oleh suaminya aiden Cristian edgar karena adiknya kecelakaan akibat tertabrak oleh mobil yang ditumpangi aluna. Tidak hanya itu aluna bahkan anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarga kandungnya dan menyalahkan aluna yang menyebabkan kecelakaan dan meninggal ibu aluna semenjak ayahnya menikah lagi dan membawa anak tirinya hubungannya dengan keluarga tidak pernah baik. Akankah vera yang menjadi aluna bisa melewatinya, atau memilih untuk menyerah atau akankah aluna akan mencari kasus kecelakaannya?
episode 26
Pukul sudah menunjukan 02:00 pagi saat ini aluna membolak balikkan badan untuk berusaha bisa tidur, tapi terap tidak bisa padahal dirinya sudah meminum obat tidur tapi tetap tidak bisa tidur juga. Hal itu membuat aluna frustasi. Aluna pun terduduk.
"Gila parah banget gue masih belum bisa tidur juga" seru aluna yang merasa frustasi.
"Ayolah lun, lo harus tidur besok lo harus kerja" gumam aluna yang berusaha memejamkan matanya.
Sedangkan aiden sendiri dirinya baru selesai menyelesaikan perkerjaan dan ingin tidur, tapi tiba tiba ia teringat dengan aluna tapi dia pun mendadak kesal dengan perkataan aluna yang terakhir kali.
Aiden pun merebahkan dirinya diatas kasur, dan berusaha untuk memejamkan matanya tanpa harus berpikir soal aluna karena aiden tidak mau ambil pusing. Niat ingin mengistirahatkan diri malah tidak bisa pikiran selalu menuju ke aluna seperti akan terjadi sesuatu. Aiden pun duduk di atas kasurnya dia menggusar rambutnya dengan kasar.
Huft... Aiden menghembuskan nafasnya dengan kasar, lama aiden melamun entah apa yang dia pikir, hingga aiden pun beranjak dari duduknya dan menemui aluna untuk memastikan apakah aluna sudah tertidur.
Sesampainya dikamar aluna aiden tanpa mengetuk pintu langsung membuka pintu kamar aluna. Aiden sedikit terkejut melihat aluna yang sudah memegang suntik dan ingin menyuntikkan dilengan aluna sendiri.
Aluna yang melihat kedatangan aiden secara tiba-tiba dia terhenti dan melihat kearah aiden dengan mata yang membola. Aiden mendekati aluna dirinya langsung menghempaskan suntik itu dari tangan aluna begitu saja. Aluna yang melihat aksi aiden itu pun mendadak kesal.
"Lo apa apan sih? " kesal aluna
"Seharusnya gue yang tanya apa maksud lo? " bentak aiden yang membuat aluna terkejut.
"Apa, kenapa lo yang marah? " ucap aluna. Sedikit takut melihat kemarahan aiden. Aiden yang melihat respon aluna yang takut itu pun membuang nafasnya dengan kasar.
Huft..
"Sekarang gue tanya sama lo apa maksud lo itu tadi? " tanya aiden dengan nada sedikit melunak.
"Gue cuman mau tidur, tapi tidak bisa, gue udah minum obat tidur masih tidak mempan juga jadi gue cuman pakai cara terakhir yaitu dibius, jadi gue mau bius diri gue sendiri agar bisa tidur" lirih aluna. Mendengar penuturan itu pun aiden mengangkat kepalanya dan memejamkan matanya. Lalu dia melihat kearah aluna.
"Kalau lo tidak bisa tidur kenapa tidak panggil gue, segitunya lo tidak suka sama gue, apa lo tahu bius yang lo pakai, itu bukan bius sembarangan itu bius untuk buat orang mati, lo mau mati disini? Apa lo tidak sayang sama nyawa lo sendiri?" bentak aiden.
" gue cuman tidak mau ganggu istirahat lo aja, lagian juga gue tidak tahu kalau gue pakai bius itu, gue cuman mau tidur"ucap aluna membuang mukanya dengan suara sedikit gemetar manahan tangis, karena kasus seperti ini saat dirinya menjadi vera tidak ada yang perduli soal insomnianya, karena tidak ada juga yang memperhatikannya, orang tuanya hanya tahu memarahi dirinya karena selalu bangun lambat dan selalu terlambat kesekolah. Tapi tidak ada yang bertanya kenapa dirinya bangun lambat.
Aiden yang mendengar itu memijat pelipisnya, dirinya berjalan lalu duduk tepat di didepan aluna, menatap aluna yang masih membuang muka padanya. Aiden memegang tangan aluna.
"Maaf gue tidak bermaksud buat lo sedih tapi gue tidak suka cara lo menganggap gue seperti orang luar, bahkan lo enggan untuk meminta batuan pada sana gue, gue marasa marah, gue ini suami lo lun, apa lo tidak bisa terbuka sedikit sama gue, gue tahu dulu gue salah sama lo bahkan sampai sekarang juga gue masih salah sama lo tapi, bisa tidak lo sesekali mengandalkan gue, bersandar sama gue dan menganggap gue ini sebagai suami lo, senang dan sedih lo bagi dengan gue, jujur saja gue merasa seperti orang asing dimata lo, lo bisa sedekat itu sama lucas dan berbagi cerita sama lucas tapi lo seolah mau menghindar dari gue, gue cuman minta sama lo bisa tidak lo menganggap gue sebagai suami lo" tutur aiden panjang lebar mengusap usap punggung aluna. Aluna pun melihat kearah aiden dan lalu dia tertunduk.
"Maaf" lirih aluna.
"Bukan bermaksud menghindar tapi gue udah biasa sendiri" sambungnya lagi. Mendengar itu aiden pun mengadahkan kepalanya menutup matanya sebentar lalu menatap langit langit. Emang sejak awal adalah salahnya jika saja dia tidak mengabaikan aluna mungkin saja aluna sedikit bergantung dengannya walaupun sedikit, selama ini aluna emang selalu mandiri jadi wajar jika aluna melakukannya sendiri tanpa memerlukan aiden karena semenjak mereka menikah aluna hanya menumpang makan dan tidur saja.
"Gue minta maaf kalau gue udah bikin lo menderita tinggal sama gue" seru aiden.
"Eh.. "
"A-ah ha.. Ha... Ha.. I-ya, gue hanya tidak suka saja kalau gue harus berbagi pria dengan wanita lain " sebaliknya aluna karena teringat lula yang selalu menempel pada aiden.
"Gue lebih baik mengalah dari pada harus berebut satu pria, kayak tidak ada pria lain saja di dunia ini" seru aluna. Yang membuat aiden bingung harus berkata apa. Aluna manatap lekat aiden.
"Gini aja deh dari pada lo mempertahankan hubungan kita yang tidak jelas lebih baik-"
"Tidak ada, apa lo pikir pernikahan ini hanya permainan saja"
"Lah lo yang menganggap pernikahan ini hanya permainan jika tidak kenapa lo bermain di belakang" skakmat hal itu membuat aiden diam seribu bahasa.
"Sudahlah gue tidak mau membahas ini lagi, jujur gue lelah" seru aluna dia naik keatas kasur dan ingin merebahkan dirinya. Tapi tiba tiba dia kaget saat aiden ikutan naik ke kasur aluna.
"Mau apa lo? " tanya aluna dengan waspada.
"Mau tidur " jawab aiden menaikkan satu alisnya.
"Lo udah tidak punya tempat tidur lagi atau tempat lo udah kebocoran?"tanya aluna
"Tidak" jawab aiden sambil menggelengkan kepalanya.
"Jadi? "
"Menurut lo, emang lo bisa tidur dengan ini sudah pagi sudah pukul setengah tiga pagi, mau jam berapa lagi tidur? " seru aiden membuat aluna terdiam dia melihat kearah jam dinding emang benar jam sudah menunjukan pukul 02:35.
Tanpa izin aluna aiden langsung naik keatas kasur dan menyelimuti dirinya lalu menarik aluna. Hal itu membuat aluna terkejut bahkan sampai melotot.
Aluna yang ini bangkit dari atas tubuh aiden namun aiden mengeratkan pelukannya yang membuat aluna makin tidak bisa bergerak.
"Den? " panggil aluna
"Hm"jawab aiden dengan mata tertutup
"Eh, ternyata belum tidur" gumam aluna. Aluna menatap aiden dengan lekat, tidak bisa dipungkiri ternyata suaminya ini tampan juga jika dilihat, dengan paras yang mulus, bulu mata yang lentik, dan bibir yang tebal, saat ini pikiran aluna sudah mulai mulai terkontaminasi.apalagi saat dia melihat kearah tangannya yang menempel dibidang dada aiden membuatnya semakin punya pikiran liar.
Plak..
Aluna menampar dirinya sendiri.
𝘼𝙮𝙤 𝙙𝙤𝙣𝙜 𝙖𝙡𝙪𝙣𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙘𝙪𝙢𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙜𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙟𝙖 𝙡𝙤 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙜𝙤𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙖𝙣, 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙞𝙢𝙖𝙣 𝙡𝙤 𝙩𝙞𝙥𝙞𝙨 𝙖𝙡𝙪𝙣𝙖 batin aluna.
𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜, 𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙡𝙪𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠 𝙡𝙤 batin aluna. Menjatuhkan kepalanya ke dada aiden
𝙀𝙝, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙤𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙙𝙞 𝙡𝙚𝙬𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙨𝙪𝙡𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙥𝙖 bantinnya lagi sambil tersenyum senyum sendiri, aluna menaikkan wajahnya.
Dia mulai meraba-raba wajah aiden apa lagi dibagian bulu mata aiden saat aluna menyentuhnya dia benar-benar senang saat aluna ingin lanjut ke hidung tiba tiba aiden berbicara.
"Jika suka, bisa sentuh lebih" hal itu membuat aluna terhenti. Dan langsung menjatuhkan wajahnya, aiden membuka sebelah matanya melihat aluna yang malu membuatnya tersenyum. Aiden mempererat pelukannya.