Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 2 -LABIRIN TANPA UJUNG (4)
Arta dan Elian mendongak. Di atas mereka, jumlah monster laba-laba batu raksasa itu mulai bertambah. Bayangan kaki-kaki pilar mereka bergerak lambat namun pasti, mulai menutup celah langit-langit labirin.
"Di mana yang lainnya?" tanya Elian tanpa mengalihkan pandangan.
"Mereka sedang mencari tempat untuk menyembunyikan Raylen. Reldia pernah bilang kalau Raylen tidak akan bisa berbuat banyak melawan musuh non-organik seperti ini," jawab Arta.
"Apakah mereka akan kembali?"
"Entahlah. Mereka itu petualang, terkadang sifat mereka sulit ditebak," jawab Arta dengan gurat ragu di wajahnya.
"Baiklah, mari kita hadapi mereka sampai yang lain datang!" seru Elian.
Pedang di tangannya kembali menyala terang. Elian melesat ke depan. Saat ia mendekati salah satu monster, pilar batu raksasa yang berfungsi sebagai kaki monster itu terangkat tinggi, bersiap menghujam tubuh Elian.
Namun, Arta bergerak lebih cepat. Ia merapalkan sihirnya, menciptakan ledakan energi Mana tepat di belakang sendi kaki monster itu. Guncangan tersebut membuat serangan si monster menjadi tidak terarah dan menghantam lantai dengan meleset.
"Angkat aku, Arta!" teriak Elian. Arta langsung mengerti; ia menggunakan sihir angin untuk mendorong tubuh Elian, menerbangkannya cukup tinggi hingga melampaui jangkauan kaki-kaki pilar tersebut.
"Rasakan ini!" Elian memusatkan energi Mana di sekitar ujung pedangnya.
Ia melesat turun dan menghantam punggung laba-laba itu dengan keras. Serangan itu menciptakan efek ledakan yang merambat ke dalam tubuh batu targetnya, merusak struktur internal monster itu, namun belum cukup untuk menghentikannya sepenuhnya.
"Ternyata serangan tadi masih kurang kuat. Sayang sekali, pedangku sudah mencapai batasnya untuk menampung kekuatan yang lebih besar," ucap Elian saat mendarat kembali di lantai labirin.
Melihat kondisi monster yang sudah retak, Arta kembali melepaskan ledakan Mana. Karena tubuh monster itu sudah cukup rusak akibat serangan Elian, ledakan tambahan dari Arta kali ini berhasil menghancurkannya hingga berkeping-keping.
Baru satu yang hancur, namun masih ada puluhan lainnya yang merayap turun.
"Itu tadi cukup cepat, tapi pedangku benar-benar sudah tidak sanggup lagi," ucap Elian sambil menatap bilah senjatanya yang mulai retak.
Tiba-tiba dari lorong di belakang mereka, Reldia, Grom, dan Lilia datang berlari.
"Hei kalian! Kami ikut membantu!" teriak Grom.
Seekor laba-laba raksasa lainnya menyerang dari arah berbeda, meluncurkan pilar kakinya dengan sangat cepat. Reldia segera menyadari itu; ia mengangkat perisainya yang telah dilapisi mantra sihir penguat. Dentang! Serangan pilar batu itu tertahan telak oleh pertahanan Reldia.
Grom maju menerjang, menghantam kaki monster itu dengan palu raksasanya. Kaki batu itu hancur berantakan karena palu Grom telah diperkuat dengan mantra sihir penghancur.
"Rasakan itu! Tapi bagaimana cara aku mencapai tubuhnya yang ada di atas sana?" ucap Grom sambil menatap tubuh raksasa yang menggantung jauh di atas kepala mereka.
Sesaat kemudian, sebuah anak panah cahaya melesat dengan kecepatan tinggi, nampak seperti peluru perak di kegelapan. Serangan itu menghantam sendi atas laba-laba raksasa tersebut dan memutuskan salah satu kakinya.
"Oh, ternyata bisa dijatuhkan," ucap Lilia santai. Ia kembali melepaskan rentetan anak panah serupa hingga monster itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terhempas ke lantai labirin. Begitu tubuh raksasanya terjepit di lorong sempit, Grom dan Reldia dengan mudah menghancurkannya.
Pertarungan berlangsung cukup lama hingga tidak ada lagi laba-laba batu yang muncul dari atas.
Elian telah mengeluarkan banyak tenaga, namun ia tidak kehabisan kekuatan. Hanya saja, ia harus merelakan pedangnya yang kini hancur total karena tidak kuat menahan beban kekuatan Pahlawan. Arta, yang memiliki kapasitas sihir besar, hanya terlihat sedikit kelelahan.
Reldia dan Grom nampak paling bersemangat; mereka tidak terlalu lelah karena hanya perlu menghabisi monster yang sudah jatuh. Sebaliknya, Lilia adalah yang paling kelelahan.
Menciptakan panah cahaya yang mampu memutus kaki batu membutuhkan pasokan sihir yang sangat besar. Beruntung, ia membawa tas berisi puluhan botol penambah Mana dari Raylen untuk memulihkan kekuatannya.
"Akhirnya kita menang!" teriak Grom keras.
Reldia langsung menendang kaki Grom. "Jangan berisik! Kau mau memanggil lebih banyak lagi?"
Mereka pun segera kembali ke tempat Raylen bersembunyi. Di sana, Raylen telah menyiapkan berbagai ramuan untuk memulihkan kondisi mereka.
Sebuah portal sihir kecil juga terlihat mengambang di dekat Raylen—sebuah sihir ruang yang cukup luas untuk menyimpan banyak barang. Itu adalah kemampuan yang sangat langka, dan orang orang yang mempunyainya biasanya merahasiakannya dari orang lain.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat