Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Positif
Selesai jam kuliah, Leya mampir sejenak di sebuah minimarket. Tujuannya jelas, ingin membeli alat tes kehamilan yang membuatnya ragu, bimbang sekaligus malu.
Sudah lebih dari setengah jam ia berada di rak yang terdapat banyak merk dan jenis alat tes kehamilan. Mulai dari yang paling murah, sampai yang paling mahal semuanya berjajar rapi disana.
Leya celingak-celinguk. Seperti pencuri yang takut ketahuan saat sedang beraksi. Masker wajah ia tutup rapat-rapat. Takut jika ada orang lain yang mengenali dirinya. Apalagi lokasi minimarket itu tidak terlalu jauh dari kampusnya.
"Aku harus pilih yang mana?" gumamnya. Bertanya pada dirinya sendiri yang tentu masih sangat awam tentang kehamilan.
Sebenarnya bulan ini ia belum terlambat datang bulan. Tapi karena Angkasa menyinggung soal anak dan dari ekspresinya yang sangat meyakinkan. Leya jadi tergugah untuk mencobanya.
Keringat sudah membasahi pelipisnya. Padahal suhu AC di minimarket itu lumayan dingin. Tetapi rasa gugup dan takut yang teramat besar, membuat kelenjar keringatnya mengeluarkan air lebih banyak.
Setelah memilih cukup lama. Akhirnya pilihannya tertuju pada satu brand yang ia lihat cukup sering seliweran akun sosial media miliknya. Ia kembali celingukan, lalu melangkah cepat menuju ke kasir untuk membayar tagihan.
"Harganya 45 ribu mbak!" ucap penjaga kasir yang sialnya seorang pria muda.
Leya cepat mengambil uang, pecahan 50 ribu lalu pergi begitu saja tanpa menunggu kembalian.
"Mbak kembaliannya?" ucap penjaga kasir, sambil memberikan uang pecahan 5 ribuan.
Tapi Leya sudah terlanjur melangkah jauh. Ia tidak peduli dengan panggilan kasir tersebut. Ia melangkah cepat dari tempat itu, karena ia melihat dua orang teman kuliahnya sedang menunju kesana.
Leya kembali ke apartemen, menggunakan ojek online. Karena Angkasa tidak bisa menjemput sebab sedang ada urusan penting dengan rekannya.
Dag! Dig! Dug!
Jantungnya berdegup kencang saat ia sudah berada di dalam kamar mandi. Sedang membaca cara menggunakan alat tes kehamilan tersebut.
Setelah mengerti, Leya mulai menggunakannya. Mengikuti setiap langkah demi langkah sesuai dengan yang ada di balik kemasan.
Ia menunggu. Menunggu dengan penuh harap, bahwa hasilnya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu mengapa ia jadi ingin punya anak. Entah karena faktor Angkasa yang menginginkannya... atau karena ia sendiri yang ingin memilikinya.
5 menit berlalu dengan cepat. Sangat cepat, sampai ia sendiri belum siap untuk melihat hasilnya.
"Kira-kira positif atau negatif ya?" gumamnya.
Dengan tangan yang gemetar, Leya mulai mengambil benda stik berbentuk panjang itu. Matanya terpejam, takut dan belum siap untuk melihat hasilnya tapi ia jadi ga penasaran.
Leya menarik napas dalam-dalam. Lalu membuangnya dengan berat sambil membuka matanya perlahan. Ia mulai mengintip, sedikit demi sedikit hingga kedua matanya terbuka dengan lebar.
"Dua garis!" ucapnya dengan alis yang berkerut. "tapi kenapa yang satunya samar?"
Leya kembali membaca instruksi dari kemasan. Tidak ada penjelasan tentang dua garis tapi salah satunya samar.
"Ini tandanya aku hamil atau tidak?" Leya kebingungan sendiri.
Tapi untuk menjawab rasa penasarannya. Ia mengambil ponsel, membuka aplikasi Ai yang bisa menjawab pertanyaan itu.
"Jadi yang seperti ini juga bisa dikatakan hamil. Tapi karena belum terlambat makanya garis yang satunya jadi samar,"
Mengetahui fakta itu Leya menangis haru. Rasanya campur aduk, antara senang, bingung juga takut. Tapi yang terpenting, bagaimana reaksi Angkasa saat mengetahuinya nanti. Apakah pria itu akan bahagia seperti saat ia menyinggung soal anak kemarin. Atau justru ia malah berubah tidak menginginkannya?
"Jangan berfikir yang tidak-tidak!" Leya menggeleng, membuang prasangka buruk dari dalam otaknya.
Ponsel masih ada ditangannya. Tadinya, ia ingin langsung memberitahu Angkasa jika ia sedang hamil. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Karena sepertinya memberitahukan secara langsung jauh lebih menarik.
Di sebuah restoran...
Angkasa sedang bertemu dengan salah satu rekan bisnis yang cukup dekat dengannya. Bimo namanya.
Pria paruh baya itu sedang mendengarkan penjelasan Angkasa tentang proposal rencana untuk ia membuka perusahaan sendiri.
Ya, saat ini ia sedang berusaha mencari investor. Membuka perusahaan baru, adalah salah satu jalan yang ia pilih untuk kembali bangkit dari keterpurukan.
"Jadi bagaimana Pak Bimo! Apa anda tertarik untuk bergabung?" tanya Angkasa dengan penuh harap. Setelah ia selesai menjelaskan semuanya.
Bimo menegakkan tubuhnya. Sepertinya ada yang ia tutupi sejak tadi.
"Bagus! Perusahaan yang akan Pak Angkasa dirikan sangat menjanjikan dan berpotensi untuk maju. Tapi maaf, saat ini saya belum berminat untuk investasi disana!"
Senyum Angkasa menghilang. Tapi demi profesionalitas senyum itu kembali ia perlihatkan. "Kenapa begitu Pak Bimo? bukankah bapak sendiri yang bilang jika perusahaan ini sangat menjanjikan?"
Rasa bersalah terlihat sekali diwajah tua itu. Sejak tadi ia tidak bisa duduk dengan tenang. Gelisah? Tentu saja. Tapi sayangnya ia tidak bisa memberitahukan alasan yang sebenarnya.
"Pasti anda diancam oleh pria tua itu kan?" tebak Angkasa tepat sasaran.
Bimo mengangguk pelan. "Maafkan saya Pak Angkasa? bukannya saya tidak mau bergabung dengan anda. Tapi Ayah anda dan Ibu Sukma mengancam saya dengan pembatalan seluruh kontrak kerja dengan mereka. Yang mana jika dibatalkan, perusahaan saya pasti akan gulung tikar."
Angkasa mengepalkan tangan. Hari ini sudah lebih dari 3 orang yang ia temui untuk diajak bekerjasama. Tapi semuanya menolak dengan alasan yang sama.
"Maafkan saya Pak Angkasa?" ucap Bimo untuk yang kesekian kalinya.
Angkasa hanya bisa mengangguk. ia tidak bisa menyalahkan mereka. Karena perusahaan milik ayahnya dan milik Sukma termasuk dua perusahaan besar.
Setelah Bimo pergi, Angkasa memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ia marah, sangat marah. Yetapi dengan keadaannya yang sekarang, ia belum bisa melawan dua perusahaan besar itu.
"Ternyata mereka tidak melepaskan ku begitu saja! Mereka ingin aku mati langkah dan menyerah!" gumamnya.
Tapi Angkasa tidak akan pernah menyerah. Walaupun sebelumnya ia tidak menduga jika hal ini akan terjadi. Namum ia sudah bulat pada tekadnya, untuk tidak lagi berurusan dengan kedua keluarga itu.
Angkasa keluar dari restoran. Tapi saat dia akan masuk ke dalam mobil yang baru ia beli kemarin. terdengar suara yang sangat familiar di belakangnya.
"Menyerahlah Angkasa!" ucap Sukma yang sedang melangkah menuju ke arahnya. "tidak akan ada satu perusahaan pun yang akan bergabung padamu!"
Angkasa berbalik. Ia semakin benci dan semakin muak melihat wajah wanita itu.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyerah. Aku masih memiliki 1000 jalan hidup lain yang bisa aku tempuh bersama kekasihku! terserah kalian mau melakukan apa, Aku sama sekali tidak peduli!" ucapnya.
Setelah itu ia masuk ke dalam mobil, meninggalkan restoran dengan segera. Tanpa memberikan Sukma kesempatan untuk kembali bicara.
"Kamu terlalu keras kepala, Angkasa! suatu hari nanti, kamu pasti akan berbalik dan berlutut di kakiku!" geram Sukma.
Ia marah dan tidak terima dengan penolakan Angkasa. Ia sudah berusaha menutup jalan pria itu dari berbagai sisi. Tetapi pria itu masih juga tidak mau menyerah. Padahal sebelumnya ia sangat yakin, jika dengan cara ini pasti bisa membuat Angkasa kembali ke pelukannya.