NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Uap air masih menyelimuti kamar mandi saat Jati melangkah keluar.

Rambutnya yang basah berantakan, dan ia hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang masih berhias sisa tetesan air.

Ia berniat segera mengambil pakaian di lemari agar aroma tubuhnya tidak membuat istrinya mual lagi.

Namun, baru saja ia melewati tempat tidur langkahnya terhenti.

Lintang, yang tadinya begitu galak mengusir Jati karena bau martabak dan parfum, tiba-tiba berdiri.

Tanpa aba-aba, ia menghampiri Jati dan langsung melingkarkan lengannya di pinggang suaminya.

Wajahnya disembunyikan di dada Jati yang masih basah dan dingin.

Jati mematung sejenak, tangannya yang baru saja ingin mengambil sisir kini menggantung di udara.

Ia menunduk, menatap pucuk kepala istrinya yang memeluknya begitu erat.

"Lho? Sayang?" Jati terkekeh pelan, tangannya akhirnya mendarat di bahu Lintang, mengusapnya lembut.

"Tadi mual, sekarang malah mendekat. Katanya tadi Mas baunya wangi banget sampai bikin pusing?"

Lintang tidak melepaskan pelukannya, justru semakin erat mengeratkan pegangannya.

Ia menghirup aroma sabun mandi bayi yang baru saja dipakai Jati—sabun yang sengaja Jati pilih agar aromanya lembut dan tidak menyengat.

"Tadi itu martabaknya yang wangi, Mas. Kalau sekarang, Mas baunya enak. Segar," gumam Lintang dengan suara teredam di dada Jati.

"Jangan pergi dulu, ya? Mau begini sebentar."

Jati tersenyum lebar, rasa lelahnya setelah berurusan dengan Andre dan urusan kantor seketika menguap.

Ia mengecup puncak kepala Lintang berkali-kali. "Tadi diusir sampai ke pintu luar, sekarang dicari-cari. Kamu ini benar-benar bikin Mas bingung, Lintang."

"Habisnya, anak kamu yang mau, Mas. Bukan aku," kilah Lintang manja, sambil mendongak menatap Jati dengan mata yang berbinar jenaka.

Jati menyentil hidung Lintang gemas. "Oh, jadi sekarang pelakunya si kecil ini, ya? Pintar sekali dia mencari alasan supaya Bundanya bisa peluk Ayahnya terus."

Lintang tertawa kecil, ia melepaskan pelukannya sebentar hanya untuk mengambil sepotong martabak telur yang masih tersisa di piring, lalu menyuapkannya ke mulut Jati.

"Nih, hadiah karena sudah mandi bersih dan wangi sabun bayi."

Jati menerima suapan itu dengan patuh. Sambil mengunyah, ia memperhatikan wajah Lintang yang kini tampak jauh lebih segar dan bahagia.

Jati menghentikan kunyahannya sejenak saat merasakan getaran di ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidur.

Ia meraih benda itu, membuka satu pesan singkat yang masuk dari nomor Andre.

“Kami sudah di bandara. Pesawat berangkat sebentar lagi. Terima kasih untuk kesempatannya, Jat. Kami tidak akan pernah kembali lagi. Selamat atas kehamilan Lintang.”

Jati menatap layar itu dengan tatapan datar, ada rasa lega yang menyelinap di hatinya. Akhirnya, duri dalam kehidupan mereka benar-benar tercabut sampai ke akarnya.

"Dari siapa, Mas?" tanya Lintang yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi suaminya.

Tangannya masih memegang potongan terakhir martabak telur.

Jati meletakkan ponselnya kembali dengan posisi layar menghadap ke bawah.

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum menenangkan ke arah Lintang.

"Dari Andre," jawab Jati lembut.

"Dia memberitahukan kalau dia sudah membawa Mila ke bandara. Mereka akan meninggalkan negeri ini untuk selamanya, Sayang."

Lintang tertegun sejenak. Ada kilas balik ingatan tentang tamparan Mila dan gudang pengap itu, namun segera sirna saat ia melihat binar kasih sayang di mata Jati.

Lintang mengangguk pelan, seolah melepaskan semua beban masa lalunya bersamaan dengan perginya wanita itu.

"Syukurlah kalau begitu. Semoga mereka bisa memulai hidup yang lebih baik di sana, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama," ucap Lintang tulus.

Jati terpukau dengan kebaikan hati istrinya. Ia merengkuh bahu Lintang, menariknya kembali ke dalam pelukan yang hangat.

"Kamu terlalu baik, Lintang. Tapi sekarang, yang paling penting adalah kita. Kita, dan calon anak kita ini."

Jati mengecup kening Lintang dengan sangat lama, seolah ingin menyegel janji bahwa mulai detik ini, hanya akan ada kebahagiaan yang menyelimuti rumah tangga mereka.

"Mas, sudah, ah. Masih pakai handuk begini kok peluk-peluk terus," protes Lintang sambil tertawa kecil, meskipun ia sendiri tidak berusaha melepaskan diri.

"Biarin. Mas mau tebus waktu yang hilang gara-gara urusan mereka tadi," bisik Jati jenaka, membuat rona merah di pipi Lintang semakin nyata.

Jati tertawa rendah, suara basahnya terdengar begitu maskulin di telinga Lintang.

Ia semakin mengeratkan pelukannya, membiarkan sisa tetesan air dari rambutnya jatuh ke bahu Lintang.

Matanya berkilat jenaka, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan namun penuh kasih.

"Olah raga sebentar yuk, Sayang? Siapa tahu si kecil di dalam sana kangen mau dijenguk Ayahnya," bisik Jati tepat di telinga Lintang, suaranya serak menggoda.

Pipi Lintang seketika merona merah padam. Ia memukul pelan dada bidang Jati yang masih polos tanpa baju itu.

"Ishh... Mas bisa aja! Masih pakai handuk begini sudah ngomong yang aneh-aneh!"

Jati justru semakin gemas melihat reaksi istrinya. Ia mengangkat tubuh Lintang dengan satu gerakan sigap, membuat Lintang memekik kecil dan refleks mengalungkan lengan di leher Jati.

"Mas! Turunkan! Nanti handuknya lepas!" seru Lintang panik namun sambil tertawa.

"Biarkan saja. Di sini kan cuma ada kita berdua," jawab Jati santai sambil melangkah menuju ke tempat tidur mereka.

"Bukankah Dokter tadi bilang kamu harus bahagia, kan? Dan membuat suamimu bahagia adalah bagian dari ibadah, Nyonya Jati."

Lintang hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jati, tak sanggup menahan rasa malu sekaligus bahagia yang membuncah.

Di dalam kamar yang pencahayaannya mulai meredup, Jati merebahkan Lintang di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang meletakkan harta paling berharga di jagat raya.

Malam itu, di balik jendela apartemen yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta, Jati dan Lintang merayakan cinta mereka dengan cara yang paling manis.

Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu, tidak ada lagi ketakutan akan pengkhianatan. Yang ada hanyalah janji untuk saling menjaga, demi masa depan mereka dan nyawa kecil yang kini menjadi pusat semesta baru bagi Jati Pratama.

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke dalam kamar, menyinari Lintang yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun yang segar.

Meskipun rasa mual masih sesekali menyentak perutnya, Lintang mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: Bu Rani.

"Halo, Assalamualaikum, Bu Rani?" sapa Lintang lembut setelah mengangkat telepon.

"Waalaikumsalam, Lintang. Aduh, Lintang, Ibu pegal-pegal sekali ini, badan rasanya kaku semua. Bisa ke rumah Ibu sebentar? Tolong pijat seperti biasa ya, Nak," suara Bu Rani terdengar memohon di seberang sana.

Lintang terdiam sejenak. Ia teringat profesinya yang dulu telah mempertemukannya dengan Jati.

Ada rasa tidak enak hati untuk menolak pelanggan setianya. Namun, sebelum Lintang sempat menjawab, sebuah tangan kekar merebut ponsel itu dengan gerakan kilat.

Jati, yang baru saja selesai memakai kemeja kerjanya namun belum dikancingkan, berdiri di samping Lintang dengan wajah yang mendadak kaku.

"Siapa, Sayang?" tanya Jati, suaranya rendah namun mengandung selidik.

"Bu Rani, Mas. Pelanggan pijatku yang dulu. Beliau minta dipijat karena badannya pegal-pegal," jawab Lintang jujur, menatap Jati dengan ragu.

Mendengar kata 'pijat', rahang Jati seketika mengeras.

Matanya berkilat, menatap Lintang dengan tatapan protektif yang sangat tajam.

"NO!!" ucap Jati dengan nada tegas dan volume yang cukup keras, membuat Lintang sedikit terlonjak.

Jati langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu persetujuan Lintang.

Ia meletakkan ponsel itu jauh-jauh dari jangkauan istrinya.

"Mas, kok dimatikan? Tidak enak sama Bu Rani, beliau sudah langganan lama," protes Lintang pelan.

Jati melangkah mendekat, mencengkeram lembut kedua bahu Lintang dan memaksanya menatap matanya.

"Lintang, dengarkan Mas. Kamu sedang hamil. Jangankan memijat orang lain, berdiri terlalu lama saja Mas khawatir. Kamu tidak boleh lagi bekerja seperti itu. Titik."

"Tapi Mas, aku merasa tidak enak kalau cuma diam saja di rumah..."

"Kalau kamu mau memijat, pijat Mas saja nanti malam. Itu pun kalau kamu tidak capek," potong Jati, suaranya sedikit melunak namun tetap tidak terbantahkan.

"Mulai hari ini, Mas akan minta asisten Mas untuk mengirimkan bingkisan ke rumah Bu Rani sebagai tanda permohonan maaf karena kamu sudah pensiun. Kamu adalah Nyonya Jati Pratama sekarang, tugasmu hanya menjaga kesehatanmu dan anak kita."

Jati mengecup kening Lintang dengan protektif. "Mas tidak mau tangan yang halus ini kelelahan karena mengurusi pegal-pegal orang lain. Paham, Sayang?"

Lintang hanya bisa mengembuskan napas panjang, menyadari bahwa suaminya benar-benar telah mengubahnya menjadi 'ratu' yang tidak boleh menyentuh pekerjaan kasar sedikit pun.

1
tiara
udah Mila urus saja hidupmu jangan mengganggu Jati kalau ga mau dipenjarain sama dia tau rasa kamu
tiara
nah kan Mila sepertinya kali ini nasibmu lebih buruk lagi ya
tiara
apakah akan berhasil Mila mila kirain udah insyaf eh tetap saja ga betubah.aoa kamu mau lebih hancur lagi karena rasa iri dengki mu itu
tiara
berbahagialah Lintang sekarang dikelilingi orang tulus menyayangimu
tiara
bagus Ria tinggalin aja keluarga derry yang ga punya hati nurani.biar mereka usaha sendiri kalau mau hidup enak
tiara
lanjuut thor semangat upnya
tiara
semoga keluarga Deri tidak datang lagi mengganggu ketenangan Lintang dan keluarganya
tiara
Karyawan butik yang ga berakhlak akhirnya menyesal sudah berlaku meremehkan orang lain hanya karena penampilanya.ga salah juga sih kadang juga ada yang datang cuma buat foto juga jadi bingung juga ya
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!