NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 26

Debu jalanan mengepul saat segerombolan motor anak-anak desa lewat di depan warung Yuli, membuat beberapa ibu-ibu yang sedang bergosip mengumpat tajam.

“Pelan woi, Anahh … nggak punya ottak kalian!”

Zaenab yang duduk berjongkok sambil mencari kutu rambut di kepala Amelia—anak Fatimah tetangga depan rumah Bu Sartini, menoleh sampai segerombolan motor itu belok di persimpangan.

“Anak mana itu?” tanyanya kemudian.

“Temen-temennya Bang Tedi anaknya Wak Nur kayaknya,” sahut Amelia.

“Nggak punya otak betul bawa motor kaya setan, sudah knalpotnya blong, kalo lewat depan rumah saya, saya lempar betul pake gagang cangkul itu anak,” oceh Zaenab lagi.

Fatimah yang duduk santai sambil ngemil kacang atom dan minuman kemasan rasa jeruk turut menimpali. “Kamu kalo tau mereka lagi kumpul di rumahnya Nurjanah, makin pecah kapala kamu. Yang sebelah ngetes knalpot motor sambil teriak-teriak, depan rumah nyetel musik remix sudah kaya orang pesta. Jebol kamu punya telinga kalo jadi saya.”

Zaenab menyunggingkan senyum tipis, matanya menatap dengan awas helaian rambut Amelia yang disibaknya. “Tempat sapo siang-siang nyetel musik remix?”

“Si Dewi lah, sapa lagi?” Mata Fatimah melirik sekilas sambil mengunyah kacang atom di mulutnya.

Alis tipis Zaenab mengerut, tatapannya lurus ke kulit kepala Amelia. “Katanya si Dewi sekolah di Kota Kabupaten, mau jadi dokter apa bidan gitu, kemarin Sartini gembor-gembor pas belanja sayur di Mang Ujang.”

Fatimah berdecih kecil, bibirnya mencebik. “Sekolah dokter apanya, orang ujian kemarin katanya si Tedi nilainya paling rendah. Bocah taunya cuma di rumah nggak mau kumpul sama orang, angkuh, mau jadi bidan, mana masok?”

“Siapa yang mau jadi bidan?” Nurjanah tetangga samping rumah Fatimah turut menyahut dari atas motornya yang baru berhenti.

“Dewi,” sahut Fatimah.

Nurjanah menyeringai tipis, lalu tertawa pendek—seolah yang didengarnya terlalu remeh untuk dipercaya. “Sekolah kerjaannya cuma jajan sama cari contekan mau jadi bidan.” Ia lalu masuk ke dalam warung Yuli. “Ada sop-sop’an, Yul?” tanyanya kemudian.

“Ada, wak, tinggal satu bungkus itu,” sahut Yuli si pemilik warung.

Nurjanah lalu menyodorkan uang lima ribu ke arah Yuli. “Ini, Yul. Sop-sop’an dua ribu, sisanya bahan sambelan, tomat, terasi sama cabe merah sedapetnya,” imbuhnya.

Yuli menggerutu kecil sambil menerima uang dari Nurjanah. “Cabe merah sama tomat lagi mahal, Wak, tiga ribu minta lengkap.”

“Kasih dua tiga biji juga saya terima, Yul, nggak laju minta satu ons pula,” cicit Nurjanah, lalu berjalan ke teras—bergabung bersama Zaenab dan Fatimah. “Anaknya Bang Rizal sudah dibawa pulang, Nab. Katanya masuk rumah sakit gara-gara dikasih minum campur-campur sama Nadya.”

“Sapo ngomong gitu?!” Sahut Zaenab, tajam.

“Sartini lah, dari kemaren tiap ada orang ke rumah dia di aduin perkara cucunya,” ujar Nur seraya duduk di samping Fatimah.

“Mulutnya Sartini itu lama-lama di sumpel sawit betul sama Rizal, ngomong sembarangan,” Zaenab menatap sinis Nur. “Orang dia yang ngotot ngasih susu kotakan sampek maki-maki si Nadya.”

“Gitu dia bilang katanya si Nadya Asinya jelek, Adam idak kenyang neteknya, rewel tiap malam, makanya di kasih susu kotak mahal,” lanjut Nur.

“Susu mahal apanya? Yang dibeli susu paling murah, yang biasa dibagikan di posyandu cuma ini rasa soya aja. Beli juga pake duit Rizal.” Farida yang datang dari arah samping menyahut dengan suara ketus.

Ia kemudian menoleh ke kanan dan kiri seraya mendekat sambil tersenyum miring. “Itu juga akal-akalan si Hasna car-per sama Rizal, taunya malah bikin celaka,” ucapnya pelan seolah suaranya takut di dengar oleh Hasna. (car-per\= cari perhatian)

“Terus sekarang udah di bawa pulang belum, Wak?” tanya Yuli yang baru bergabung setelah sibuk melayani pelanggan di warungnya.

Belum sempat Farida menjawab, mobil Rizal melintas di depan mereka sambil membunyikan klakson.

“Panjang umur, baru juga di omongin,” imbuh Yuli.

Para ibu-ibu yang sedang bergosip itu pun membubarkan diri, lalu berjalan bersama-sama menuju rumah Bu Harmi—ingin langsung melihat kondisi Adam.

Rombongan Ibu-Ibu yang berjalan bergerombol, mencuri perhatian Hasna yang sedang duduk bersantai di ruang tamu rumahnya. Gadis itu pun mengintip dari jendela rumahnya sambil menguping pembicaraan mereka.

Senyum Hasna merekah saat mendengar dengan samar informasi bahwa Adam sudah dibawa pulang, ia lalu buru-buru berganti pakaian berniat ingin melihat Adam sambil melepas rindu pada sang pujaan hati—Bang Rizal Wijaya.

Di halaman rumah, mobil double cabin Rizal baru saja dimatikan mesinnya saat rombongan Farida juga tiba, Nadya yang duduk di kursi depan langsung menghela napas dalam, bola matanya memutar malas.

“Bener-bener, ya orang desa ini. Ampun dah!” gumamnya.

“Mereka mau lihat keadaan Adam mungkin, Nad,” ujar Rizal.

“Ngerti pula saya, tapi nggak orang baru dateng juga langsung di geruduk begitu. Besok ‘kan bisa. Belum lagi dua manusia itu.” Nadya menghela napas lelah saat melihat Bu Sar dan Dewi datang dari kejauhan dengan motor matic mereka. “Heh, capek betul saya,” imbuh Nadya.

Rizal tersenyum samar seraya mengusap pundak Ibu susu sang putra. “Kamu langsung ke kamar aja, mereka biar Ibu sama Abang yang ngajak ngobrol.”

“Terus Adam? Abang pikir yang perlu istirahat cuma saya. Kalo saya, mah nggak pusing, tinggal masuk kamar kunci beres, nah Adam? Oper sana oper sini, semua nyium, semua pegang.” Nadya menggeleng pelan. “Kayak mana anak nggak gampang sakit kalo begitu caranya?” gerutunya.

“Nanti Abang ingatkan mereka untuk nggak pegang sama cium Adam dulu, Nad.” Rizal mencoba menenangkan. “Udah yoo, turun dulu sekarang.”

“Ya Abang turun dululah, saya mana bisa turun sambil gendong begini,” sungut Nadya.

Belum sempat Rizal membuka pintu mobilnya, pintu sebelah kiri tempat Nadya duduk sudah lebih dulu dibuka oleh Bu Sar dengan kasar.

Tatapan wanita beralis lancip itu menelisik, bibirnya berkedut sinis. “Udah sampe bukannya cepet turun malah asik berduan. Mau nyari kesempatan, ya kamu Nadya,” cibirnya, lalu mengambil Adam dari pangkuan Nadya.

Nadya menghela napas panjang, matanya terpejam sekilas sebelum menatap tajam ke arah Rizal. “Baru sampe ini … baru!” sindirnya lalu cepat-cepat turun menyusul Adam.

Di dalam rumah, rombongan Ibu-Ibu mengerumuni Adam yang berada di pangkuan Bu Sar, beberapa pertanyaan mereka lontarkan yang langsung dijawab Bu sar dengan nada—sok tau.

Rizal yang baru masuk rumah menggeleng kecil sambil mengusap pelipisnya saat mendengar sang Mama mertua masih terus saja menyalahkan Nadya.

Ia lalu mendekati para tetangganya itu sembari berucap sopan, namun penuh penekanan.

“Maaf ya, Uwak semua. Bukan saya sok mau gimana, tapi tolong jangan kerumunin Adam dulu atau cium. Adam ‘kan baru keluar dari rumah sakit, takutnya masih sensitif.”

Sontak, para Ibu-Ibu bergeser sedikit menjauh. Ada yang tetap memilih duduk di sofa, ada juga langsung berpindah ke lantai.

“Kamu itu kok makin cerewet, Zal. Namanya orang khawatir sama anakmu, ya wajarlah pada pengen tau,” sungut Bu Sar.

“Bang Rizal bener, Wak. Anak yang baru keluar dari rumah sakit seharusnya nggak boleh langsung dijenguk, takutnya kekebalan tubuhnya belum stabil, bisa-bisa malah sakit lagi nanti.” Suara lembut Hasna menyahut dari depan pintu.

“Kalau udah tau begitu, kenapa kamu juga datang?”

Bersambung

Hai-hai ... Saya kembali, maaf kemarin bolos karena meriang dadakan gara-gara padi di belakang rumah baru di semprot terus bau obatnya menguap sampe ke dalam rumah, mabokkk sudah saya (begaya sekali orang kampung ini Wkwkwkwkwk). Sehat-sehat untuk kita semua dan pantengin terus kisah perjalanannya Nadya mencari rumah yang sesungguhnya.

Tabik pun

Anna🌴

1
haci
aku anterrr padud😩
Anna: Tercium maksud lain🙄
total 1 replies
Yuyun Harti
semangat update kak author
Anna: karna kamu aku semangat 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
pak ilyas ini bener2 iblis berwujud manusia anak swndiri aja mau dia embat
Anna: kira-kira di kasih azab apa enaknya?
total 1 replies
Samsiah Yuliana
knapa pulak ini hah,,,
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Anna: Sudah di jawab sama Andreaz.
total 1 replies
haci
kak lagii tegang kenapa ke skip 😩
Anna: Malem, Kakk ... malem. Buru-buru amat pengen cepet pagi. 🫢🫶
total 3 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho bari baca sedetik sdh bersambung??? macam.mana ni up nya cuma seuprit
Anna: 🫢🫢🫢🫢🫢
total 1 replies
haci
jefri or pak ilyas nii🤣
Ita Nuryani
hayo siap itu ??? bang Rizal bkal cemburu
Anna: cuma panas dingin🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
suara siapa ya.... apakah Rizal kenal??
Anna: Yang jelas bakal bikin Rizal panas dingin 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
Rizaall..... ngga kapok kena bogem lagi ya... 😄😄😄
Anna: udah ganti capitan maut.
total 1 replies
Linceu thea
😂😂 kena deh hasna
Yessi Kalila
wkwk... ketahuan aslinya Hasna... 😄
Anna: Belum semua 🫢
total 1 replies
haci
asikk gosipp kan saja wakk🤣
haci: kapannn upp kak aku bola balee dari pagiii
uda kangenn ihh 😩
total 2 replies
Ita Nuryani
mas duda yg sabar y, jaga iman 🤭
Anna: godaan yang terlalu menggoda. 😖
total 1 replies
SooYuu
waduh
SooYuu
seruuuuu! semangat up thor, selamat sudah berhasil kembali membawa cerita baru. ❤️❤️
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
SooYuu
harus nunggu beberapa bab buat liat garangnya si abang duda ini🤣
SooYuu
owalah yu sar jan😩😩
nayla tsaqif
🤣🤣 Kasihannn bang zal,, pdhl belom setahun lho puasa,, masak gk tahan!
Anna: Namanya juga Kadal. kata Nadya. 🫢
total 1 replies
Rehan Atar
binggung ngk dibaca penasaran dibaca tambah penasarann @efek bersambung rasanya pengen dimumpulin dlu sampe beberapa episode tapii mengatall tak baca lanjutannyaaa 😄😄😄
Anna: harap bersabar, jari sedang berusaha keras. 😖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!