Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Di bawah terik matahari Gondanglegi yang menyengat, Abraham berdiri mematung menatap Diana.
Bidan desa itu tersenyum manis, menyodorkan bungkusan plastik berisi makanan dan minuman dingin dengan gerakan yang sangat perhatian.
"Dimakan ya, Mas Ham. Pasti capek panas-panasan begini," ucap Diana lembut, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh rekan-rekan teknisi lainnya.
Deddy yang berada di atas tangga kabel mulai merasa tidak enak hati.
Ia tahu betul siapa istri Abraham, dan kehadiran wanita berseragam putih ini jelas-jelas mengundang badai.
Abraham menarik napas panjang. Ia teringat tangis Prita pagi tadi dan rekaman suara di ponselnya.
Tanpa ragu, ia melangkah mundur, menjauhkan tangannya dari pemberian Diana.
"Terima kasih, Diana. Tapi sebaiknya kamu bawa pulang saja," ucap Abraham dengan nada dingin dan tegas.
"Saya sudah bawa bekal dari istri saya. Dan tolong, jangan datang ke lokasi kerja saya lagi. Ini profesional, dan saya tidak ingin ada salah paham."
Senyum di wajah Diana membeku. "Tapi Mas, Ibu yang suruh..."
"Ibu saya mungkin yang suruh, tapi saya yang punya hak untuk menolak. Saya sudah punya istri, Diana. Tolong hargai itu," potong Abraham telak di depan teman-temannya. Suasana lapangan seketika hening, hanya suara desis angin yang terdengar.
Namun, tanpa disadari oleh siapa pun, di balik rimbun pepohonan tak jauh dari sana, ibu tiri Abraham mengintip dengan ponsel di tangan.
Ia sengaja mengambil foto dari sudut tertentu yang membuat posisi Abraham dan Diana terlihat sangat dekat, seolah-olah mereka sedang berbincang mesra.
Klik.
Foto itu langsung dikirimkan melalui pesan singkat kepada Prita.
Di mess, Prita yang sedang berusaha menenangkan diri kembali hancur saat ponselnya bergetar.
Sebuah foto masuk dari nomor tidak dikenal. Di sana, ia melihat suaminya sedang berdiri berdua dengan wanita berseragam bidan yang cantik.
“Lihat? Di lapangan pun dia sudah punya yang baru. Uang itu untuk ongkosmu pergi, jangan jadi parasit di hidup anakku lagi,” tulis pesan di bawah foto tersebut.
Dunia Prita serasa runtuh. Luka semalam belum kering, dan kini ia merasa dikhianati lagi, meski ia tidak tahu kebenaran di balik foto itu.
Air matanya mengalir deras, membasahi layar ponsel barunya.
"Cukup, Mas. Aku sudah tidak kuat," isak Prita sesenggukan.
Dengan gerakan cepat dan penuh keputusasaan, Prita menarik tas besarnya. Ia memasukkan semua pakaiannya dengan asal.
Hatinya terlalu sakit untuk menunggu penjelasan yang ia pikir hanya akan menjadi kebohongan baru.
Prita meraih dompetnya, menatap lemari tempat ia menyimpan uang sepuluh juta tadi dengan benci.
Ia tidak menyentuh uang itu sepeser pun. Sebelum melangkah keluar, ia menekan tombol power di ponselnya hingga layar menjadi hitam pekat.
"Selamat tinggal, Mas Ham."
Tanpa ada yang tahu, Prita menyelinap keluar dari mess lewat pintu belakang saat ibu kantin sedang sibuk.
Ia berjalan cepat menuju jalan raya, menyetop angkutan umum dengan tujuan akhir Gunung Kawi—tempat yang dijanjikan suaminya, namun kini ia pilih untuk mengasingkan diri sendirian.
Di dalam angkutan umum yang melaju membelah jalanan menanjak menuju dataran tinggi, Prita menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar.
Ia berkali-kali menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya, namun sesak di dadanya tak kunjung mereda.
Pikirannya melayang jauh pada hari pernikahan mereka yang penuh air mata.
Bukan air mata bahagia, melainkan air mata luka karena restu yang tak kunjung turun.
"Kenapa sulit sekali untuk sekadar bahagia bersama orang yang kita pilih?" bisik Prita lirih.
Ia teringat wajah keras Papa Broto, ayah kandungnya sendiri, yang sampai detik ini belum mau bicara dengannya karena ia nekat menikah dengan Abraham yang "hanya" seorang teknisi lapangan. Di sisi lain, keluarga Abraham—terutama ibu tirinya—menganggap Prita hanyalah parasit yang menghalangi jalan sukses putranya.
Dua keluarga besar yang sama-sama membangun benteng penolakan, membuat Prita merasa seolah ia dan Abraham sedang berdiri di sebuah pulau kecil yang dikepung badai dari segala arah. Dan foto tadi hantaman ombak terakhir yang meruntuhkan pertahanannya.
Satu jam perjalanan berlalu dengan penuh kalut. Angkutan umum itu akhirnya berhenti di pelataran parkir Pesarean Gunung Kawi.
Udara di sini jauh lebih dingin, membawa aroma hio dan kembang yang khas, menciptakan suasana magis sekaligus melankolis.
Prita turun dengan langkah gontai, menenteng tas besarnya yang terasa sangat berat.
Ia berjalan perlahan melewati deretan kios souvenir dan warung-warung kecil hingga sampai di sebuah bangku panjang di bawah pohon rindang, tak jauh dari area utama pesarean.
Ia duduk termenung, menatap kosong ke arah orang-orang yang lalu-lalang.
Ada peziarah yang datang dengan harapan besar, ada wisatawan yang sekadar ingin tahu, dan ada penduduk lokal yang sibuk dengan dagangannya. Semua orang tampak punya tujuan, sementara Prita merasa kehilangan arah.
Ia meraba ponselnya di dalam saku—ponsel yang masih dalam keadaan mati total.
Ada rasa ingin menyalakannya, ingin mendengar suara Abraham yang mungkin sekarang sedang panik mencarinya, namun rasa sakit hati akibat foto itu kembali mencubit nuraninya.
"Mas Ham, apa benar Diana yang lebih pantas buatmu?" gumamnya sambil menatap puncak pohon yang bergoyang tertiup angin gunung.
Di tempat ini, di tengah riuh rendah doa-doa orang lain, Prita justru merasa sangat kesepian.
Ia memeluk tasnya erat-erat, membiarkan dinginnya Gunung Kawi membekukan luka yang masih menganga di hatinya.
Jam menunjukkan pukul empat sore tepat ketika truk teknisi berhenti di halaman mess.
Abraham melompat turun dengan terburu-buru, bahkan hampir melupakan tas peralatannya di bak belakang.
Pikirannya hanya satu: Prita. Ia ingin segera memeluk istrinya, menjelaskan kejadian memuakkan dengan Diana di lapangan tadi, dan membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menanggapi wanita itu.
Dengan langkah lebar, Abraham menuju kamarnya.
"Dik, Mas pulang!" serunya sambil membuka pintu dengan semangat.
Namun, senyumnya langsung membeku.
Hening. Tidak ada sahutan lembut yang biasanya menyambutnya.
Kamar itu terasa dingin, meski aroma parfum melati kesukaan Prita masih tertinggal tipis di udara, seolah pemiliknya baru saja beranjak pergi.
Abraham melangkah masuk dengan jantung berdebar kencang. Ia langsung menghampiri lemari kayu sederhana milik mereka.
Saat pintu lemari dibuka, dunianya serasa runtuh. Gantungan baju yang tadinya penuh kini kosong melompong.
Hanya tersisa beberapa helai pakaian miliknya yang tergantung kaku.
"Prita, kamu ke mana, Sayang?" bisik Abraham, suaranya bergetar hebat.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel baru pemberian Prita dan mencoba menghubungi nomor istrinya.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Berkali-kali ia mencoba, hasilnya tetap sama. Kepanikan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat tangannya dingin seketika.
Dalam keadaan kalut, Abraham teringat pada satu-satunya orang yang mungkin dihubungi Prita.
Ia segera mencari kontak Prames, kakak kandung Prita yang bekerja di salah satu kantor swasta di pusat Kota Malang.
Prames adalah satu-satunya anggota keluarga Prita yang masih mau berkomunikasi dengan mereka meski Papa Broto melarang keras.
Sambungan telepon diangkat pada nada ketiga.
"Halo, Prames? Ini Abraham," ucap Ham dengan suara terengah-engah. "Prames, apa Prita ada di tempatmu? Dia pergi dari mess, baju-bajunya sudah tidak ada."
Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas Prames yang terdengar heran sekaligus khawatir.
"Lho, Ham? Prita tidak ada di sini. Memangnya ada apa? Terakhir dia telepon aku kemarin lusa cuma tanya kabar. Hari ini sama sekali tidak ada kabar darinya."
"Benar tidak ada?" kejarnya lagi, berharap Prames hanya sedang berbohong untuk melindungi adiknya.
"Sumpah, Ham. Prita tidak ada di sini. Kalau dia ke rumah Papa juga tidak mungkin, kan kamu tahu sendiri suasananya masih panas. Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Prames balik.
Abraham memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.
"Nanti aku jelaskan, Prames. Aku harus cari dia sekarang."
Telepon ditutup. Abraham terduduk di tepi ranjang yang rapi, menatap kosong ke lantai. Ia teringat janji tadi pagi: Gunung Kawi.
"Apa mungkin dia ke sana sendirian?" gumam Abraham. Tanpa pikir panjang, ia menyambar kunci motornya kembali.
Persetan dengan rasa lelah sehabis memanjat tower seharian, ia tidak akan bisa bernapas tenang sebelum menemukan istrinya.